Gadis Nakal Om Dokter

Gadis Nakal Om Dokter
Buah yang dipetik


__ADS_3

Ketiganya sudah duduk di roda ketoprak tadi lagi.


"Eh, nengnya balik lagi? Tapi gimana ya, ketopraknya udah masuk ke situ?!" tunjuk si abang merasa bersalah pada tong sampah.


"Ga apa-apa bang, bikin lagi aja 3 porsi!" jawab Fatur.


"Fath, tunggu disini sebentar! Abang mau liat dulu kondisi kulit Gale, takutnya melepuh atau luka lain!" pinta Fatur.


"Ikut abang!" pintanya menarik tangan Gale. Fatur membawa Gale ke arah dimana mobilnya diparkirkan.


"Masuk," pintanya pada Gale di jok belakang.


"Buka swetter sama t-shirt kamu!" perintahnya, Gale mengangguk membuka semua atasannya, meskipun sedikit risih, karena dibanding luka yang diberikan oleh Cika, lebih banyak tanda kemerahan dari Fatur disana.


"Kalo kesiram air panas langsung netralkan sama air suhu ruang," ia mengambil air mineral tadi dan menyiramkannya di perut Gale yang memerah. Fatur segera mengambil kotak P3K di dalam mobilnya, mencari-cari tube gel luka bakar disana.


"Dia siapa sebenernya?" tanya Fatur mengintrogasi istri yang magicnya melebihi rice cooker, tangannya memutar penutup tube, gel berwarna putih keluar di telunjuknya diusapkannya pada kulit putih Gale yang memerah itu.


"Cika, anak BP!" jawab Gale, ikut memperhatikan.


"BP?"


"Iya, sekolah yang dipimpin ayah! Emang disana siswanya ga ada yang tau kalo Gale anak ayah," jelasnya.


"Terus apa urusannya sama kamu, bisa sampe berantem. Kenal?" tanya nya lagi.


"Dia sering ketemu di kompetisi, sering nyinyirin Gale di sosmed. Dan yang jelas selalu banding-bandingin dirinya sama Gale. Ga tau biar apa!" gidiknya acuh.


"Gara-gara cilor kali!" tawa Gale, ia jadi ingat saat terakhir mereka rebutan cilor, itu juga awal pertemuannya menimpuk kepala Fatur dengan tas berisi mukena dan menuduhnya mencuri sepatu.


"Idih, ga keren gara-gara cilor!" sahut Fatur.


"Sebenernya sih cilornya ga seberapa, tapi gengsinya itu loh, dendamnya sama Gale!"


"Masih inget engga bang, pertama kita ketemu di masjid itu?!" tanya Gale.


"Ingetlah, yang kamu nuduh abang nyuri sepatu kamu sampe nimpuk pake tas mukena?" luka memerah ini cukup besar, jika tidak diolesi ini akan menggelembung dan berair.


Gale tertawa jika ingat itu, mungkin ia harus berterimakasih pada anak-anak BP yang mengejarnya sampai nyasar ke masjid, karena kejadian itu membawanya bertemu Fatur.


"Ini airnya panas banget kayanya, kulit kamu sampe merah gini. Ga bisa abang biarin aja kalo kaya gini," Fatur menutup tube gel.

__ADS_1


"Jangan bang, ga apa-apa. Kalo sampe ngerembet bawa-bawa ayah, Gale ga mau!"


"Tapi ga bisa gitu Le, dia ga bisa dibiarin, suka ga suka ayah harus tau. Abang yakin ayah udah biasa ngadepin masalah kaya gini," reaksi Fatur begitu dingin dan ngotot.


Melihat mata memohon Gale, ia menghela nafasnya, meskipun tak akan mengurungkan niatannya melaporkan Cika, "bisakan kamu jangan berulah yang bisa bikin diri kamu sendiri bahaya? Terluka?" Fatur mengelus kepala Gale.


"Iya, maafin Gale. Udah bikin abang khawatir," gadis ini memeluk Fatur.


"Kamu meluk-meluk ga pake baju gini sengaja mau mancing-mancing abang disini apa gimana?" tanya nya, Gale mengurai pelukannya dan mendelik tajam, ia mencubit pinggang Fatur.


Fatur mengambil t-shirt bola Liverpool yang masih bersih di dalam tas bagasi.


"Pake dulu baju abang, ga mungkin kamu kesana pake baju basah kamu, atau telan jang!" ujar Fatur dengan dagunya ke arah badan atas Gale.


"Fathya udah nungguin lama disana, kasian. Nanti ketopraknya dibuang lagi sama si abangnya, buruan."


...----------------...


Beberapa hari setelah itu, Fatur tak main-main dengan ucapannya. Terbukti dengan kini dipanggilnya Cika masuk ke ruangan Arka, surat pemanggilan orangtua sudah dilayangkannya kemarin. Fatur bahkan menyerahkan bukti visum Gale dan pengakuan Fathya juga sejumlah saksi, tak hanya kasus Gale saja, tapi ia pun mengangkat kasus pembullyan Fathya oleh Cika. Bukannya dipusingkan dengan kasus ini, Arka justru dapat tersenyum puas, disini ia bisa melihat kesungguhan Fatur dalam menjaga Gale.


"Sekarang loe udah bisa buka mata kan? Kalau semua tindakan buruk itu ada konsekuensinya, loe selalu cari-cari masalah sama gue, tanpa gue yang memulai, dan loe salah milih rival," ucap Gale pada gadis yang sejak tadi diam mematung bersama selembar surat keputusan dari sekolahnya.


"Loe!"


"Bukan salah gue loh, ujian loe ditangguhkan. Tapi ini bentuk dari buah yang loe petik atas perbuatan loe selama ini!"


Disana ibunda Cika memohon-mohon pada Arka agar Cika masih dapat mengikuti ujian dan lulus tahun ini.


"Masalah ini tak ada hubungannya dengan latar belakang siapa korban dengan saya. Tapi saya mencoba bersikap seprofesional mungkin, Cika anak didik sekolah ini, saya sangat menyayangkan sekaligus menyesal karena telah gagal mendidik ananda menjadi pribadi yang berakhlak mulia. Maka dari itu, mungkin ia masih harus banyak belajar lagi disini, dan menunda kelulusannya untuk tahun depan," sebenarnya banyak tuntutan yang masuk setelah kasus Fathya pada Arka, korban bully Cika bukan hanya Fathya, masih ada lagi beberapa lainnya datang melapor, mereka menuntut agar Cika di DO dari sekolah, tapi menimbang-nimbang prestasi yang sudah ia torehkan selama ini untuk sekolah, Arka hanya memberikannya hukuman penangguhan ujian.


"Saya menyayangi Cika sama seperti anak BP lainnya, itu kenapa saya masih mempertahankan Cika, sayang sekali, padahal ananda Cika anak yang potensial," keputusan Arka sudah final dengan menunda ujian dan kelulusan Cika di tahun ini.


...****************...


Ujian sudah dilewati tanpa ada masalah yang ditimbulkan oleh Gale, ia benar-benar jadi gadis yang kalem sebelum ujian, meskipun kalem dalam versi Gale beda dengan kalem pada umumnya. Mereka hanya tinggal melakukan persiapan untuk mengikuti SNMPTN.


Mama menghitung angka list orang-orang di gang Irit. Kacamata bertengger di hidungnya, bolak-balik mama mengabsen seluruh tetangga terdahulunya disana, takut kalau ada yang terlewat.


"Abang cuma bikin hampers buat di gang Irit doang?" tanya Gale, gadis ini tak berhenti mengunyah snack baladonya, bergantian dengan Fathya. Diam-diam, ternyata si cabe doyan ngemil juga.


Tangan mereka beradu saat masuk mulut toples, "ck, kirain loe ga doyan?!"

__ADS_1


"Ish Ale! Buruan, loe mau ambil dulu apa gue dulu yang ambil?!" tanya Fathya, menoleh sejenak dari layar laptopnya, ia dan Gale sedang sibuk memasukkan data diri milik Gale dalam sebuah link formulir pendaftaran SNMPTN.


"Status gue apa cabe? lajang apa menikah? Belum menikah aja lah! Biar bisa bebas berkelana," tawa Gale, ikut ditertawai Fathya.


Fatur sontak menjewer kupingnya, "aw abang ih!" kini Fathya tertawa lebih kencang, mama sampai berdecak terganggu karena konsentrasinya buyar.


"Abang bikin buat tetangga sini, rekan kerja, para perawat. Momy juga bikin buat tetangga sama temen-temennya. Biar sekalian umumin kalo abang sama kamu udah nikah."


"Kapan mau ambil dari rumah momy?" tanya Gale.


"Besok,"


"Gale ikutttt!" rengeknya.


"Boleh, biar ada kuli angkut juga!" kekeh Fatur berseloroh, tak hentinya Fathya tertawa. Gadis itu jadi lebih banyak tertawa sekarang.


"Dih, tega! Masa istri sendiri dijadiin kuli barang,"


"Katanya lajang? Tapi giliran disuruh, malah ngaku-ngaku istri, jadi yang bener yang mana?"


"Yang bener kalo lagi sama abang itu istri, kalo lagi diluar ya lajang!"


"Aduh sakit!" saat hidungnya dijiwir Fatur.


"Terus kapan kita ke gang Irit bang? Fathya kangen sama anak-anak!" tanya nya tak sabar.


"Sepulang abang praktek, abang udah minta tolong sama babeh, mau minjem rumahnya buat adain acara makan-makan bareng tetangga," jawab Fatur.


"Ngomongin makan, Gale laper lah!" gadis itu beranjak dari sofa, menaruh bantal sofanya ke pangkuan Fatur berjalan menuju meja makan.


"Ayam kecap tinggal satu, Gale abisin ya!" serunya dari belakang.


"Ale! Itu punya Fathya!" Fathya merengut sewot dan menyusul Gale ke meja makan.


"Paroan Cabe! Nanti gue ngiler!" jawabnya terkekeh.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2