
Gale duduk dan menyandarkan kepala di sandaran sofa. Mengistirahatkan tubuhnya agar panas suhu udara dari luar bisa kembali netral setah duduk dan bersandar, rasanya semakin hari langkahnya semakin berat. Begitupun Fathya yang langsung menjatuhkan badannya di sofa.
"Cape gila ih!" decaknya.
"Pengen mandi lah!" tak pernah ia ingin mandi cepat-cepat seperti sekarang, kalaupun capek setelah sekolah dulu, paling ia cuma rebahan di lantai keramik sambil nyalain kipas angin.
"Jangan langsung mandi Le, diemin dulu kalo udah aga adem baru mandi," jawab mama menghampiri anak dan menantunya.
"Iya ma, mana ngantuk juga!"
"Ko lama?"
"Ban mobil bocor, mang Kosim nambal ban dulu!" jawab Fathya malas.
"Gale ke kamar ya ma, pengen rebahan," ijin Gale.
"Iya, jangan lupa solat dulu!" teriak mama diokei Gale.
Setelah melaksanakan solat ashar, Gale merebahkan badannya yang lelah, tapi rebahan itu malah ngelunjak jadi ketiduran.
Fatur masuk ke dalam kamar, melihat bumil-nya masih memejamkan mata padahal hari sudah sore, "hey..masa calon bunda tidur sore-sore, ga bagus!" punggung telunjuknya menekan-nekan pipi Gale yang seperti squishy.
"Abang," ucapnya parau, tapi matanya belum sepenuhnya terbuka.
"Jangan tidur sore-sore, udah mandi belum?" Fatur membuka kemejanya.
"Belum, ko males ya?!" kekehnya mencoba mengumpulkan kesadaran seraya menggeliat-geliat terbatas.
"Gimana tadi di kampus?" tanya nya.
"Not bad, ga ada yang seganteng abang!" Gale beringsut dari ranjang dan memeluk lelakinya dari belakang, Gale tau kalimat-kalimat manja seperti inilah yang Fatur butuhkan setelah lelah bekerja.
Ia menghirup dalam-dalam aroma tubuh Fatur, siapa tau matanya bisa segeran nyium bau keringat suaminya. Bukannya bangun, ia malah terlena dan bersandar manja.
"Le, abang masih bau loh! Katanya ga suka bau etanol," ujarnya hanya menoleh ke samping, karena lehernya bukan leher burung hantu yang bisa berputar dengan putaran penuh, seraya memberikan usapan lembut di lengan Gale yang melingkar di perutnya.
"Ga apa-apa, bukannya Gale harus terbiasa ya? Asal jangan wangi parfum cewek aja," kekeh Gale. Bukan apa-apa, gerakan kedua calon anaknya itu membuat punggungnya geli juga.
"Ngaco," tangan besar itu menepuk pelan tumpukan telapak tangan Gale.
"Pengen bungkus abang ke kampus," Fatur memutar badannya dan membalas pelukan Gale.
"Bungkus neng, bawa di saku!" jawabnya tersenyum dan mengacak rambut Gale.
"Cepetan mandi, masa bumil bau asem, jangan mandi kesorean! Terus temenin abang nyemil di belakang," Gale mengangguk mendengar kata nyemil.
Ponsel Gale bergetar di meja, awalnya itu tak membuat Fatur terganggu. Tapi kelamaan, getarannya tak bisa diam dan berkali-kali. Terpaksa Fatur meraihnya dan melihat.
Chat grup Pandawa, ia skip. Begitupun pesan dari momy dan beberapa teman yang namanya jelas. Tapi matanya menatap tajam pada nomor-nomor tak dikenal. Gale tak pernah mengunci ponselnya dengan password susah, cukup memasukkan tanggal lahirnya seketika ponsel itu terbuka, menampilkan wallpaper ponsel dengan foto mereka berdua.
__ADS_1
Rata-rata dari mereka mengajak Gale berkenalan, Fatur jadi berfikir apalagi yang istrinya lakukan di kampus hari ini? Baru hari pertama, sudah banyak yang menghubungi Gale, padahal kondisi perempuan ini sedang mengandung.
...----------------...
"Abang mau kemana?" tanya Gale saat Fatur ikut turun dari mobil.
Fatur menekan tombol alarm dahulu, dan menggandeng tangan Gale, bahkan Fathya saja sampai mengernyitkan dahi.
"Iya ih, abang mau kemana?"
"Mau anter kalian sampai dalem," tunjuk Fatur. Gale dan Fathya saling melirik lalu sejurus kemudian keduanya tertawa.
"Udah kaya anak tk, dianter sampe dalem sambil gandengan tangan takut ketuker sama anak orang," sahut Gale, membuat tawanya dan Fathya meledak.
"Takut loe ngompol Ale," tambah Fathya, tawa mereka semakin menjadi. Melihat ekspresi datar Fatur, kedua gadis ini langsung mengatupkan bibirnya, sepertinya bapak dokter satu ini sedang tak ingin bercanda, lagi mode pms.
"Udah ketawanya? Yuk!" ajak Fatur.
"Abang kenapa?" gerakan mulut Fathya di belakang Gale, arah tatapan Gale masih pada Fathya, namun tangannya ditarik Fatur sampai terbawa.
"Mana gue tau, lagi pms kali! Gue ga bikin dosa apapun loh!" balas Gale jujur, dengan gerakan mulutnya.
"Udah ga usah pada bisik-bisik!" tegur Fatur, seketika keduanya diam.
Langkah Fatur yang cepat dan selebar dunia sedikit sulit diimbangi Gale, "abang!!"
"Udah sampe sini aja, lagian abang ga bisa masuk lebih dalem lagi. Mau ikutan ngospek juga emangnya?" tangannya mengibaskan pegangan Fatur, telapak tangannya sampai berkeringat karena terus di genggam.
"Hati-hati, belajar yang bener. Ga usah bertingkah yang bikin orang-orang pada ngajak kenalan !" ucap Fatur, sontak saja alis Fathya bertaut aneh, sepertinya benar kata orang rumah kosong di depan gang komplek rumahnya berhantu, Fathya akan menghindari pulang sore atau malam melewati bangunan itu, takut kesambet kaya abangnya.
"Abang kenapa?" tanya Gale.
"Engga, ya udah abang balik ya. Nanti pulangnya abang jemput!" ia meraih kedua sisi wajah Gale dan menyarangkan kecupannya di kening Gale, sementara Gale masih merasa aneh dengan Fatur.
"Emangnya abang selesai kerja jam berapa?"
"Jam 2, abang usahakan selesai."
"Kalo ngerepotin, ga usah jemput deh. Biar Gale sama Fathya pesen taksi online aja," usulnya, Gale mengerti Fatur adalah dokter yang sibuk. Sebagai seorang istri, ia tak mau terlalu bergantung pada suami, selama bisa melakukan sendiri.
Fatur menggeleng, "biar abang jemput." Jawabnya telak dan penuh penekanan.
"Oh, oke."
Sebisa mungkin Fatur akan menjaga rumah tangganya, tak akan memberikan celah untuk orang ketiga, keempat, kelima. Meskipun ia tak bisa mencegah jika masalah itu timbulnya dari faktor intern, tapi setidaknya ia berusaha menghalau faktor ekstern.
"Kalau kamu udah pulang duluan, kabari abang! Abang jalan dulu," ucapnya kembali menyarangkan kecupannya di punggung tangan Gale dan mengusap perutnya.
Wajah Gale sudah bukan pink lagi, tapi merah padam dengan perlakuan Fatur, masalahnya kampus bukan milik mereka pribadi, dan orang-orang bukan lagi ngontrak. Sedangkan laki-laki itu berjalan biasa saja seperti tak ada beban padahal ia sendiri sudah sangat malu.
__ADS_1
"Misi kak," ucapnya saat melewati para seniornya. Tak ada yang bertanya atau berani berkutik lagi setelah kejadian kemarin.
"Dianter abang, om?" tanya nya menyusul dan menyesuaikan langkahnya dengan Gale.
"Oh, yang barusan?" tanya Gale, Nadia mengangguk.
"Suami," jawabnya singkat, Nadia cukup terkejut, ternyata tidak seperti apa yang dipergunjingkan anak-anak maba dan para panitia di belakang. Dari sekian ratus camaba mungkin hanya Gale saja yang hadir dengan kondisi mengandung, jadi wajar saja jika ia jadi bahan pergunjingan. Telinga Gale tidak tuli, tapi memang ia yang seacuh itu. Yang penting Gale tidak merugikan orang.
"Oh suami,"
"Iya, gue bukan cewek nakal kaya mereka bilang kok, kenapa? Muka gue keliatan kaya cewek nakal ya?" tanya Gale. Nadia tertawa meringis merasa tak enak hati sudah punya pikiran sama dengan yang lain.
"Engga apa-apa," tukas Gale lagi, seakan tau isi pikiran Nadia.
...----------------...
Materi sesi kedua diadakan di lain ruangan, membuat Gale harus berjalan sedikit jauh kesana.
Tak mau berdesakan, ia keluar setelah maba lainnya keluar.
"Dipercepat ya guys!" pinta cofas gugusnya.
Karena tergesa dan ramai, Gale sampai harus melindungi perutnya agar tak terdorong atau sekedar terhimpit berdesakan.
"Eh!" hampir saja Gale tedorong jika tubuh tegap itu tak menjadi benteng untuknya.
"Ja, ini minta dikondisikan. Kalo yang kondisinya khusus jangan disamain sama yang lain!" pintanya tegas, dengan wajah memerah yang sedikit basah karena peluh. Menjadi panitia begini memang melelahkan dan bukan hal mudah.
"Makasih," ucap Gale.
"Galexia! Ayok!" ajak Nadia.
"Hm," angguk Gale, terakhir tatapannya ia sarangkan tepat di mata Randi yang juga sedang melihatnya. Baru kali ini Gale melihatnya sedikit lebih lama saat sedang berbicara.
"Bor! hamil tuh! Yang gadis masih banyak, ngantri buat babang Randi!" tawa Robi menepuk pundak Randi, karena sejak tadi mata temannya ini tak lepas dari sosok Gale.
"Si*@lan, enggak lah!" elak Randi.
"Nolongin maba yang lagi hamil, pahala!" lanjutnya sambil berlalu, sementara Robi sudah menertawakan salah tingkahnya Randi.
"Penasaran loe? Udah bosen berurusan sama gadis, sama gadis longgar? Mau cari pengalaman baru sama yang punya anak?" tanya Robi tanpa tedeng aling-aling.
"Kata bang Hendra, bapaknya ga ada, kali aja suka sama janda! Paket komplit, dapet dia gratis anaknya! Calon dokter ini," teriak Robi menyusul Randi sambil tergelak, kapan lagi menggoda temannya yang kaku dan terkenal dingin pada perempuan, tapi justru banyak dikejar.
"Saravvv," Randi menggelengkan kepalanya atas ucapan Robi.
.
.
__ADS_1
.