
"Ini gimana sih?!" Gale sedikit kesusahan memposisikan si kembar agar meny usu dengan nyaman. Berulang kali ia membolak-balikkan posisi si kembar hingga anak-anaknya nangis kejer, mungkin mereka pikir, ini emak gue kesambet apa sih, bolak balik kaya pepes? Berulang kali si kembar melepaskan pucuk gunung Gale karena ketidaknyamanan yang dirasakan.
"Abang tolongin Gale," pintanya menyerah dengan nada bergetar, buliran keringat mengkilat di balik anak rambut. Gale hampir saja meneteskan air mata, ingin ikut menangis bersama si kembar karena tak jua menemukan posisi yang enak, ditambah pucuknya yang terasa sakit dan perih saat mulut Afifah dan Aliyah menyambar pucuknya dan menyedot sumber makanannya.
"Kenapa?" tangan Fatur masih menggosok rambut basahnya dengan handuk, Fatur langsung sigap menghampiri Gale.
"Ini kakak sama dedek dari tadi ga nemu posisi yang enak, nangis terus. Padahal ini-nya Gale juga udah sakit banget! Kok sakit sih bang," tangisnya meledak dan melelehkan cairan bening dari mata hingga membanjiri pipi.
"Eh, jangan nangis. Sini abang bantu pegangin. Sebentar," Fatur langsung menyambar kaos dari lemari dan membantu Gale memposisikan kedua anaknya untuk meny usu. Tangan kekar itu telaten, dari mulai memindahkan si kembar, menepuk-nepuk bagian belakang Afifah dan Aliyah secara bergantian dengan penuh kasih sayang, dan anehnya kedua bayi yang mulai terlihat berisi bobotnya itu langsung anteng meny usu, Gale, padahal orang dewasa saja tak nyaman berdekatan dengan Fatur yang kelewat dingin juga datar.
Jempol Fatur beralih menghapus air mata Gale, satu yang ia tau...Gale sedang letih, sudah 2 minggu ini si kembar selalu terbangun di tengah malam dan baru akan tertidur menjelang pagi, seperti siklus hewan nocturnal.
Perubahan wajah Gale sangat kentara sekali, dengan mata selalu sayu karena mengantuk.
"Sini nyender di abang," Fatur mengubah posisinya duduk membelakangi Gale menempel di kepala ranjang agar sang istri bisa bersandar di badan depannya. Percayalah, wangi Fatur menenangkan untuk Gale saat ini, seperti aromatheraphy merk pribadi Gale.
"Sudah makan?" bisiknya lembut, bahkan kini pipinya menempel dengan pipi Gale, detakan jantung Fatur terasa di punggung istrinya.
"Udah, abang udah makan?" tanya nya balik.
"Abang gampang, nanti kalo kakak sama dedek udah selesai makan. Istri abang ini harus nemenin abang makan, masa kakak sama dedek doang yang ditemenin. Ayahnya juga mau!" Kini senyum itu dapat hadir kembali setelah seharian Gale merasa nelangsa.
Hanya berselang 15 menit kedua bayinya terlelap.
"Ma, titip anak-anak dulu. Abang mau ajak Gale jajan ke depan," Fatur sudah siap dengan stelan celana selutut dan jaketnya, menunggu Gale memakai jaket.
"Oh iya, boleh! Iya mama kasian sama Gale, dari tadi serba salah nyu suin si kembar bang, kayanya lecet!" jawab mamah di sofa tengah, berteman Fathya yang sedang mengerjakan tugas kuliahnya.
"Iya, nanti abang coba olesin minyak zaitun," jawab Fatur.
Melihat kedatangan Gale, Fatur dan mamah menengok, "udah?" Gale mengangguk.
"Cabe! Mau titip apa?!"
"Pengen kebab dong!" jawab Fathya menghentikkan ketikan jarinya di laptop.
"Oke, impas ya!"
"Sip," kekeh Fathya.
Fatur mengerutkan dahinya, "apanya yang impas?" tangannya sengaja ia sampirkan di pundak Gale, merangkul istrinya memberikan kehangatan.
"Tadi Gale titip siomay depan kampus ke Fathya, belum Gale bayar. Dia minta bayaran jajanan juga,"
"Oh," Fatur merapikan rambut yang mencuat dari kepangan Gale.
"Rambut kamu sedikit berantakan, sini abang rapiin," bahkan Gale yang biasanya tampil paripurna tanpa cela kini tak terlalu memperdulikan penampilannya.
"Bang, Gale besok pengen ke salon!" Fatur mengangguk, "boleh, berarti harus punya stok ASI buat kakak-dedek."
__ADS_1
"Iya," Gale memeluk lengan Fatur dan bersandar di sana.
"Mau pake motor apa jalan kaki? Kita udah lama ga berduaan loh?!" tanya Fatur merayu.
"Jalan? Boleh!" akhirnya senyum hangat itu kembali lagi. Hanya bermodalkan sendal jepit rumahan, keduanya berjalan menyusuri jalanan komplek. Tak terlalu indah layaknya dongeng, hanya jalanan biasa tanpa ditanami bunga-bunga bermekaran ataupun karpet merah dan corvetti, sebagaimana komplek pada umumnya. Berteman cahaya lampu neon setiap rumah itupun beberapanya padam karena si penghuni belum pulang atau memang malas menyalakan lampu teras, jatuhnya bukan romantis lebih seperti paranormal activity.
Meskipun langit gelap tanpa taburan bintang terhampar, dan bukan suara hewan malam yang terdengar melainkan kendaraan samar-samar, tapi suasana ini yang mereka rindukan. Setidaknya Gale bisa relaks sebentar dari urusan rumah yang membuatnya sumpek, jenuh, kesal, dan stres.
"Cuti kamu masih lama, abisin waktu buat lakukan apa yang kamu mau,"
"Gale maunya berduaan sama abang, ga pengen yang lain." Peluknya semakin erat di lengan Fatur, ia malah menaruh kepalanya bersandar di bahu yang sandarable milik suami dokternya..
Fatur tersenyum, Gale memang selalu sederhana, tak banyak minta yang macam-macam. Tak terasa langkah keduanya sudah keluar dari gerbang komplek, menuju jalanan besar dimana banyak gerobak-gerobak makanan yang menjajakkan makanan malam, seperti kebab, martabak, nasi goreng dan lain-lain.
"Oke, bundanya kakak sama dedek mau jajan apa? Biar ayah beliin!" selorohnya, Gale tertawa.
"Pertama beliin dulu onty cabe kebab!" jawab Gale.
"Oke, meluncur!" ajak Fatur.
"Bunda mau es krim ngga?!" tunjuk Fatur pada salah satu food truck yang menjajakkan es krim scopp.
"Mau ayah!!!" serunya.
Malam ini Fatur benar-benar membawa Gale membeli apa yang ia inginkan, tanpa harus terfokus pada sayuran hijau.
"Sini abang bantu olesin!" ingin membantu tapi setengah memaksa pada Gale, mesum mode on.
"Engga ah! Kalo abang yang olesin lama kelarnya!" tolak Gale menyilangkan kedua tangan di dada.
Fatur kembali merayap mendekati Gale, "engga beneran deh! Kalo kebablasan berarti khilaf!" Fatur sudah seperti om om mesum yang ingin mele ceh kan seorang gadis perawan tengah malam begini.
"Engga ah, Gale olesin sendiri! Inget ya, abang masih puasa, Gale masih nifas bang," ancamnya mewanti-wanti Fatur.
"Tau, ck! Tapi kalo terlanjur basah kan Gale bisa bantu, dikocokin botolnya," ia menaik turunkan alisnya.
"Engga ah! Gale suka geli," tolaknya menggidikkan bahunya acuh. Oh ya ampun! Untung saja si kembar belum mengerti dengan obrolan absurd bin mature kedua orangtuanya.
"Geli apa geli?!" goda Fatur mencolek Gale.
"Abang ih! Udah punya anak 2 malah jadi mesum! Ga malu sama anak-anak," sewot Gale melotot menepis tangan Fatur yang usil.
"Justru karena mereka belum ngerti, abang masih punya waktu buat godain bundanya, kalo udah ngerti kan repot minta dijelasin."
"Udah sini!" Fatur merebut botol kaca berisi minyak zaitun, lama-lama tangannya gatal juga ingin melakukannya, menyingkabkan t-shirt yang dipakai istrinya menampakkan pemandangan yang sudah 2 minggu ini tak dilihatnya, secara jelas. Istrinya ini memang selalu tampak mempesona dan menggiurkan apalagi perut buncitnya sudah kembali ke ukuran semula.
Fatur membuka kaitan bra coklat Gale, tak bisa disangkal jiwa kelaki-lakiannya meronta-ronta, Gale memang benar, ia hanya mencari-cari penyakit bila begini, sejenak ia menelan salivanya sulit. Tapi melihat benda coklat itu memerah dan lecet membuat Fatur mencelos, demi kedua putrinya Gale mengalami ini.
"Sini deketan," pintanya menarik Gale.
__ADS_1
"Kakak sama dedek nyu sunya kuat, sama kaya ayahnya!" kekeh Fatur refleks dihadiahi pukulan telak dari Gale.
"Awwshh, galaknya! Kaya kucing kalo lagi nyu-suin anaknya, matuk kaya ayam yang lagi ngeramin anak-anaknya."
"Abang kaya musang!" desisnya.
Gale sedikit meremang saat telunjuk Fatur menyentuh salah satu benda sensitif miliknya, mengusapnya memutar secara lembut. Ia memandang wajah Fatur, dimana pria itu tengah fokus mengoleskan minyak zaitun, entah fokus mengobati atau memang fokus melamunkan benda yang tengah disentuhnya.
Pria ini...pria dingin yang dulu menolaknya, selalu datar dan cuek padanya. Pria dengan segudang cerita kelam dibaliknya, ternyata kini adalah suaminya. Telah banyak hal yang mereka lewati untuk sampai di titik ini. Titik dimana mereka sedang berjuang bersama, belajar bersama, dan bahagia bersama.
"Bang,"
"Hm," Fatur menghentikan kegiatannya dan mendongak.
"Sepatu dulu yang sama kaya punya Gale, ko Gale ga pernah liat?!" tanyanya.
"Oh, ada. Abang masukkin ke kardusnya lagi biar ga rusak. Abang mau simpen, buat mengingatkan abang, kalo gara-gara itu abang ketemu kamu dan kenal sama yang namanya Mumun," Gale tertawa kecil, ia menutupnya dengan tangan agar tak berisik.
"Abang nyesel ngga ketemu Gale? Abang pastinya marah udah Gale timpuk pake mukena?!"
"Marah, marah banget! Tau ngga, siang itu abang abis ngadepin pasien bandel, bikin stress karena ga denger apa yang dianjurkan dan engga mengindahkan larangan yang abang kasih, abang akhirnya pergi ke masjid sambil solat ashar. Eh baru aja tenang dikit, di masjid ditimpuk mukena udah gitu dituduh nyuri sepatu!" terang Fatur, Gale sudah tertawa-tawa sendiri.
Fatur membawa Gale untuk berbaring setelah memasangkan kembali bra-nya.
Tangannya terulur mengusap surai hitam Gale, "Abang juga nolong Gale waktu di rumah sakit, sampe nungguin Gale tidur,"
"Oh iya, kamu ga dimarahin ayah waktu itu?" tanya Fatur menunduk ke arah Gale yang berada di bawahnya, kini posisi mereka bersampingan hanya saja Fatur duduk sementara Gale berbaring.
"Ayah marah banget lah bang! Sampe ga jadi solat subuh di masjid, Gale di guyur abis-abisan di kamar mandi apalagi ayah nyium bau alkohol dari mulut Gale, wah udah deh, parah! Gale langsung disuruh nikah sama bang Ori," Fatur tertawa tanpa suara.
Gale mendongak, melihat tawa renyah yang tertahan itu, "terus abang dateng! Nawarin diri buat jadi pesaing bang Ori,"
"Abang ga ngerti, Ori suka kamu tapi dia sendiri yang batalin perjodohannya,"
Gale bangun dan menyamakan posisinya dengan Fatur, wajahnya berbalik menghadap Fatur dengan tangan yang menangkup rahang tegas Fatur.
Gale menatap Fatur dengan penuh kelembutan, "karena Gale yang minta, Gale bilang Gale sukanya abang. Gale maunya abang, Gale pengen usaha dulu naklukin abang,"
"Dan kamu sudah lakukan itu sejak lama," rahang itu bergerak menarik senyuman tipis, Fatur membalas dengan menangkup rahang Gale dan mengusapnya hingga ke tengkuk, lama mereka saling tatap, Fatur menarik tengkuk Gale dan mendaratkan ciumannya di bibir Gale.
.
.
.
.
.
__ADS_1