Gadis Nakal Om Dokter

Gadis Nakal Om Dokter
Selamat berjuang bunda


__ADS_3

Dokter bukanlah malaikat ataupun Tuhan, hanya bisa memprediksi sesuai apa yang ia pelajari, menolong sesuai dengan kemampuan yang dimiliki, namun ia bukan penentu nasib seseorang.


"Kunci mobil, kunci..mana kunci..!!"


Pandawa terpaksa pulang dahulu ke rumah untuk mandi karena waktu sudah tergelincir ke senja. Tersisa keluarga Kurawa, dimanapun mereka, mereka selalu menganggap tempatnya berpijak adalah rumah mereka sendiri.


Roy yang baru saja selesai numpang mandi pun ikut dibuat heboh padahal belum sempat memakai pakaian.


"Andro! Kunci mana tadi?" tanya Shania panik.


"Di meja kerja bang Fatur!"


"Buruan! Ini Gale udah keluar darah," teriak Lila.


Fathya berlari mengambil kunci mobil Fatur di ruang kerjanya.


"Tahan sayang, kita langsung ke rumah sakit!" ujar Shania menenangkan Gale.


"Loe ngapain masih andukan saravvv?!" tepuk Deni di punggung Roy keras.


"Lupa gue! Abisnya heboh banget!" nyengirnya lebar.


"Sayang ambilin kaos aku di bagasi mobil dong!" pintanya pada Inez.


"Inhale...exhale...!" pinta Lila pada Gale dengan wajah memucatnya. Sementara mama menyeka keringat Gale.


"Huweekk!" Guntur malah muntah melihat Gale yang meringis dan melelehkan cairan merah dari jalan lahirnya.


"Diba! Urus laki loe tuh! Ribet!!" seru Niken kesal, disaat semua orang panik, ia malah sempat-sempatnya muntah. Hendra sampai terkikik melihat kehectican mereka.


Ari dan Arka memapah Gale menuju luar rumah, "ayah gendong ya?" Gale menggeleng.


"Ga usah yah, Gale berat!" jawabnya lemah, tangannya tak lepas dari t shirt Fatur, dimana aroma Fatur masih tertinggal disana, sebagai obat penenangnya.


"Dokter udah dihubungin apa belom?!" pekik Leli ikut hectic, sementara Melan dan Inez memegang para krucil Kurawa.


"Mama, itu kak Gale kenapa?!" mata mereka berkaca-kaca.


"Ga apa-apa sayang, orang lahiran emang gitu. Kan dedenya mau keluar," Melan memeluk para krucil.


"Dokter udah dihubungin!" pekik Fathya melambaikan ponselnya di udara.


"Yuuk buruan!"


"Bu Ela, kita berangkat dulu!" ucap Shania, sengaja tidak semua ikut biar ga heboh di rumah sakit.


Shania tak lepas mendekap Gale.


"Momy, ini adek udah dorong-dorong, sshhh!" desisnya merasakan dorongan kuat dari dalam perutnya.


"Iya sebentar sayang, Gale harus tenang. Ga boleh terpengaruh sama syaitan-syaitan heboh!" jawab Shania menekankan kalimat akhirnya, tentu saja tertuju untuk geng Kurawa.

__ADS_1


Pintu mobil ditutup, mereka meluncur menuju rumah sakit. Di mobil hanya ada Gale, Shania, Arka, Deni dan Leli, sementara yang lain nanti menyusul.


Di tengah keheningan dan rasa sakit yang mendera, Gale berucap, "momy, kaka minta maaf...kaka sering repotin orangtua sama onta-onty juga."


"Engga, jangan bilang gitu...kakak ga pernah bikin kita repot," jawab Shania, mengusap-usap perut Gale.


"Gale belum bisa banggain ayah sama momy, malah seringnya ngasih rasa malu sama jengkel," air matanya meleleh. Arka dapat melihat putrinya yang menangis seraya menahan rasa sakit dari pantulan spion mobil.


"Suttt! Udah ga usah banyak ngomong, simpen tenaganya buat ngeden nanti ya," pinta Shania karena kini ia sudah tak bisa lagi membendung air matanya, termasuk Leli yang sudah menyerut air di hidungnya, memalingkan wajah untuk mengusap ekor matanya.


Deni membawa mobil bergerak membelah kemacetan, wajar macet karena ini adalah jam-jam krusial, dimana orang-orang berakhir pekan apalagi jam orang-orang baru saja keluar menikmati waktu malam.


"Belum magriban, nanti aja di rumah sakit."


Gale mencengkram kuat lengan ibunya, menyalurkan rasa sakit yang dirasakan, dengan sebelah lainnya masih setia memegang t-shirt Fatur, "Momy ssshh..." saat mules itu datang kembali.


Kursi roda menyambut Gale di gawang UGD, bersama Seli disana dan beberapa suster lain.


"Biar saya saja Li," pinta Arka.


"Iya pak, Leli ambil tas perlengkapan," jawab Leli.


"Dok, ini keluar darah tapi tak banyak," ujar Shania.


"Oh iya ga apa-apa bu," ucap Seli mempersilahkan Gale duduk di kursi roda.


"Sudah siap berjuang bunda?" tanya Seli, lalu mengangguk untuk dibawa ke dalam.


Kursi roda di dorong melewati apotik rumah sakit, dan ruangan laboratorium, menyusuri beberapa ruangan rawat inap dan poli penyakit dalam, sebagian atensi pengunjung tercuri oleh kehadiran calon bunda muda yang akan melahirkan ini.


"Gale caesar?" tanya nya.


"Bukan yank, tapi kalo kembar kan lebih beresiko, jadinya untuk jaga-jaga persalinannya di ruang ini." jawab Leli.


"Dari pihak keluarga siapa yang mau mendampingi di dalam?" tanya Seli.


"Biar saya saja dok," Shania ikut masuk.


"Selamat berjuang kakak," kecup Arka di kening Gale meniupkan kalimat do'a di ubun-ubun untuk putrinya.


"Ayah, kakak sayang ayah!" jawabnya, Arka mengangguk.


"Gemoy kuat," Deni dan Lila mengecup pucuk kepala Gale bergantian. Shania dan Seli mendorong kursi roda Gale, sampai ia hilang dari pandangan ketiganya.


Salah satu suster menutup pintunya.


Ruangan yang ukurannya cukup luas membuat rasa tegang Gale teralihkan, karena jauh dari dugaannya, ruangan ini begitu menenangkan, meskipun tak dapat dipungkiri semua alat-alat yang ada disini membuatnya takut setengah mati, benda-benda logam yang bikin jantungnya berdegup kencang. Seli meminta suster memasangkan alat monitor di perut Gale, untuk memantau kondisi bayi dalam perut Gale. Ia juga menyuntikkan epidural supaya rasa sakitnya bisa berkurang, kelahiran kembar memang istimewa baik hasil maupun rasa sakit yang dialami.


"Saya kasih dulu bius epidural ya, biar ga terlalu sakit, jaga-jaga juga..." jawabnya tanpa menyebutkan kata caesar agar Gale tak tersugesti.


"Relax, buang semua ketakutan kamu,"

__ADS_1


Seli mencuci tangan, memasang sarung tangannya juga melapisi pakaiannya dengan baju steril.


Bahkan sebuah suntikan saja kalah sakit dibanding mulesnya sejak tadi siang.


"Tarik nafas, kita lihat sudah lengkap apa belum?" Gale mengikuti semua intruksinya, bersama tangannya tak lepas dari genggaman Shania.


Seli tersenyum, "hebat! Saya pecahkan dulu ketubannya ya." Seli mengambil alat untuk memecah lapisan ketuban hingga yang dirasakan Gale ialah bagian bawahnya teraliri cairan hangat.


"Sebentar, saya pasang dulu fetal scalp clip," Seli memasukkan tangannya dangkal diatas kepala bayi yang mulai teraba olehnya untuk memantau aktivitas jantung si bayi.


"Tarik nafas dalam, dan buang lewat mulut. Jika sudah terasa sesuatu mendorong dari dalam maka bantu dengan mengejan. Jika belum, jangan dipaksakan untuk mengejan," pinta Seli menuntun Gale, senyumnya tak pernah luntur demi kenyamanan pasien.


Gale mengangguk mengerti, mungkin kita kesampingkan saja atau buang jauh-jauh dendam dan masalah pribadi diantara keduanya dulu untuk saat ini.


"Bunda pinter, kalau sudah siap..bilang. Biar kita bantu sama-sama!" Gale kembali mengangguk, benar kata orang jika wanita itu makhluk terkuat di dunia, merasakan mulasnya saja sudah menguras sebagian tenaganya. Rasanya makanan yang ia makan selama ini hilang begitu saja oleh proses persalinan ini.


Wajahnya sudah memucat pasi, tapi Gale harus kuat. Rasa sakit yang dialami sekarang, tak bisa dibandingkan dengan rasa sakit apapun.


"Kakak pasti bisa," ucap Shania dengan raut wajah khawatir, momynya ini tak pandai berakting, ia tak bisa menyembunyikan ketakutan dan rasa cemasnya meskipun masih menampilkan senyumannya.


"Tante..." rintih Gale saat sesuatu mulai terasa mendorong.


"Oke siap, dorong tapi jangan diangkat pan tatnya, ga usah sampe teriak dan matanya jangan ditutup!"


"Tante...sshhhhh!"


"Dorong!"


Gale mengambil nafas dan mengejan sekuatnya sampai mencengkram genggamannya di tangan Shania, tapi gagal..ia menggeleng pertanda menyerah untuk dorongan pertama.


"Ga boleh nyerah, ayo pasti bisa..sedikit lagi! Disana Fatur juga lagi berjuang loh!" tangan Seli terulur menekan-nekan bibir dewi Gale agar melunak elastis, bisa ia rasakan sakitnya tapi dayanya sudah terkuras, Gale hanya bisa pasrah.


"Tante.."


"Ayo lagi, dorong!" wajah Gale sampai memerah demi mengejan, "ya Allah bantu Gale," gumamnya dalam hati.


Wushhh!


Sesuatu yang hangat dan besar seperti keluar dari dalam dirinya. Senyum semua orang di dalam merekah tatkala melihat bayi mungil itu meluncur bebas, putih, bersih, dan tentunya menggemaskan.


"Alhamdulillah," gumam mereka.


"Masih belum selesai ya bunda, si dedek masih di dalem." Seli dibantu suster menjepit tali pusar dan membawa bayi pertama menempel di dada Gale.


Gale merasa nafasnya terasa sesak, pasokan udara seakan berkurang untuknya dan ruangan mulai meremang gelap. Seli mengernyitkan dahi saat merasakan Gale mulai terkulai dengan kesadaran melemah.


"Eh, kenapa ini dok?!" panik Shania.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2