
"Le, Gale!" Fathya panik melihat da rah terus menerus keluar dari luka perut Gale. Kemeja putih dipilihnya hari ini demi menyambut hari baru, tapi tak menyangka secepat ini akan ternodai. Sosok pecicilan yang biasa Fathya lihat kini seakan tak berdaya menyandar di bahunya. Jalanan ramai lancar mendadak dipadati kerumunan warga sekitar, dan pengendara lain yang ikut menyaksikan peristiwa berda rah siang ini. Satu, dua bapak kemudian jumlahnya bertambah menghambur membantu Gale.
"Mbak, ya Allah!"
"Bawa ke mobil saya bapak-bapak!" supir taksi online pun tak luput membantu, bersama dua orang disana membantu Fathya membawa Gale masuk ke dalam mobil.
"Awas kepalanya," seruan seseorang.
Mata Fathya menatap nyalang kearah kerumunan orang di sudut jalanan tempat Gale mengalami tragedi, dimana komplotan penjambret itu dikumpulkan dan dilumpuhkan, netranya jatuh pada satu sosok yang ia kenali.
"Gue harus bilang apa sama abang?" benaknya menangis dan menjerit, begitupun orang yang ditatapnya, menatap meneliti pada Fathya. Sekejap aura amarah menguasai Fathya, jika bukan karena Gale dalam kondisi mengkhawatirkan ia akan berlari dan mencekik pria itu, pria yang juga menyakitinya, menyakiti Fatur juga mama.
"Le, da rahnya ga mau berenti?!" Fathya sesenggukan di dalam mobil, menatap nyalang kondisi Gale, bagaimana dengan kedua calon keponakannya di dalam sana? Ya Allah, lindungi mereka! Jerit Fathya, ia tak bisa memaafkan dirinya jika terjadi sesuatu pada kedua sumber kebahagiaan Fatur. Melintas di pikirannya, bagaimana wajah Fatur, mama termasuk dirinya saat Gale masuk diantara mereka, ditambah dengan kabar kehamilannya.
Supir itu langsung tancap gas tanpa harus disuruh, seperti naluri jiwa penolongnya menyuruh untuk segera bergerak melesat ke rumah sakit.
"Pak, rumah sakit Jakarta Central Hospital aja!" pria beruban itu mengangguk, menyanggupi permintaan Fathya. Ia bukanlah pembalap, tapi jika diperlukan ia akan mengebut layaknya pembalap formula 1 disaat genting seperti ini.
Keringat sebesar-besar butiran beras menempel disekitaran dahi sampai leher Gale, bibir Gale sudah pucat, tangannya mulai mendingin, beberapa kali ia meringis menahan perih.
"Le, please jangan gini! Loe harus kuat, gue mau jelasin apa sama abang?!" Fathya menangis sejadi-jadinya.
"Gue ngantuk cabe, loe berisik," ucap Gale, dengan tangan yang sudah kesemutan menahan kemeja lengket oleh cairan merah.
Fathya melepaskan cardigan pink miliknya dan menaruh di luka perut Gale demi menahan darah agar tak terus menerus mengalir.
"Abang!" Fathya mengambil ponsel dari dalam tas selempangnya dengan tangan bergetar.
Apa yang harus ia katakan? Bagaimana cara mengatakannya? Ia takut dengan amukan kakanya jika sampai tau istrinya begini.
Jemari Fathya mendadak lemas, ia menscroll dan mencari nama Fatur. Sementara Gale, yang ia pikirkan satu...nasib kedua janin di dalam rahimnya.
"Sebentar lagi sayang, bantu bunda buat kuat sampai di rumah sakit ketemu ayah!" Gale merasakan tangannya yang kesemutan, dan perih di bagian perutnya. Rasa pusing itu datang melanda tatkala lensa matanya menangkap diri sendiri bersimbah cairan kental merah yang ia benci, bau amis!
"Loe bisa Gale!" keyakinannya mulai mengendur, dengan kesadaran yang mulai goyah.
"Abang!!!" jeritan Fathya sedikit membantu Gale untuk tetap terjaga.
"Abang, Gale!!! Gale ditusuk orang!" tanpa aba-aba kalimat itu langsung lolos dari mulut Fathya.
Entah bagaimana sekarang ekspresi dan reaksi Fatur, yang jelas dari telfon saja Fathya dapat mendengar deru nafas berat kakanya.
(..)
"Kita di mobil otewe rumah sakit!"
Fathya mengangguk lalu memencet tombol speaker, hingga kini siapapun di mobil itu dapat mendengar suara Fatur.
"Gale, sayang..istri abang..Gale masih bisa denger suara abang?"
"Abang," satu tetes, dua tetes air matanya mulai turun dan deras.
"Gale harus kuat sampai ke sini, Gale istri abang yang paling kuat!" terdengar suara Fatur terpecah seperti ia pun sibuk berbicara dengan perawat.
"Siapkan blangkar di depan parkiran! Secepatnya saya pesan kamar, panggilkan dokter Rey! Istri saya sekitar 10 menit lagi datang!" tegasnya.
__ADS_1
"Fath, dengerin abang!" ucapnya sarat akan perintah.
"Tahan laju da rah dengan apapun yang bisa menyumbat, kaya kain, jaket atau apapun!"
"Udah bang, pake cardigan."
"Seberapa besar lukanya atau seberapa panjang piso yang masuk?" tanya Fatur.
"Lukanya kaya sabetan gitu bang, lumayan lebar kayanya dalem juga, soalnya da rahnya ga mau berenti, kena lengan juga!" Fathya sampai menggigit bibir bawahnya demi melihat luka Gale.
"Cabe, perut gue udah mati rasa...tolongin pegangin dong tangan gue kesemutan banget," keluh Gale lemah dengan buku kuku yang memutih.
"Sebentar Le, ya Allah!" seru Fathya.
"Le, ini banjir cardigan gue rembes sama da rah, sebentar gue lipet dulu!"
"Le..Gale...! Jangan kaya gini gue ga bisa gendong loe,"
"Gue ngantuk banget cabe, udah ga kuat!"
"Ini udah mau nyampe Le," Fathya menepuk-nepuk pipi kaka iparnya itu.
"Abang kita udah masuk parkiran rumah sakit!" Fathya menutup panggilan.
Fatur sudah siap di depan ruangan UGD bersama beberapa suster membawa blangkar. Benar saja, jantungnya langsung terasa hancur meski tak ada yang memukulnya, demi melihat Galexia bersimbah da rah dengan wajah yang memucat bermandikan peluh.
Pria itu langsung menghambur memeluk dan mengangkat Gale.
"Ya Allah, kenapa bisa kaya gini?" tanpa sadar air matanya sudah menggenang, sambil berlari mendorong blangkar menuju UGD, disana dokter Rey dan Teri menyambut.
"Dokter Fatur, biar saya tangani!" dokter Rey langsung mengambil alih Gale, bumil itu hampir tak sadarkan diri.
"Saya bisa menjaga emosi dok, tapi biarkan saya ikut terlibat!" paksanya. Wajahnya tak dapat dijelaskan, mungkin bisa dijabarkan ia hampir meledak melihat istri nakalnya begini.
"Loe yakin Tur?" tanya Teri, ia mengangguk, setidaknya ia tau dasar-dasar ilmu medis meskipun ia bukan ahli bedah.
Cardigan pink milik Fathya sudah berubah warna bercorak merah.
Dokter Rey membuka cardigan, lalu penampakan berikutnya semakin membuat hati Fatur remuk redam dimana kemeja putih yang sudah basah berwarna merah. Dilihatnya wajah istri nakalnya, Gale juga tengah menatapnya dengan air mata yang sudah jatuh.
"Hey, kamu harus kuat!" diusapnya wajah Gale, dan berakhir membawa tangan Gale dalam genggamannya, sesekali mengecupnya meskipun tangan seputih susu itu kini bernodakan da rah, ia tak peduli.
Masih terngiang di ingatannya, senyuman dan semangat bumilnya, begitupun aroma parfum dari Gale, istrinya itu begitu manis dan cantik dengan kemeja putih yang dipakainya. Tak sangka senyum sehangat mentari pagi harus berakhir dengan kondisi mengenaskan. Fatur ingin sekali mencabik-cabik orang itu. Matanya menatap kondisi dimana kedua malaikatnya berada, bersyukurlah luka robek itu berada tepat di atas letak posisi si kembar.
"Ini luka robekan cukup dalam, semoga tidak sampai merusak organ penting,"
"Tidak melukai kandungannya kan?" tanya Teri membantu kerja dokter Rey bersama seorang suster.
"Alhamdulillah tidak," jawab dokter Rey.
"Dok, boleh saya?" ijinnya pada Fatur untuk menggunting kemeja di bagian luka.
"Silahkan," jawab Fatur.
"Abang,"
__ADS_1
"Abang disini," tangan Fatur tak lepas menggenggam tangan Gale.
"Luka robekan di daerah abdomen dok?" tanya Teri.
"Beruntung tidak sampai organ penting, lukanya juga cukup lebar. Perlu melakukan jahitan," ucap dokter Rey menatap serius.
"Sus, siapkan alatnya!" pinta dokter yang usianya lebih tua dari Fatur.
"Apa? Jahit?!" tangannya mulai berontak dari genggaman Fatur.
"Abang, Gale ga mau dijahit bang!" lemahnya namun melawan.
"Ini dalem Le, harus dijahit! Gale dengar abang sekali aja, Gale harus kuat, katanya mau jadi dokter?!"
"Dok, apa mau diberi anestesi lokal, lidocaine?" tanya dokter Rey pada Fatur, namun Fatur menggeleng tak mau mengambil resiko terjadi sesuatu hal buruk pada kehamilan Gale yang mengancam keselamatan kedua janinnya.
"Saya tak mau ambil resiko, usia kandungan istri saya baru melewati trimester pertama tapi pun masih rentan, saya yakin istri saya kuat!" di tengah-tengah rasa lelah dan sakit yang mendera Gale masih sanggup melotot mendengar keputusan suami dokternya itu.
Kedua dokter itu saling pandang, "oke kalo gitu, bu Gale..ditahan ya, saya janji bisa cepat!" ucap dokter Rey.
Gale menggeleng," abang ga mau!" tangisnya.
"Kamu teriak aja, gigit abang atau apapun terserah! Biar abang sama-sama ngerasain, biar rasa sakitnya tersalurkan tapi jangan ke anak-anak kita," pintanya membawa kepala Gale di dekapannya.
"Aaa! abang sakit.." desisnya lemah saat kulitnya mulai ditusuk jarum. Dokter Rey rupanya mulai menjahit luka Gale.
"I love you..." ucap Fatur di depan wajah Gale, sambil menahan kedua tangan istrinya.
Wajah perempuan itu kembali meringis, buliran air keringat membanjiri tubuhnya, bahkan tangannya mencengkram lemah snelli Fatur hingga bernoda. Meskipun ia merasakan area lukanya mulai mati rasa, tapi tusukan jarum masih dapat ia rasakan, dan itu begitu menyakitkan.
"Don't leave me alone..." mata Fatur hangat tertuju hanya untuk Gale, seperti semua yang ia katakan adalah sebuah permintaan dari lubuk hati yang paling dalam. Wajah keduanya hampir tak berjarak, seperti yang biasa mereka lakukan saat bermain gempa-gempaan.
"Udah dokter...udah.." pinta Gale, karena dirasa sudah cukup lama ia merasakan sakit. Ia benci itu!
"Jadi istri yang kuat, dan ibu yang hebat buat abang sama calon anak-anak kita,"
"Jadi kebanggan kita semua,"
"I need you Galexia,"
"Abang ga bisa apa-apa kalo ga ada kamu," Fatur mengecup kening, dan kedua kelopak mata Gale.
Teri dapat melihat cinta yang begitu besar dari seorang Faturrahman Al-Lail untuk Gale. Memang benar obat paling mujarab adalah orang yang paling disayangi, anestesi alami adalah kebahagiaan.
Fatur memang panutannya, disaat orang lain akan lebih memilih mengumpat dan melampiaskan kekesalannya, atau lebih parahnya tak kuasa mendampingi disaat orang tersayang tengah merasakan sakit, ia justru bersikukuh di samping Gale, mengesampingkan ego dan emosinya.
Padahal ia tau jika Fatur bukan tipe laki-laki yang hanya diam melihat seseorang orang tersayangnya dilukai. Ia berani bertaruh, setelah keluar dari ruangan ini...maka habislah dia.
.
.
Noted:
Abdomen : Adalah bagian tubuh yang berada diantara panggul dan toraks. Di Indonesia umumnya abdomen sering disebut perut.
__ADS_1
Lidocaine : salah satu jenis obat anestesi lokal.