Gadis Nakal Om Dokter

Gadis Nakal Om Dokter
Kasih sayang ayah


__ADS_3

Terlihat sekali, Gale memang sangat gemar menggerakkan anggota tubuhnya mengikuti irama musik.


Anak Pondok beserta para pengajar dan karyawan Pondok mengikuti instruktur senam dadakan ini. Apalagi gerakannya segar dan kekinian, lagunya pun bukan dangdut remix seperti biasa aerobik para ibu di depan lahan parkir minimarket.


"Neng Dara, bantu bapak jadi instruktur senam mau ya?" tanya pak Zam-zam, si guru olahraga.


"Boleh pak,"


"Tapi saya punya lagu sendiri!"


"Boleh neng, ini mah biar berkeringat saja neng sambil senang-senang!" jawab bu Ai sesama guru olahraga.


"Oke! Ki, mainkan!"


"Siap Le!" jawab Kia meng-okei.


Gale menginstruksikan pada Kia untuk memutar lagu Party Rock Anthem. (shuffle dance)


"Wohoooo Teh Daraaa !!"


"Teh Galexia!" pekik beberapanya yang mengenal Gale.


Fatur menggelengkan kepalanya, sementara Ori ikut asyik berjoget ria. Fatur bahkan mengangkat kedua alisnya terkejut saat Gale dengan sengaja menutup lagu dengan bersalto ria mengundang decakan kagum para anak Pondok.


"Ck, anak itu! Suka bikin jantungan!" decak Arka.


Gale mengipasi wajahnya yang berkeringat, cukup untuk hari ini acara membakar keringatnya.


"Teh Gale ajarin dong!" pinta anak-anak usia sd padanya.


"Eh,"


"Teh Dara, mau yang kaya tadi teteh!" mereka menarik-narik rok mini Gale, ia sendiri hanya bisa meringis, karena memang jika ingin bisa begitu harus berlatih pada orang yang tepat seperti dirinya dulu. Ia sudah seringkali terjatuh, terbentur, bahkan sampai luka.


"Iya nanti ya! Kalo teteh ada waktu," jawab Gale sekenanya membuat mereka senang bukan main, akan keren jika bisa salto seperti itu.


"Udah neng, bakar lemaknya?" tanya Fatur diangguki Gale.


"Udah, keren ngga bang. Abang tadi liat engga?" tanya Gale.


"Bikin orang khawatir aja, ayah sampe jantungan tuh!" Fatur sempat keceplosan, tapi nyatanya gadis ini menganggap jantungan sebuah arti kiasan bukan artian sebenarnya.


"Ah masa, cuma gitu doang sampe jantungan!" Gale meminum air mineral miliknya.


"Abang ke ruangan dulu, mau ikut nemenin?" tanya nya.


"Emang boleh?" tanya Gale.


"Boleh, kamu jadi suster pendamping abang," jawabnya.


"Asiiikkk!" setidaknya Fatur tak ingin Gale salah paham lagi padanya, jika tidak gennya akan punah tak dapat berkembang biak.


...****************...


"Huweekkkk!"


"Ihhh, geli gue, auto pusing!" Gale bergidik seraya memegangi kepalanya, keringat dinginnya membasahi pelipis.


Saking senangnya bisa menemani Fatur, Gale sampai lupa jika ia tak bisa melihat darah dan takut melihat jarum suntik. Sedangkan beberapa yang sudah berumur mengikuti cek kesehatan, seperti kolesterol, gula, dan yang lain-lainnya lengkap.

__ADS_1


"Bwahahahah!" Kia malah menertawakan Gale sepaket dengan wajah pucatnya.


"Si@*lan!"


"Istri dokter takut darah!"


"Heuhhh, ini mah gimana atuh! Suami dokter tapi jijik liat darah!" Shania memberikan secangkir teh manis hangat untuk Gale, karena barusan Fatur menelfonnya jika Gale malah mabok liat darah dalam tube kecil berikut jarum suntik, dan ia belum bisa menemani Gale.


"Yang dokter abang, bukan Gale. Gale ga niat jadi dokter juga!"


"Ayah mana mii ?" tanya Gale.


"Lagi liatin kegiatan, tuh!" tunjuk Shania.


"Mau ke ayah aja lah!" jawab Gale.


"Hay eplibadih! Onta-onta Gale yang kadar ketampanannya kalah sama si wakwaw!" sapa Gale pada Deni, Guntur, Ari dan Roy.


"Nih ponakan durhaka nih! Enaknya diapain Roy?" tanya Guntur.


"Enaknya dibuang ke sungai bareng isian babat!" jawab Ari.


"Dih, onta's yang kalian lakukan itu jahat!" jawab Gale.


"Kenapa motor ga dibalikkin?" tanya Arka.


"Oh iya lupa yah, udahlah warisin aja buat kaka yah," pintanya menggelayuti lengan ayahnya.


"Kasian Andro kak, kakak dianter jemput sama Fatur kan?" tanya Arka.


"Kalo sekalinya abang ga bisa gimana?"


"Ah engga ah! Ga keren! Kerenan punya ayah!" cebik gadis itu.


"Andro beliin aja lagi,"


"Ayah pucet banget sii, ayah duduk deh!" pinta Gale membawa sang ayah duduk di kursi.


"Ayah ga apa-apa. Udah milih kampus buat terusin pendidikan?" tanya Arka.


"Belom! Ga tau mau kemana," jawab Gale.


"Bicarakan sama Fatur, kaka maunya jurusan apa, cari kampus favorit dulu!"


Baru saja Gale akan berucap Arka memotong, "selain joget-joget ekstrem gitu,"


Gale berdecak, "iya, nanti kaka omongin sama abang. Kayanya mau masuk kampus kuning tapi jurusannya masih gelap!" jawab Gale.


"Lampuin Le, biar ga gelap!" jawab Roy.


"Dih, maksudnya belum keliatan hilalnya!"


"Iya lah puasa masih lama Le, ngapain liat hilal sekarang," jawab Guntur, membuat gadis ini mencebik, memang diantara orang sekitarnya yang waras hanya ayahnya, Andro, neneknya, opa, dan Fatur tentunya, yang lain otaknya pada kepotong termasuk dirinya.


"Apapun yang kamu pilih ayah dukung, asal jangan joget-joget gitu liatin aurat sama naikin fantasi kaum laki-laki. Apalagi yang ekstrem-ekstrem gitu, bahaya."


"Parkour mas," sahut Shania baru saja datang memberikan obat untuk Arka dan segelas air putih. Gale mengerutkan dahinya, sebenarnya ayahnya ini sakit apa. Rasanya kejadian ia masuk ke rumah sakit sudah sangat lama, tapi sampai hari ini masih minum obat.


"Itu tiap hari ?" tanya Gale.

__ADS_1


Shania mengangguk, "iya."


"Sampai kapan? Setau Gale obat ada efek sampingnya, dan ga boleh dikonsumsi setiap hari dalam jangka waktu lama?" tanya Gale penuh selidik.


"Lah si Gale, itu kan pengencer darah!" ucap Ari, Deni menyikutnya.


"Ck, ah! Ember bocor."


"Pengencer darah? Buat apa?" tanya Gale. Arka tau putrinya bukan gadis polos dan mudah dibo*dohi.


Ia menghela nafasnya, "bisa ikut ayah sebentar?" Shania memegang tangan Arka, Arka mengangguk.


"Ini ada apa sih?" tanya Gale.


Arka beranjak dengan Gale mengekor. Sepasang ayah dan anak ini menyusuri jalanan melewati kebun sayur, singkong dan sawah, pokonya sepanjang obrolan keduanya tak berhenti berjalan.


"Gimana Fatur, baik?" tanya Arka.


"Baik. Abang baik." Arka memeluk Gale dari samping, terlihat keromantisan ayah dan anak ini.


"Apa dia pernah pukul atau main kasar?"


Gale menggeleng, "engga yah. Abang justru laki-laki paling lembut!"


"Alhamdulillah, berarti ayah ga salah pilih!"


"Ini kenapa sih,"


"Ayah mengidap jantung koroner kak, dan kemarin itu ayah pasang ring!"


"Hah?! Ko ayah ga bilang? Cuma Gale nih yang ga tau, jahat!" tanya Gale.


Arka tersenyum kembali meraih putrinya, kebiasaan Gale selalu mengambil kesimpulan sendiri.


"Dengerin dulu kalo orang lagi ngomong," lanjut Arka.


"Ga apa-apa. Penyakitnya ga separah itu kok, asal ayah ga bandel!" jawabnya tersenyum, seakan sedang menularkan ketenangan pada putrinya.


"Ayah yang suruh semuanya buat sembunyiin dari kamu, Andro dan nenek. Ayah ga mau kalian khawatir berlebih, terutama kamu!"


"Jadi abang tau?" Arka mengangguk.


"Untungnya ayah punya dokter pribadi," kekehnya, saat ini Gale sedang tak ingin tertawa, hal seserius ini ia tak tau. Berhak dipertanyakan, apakah ia anak Arka?


"Ck, tapi ayah ga apa-apa kan? Ada yang kerasa sakit ngga? Atau ayah capek, lemes? Kita balik aja yuk!" cerocosnya.


Arka tertawa, "mirip momy!"


"Ayah ga apa-apa. Ayah sehat! Ayah jauh lebih baik, apalagi setelah satu persatu beban ayah berkurang, kewajiban seorang ayah yang memilihkan jodoh terbaik untuk putrinya. Melihat kamu bahagia, liat Andro sukses, kelak ayah hanya tinggal menikmati masa tua sama momy!" Gale menitikkan air matanya.


"Ada alasan di balik suatu keputusan, termasuk saat ayah dengan berat hati harus menikahkan kamu secepat ini, biar anak manja ayah ada yang jaga!"


Gale menghambur memeluk ayahnya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2