Gadis Nakal Om Dokter

Gadis Nakal Om Dokter
Gerakan Sabtu Merdeka


__ADS_3

Fatur datang ke studio gym langganannya bersama Teri. Hanya sekedar membakar lemak, dan mencari keringat sehat, biasanya mereka melakukannya seminggu sekali ditambah futsal pada hari tertentu saat off.


Fatur masuk dengan membawa tas berwarna biru miliknya, disana Teri sudah menunggunya sambil berlari kecil di Treadmill.


Ia mengganti pakaian di kamar kecil, lalu menghampiri Teri. Sesama dokter muda yang sudah berteman lama, sejak awal ia jadi dokter koas di salah satu rumah sakit swasta di Jekardah hanya saja keduanya beda spesialis.


"Bro," Teri turun, dokter yang usianya hampir sama dengan Fatur itu mematikan treadmill dan bertos ria.


"Udah lama?" tanya Fatur baru bergabung, ia memulainya dengan berpijak di alat treadmill memencet dan mengatur kecepatan lalu mulai berlari.


"Tempo hari Seli nanyain loe bro,"


Fatur tak menoleh ataupun peduli, ia asyik dengan aktivitasnya.


"Doi udah tau loe dah married apa belum ?"


"Udah,"


"Emang dahsyat kekuatan cinta, bikin seseorang yang berpendidikan aja sampai lupa diri," jawab Teri.


"Itu bukan cinta namanya, tapi obsesi," jawab Fatur menaikkan kecepatannya, mendadak hatinya mencelos sekaligus marah mengingat Seli, potongan wajah Gale yang menangis karena Seli tergambar jelas di pikirannya.


"Loe ga ada say good bye gitu sama Seli?" tanya Teri.


"Buat apa?" tanya Fatur.


"Ya kali aja, lama pacaran butuh kalimat perpisahan, atau justru ada niat mau reunian?" kekeh Teri mulai mencoba alat lain.


"Gue sama Seli cuma sebatas hubungan pacar, belum seserius itu. Tak perlu ada kata apapun, cukup kata pisah saja, maka kita jalani hidup kita masing-masing," jawabannya selalu datar dan kaku. Rambut pendeknya mulai dibasahi keringat, membuat Fatur terlihat hot. Jika Gale ada disana, mungkin gadis ini akan memeluk erat suami dokternya dan menutup kepala Fatur dengan kresek agar tak dilirik gadis lain.


"Beuh, sadis! Ini nih yang bikin ciwi-ciwi termasuk Seli gagal move on. Sikap dingin loe," timpal Teri meraih botol minum dan meneguknya.


"Loe sendiri gimana? Ada kemajuan?" tanya Fatur mengusap keringat di kening dengan punggung lengan.


Teri menggeleng, "gue ga buru-buru, biar dia merasakan cinta yang gue kasih."


"Kelamaan diembat orang, loe yang patah hati!" Fatur menggelengkan kepalanya.


"Gue mau nyari yang kaya loe lah, yang imut, gemesin tapi sangar!" jawab Teri.


"Kalo gitu loe datang ke petshop, loe cari kucing anggora yang baru beranak," jawab Fatur terkekeh.


"Si*@lan loe!" desis Teri.


"Gimana si imut loe, udah baikan?" tanya Teri menjuluki Gale dengan sebutan imut, pria itu tak tau saja dibalik tampang imutnya Gale menyimpan sejuta keabsurdan yang hakiki, ia selalu tertarik dengan kisah cinta temannya ini yang menurutnya lebih berwarna lagi sejak kehadiran Gale.


Fatur menaikkan alisnya sebelah, ada apa dengan temannya ini selalu menanyakan Galexia, semenjak ia mengetahui kisah dan wajah Galexia.


"Baik, kenapa nanyain terus istri gue? Jangan bilang loe suka?!" tanya Fatur, dan reaksi Fatur barusan memancing tawa Teri.


"Jealous bro, santai aja. Gue ga akan mungkin suka sama bini temen sendiri, ha-ha-ha!"


"Loe dokter ke-3 yang tertarik sama Galexia," jawab Fatur.


"Hah?!" bukannya marah tapi Teri malah tertawa.


"Wahahaha, bahaya bro! Meleng dikit aja bini disalip orang, ati-ati!" jawab Teri. Dan obrolan mereka ngaler ngidul entah kemana arahnya. Sampai Fatur memutuskan untuk menjemput Gale di sekolah, karena sejak tadi feelingnya tak enak.


...----------------...


Gale dan Andini menyusul Irvan, Lila dan Faisal di dekat kamar mandi guru, disinilah kamar mandi yang rutenya paling cepat menuju gerbang atas, gerbang yang tidak terlalu tinggi pagarnya untuk dipanjat.


"Idih gercep ih!" seru Andini pada ketiganya.

__ADS_1


"Ha-ha-ha, ini kita kaya spesialis gerakan sabtu merdeka ngga sih?" tawa Lila.


"Ko berasa kaya gera'an gera'an pemberontak sih !" mereka cekikikan. Inilah mereka yang masih bisa ketawa-ketiwi ditengah aksi kabur dari sekolah, belum terbayang akan sekangen apa mereka selulusnya nanti.


"Pernah ga sih sekali aja loe semua ikutan pramuka full ?" tanya Lila, Irvan mengangguk.


"Pernah! Gue sama Ical sebelum kenal sama loe semua, awal masuk SMA, semenjak gue kenal loe semua aja jadi kebawa ga bener," jawab Irvan.


"Dih, sendirinya yang ga bener. Maling teriak maling!" Andini menoyor Irvan.


"Pernah gue waktu SD kelas 3!" jawab Gale di tengah kunyahannya.


"Nih biang keroknya lagi makan mie kremes," tunjuk mereka pada Gale si bontot yang asyik mengunyah mie kering dengan harga gope sebungkus ini. Jajanan mereka memang receh meskipun bukan sobat missqueen.


"Heran gue, kita yang pada lebih tua. Tapi ikut-ikutan Lele yang justru paling bontot. Ini yang geblek siapa cobak?" tanya Faisal.


"Gue mah ngikut aja kemana angin membawa! Dan sekarang..." Gale meng_3moet telunjuknya dan mengarahkan ke atas layaknya orang oon mencari arah angin.


"Angin pengen bawa gue keluar dari sekolah!" mereka tertawa dengan jawaban Gale, si bontot dari lima orang bersaudara beda bapak beda ibu ini selalu bertingkah konyol.


"Nyesel gue dengerin jawabannya tau ngga!" ujar Andini dengan sisa tawanya.


"Saravvv njirrr, nemu dimana gue makhluk pra sejarah kaya gini!" cubit Faisal di pipi Gale.


Bel tanda berakhir jam pelajaran berbunyi, ini waktunya para Pandawa memulai aksi parkournya dengan melompati gerbang sekolah, meski tak setinggi benteng penjara, tetap saja membutuhkan keahlian khusus dan anak bawang tidak dianjurkan untuk meniru.


Faisal dan Irvan sudah saling berhadapan kedua telapak tangannya mendadak jadi pijakan darurat untuk ketiga gadis nakal lainnya.


"Siapa duluan? Bontot?" tanya Ical.


"Oke!" Gale membuang bungkusan mie kering yang sudah habis ke tong sampah, meskipun bukan patriotisme tapi ia masih cinta Indonesia dengan membuang sampah pada tempatnya, setidaknya masih ada hal yang bisa ia banggakan sebagai anak bangsa.


Tap!


Tap!


Hap!


Entah hari ini bumi yang merestui atau memang suatu kebetulan saja. Aksi Gale dan kawan-kawan terlihat oleh Fatur yang baru saja sampai di depan sekolah Gale.


"Itu!" Fatur menyipitkan matanya, ia sangat kenal dengan gadis yang ada di puncak benteng sekolah, layaknya tante kunti di pohon nangka pada malam jum'at kliwon, gadis itu dengan santainya ongkang-ongkang kaki.


"Ck, nakal!" tadinya Fatur berniat memasukkan mobil dan memarkirkannya di dalam area sekolah, tapi berhubung ia melihat sosok si nakal kesayangannya tengah asyik menjalankan aksinya, ia mengurungkan niatnya dan malah melajukan mobilnya lurus ke depan.


Hap!


Prok! Prok! Prok!


Tepukan tangan mengiringi pendaratan setiap personel Pandawa. Mereka tertawa cekikikan, karena kembali berhasil kabur dari sekolah.


"Ck, anak-anak nakal!" decak Fatur.


Gale menepuk-nepuk seragamnya, seraya berjalan berdampingan dengan keempat teman lainnya.


"Jajan mie ayam yuk! Laper!" ajak Lila.


"Di sebrang lampu merah tuh, enak mie ayamnya!" jawab Andini.


"Bentar, ambil dulu motor di warung Koh Ali," jawab Irvan, warung Koh Ali adalah toko kelontong, dimana biasa mereka membeli peralatan sekolah dan juga menitipkan motor jika tidak sedang parkir di sekolah.


Gale melirik jam di pergelangan tangannya, "yuk! Masih ada waktu setengah jam lebih sebelum abang jemput," jawab Gale.


"Cie abang, abang apa dulu nih?! Abang tukang bakso apa tukang es dawet?" tanya Isal.

__ADS_1


"Abang sayang!" jawab Gale tertawa.


"Njirrr! Abang sayang ga ada uang abang kutendang," tawa Lila.


"Kimvriit, yang ada gue ditendang!" sahut Gale.


"Gimana Le, ada kemajuan ngga? Udah diapain?" tanya Irvan.


"Udah diketekin, udah dihukum, udah dikasih duit!" jawab Gale.


"Ha, sue njayyy! Kirain gue, bontot udah cetak gol!"


"Pikiran loe kejauhan, Gale mana bisa diajakin serius, apalagi nyetak adonan," jawab Isal.


"Ko gue gerah ya di ghibahin kalian di depan muka?!"


Andini tertawa, "sebagai teman yang baik, kita ghibahin loe di depan, karena mulut diciptakan di depan bukan di belakang," jawab Andini menepuk-nepuk punggung Gale.


"Si@*lan!" desis Gale, mereka tertawa, tapi tak lama kelima anak ini dikejutkan dengan suara klakson mobil.


Tiit! Tiit!


"Njirr!"


"Woy! Siapa sih, bikin kaget orang aja?!" pekik mereka menengok ke arah belakang.


"Ha?! Abang?" gumam Gale.


Fatur yang sejak tadi mengikuti mereka menghentikkan laju mobilnya, dan keluar dari mobil.


Lila dan Andini berdecak, "OMG, Le! Ga nahan gue, om dokter cakep banget!"


Irvan dan Faisal mengusap kasar wajah kedua gadis ini.


"Lalat masuk tuh, mulut loe berdua kaya goa!"


"Sat ih! Tangan loe bau!" decak Andini pada Irvan.


"Hay om dokter!"


Gale mengerutkan dahinya melihat kedua temannya ini berebut menyapa Fatur.


"Dih, temen-temen ga ada akhlak!" gumam Gale.


Fatur mengumbar senyumannya, "awww! Om dokter kalo senyum gitu bikin aku sesek deh!" ujar Lila.


"Mati aja sana loe!" timpal Irvan tertawa bersama Gale, Faisal dan Andini.


"Dih, kebiasaan nih calon Lo_nt3!" sahut Isal menggeret Lila.


"Noh, bininya ada di belakang lagi melototin loe pake tatapan laser mermaid man, ga takut angus loe?!"


"Biarin aja napa Cal, lagian Gale kan ga pelit, dia seneng berbagi. Iya ga Le?" kekeh Lila menaik turunkan alisnya.


"Abang kenapa dah jemput, ini kan masih jam setengah sepuluh kurang?" tanya Gale mendekat.


"Kayanya abang perlu sewa pengawal buat istri nakal abang yang seneng lompat-lompat pager! Masuk mobil!" jawab Fatur.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2