Gadis Nakal Om Dokter

Gadis Nakal Om Dokter
Gue ga sebaik itu,


__ADS_3

Penyesalan memang selalu datang di akhir karena kalo di awal itu pendaftaran namanya.


Fathya kini hanya bisa terisak sambil berfikir bagaimana caranya memperbaiki kesalahannya.


"Mungkin ini ga akan bisa ngembaliin kepercayaan abang lagi, tapi setidaknya gue mau menghentikan semua kekeliruan ini."


Fathya mengeluarkan semua barang-barang miliknya dari dalam tas mahal yang baru saja 3 hari berada di tangannya, lalu mengelapnya dan memasukkannya kembali ke dalam tas kainnya.


"Kayanya takdir gue, loe deh blue !" ucapnya bermonolog pada tas lamanya yang tak sebagus dulu saat pertama kali membelinya.


Gale sangat sibuk menyiapkan perlengkapan miliknya dan Fatur, hari sabtu hanya ada 2 jam pelajaran saja dan sisanya pramuka. Dan Gale bukan termasuk anak bangsa dengan sifat patriotisme. Dia hanya beranggapan, karena cita-citanya jadi dancer maka ia tak perlu repot-repot menghafal dasa darma hingga ke akar-akarnya. Toh ujungnya kodrat wanita akan balik ke dapur, sumur dan kasur, maka setiap ia tak mood pelajaran pramuka ia dan teman-temannya akan memainkan sebuah drama, meskipun tak seheboh drama si doel anak sekolah, tapi mampu membuat ia dan teman-temannya kabur dari sekolah.


Lihat saja perbedaannya, jika Fathya akan bersemangat, dengan memasang kacu, periwit dan segala perintilan pramuka, lain halnya dengan Gale, baju seragam saja ketat bukan main memperlihatkan lekuk tubuhnya, sekali ia mengangkat tangan, maka perutnya pasti akan terlihat.


"Hari ini pulang jam berapa ?" tanya Fatur.


"Jam 9," jawab Gale, mama mengerutkan dahinya, sedangkan Fathya sudah tak aneh jika kaka ipar nakalnya ini akan punya jam pulang sendiri.


"Ko jam 9, biasanya Fathya jam 11?" tanya mama.


"Gale punya jam pulang sendiri ma," jawabnya santai mengambil susu dari kulkas dan menuangkannya ke dalam gelas.


"Ko bisa ?" tanya Fatur, anak kepala sekolahnya bukan, anak gurunya bukan, apalagi anak komite sekolah.


"Bisalah bang, karena Gale istimewa !" Gale menyimpan kedua telunjuknya di pipi.


"Cih, ga mungkin. Bukannya ga ada yang tau kamu anak kepala sekolah BP ?"


"Emang ga ada," geleng Gale.


"Seragam kamu ga ada yang besar kah? Atau mau abang belikan lagi ?" tanya Fatur meliriknya saja perasaannya sudah dag dig dug, membuat jantung Fatur berdesir.


"Engga usah bang, udah mau keluar ini kok!"


"Tapi kalo kamu angkat tangan seragam kamu itu, ya Allah!" Fatur berdecak seraya menggelengkan kepalanya.


"Mah, Fathya pulang telat ya." ijin gadis itu, membuat Gale dan Fatur melirik namun tak banyak berucap.


Keduanya saling lirik, melihat di samping bawah Fathya ada sebuah paper bag besar bertuliskan nama toko tas ternama di sebuah mall di Jekardah.


Fatur yang hari ini libur mengantarkan dengan memakai pakaian casual.


Gale sebenarnya ingin bertanya pada Fatur, kemana adik iparnya akan pergi, tapi ia urungkan karena gengsinya yang sebesar gunung. Ditambah suami dokternya ini tak banyak bicara dan bertanya.

__ADS_1


Aneh banget, abang ko ga nanya-nanya adek terlav mau kemana, biasanya cerewet kaya sales regulator kompor gas. Giliran gue aja, langsung ngegas kaya tabung bocor !


"Kenapa liatin abang, abang tau abang ganteng !" ujar Fatur yang sejak tadi sadar diperhatikan oleh Gale.


"Dih, geer! Justru Gale baru mau bilang, abang pake topi kaya tukang peuyeum," decak Gale menyunggingkan bibirnya kaya minta ditabok pake bibir juga. (pedagang tape)


"Sembarangan! Minta di lempar ke sungai," Fatur memiting leher Gale di ketiaknya, Fathya yang mendengar candaan mereka ikut menyunggingkan senyumnya.


Ngomongin ganteng, Fatur memang tampan dengan stelan casualnya dibanding pake snelli (jas dokter). Apalagi ia menambahkan topi hitam di kepalanya kadar ketampanannya semakin bertambah, meskipun kulitnya tak seputih pria korea, lebih ke sawo matang, tapi terkesan laki banget.


Gale menggelengkan kepalanya, "grrrr, ga beres!"


Fathya masuk duluan ke dalam mobil.


"Bang, Gale pake mot..."


"Engga !" potongnya tegas.


"Oke," jawab Gale pelan cukup terkejut karena ia bahkan belum sempat menyelesaikan ucapannya.


Waktu tempuh 20 menit cukup lama untuk Gale, Fathya dan Fatur karena tak ada satupun dari mereka yang membuka mulut, ketiganya terhanyut dengan pikiran masing-masing. Fathya berfikir bagaimana merangkai kata-kata untuk pertemuan nanti dengan Seli, Fatur sedang fokus di jalanan, dan Gale otaknya tak jauh-jauh dari hal-hal berbau kenakalan, drama apa yang akan mereka mainkan agar bisa pulang cepat dan tak mengikuti pramuka.


"Abang jemput kamu jam berapa ?"


"Oke, abang mau nge-gym sebentar bareng Teri."


"Oke."


Fathya merasa jadi orang asing disini, ia sangat paham. Ia pantas mendapatkan itu sekarang, sekarang ia mengerti satu hal bahwa kepercayaan itu mahal. Ia juga belajar satu hal, tidak semua yang terlihat memang seperti itu faktanya, meskipun tujuannya baik ingin abangnya ini bahagia, tapi ternyata ia tak lebih tau dari orang lain tentang apa yang sebenarnya membuat abangnya ini bahagia. Fathya melirik gadis yang duduk di samping abangnya, tak menyangka jika Galexia lah sumber kebahagiaan abangnya.


Fathya akui Galexia sosok yang cantik, baik, setia kawan, tulus meskipun kebaikannya seringkali tertutup sikap natckal dan konyolnya.


Mobil sudah sampai di sekolah, tangan Gale terjeda saat membuka handle pintu mobil.


"Gale," panggil Fathya. Bukan hanya Gale yang menoleh, tapi abangnya ikut menoleh.


"Jaket loe udah gue cuci dan dijemur di belakang, mungkin tinggal disetrika bibi di rumah. Makasih udah nolongin gue," ucapnya.


"Hm," Gale mengangguk.


"Kamu nolongin Fathya apa? Emang Fathya kenapa?" tanya Fatur.


"Doi bocor di sekolah ga bawa pembalut." Gale menyodorkan tangannya hendak salim pada Fatur, tapi Fatur belum membalas karena si anak bawang masih berbicara.

__ADS_1


"Fathya diketawain siswa lain, Gale yang nolongin Fathya," lanjut Fathya.


Fatur mengusap kepala Gale, ia semakin salut dengan sikap Gale yang tulus.


"Gue ga sebaik itu for your information, cuma ga mau aja loe anggap gue sama sadisnya kaya yang lain. Bukannya loe bilang gue preman sekolah kan ?! Lain kali kalo orang bully loe mesti lawan, gue paling ga suka sama orang lemah, enak buat diinjek-injek orang lain. Jangan lemah, karena gue ga akan terus bantu loe. Kalo perlu loe jambak rambutnya terus loe jorokin ke selo_kan depan sekolah yang airnya item !" Gale terpaksa meraih tangan Fatur dan salim.


"Bang, Gale sekolah dulu. Assalamualaikum !"


"Waalaikumsalam."


Gale keluar, dari pertama turun saja, beberapa anak sudah menyapa Gale, belum lagi teman-temannya yang super heboh.


"Gale banyak temennya, ga kaya Fathya," gumam gadis itu.


Sebenarnya Fatur masih sangat marah pada adiknya itu, tapi ia ikut merasakan apa yang adiknya rasakan.


"Coba buka dirimu untuk lebih menerima lingkungan. Lebih ramah dan perbanyak sosialisasi," jawab Fatur.


"Bang maafin Fathya,"


"Jam berapa kamu ketemu Seli?" tanya Fatur menatap adiknya dari spion.


"Pulang sekolah bang."


"Jam berapa kamu pulang?"


"Jam 11 bang,"


"Oke!"


"Fathya masuk dulu bang, assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam,"


Fatur melirik jam ditangannya. Masih banyak waktu untuk sekedar olahraga dulu.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2