Gadis Nakal Om Dokter

Gadis Nakal Om Dokter
Siapa aku disaat bersamamu


__ADS_3

Cukup lama tautan keduanya terjalin. Fatur sempat melepaskan pag_utan keduanya, tapi bukan untuk menghentikkan aktivitasnya, melainkan berpindah posisi, ia tak mau sampai leher Gale terkilir karenanya.


Ia memutar tubuh Gale agar menghadap ke arahnya.


"Abang ambil hadiah punya abang," ucap Fatur, tak ada jawaban namun tak pula ditolak dan diprotes Gale, Fatur kembali mendekatkan wajahnya, memandang sasaran targetnya, bibir pink semanis permen kapas.


Dalam hati Fatur tersenyum, sikap impulsifnya disambut baik oleh Gale. Meskipun awalnya Gale hanya diam dan membeku, tapi sedikit demi sedikit gadis itu mulai bisa kooperatif dengan membiarkan Fatur mengeksplore mulutnya.


Fatur semakin gencar mengeksplore dan mengabsen deretan gigi rapi Gale saat sentuhan hangat tangan Gale di dada tela_njangnya membuat darahnya berdesir dan terpompa begitu cepat. Hawa panas menjalar, padahal ia belum berpakaian. Naluri manusia memang selalu menginginkan lebih tidak terkecuali Fatur.


Tangan yang sejak tadi diam melingkar di pinggang Gale, kini secara perlahan mulai menjelajah naik ke atas, menyentuh sesuatu yang begitu di damba. Gale cukup terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Fatur, tapi akal sehatnya kalah oleh glenyer aneh, mendadak otak Gale sepenuhnya dikuasai oleh rasa membuncah yang mampu membuat tubuhnya lemas tak berdaya.


...****************...


"Ka Fatur, Gale pengen kasih makan kambing."


"Mau kaka gendong ?"


Gale kecil merentangkan kedua tangannya dan tersenyum lebar memperlihatkan deretan gigi susu dengan ompong 1 di depan.


"Ih Gale ompong !"


Gadis itu malah cekikikan, "gigi Gale dimakan ulet, kak. Kata momy nanti juga tumbuh lagi. Kalo ga tumbuh diganti pake gigi punya Kylie !"


Fatur menggendong bocah berusia 5 tahun itu, karena gemas ia mengecup pipi gemoy Gale, wangi minyak kayu putih berbalut lembut chamomile dan strawberry memenuhi indra penciuman Fatur.


"Ka Fatur, jangan di sun ! Kata ayah, ga boleh di sun sama laki-laki yang bukan mahromnya, kalo gitu ka Fatur harus mau main ibu-ibuan sama Gale. Ka Fatur jadi ayahnya, Gale jadi ibunya !" Fatur tertawa dan mengacak rambut Gale.


"Mana ada ibu ompong kaya Gale," ejek Fatur menggoda Gale, membuat gadis kecil itu menggembungkan pipinya.


...****************...


Dirasa Gale sudah bereaksi mendorong-dorong dadanya, Fatur mengurai tautan, memperlihatkan bibir Gale yang semakin seksi karena ulahnya.


"Giginya penuh, udah ga ompong lagi," kekeh Fatur membuat Gale meledakkan tawanya.


"Kalo gitu abang harus mau maen ibu-ibuan sama aku !" jawab Gale, Fatur tersenyum mengecup kening Gale.

__ADS_1


I love you not only for who you are, but also for who I am when i'm with you.


(Aku mencintaimu bukan karena siapa dirimu, tapi karena siapa aku saat bersamamu.)


"Mana baju abang ?" tanya Fatur.


Gale beranjak menarik kaos dari dalam lemari.


"Gale udah ga punya utang lagi ya sama abang," ucap gadis itu.


"Lain kali boleh kita balapan lagi ?" tanya Fatur dan ia pastikan jika saatnya tiba ia akan meminta haknya pada Gale. Fatur harus benar-benar menahan keinginannya yang semakin hari semakin sulit untuk ia kontrol, sebagai manusia biasa ia tak memungkiri sangat menginginkan Gale sepenuhnya, tapi pesan ayah Arka membuatnya mengurungkan niat menyentuh Gale lebih dari ini.


Hanya tinggal menunggu Gale lulus beberapa bulan lagi, ia akan mendapatkan semua haknya.


"Abang, Gale boleh ikutan dance competition ngga ?" tanya Gale pada Fatur.


Fatur menoleh, "dance competition ?" Gale mengangguk, dengan wajah yang harap-harap cemas.


"Kapan ?" tanya Fatur.


"Dapet hadiah ?" tanya Fatur seraya memakai bajunya dan merapikan rambut.


"Dapet ! Dan abang coba tebak apa hal bagusnya ?!"


"Apa ?"


"Pemenang 1 dan 2 bisa masuk camp pelatihan dance pro dan wakilin di tingkat nasional untuk selanjutnya maju ke Amerika !!!" Gale merentangkan kedua tangannya berseru.


Deg !


Mengingat banyaknya piala dan piagam penghargaan atas nama Galexia tertempel di dinding ruang tamu juga sepanjang lemari kaca rumah Arka, adalah hal yang membuat Fatur sedikit risau, mungkin besar kemungkinan Gale akan masuk dalam kandidat pemenang.


"Dan kamu mau ke Amerika ?" tanya Fatur dengan wajah yang dingin.


Gale tertawa, " siapa cobak yang ga mau ? Anak tk umur 4 tahun juga kalo ditawarin mau bang ! Tapi....abang tau ngga, ayah tuh sering cerita masa-masa pernikahan sama momy. Dan yang paling sering ayah ceritain tuh part dimana momy punya segudang mimpi dan hampir meninggalkan ayah karena cita-citanya itu. Sampe Gale hafal tiap kata yang bakalan ayah ucapin," terang Gale, pandangan matanya menerawang seperti membayangkan ayahnya sedang bercerita.


"Tapi kemudian Gale berfikir, kenapa ayah selalu ceritain part dimana dia sendiri keliatan sedih, kesel, pokonya kaya bumi tuh berhenti berputar buat ayah. Itu karena..." Gale menjeda ucapannya.

__ADS_1


" Part itu akan selalu jadi pengingat, dimana ayah takut kehilangan momy, pengingat buat momy jika bagi ayah, momy adalah nafasnya," terang Gale meraih kedua tangan Fatur dan memberanikan diri menatap mata hitam Fatur.


"Gale cuma seneng kompetisi aja bang, kalaupun menang hadiahnya ga akan Gale ambil," meskipun jauh di lubuk hatinya Gale sangat menginginkan menggapai cita-citanya, tapi kisah kedua orangtuanya membuka mata Gale tentang kehidupan sebuah pernikahan, bukankah bagus jika menikah hanya satu kali seumur hidup ? Gale tak tau, apakah ia bisa cinta, sudah cinta atau mungkin sedang mencintai Fatur. Tapi yang jelas ia tak ingin mengecewakan ayah, momy dan juga Fatur. Seperti ucapannya siang tadi pada Seli, cinta akan tumbuh jika terbiasa, Gale akan menjaga apa yang ia miliki sekarang sebelum menyesal dikemudian hari seperti Seli. Semoga saja kebersamaannya dengan Fatur akan menumbuhkan cinta di hatinya.


"Selama ada mimpi lain, yang abang ridhoi Gale berada di dalamnya. Maka Gale akan disana," ucapan terakhir Gale membuat Fatur terenyuh, ingin rasanya ia segera memiliki Gale sepenuhnya dan membuat gadis ini mengandung buah hatinya agar ia selalu terikat dengannya. Tapi masa-masa sulit Shania di sekolah tak ingin ia berikan pada Galexia. Biarkan Galexia menikmati masa sekolahnya tanpa gangguan dari segambreng keluhan ngidam.


"Mau ikut abang ke Pondok, kok tiba-tiba abang jadi pengen bungkus kamu ya, kemanapun abang pergi !" seloroh Fatur.


"Bungkus bang ! iket pake karet, jangan lupa sobekkin biar tau mana yang pedes !" jawab Gale merangkak dan menghempaskan badannya di ranjang.


Fatur tertawa, "mau bagian mananya yang disobekkin ?" Fatur ikut merangkak ke atas ranjang.


"Mananya aja boleh," jawab Gale sekenanya bersiap menyelam di lautan mimpi.


"Bener nih, kalo....." Fatur melongokkan kepalanya melihat Gale yang menyamping.


"Busett ! Cepet banget tidurnya ?" ujar Fatur saat melihat Gale terpejam dengan nafas teratur.


Saat Fatur tengah asik memandang dan tersenyun-senyum melihat wajah Gale dengan mulut yang terbuka sedikit, pintu kamarnya terdengar diketuk.


"Bang, udah tidur belum ?" suara Fathya di balik pintu kamar.


Fatur menghela nafasnya, lalu turun dari kasur, ia membuka pintu kamarnya.


"Ada apa ?" tanyanya dingin mendapati sosok adiknya menunduk dengan memainkan kedua tangannya gugup.


"Fathya, ijin ketemu ka Seli besok," Fatur tersenyum miring.


"Apa masih perlu ijin abang ?"


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2