
Alis Gale mengernyit pada sang ibu yang berada di belakang ayahnya, karena keterkejutan Gale dengan kedatangan mereka.
"Gimana sekarang kondisi kamu, kedua janin di dalam perut?" tanya Arka.
"Kakak baik ayah, mereka juga baik alhamdulillah. Ayah..." mata teduh ayah memang selalu bikin Gale tenang.
"Ayah baik-baik saja,"
"Ayah maafin kakak, sering bikin ayah khawatir dan sakit. Ayah sehat-sehat," Gale menyerukkan kepalanya di dada Arka, memeluk erat sang ayah berharap pria ini selalu dalam keadaan sehat wal'afiat.
"Yang penting kamu dan calon cucu ayah sehat," jawab Arka mengecup pucuk kepala Gale.
"Ayah tau dari momy?" tanya Gale mendongak.
"Polisi datang ke rumah, ayah sudah di rumah kamu sejak tadi sore." Arka melepaskan pelukannya dari Gale dan menoleh ke belakang dimana adegan uwu barusan menjadi tontonan Shania, Andro dan Fatur yang baru saja selesai mengobrol dengan Deni. Raut wajahnya terlampau datar, membuat Gale dilanda rasa penasaran yang teramat.
"Orang ganteng emang misterius ya? Ekspresinya bikin orang penasaran," benak Gale.
"Fatur sudah makan?" tanya Arka. Yang ditanya Fatur, tapi yang tegang justru Gale dan Shania.
"Sudah yah," Fatur kalem menanggapinya.
"Bagaimana kalau kita ngopi? Kayanya kamu suntuk, biar momy sama Andro yang nungguin Gale?" tanya Arka.
"Boleh yah," jawab Fatur.
"Ayah, tapi kan ayah ga boleh minum kopi?!" tukas Gale, ia menggigit bibir bawahnya, mendadak rasa tak enak hati menyelimutinya.
"Ayah ngopi sama dokter ayah, kalau dia bilang boleh artinya boleh.." jawab Arka.
Terdapat gurat khawatir dari Gale disana, sedangkan Fatur sendiri mengulas senyumannya.
Netranya tak lepas dari tubuh tegap suami dokternya, "abang keluar dulu sebentar," pamitnya.
Mata Gale memejam merasai kecupan hangat di keningnya, "iya."
Ia sendiri yang mengatakan jika ayah dan keluarganya akan baik-baik saja, tapi nyatanya ia sendiri yang kini merasa takut Fatur akan ikut disudutkan. Tatapan khawatir mengiringi kepergian Fatur bersama ayahnya.
"Udah makan kan?" tanya Shania menghampiri Gale bersama Andro.
"Udah mii, tadi disuapin abang." Tatapannya tak lepas dari arah menghilangnya Fatur.
*******
"Tak ada masalah serius dengan Gale dan kandungannya?" tanya ayah berada di depan Fatur.
"Engga ada yah," jawabnya.
__ADS_1
"Alhamdulillah." Langkahnya pasti tanpa menoleh menuju cafe rumah sakit.
"Kapan Gale boleh pulang?" tanya Arka lagi, ia dan menantunya ini duduk di meja kosong, menghadap langsung ke arah parkiran rumah sakit. Suasana malam itu tak terlalu ramai di cafe.
"Fatur pesankan jus?" tanya nya.
"Boleh," jawab Arka.
Suasana cukup hening sejenak, hanya terdengar suara riuh pengunjung kantin lain dan suara beradu alat makan juga kursi dan meja.
"Maaf kalau ayah sudah lancang mendatangi kantor polisi, melangkahi kamu sebagai suami." Fatur menatap ke arah mertuanya.
Gleuk..!
"Tak apa yah, terimakasih banyak sudah membantu. Kalau nanti Gale sudah membaik biar Fatur urus," jawabnya merasa tak enak hati nerepotkan sekaligus harap-harap cemas, meskipun wajahnya tetap terlihat datar.
"Apa ayah sudah bertemu dengan para pelaku?" tanya Fatur, akhirnya ia penasaran juga.
"Sudah, dan saya kenal salah satunya." Fatur hanya bisa membeku di tempatnya, seakan hawa disini terasa panas namun dingin untuknya, tak menentu apa yang dia rasakan. Ia mulai berkeringat tapi tubuhnya membeku.
"Maaf," dokter muda itu menunduk. Arka dapat melihat wajah penyesalan mendalam darinya.
"Untuk apa?"
"Pelaku penjambret dan penusukan Gale ternyata bapak biologis saya sendiri," jawabnya mengakui, tapi sepertinya tak ada ekspresi terkejut dari Arka, tampangnya santai-santai saja.
"Saya tidak pernah menyesali setiap keputusan yang sudah saya ambil. Bahkan sebelum memutuskan, pasti akan saya pikirkan berulang kali. Termasuk menikahkan Galexia dengan kamu, itu karena saya yakin kamu adalah orang yang tepat. Saya sudah tau latar belakang keluarga kamu sejak dulu bahkan sebelum kamu bicara sekarang. Saya tau siapa ayah kamu dan bagaimana perangainya." Fatur mendongak tak percaya, jika sudah tau kenapa Arka mau-maunya menikahkan putri kesayangannya dengan anak seorang penjahat, apakah ia tak takut jika suatu saat Fatur akan sama seperti ayahnya, bukankah buah jatuh tak jauh dari pohonnya?
"Saya bisa tebak apa yang ada di otak kamu sekarang. Ayah mana yang tak khawatir, tapi pikiran saya tidak se-sempit itu, saya percaya kalau kamu akan menjaga dan membimbing Gale dengan baik."
"Kamu dan ayah kamu dua pribadi yang berbeda, di lingkungan berbeda dan cara pandang berbeda pula. Ibarat sebuah pohon berbuah. Bukankah buah jatuh tak jauh dari pohonnya? Memang benar, tapi bagaimana jika begini, buah itu hampir terjatuh tapi saya ambil dan saya satukan bersama buah dari pohon lainnya? Hingga ia tak jatuh dan membusuk di bawah pohon tersebut, ia justru berada di tempat yang jauh dari pohonnya, bersama buah manis dari pohon lainnya," Fatur semakin terkagum pada Arka, sejak dulu pria ini selalu bijaksana dalam memandang suatu masalah.
"Begitupun dengan kamu, saya, ayah kamu, Deni, Roy, Guntur, Ari, pada dasarnya manusia itu memiliki hati yang baik, hanya saja cara hidup, lingkungan, cara bagaimana orang-orang memperlakukannya, dan cara berfikir dia sendiri yang membedakan setiap orang. Kejadian ini bukan salah siapapun, apalagi kamu...sebagai seorang ayah, saya justru sangat bersyukur memiliki menantu yang baik, meskipun mengalami pengalaman diperlakukan dengan buruk, tapi tidak menjadikan kamu berperilaku sama dengan bapakmu, rupanya cinta dari mama mu, orang-orang sekitarmu mampu mengalahkan kenangan buruk yang ditorehkan. Itu tandanya saya patut berbangga diri sudah menangkap buah manis itu dan menyatukannya dengan buah lain.." Fatur mengangguk setuju, dan jangan lupakan juga peran besar pria di depannya ini, termasuk mengenalkannya dengan Galexia, salah satu motivasinya untuk menjadi seperti sekarang.
"Untuk urusan polisi, kalau kamu butuh seseorang. Saya sudah mewakilkan urusan itu pada Deni. Apa Deni sudah bilang tadi?" tanya Arka.
"Sudah yah, terimakasih banyak." Hati dingin itu menghangat demi obrolan bersama mertua sekaligus pria yang sangat ia kagumi selama ini.
"Terimakasih sudah hadir di hidup saya, Allah benar-benar menyayangi saya dengan mengirimkan keluarga besar Arkala Mahesa untuk saya," jawab Fatur, ingin sekali dokter muda ini memeluk Arka seperti Gale tadi, tapi rupanya keinginan ini tak mungkin mengingat keduanya adalah lelaki datar, dingin dan kaku. Apa jadinya nanti jika tiba-tiba Fatur memeluk Arka, mungkin akan terjadi awkward moment.
"Apa momy?"
"Momy Sha sudah tau," jawab Arka menyedot jusnya. Akhirnya, lega sudah hatinya sekarang. Masalah yang selama ini ia tutupi berakhir dengan indah. Gale memang benar, selama ini pikirannya terlalu picik dan sempit memandang keluarga Arkala Mahesa, ia terlalu banyak menelan pandangan rendah orang-orang terhadap keluarganya dulu.
"Bagaimana Gale, apa bikin kamu susah? Dia takut da rah, suntikan, apalagi kesakitan? Karena yang saya dengar, anak nakal saya dijahit tanpa diberi anestesi?" Fatur tersenyum mengingat betapa kuatnya Gale tadi.
"Gale perempuan kuat,"
__ADS_1
"Kalau begitu, kita harus sudah kembali lagi. Bisa-bisa dia ngamuk kalo terlalu lama ditinggal," Arka berdiri dari duduknya, bersama Fatur yang ikut beranjak pula.
"Momyyy, mii..ayah sama abang balik mii, hayukk atuh balik ke kamar!" Gale panik seraya menahan agar tak banyak bergerak.
"Bentar ih, ini nyangkut!" sahut Shania.
Shania segera mendorong handle kursi roda Gale ke arah kamar. Ternyata kedua perempuan lintas generasi ini mengikuti kedua pria dingin-nya mengobrol di kantin.
"Aduh, cape...kamu berat ih sekarang!" keluh Shania.
Brakkk!
Shania mendorong dan membuka pintu ruangan rawat Gale.
"Udah ngupingnya?" tanya Andro menunggu kedua perempuan itu di kamar rawar sendirian, ia heran saja..disini yang sakit itu siapa? Kakak-nya atau dirinya? Ia mempausekan game dan menaruh ponselnya di meja.
"Ga usah berisik! Buruan tolongin!" pinta Gale.
"Dek, ini tolong angkat kakinya," pinta Shania mengangkat bagian badan atas Gale.
"Enaknya dilempar kemana nih mii?" tanya Andro.
"Si*@lan loe dek!" desis Gale tak bisa melawan.
"Ke kolam duit!" tawa Shania.
"Siap?! 1, 2, 3, angkat !" Shania dan Andro mengangkat Gale, memindahkannya kembali ke ranjang.
"Arghh! Berat banget sih loe kak?!" ucap Andro, setau Andro terakhir kali kakaknya tak sebesar ini.
"Iyalah kita ngangkat 3 orang sekaligus," jawab Shania.
"Aduh..aduh bentar ini momy kejepit!" ringis Shania, Gale malah tertawa.
"Mii, pelan-pelan ih. Ini sakit, jahitan Gale kenceng," aduhnya sambil tertawa.
"Pasien satu ini bener-bener baong!" (nakal) geram Andro.
"Huffttt, capek lah..kaya lagi ngangkat munding!" (ke bo) pungkas Shania menghela nafasnya.
Shania dan Andro tertawa, sedangkan Gale mengerucutkan bibirnya, "jahat ih dibilang munding!"
.
.
.
__ADS_1