
Dan benar saja, sesampainya di rumah, Gale menyambut Fatur dengan bibir manyun, dan alis menukik tajam, macam kingkong sedang pms.
Fatur sampai tersedak salivanya sendiri.
"Ck, lama!"
"Ketemu siapa sih, kepala Gale keburu dilalerin nih!" ucapnya.
"Ko dilalerin, kamu tadi pagi mandi ngga?" tanya Fatur, ada-ada saja celetukan Gale.
"Abang mandi dulu sebentar deh, soalnya tadi abis ngegym belum sempet mandi," ijinnya.
"Ish, sekali-kali dokter ga usah mandi termaafkan kali, toh ga bikin pasien auto pingsan?!"
"Ya, jangan dong! Kalo ketemu anak Pondok yang cantik gimana? Ga bisa tebar pesona kaya tadi ke temen kamu dong!" pancing Fatur, sedangkan Fathya sudah masuk ke dalam kamarnya.
"Dih, genit! Mandi aja pake minyak wangi!" mendadak hatinya kesal saat Fatur mengatakan itu.
"Sebentar doang Le,"
"Ini mah keburu kepala Gale ditanemin jamur sama toge!" decaknya bergumam.
"Bagus dong, lumayan buat nambah nambah uang jajan!" jawab Fatur terkekeh.
"Oh, jangan-jangan di Pondok juga ada mantan atau cem-ceman abang, makanya ngotot pengen mandi?!" tanya Gale menyipitkan matanya.
"Itu tau!" seru Fatur.
"Ya udah, sono ketemuan. Gale juga mau cari duda Araban!" cebiknya menuju dapur mengambilkan Fatur minum, ia sampai lupa mengambilkan suaminya minum.
"Makasih sayang!" goda Fatur membuat wajah Gale memerah, setelah sebelumnya membuat Gale seperti berada dalam api unggun.
"Cih!" Gale bergidik geli.
"Abang periksa gih, kali aja abang ngidap penyakit GGS,"
Fatur mengernyitkan dahinya, "GGS apa?"
"Ganteng-ganteng stresss!" sarkas Gale tertawa lepas meninggalkan Fatur ke kamar, dan kemudian Fatur menyusul dengan menyeringai.
Grepp!
"Aaaa abang ihhh!" teriak Gale saat Fatur dengan tiba-tiba menggendongnya seperti sekarung gabah. Fathya tersenyum di dalam kamarnya sedangkan mama sudah tertawa melihat tingkah Gale dan Fatur, selama bertahun-tahun hidup dengan putranya ini, baru kali ini tingkah Fatur seperti bocah.
*******
Senyum Fatur tak pernah luntur setelah berhasil mencium Gale lagi di kamar dengan alibi hukuman, sampai-sampai Gale mengaduh karena bibirnya yang bengkak, katanya Fatur menyeramkan mirip Syuman_to karena menyukai daging. Dan sekarang gadis ini tengah pulas tertidur di bangku samping pengemudi.
Mobil Fatur sampai di Pondok, disana sudah ada mobil mertuanya, Ori, dan beberapa mobil lainnya.
Kedatangan Fatur disambut oleh Shania.
"Nih, ini penganten baru, lama amat nyampenya!" Shania keluar dari rumah pak Hadi.
"Assalamualaikum, mom! Gale tidur,"
"Hem, kebiasaannya dia nih! Kalo di jalan pasti tidur," jawab perempuan kembaran Galexia.
"Ga apa-apa mom, biar Fatur bawa ke kamar aja," ucap Fatur.
"Duh, mantu idaman!" jawab Shania.
"Mana si bocah?!" sahut Ori yang ikut keluar. Fatur melirik ke arah Ori, kenapa banyak sekali laki-laki yang menanyakan istrinya hari ini. Tadi Teri dan sekarang Ori, yang jelas-jelas ia menyukai Gale.
"Tidur," jawab Fatur singkat membawa koper ke dalam.
"Gue bangunin ya?!"
"Jangan, biar nanti saya saja yang bawa Gale ke dalam!" jawab Fatur. Jika Ori memang sesarkas itu pada Gale dengan alasan karena keduanya sudah dekat, tapi tidak dengan Fatur.
"Oke deh!"
Setelah menyimpan koper di kamar, Fatur kembali menggendong Gale ke kamar.
"Gale tidur Tur?" tanya teh Rita.
"Iya teh," jawab Fatur. Sebentar ia memandangi wajah istri nakal dengan sejuta aksi yang sering membuat jantung Fatur berlarian kencang ini.
Fatur masuk dan mengucapkan salam, disana sudah duduk melingkar Arka, Hendra, Niko, pak Hadi, Deni, Guntur, Ari dan beberapa pengajar yang bertanggung jawab di Pondok. Beberapa cangkir kopi dan teh manis ditemani singkong goreng, ubi rebus dan talas kukus, terlihat sudah sebagian disantap.
"Nah ini dia yang ditunggu!" seru pak Hadi melihat kedatangan Fatur.
Fatur salim dan berjabat tangan dengan semua yang ada disana.
"Galexia mana Tur?" tanya Arka.
"Tidur yah."
Arka melirik jam di tangannya, "jamnya dia ini mah!"
Teh Rita membawa lagi secangkir kopi untuk Fatur, lalu mereka kembali meneruskan pembicaraan yang sempat tertunda karena keabsenan Fatur tadi.
...****************...
"Kendel!! I miss u somath baby! Bentar lagi udah mau jadi ibu, berarti gue harus nyiapin nama buat anak kamu!" seru Gale di depan kandang kambing, kambing kesayangannya terlihat sehat dan gemuk di bagian perutnya.
"Anak kamu jantan apa betina sih ?" ia menopang dagunya.
__ADS_1
"Mbekkkk!!" suara lengkingan kambing silih bersahutan.
"Ha-ha-ha! Fatur ga kasih loe uang jajan apa gimana, sampe stress gini anak orang?" tawa Ori dari arah belakang.
"Si@*lan! Minggat sana ke Mars!" decaknya.
"Cah, loe bahagia sama Fatur?" tanya Ori ikut menopang dagu di samping Gale.
"Ngapain loe nanya-nanya, mau ngetawain kalo gue menderita gitu?"
"Loe kalo sama gue suudzon mulu, Cah!" toyor Ori.
"Cih, alhamdulillah banget gue ga nikah sama loe sampe sujud syukur gue-nya, yang ada gue disiksa tiap hari sama loe! Kaya cinderella,"
Spesies laki-laki seperti Ori enaknya disamakan dengan ibu tiri si upik abu.
"So tau! Justru kalo gue jadi nikah sama loe, Cah! Idup gue ruwet, tiap hari gue koyoan!"
"Ga jaman koyoan, kaya hidup di jaman penjajahan aja!"
"Awas minggir gue lapar! Mau cari makan, mau cari laki gue juga!" Gale mendepak kaki Ori.
"Cih, katanya sehati. Masa si Kendell makan rumput loe makan nasi, mestinya loe juga makan rumput dong!" kekeh Ori.
Gale melepas sandal jepitnya dan memukulkan pada dokter muda yang tak tau diri ini.
"Bukk!"
"Buk!!"
"Ampun Le!" tawa Ori.
"Abang! nih si Ozi temen si manis jembatan Ancolnya gangguin terus Gale!" adu Gale berteriak.
"Dih, bocah ngadu! Laki loe lagi sibuk di dalem sama om Arka," tawa Ori.
"Dokter rese, minggat sono loe, ke hutan!" teriak Gale, melempar sandal miliknya pada Ori yang sudah berlari, "ketemu loe dong lagi gelantungan!" pekik Ori.
"Astagfirullahaladzim, kalo bukan orang udah gue empanin ke kambing!" gerutu Gale.
Di balik pintu dapur, ada sepasang mata sendu melihat Ori dan Gale bercanda seperti itu.
"Neng, mana neng Gale-nya?" tanya bu Hadi.
"Oh, belum disusul nek!" jawabnya.
"Loh, ko belum disusul sayang?" tanya Shania bergabung.
"Gale tadi lagi ngobrol sama orang lain momy,"
"Ya udah biar momy aja yang panggil Gale, Kia bantuin teh Rita!" Kia mengangguk dan masuk kembali ke dapur.
...****************...
"Momy! Kaka kangen mii," Gale menghambur ke pelukan Shania.
"Tapi momy engga!" tawa Shania membuat Gale memutar bola mata jengah.
"Sama atuh kak,"
"Kemaren ke rumah, tapi momy masih di outlet katanya, ayah masih di sekolah!"
"Iya, sekarang kan udah ketemu! Gimana disana, betah?" Gale mengangguk.
"Makan dulu yu!" ajak Shania.
"Momy yang masak?" tanya Gale, Shania mengangguk.
"Ada udang saus tiram juga, kesukaan Gale!"
"Asyik, tapi aku mandi dulu lah mii. Badan Gale lengket!"
"Oke momy tunggu di saung belakang rumah kake," diokei Gale.
******
Gale masuk ke kamar mandi untuk mandi, kebiasaan masuk kamar mandi pribadi di kamarnya membuat gadis ini terlupa membawa baju gantinya.
"Ck, ih lupa!" Gale mengetuk-ngetuk kepalanya yang basah. Sebenarnya tanpa di ketuk-ketuk pun, otaknya sudah kurang sesendok kadar kewarasannya.
Terlanjur basah, pakaian kotornya sudah ia cuci barusan.
"Ini gimana kalo gini!" panik Gale. Jika keluar, di luar banyak lelaki yang bukan mahromnya, handukkan di depan para laki-laki, it's bad idea. Yang ada Fatur akan menghukumnya.
Kia yang ingin pipis, mencoba membuka pintu kamar mandi.
"Aduh, ga kuat! Siapa di dalem?" tanya Kia menahan perut bagian bawahnya.
"Kia!"
"Gale?!"
"Kia, gue ga bisa keluar. Lupa bawa baju ganti, bisa minta tolong panggilin bang Fatur?" pekik Gale dari dalam.
"Le, gue ngikut dulu pipis lah ga kuat!"
"Bentar, gue bukain!" jawab Gale, tak lama pintunya terbuka.
__ADS_1
"Misi Le, ga kuat gue!"
"Oke, oke!" Gale kembali menutup pintu kamar mandi.
"Kamu nyampe kesini kapan, Ki?"
"Kemaren malem sama ayah sama bang Ori," jawab Kia.
"Sama bang Ori?!" seru Gale terkejut.
"Wah! Ada kemajuan nih?!" goda Gale membuat Kia tersipu malu, tapi sedetik kemudian ia teringat dengan kejadian tadi, rasanya tetap beda antara Ori dengannya, dan Ori dengan Gale. Ori terlihat lebih bahagia dan bebas saat bersama Gale.
"Udah belum Ki, loe pipis apa buang batu si? Dingin nih gue!"
"Oh iya! Bentar, gue panggilin bang Fatur ya,"
"Oke thanks ya, Ki..."
Kia menoleh, "entar malem gue ke kamar loe ya!"
"Mau ngapain Le?"
"Mau ngapel!" kekeh Gale dibalas tawa oleh Kia.
"Neng juga kangen aa kok, neng tunggu ya a!" seloroh Kia.
"Siap neng!"
Kia mendekati kumpulan laki-laki yang sedang mengobrol serius. Ayahnya, om Arka, Fatur, Ori dan om Hendra.
"Bang Fatur, bisa ikut sebentar!" pinta Kia membuat semuanya menoleh.
"Iya, Ki. Ada apa?" tanya Fatur.
"Gale bang," jawab Kia.
"Gale kenapa?" bukan hanya Fatur yang bertanya tapi pun Ori, Kia dan Fatur sempat melirik Ori tapi kemudian Kia tak mempedulikannya.
Kia menjauh dari kumpulan bersama Fatur mengekor.
"Gale ga bawa baju ganti dia barusan abis mandi," jawab Kia, Fatur tersenyum.
"Oke, biar abang ambil dan kasih. Makasih Ki,"
"Sama-sama,"
Fatur mengambil baju ganti Gale dari dalam koper dan membawanya ke kamar mandi.
"Le," Fatur mengetuk pintu kamar mandi.
"Iya bang," gadis itu membukakan pintu kamar mandi membiarkan Fatur masuk ke dalam.
Fatur menelan salivanya berat melihat Galexia saat ini. Rambut panjang yang masih mengucurkan air, wangi sabun melambai dan memanjakan penciuman Fatur hingga meresap ke dalam otaknya dan membuat terlena. Lekukan tubuh Gale tak dapat ditutupi hanya oleh selembar handuk sepa_ha gadis itu, dengan butiran air membasahi setiap inci kulit Gale, semakin membuat sesuatu yang dinamakan hazraat dari dalam tubuh Fatur bergejolak.
"Makasih," Gale meraih pakaiannya dari tangan Fatur. Tapi ia terkejut saat Fatur menutup pintu kamar mandi dan menguncinya dengan ia dan Gale masih berada di dalam.
"Abang mau ngapain?!" gumam Gale mengerjap.
Dalam sekali gerakan Fatur mengunci Gale dalam kungkungannya, punggung Gale menempel di tembok kamar mandi.
Tangan Gale mendekap kuat pakaiannya di depan dada. Fatur meraih dagu Gale dan mendongakkannya.
"Cup!"
Bahkan bengkak yang tadi saja, belum sembuh. Kini Fatur sudah kembali menyarangkan lagi bibirnya ke bibir Gale dan kembali mem_agutnya.
Sesaat pikirannya merasa melayang, dan otaknya mendadak gelap, kalo kata king Nassar seperti mati lampu.
Candu, bagai dru_gs! Mungkin kalimat itu yang cocok Fatur sematkan untuk bibir Gale. Belum lagi sesuatu yang kini sedang digenggamnya, begitu menantang dan membuatnya gila dalam waktu sekejap, sampai-sampai melupakan jika ia sedang ditunggu yang lain di ruang tengah.
Tok! Tok! Tok!
"Woy, siapa di dalem?! Buruan gue kebelet!" pekik Ori menahan perut bawahnya.
Otak Gale dan Fatur kembali sadar sesadar-sadarnya. Teriakan Ori bagaikan bom Palestina yang mengejutkan di tengah malam. Memaksa keduanya untuk segera tersadar.
"Kamu pake dulu baju, abang keluar duluan!" ucap Fatur, terpaksa menghentikkan aktivitas keduanya yang sedang berada di puncak.
Gale mengangguk, kunci pintu terdengar dibuka namun tak sepenuhnya terbuka.
"Gale di dalem, lagi pake baju!" ujar Fatur melengos ke dalam meninggalkan Ori dengan keterkejutan dan kebingungannya.
"Ha? Loe berdua abis ngapain di dalem?!" tak lama Gale keluar sudah berpakaian lengkap, namun dalam keadaan segar dan rambut yang basah, semakin membuatnya bingung dan tak habis pikir.
"Loe berdua abis ngapain di kamar mandi?!" tanya Ori pada Gale.
"Want to know aja!" jawab gadis itu.
"Orang julid dilarang kepo! Kalo ga mau mati cepet!"
"Si@*lan!" desis Ori.
Gale menengok kembali ke belakang, ke arah Ori yang tengah mendumel lalu memeletkan lidahnya.
.
.
__ADS_1
.
.