Gadis Nakal Om Dokter

Gadis Nakal Om Dokter
Umpatan Ori


__ADS_3

Pagi-pagi Gale sudah terbangun, karena hawa disini lebih dingin daripada di rumah. Ditambah selimut yang dipakai memang berukuran kecil, apalagi harus berbagi bersama Fatur. Ayam dan kambing, saling bersahutan seakan sedang memanggil para penghuni Pondok untuk segera memberi mereka makan.


Hoamm!


Gale mengikat rambutnya ke atas, lalu seperti kebiasaannya yang langsung menghadap ke cermin, untuk melihat apakah hari ini ia masih jadi makhluk termanis di muka bumi atau sudah digantikan oleh Pororo.


"Mirror...mirror in the wall...siapa makhluk termanis di muka bumi?" tanya Gale, sementara Fatur masih terlelap di tempatnya.


"Galexia Adhara Mahesa," jawabnya sendiri lalu terkikik sendiri, memang benar ia sudah tidak waras, perlu disuntik anti rabies sepertinya.


"Eh, apaan nih?!" ia menyipitkan matanya seperti kemerahan bekas garukan atau bekas kerokan. Gale bukan gadis polos yang tak tahu dan tempe.


Matanya menatap tajam pada makhluk yang sudah menghisap lehernya. Jadi inilah yang dimaksud makhluk nocturnal, makhluk sejenis vampire jadi-jadian dengan taring tak setajam taring serigala namun mampu menghisap leher gadis perawan sampai memerah, sayangnya ia salah sasaran. Gadis perawan ini tak sepolos serabi.


"Nanti gue keluar mesti ditutupin apaan nih leher?!" gumamnya bermonolog, matanya menatap tajam ke arah kissmark yang ditorehkan Fatur. Tak serapi cap RT, terlihat abstrak.


"Ga usah ditutupin, biar seksi!" ucap seseorang dengan suara seraknya dari belakang.


"Abangggg !!!!" Gale langsung melompat ke atas ranjang dan menyergap tubuh Fatur, sontak saja Fatur terkejut bukan main.


Siapa yang tak terkejut, badannya belum sepenuhnya bangun, jiwanya saja masih berusaha ia kumpulkan, tiba-tiba saja ia ditungg_angi gadisnya, bikin mata langsung melek.


Gale duduk di perut Fatur dan memukul-mukul wajah Fatur dengan bantal.


"Le, ampun !!" aduh Fatur.


"Abang ih! Ga mau tau, ini gimana Gale keluar! Gale mau senam sama anak-anak Pondok! Gale malu ih!" omelnya membuat Fatur tertawa.


"Bilang aja semalem banyak nyamuk, bekasnya kamu garuk!" jawab Fatur.


Suara gaduh Gale dan Fatur terdengar sampai kamar samping, jelas saja karena bangunan ini setengahnya adalah kayu bilik, sengaja sang empu rumah ingin membuat konsep rumah yang ramah lingkungan dan estetik, biar terasa khas rumah perkampungannya.


"Kamu turun dari atas abang, Le. Kamu berat!"


"Enggak! Biarin biar isian abang keluar semua!"


"Ampun Le, kalo kaya gini kamu udah seliar musang!" jawab Fatur tertawa-tawa.


"Abang ih, sakit tau ngga!" ucap Gale saat Fatur membalasnya dengan memukulkan guling ke arah gadis itu.


"Saravvv njir, mereka berdua!" Ori menutup kepalanya dengan bantal mendengarkan suara-suara yang bikin salfok.


"Ini mereka lagi ngapain subuh-subuh? Bukannya langsung solat!" ucap Arka yang sampai terganggu ketika sedang duduk diantara dua sujud.


"Mas kaya ga pernah ngerasain aja!" jawab Shania mengerling.

__ADS_1


Arka menaikkan alisnya sebelah, tapi sedetik kemudian ia baru tersadar, apakah Fatur tak mengindahkan sarannya?


*****


Karena disini tak tersedia kamar mandi di setiap kamar, maka dari itu para penghuni diharuskan mengikuti budaya mengantri.


Jangan khawatir pasal air, karena air selalu mengalir langsung dari kaki gunung yang disalurkan melewati paralon.


Gale keluar bersamaan dengan Fatur, Ori yang tak bisa kembali tidur memutuskan untuk bangun.


Melihat Ori yang ikut keluar dari kamar dengan handuknya membuat Gale mengambil ancang-ancang untuk duluan masuk ke dalam kamar mandi. Begitu Kia baru saja keluar dari kamar mandi, Gale berlari begitupun Ori. Fatur yang melihat keduanya berebut tak mau ambil pusing, bila perlu saat Gale masuk ia akan ikut masuk.


"Dih, pagi-pagi dah pada rusuh!" sewot Kia menggosok-gosok rambutnya dengan handuk kecil.


"Ki, tahan pintunya. Jangan biarin abang ga ada akhlak ini masuk!" pekik Gale menahan Ori dengan handuknya.


"Kia, dek...abang udah kebelet. Tolong kooperatif!" pinta Ori agar Kia jangan terhasut oleh ucapan Gale.


"Gue duluan!"


"Gue duluan!"


"Loe minggir, bang Ori! Gue udah kebelet ih,"


"Gue juga ga kuat, panggilan alam memanggil Le!" sedangkan Fatur yang melihat keduanya sibuk bertengkar, melewati mereka begitu saja dan masuk ke dalam kamar mandi menggantikan Kia.


"Kosong bang," Kia meledakkan tawanya.


"Loe berdua pagi-pagi dah apes aja!" Kia melewati keduanya.


Blukh!


Pintu kamar mandi tertutup.


"Yah!"


"Gara-gara loe nih, jadi laki loe duluan!"


"Gara-gara loe," desis Gale.


"Gara-gara loe gue bangun, gara-gara loe berdua ribut. Bisa ngga sih di mode silent kalo lagi ehem-ehem. Loe berdua ehem-ehem apa mau tawuran si?!" ketus Ori, tak tau kenapa hatinya masih terasa berdenyut melihat Gale dan Fatur.


"Ehem-ehem apa! Batuk maksud loe?!"


"Ga usah so polos! Tuh leher loe udah jadi bukti konkrit kalo loe sama Fatur lagi nyetak adonan!"

__ADS_1


"Adonan apa sih, donat?!" Gale mengerutkan dahinya. Jika bekas kissmark memang itu ulah Fatur yang iya-iya. Tapi jika maksud Ori mereka berbuat hiyak-hiyak, mereka tidak serusuh itu melakukannya disini.


"Emang iya! Kenapa, loe sirik?! Dasar jomblo ngenes!"


"Ishh! Kalo ga gue anggep adek udah gue lempar ke atas genteng!" Ori duduk di bangku kayu meja makan, dimana sudah ada sepiring ubi goreng tepung yang masih hangat.


"Abang! Gale ikut masuk, ga kuat kebelet ih!" ketukan Gale di pintu kamar mandi.


"Iya sebentar sayang, tanggung!" jawab Fatur, dan kata sayangnya berhasil membuat Gale tersenyum malu-malu.


"Abang Gale ga kuat, kalo sampe Gale pipis disini gimana?" dumelnya.


"Kubur pake tanah!" jawab Ori, memutuskan untuk duduk.


"Emang gue kucing!" decak Gale kesal. Ori tertawa melihat wajah ketus Gale.


Tanpa aba-aba, tiba-tiba saja pintu kamar mandi terbuka. Sebuah tangan menarik Gale untuk masuk, karena tak siap Gale ikut terbawa masuk.


"Abang!!!! Punya abang wow banget!" teriak Gale.


Uhukk! Uhukkk!


Ubi yang belum sempat masuk ke dalam perutnya terpaksa harus kembali terlempar keluar dan mendarat di lantai dapur rumah pak Hadi.


"An*^jrittt %@$#!&$(#^!%!%!$!&@&!" umpat Ori tersedak.


"Loe berdua balik ke Jakarta sono!" Ori mencari-cari gelas sambil terbatuk-batuk.


Sebuah tangan menyodorkan gelas berisi air putih di depan Ori.


"Pelan-pelan bang, makannya!" ucap Kia.


"Makasih dek," jawab Ori segera meneguk air minum di dalamnya.


"Kamar mandi di kantor kosong kok bang, kalo abang emang udah ga kuat bisa disana aja. Daripada nunggu disini, lama."


"Oh, oke. Makasih Ki!"


Ori menerima saran Kia untuk memakai kamar mandi di kantor, daripada ia harus menunggu lama pasangan mesum disini, selain resiko terkena kencing batu dan sembelit, sudah pasti hatinya yang sedang belajar untuk legowo akan nelangsa.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2