
Air meluruhkan semua tanah dan kotoran yang menempel di kaki putih Gale, si empunya? Tentu saja hanya menyembunyikan wajah di lengan Fatur.
"Kenapa neng Gale, bang Fath?" tanya Gina.
"Tadi nginjek batu," jawabnya.
"Oh,"
"Hati-hati neng. Kalo ke kebun jangan lepas alas kaki," Gina menerima ubi dari Badar lantas membersihkannya bersama anak-anak lain.
"Dapet berapa puluh kilo, Dar?"
"40 kilo, Na. Tapi masih ada buat besok, ga bisa langsung hari ini!" jawab Badar mengeluarkan ubi-ubi bersama Ridwan.
"Bang, pelan-pelan ih! Nanti malah makin gede lukanya!"
"Perih bang!"
Berkali-kali pukulan mendarat di bahu Fatur. Gale sedikit mencuri-curi pandang ke arah kakinya yang tengah dialiri air.
"Neng Dara ga apa-apa bang?" tanya Badar.
"Batunya masuk Dar, mesti di keluarin!" Fatur menjawab tapi mata dan tangannya fokus pada kaki Gale di bawah Pancuran.
Sebenarnya lukanya tak terlalu besar, tapi memang serpihan batu tajam yang terinjak masuk ke dalam telapak kakinya, mengharuskan Fatur membuka luka lebih besar dan mengeluarkannya.
"Ini kayanya ga bisa cuma pake tangan doang, harus pake alat."
"Maksudnya gimana?" tanya Gale.
"Ke dalem yu, abang obatin disana," Gale yang tidak suka dengan apapun bentuk pengobatan apalagi yang berbau tindakan memelototkan bola matanya dan sewot.
"Ha? Mau diapain?! Engga ah, sakit nanti!"
"Sebentar, ga akan sakit ko!" jawab Fatur, ia langsung saja membawa Gale dalam gendongannya.
"Abang Gale ga mau," rengeknya.
"Udah ga usah, biarin aja, biarin! Nanti dia keluar sendiri, kalo Gale jalan," ujar Gale memberi opsi dengan wajah paniknya. Tapi Fatur tak mau dibantah, yang dokter disini adalah dia, ia lebih tau apa yang akan terjadi selanjutnya jika tidak ditangani.
"Itu nanti infeksi, Le. Sekecil apapun nantinya malah jadi masalah besar, batunya kan kotor banyak kuman sama bakteri!"
Semua itu tak luput dari bidikan netra Arka, putrinya yang sedikit manja tapi so kuat macam Shania, membawanya flashback ke masa dimana Shania mengalami dislokasi sendi, ia tertawa kecil.
"Hayoo! Lagi mikirin Sha ya mas?" tangan lentik Shania menelusup memeluk perut suaminya.
"Iya," jawaban pria di usia yang tak muda lagi ini jujur, membuat pipi Shania merah-merah.
"Udah ngajarinnya?" tanya Arka mengusap lengan Shania yang melingkar di perutnya.
"Udah, mas mau puding roti labunya? Jam-nya mas ngemil nih!" ajak Shania.
__ADS_1
"Itu gemoynya kita kenapa mas, ko digendong-gendong segala?"
"Gale nginjek batu, serpihan batunya masuk ke dalem,"
"Wah, bakalan ada drama takut mati lagi ini!" tawa Shania, ia hafal betul tabiat anak sulungnya, hampir mirip seperti dirinya. Tapi ia merasa lebih baik dari putrinya.
Shania berhasil membawa tim Pondok masuk ke industri bisnis, setiap diadakan food festival, Pondok selalu mengirimkan produk-produk hasil anak didik disini.
"Kaya Sha ya mas?" tawa Shania selalu renyah di telinga Arka.
"Shania banget," setujunya.
"Bulan depan ada food festival di Semarang, Sha udah kirim Pondok, sama Pawon Kurawa buat ikutan. Angkringan?" tanya nya, berjalan sambil menikmati udara pagi disini baik untuk Arka.
"Udah kayanya, diurus Priyawan."
"Mas ga usah terlalu cape, cukup pikirin Sha aja, biar ga terlalu berat!"
"Andro sudah mulai mas ajarkan memegang Route 78, biar dia terbiasa nanti,"
"Iya, kalo bungsunya kita suka dan ga keberatan, why not?!" senyum Shania hangat menguar sampai menyentuh hati.
"Mas hanya mau nikmatin masa tua sama kamu, tanpa memikirkan urusan rumit pekerjaan."
"Iya," Shania mengusap lengan Arka.
Arka sudah berusaha keras dan kerja banting tulang sejak dulu, maka sekarang ia hanya tinggal memetik hasilnya, itu yang Shania lihat.
Arka tersenyum, terlihat kerutan di sudut mata. Bagi perempuan 36 tahun ini wajah Arka selalu tampan setiap saat, tak ada yang berubah seperti saat pertama kalinya bertemu.
"Mas kalo lagi senyum gini, gantengnya nambah!" ujar Shania.
"Kamu makin nambah tua makin kenceng gombalannya," jawab Arka, membuat tawa renyah itu keluar lagi.
"Mau bikin dedek lagi?" goda Arka mengerling pada istrinya.
"Ha-ha-ha," tawa Shania tapi kemudian raut wajahnya berubah jadi tajam, "enggak!"
"Sha udah 36 tahun, banyak resikonya buat lahiran lagian saat ini Sha punya bayi gede yang mesti Sha urus, calon opa!" tunjuknya di dada Arka.
"Makasih sayang," kecup Arka di kening Shania, tua tak menjadikan keduanya kalah oleh romansa anak muda.
"Sehat-sehat mas Kalajengking sayang,"
......................
Candaan dan langkah Fatur terhenti saat keduanya mendengar suara menggebu-gebu dan bergetar Kia di dekat kebun jagung.
"Kia kira dengan Gale lebih memilih bang Fatur bisa membuka mata bang Ori, kalo Gale ga ada perasaan apa-apa sama bang Ori!"
"Lihat Kia bang, Kia ada disini!"
__ADS_1
"Ya kamu emang bener, abang terlalu menutup mata sama sekitar. Hingga yang terlihat di mata abang hanya Gale! Kamu tau, abang sangat berusaha untuk membuang jauh-jauh perasaan abang sama Gale dan menerima kamu. Tapi semua ini butuh waktu! Perasaan ga bisa dipaksakan, harus mengalir dengan sendirinya, Kia! Maafin abang,"
"Apa sih yang abang suka dari Gale, mungkin Kia bisa jadi itu! Kia sampai rela berubah jadi cewek ga tau diri, cewek rendahan demi abang liat Kia."
"Kamu tidak harus jadi Gale, cukup jadi diri kamu sendiri. Biar tidak jadi bayang-bayang Gale. Tapi abang cuma minta waktu, karena melupakan itu tak ada di dalam mindset (pola pikir) otak manusia, kecuali abang amnesia," Ori meraih gadis yang sudah menangis itu ke dalam pelukannya.
"Kia mohon kurangi sikap over abang sama Gale, Kia sakit bang!" terdengar Kia yang sesenggukan.
Gale mendongak menatap Fatur, "bang," cicitnya.
Fatur hanya tersenyum," kita jalan memutar, mau?"
Gale mengangguk, dan menaruh dagunya di pundak Fatur.
"Kayanya kamu harus ngobrol dari hati ke hati sama Ori," Fatur mengawali obrolan setelah suasana sempat jadi sunyi. Fatur ingat betul, jika saat ini Ori masih mengharapkan Fatur berbuat kesalahan dan ia dengan sangat senang hati akan merebut Gale, Ori masih menunggu Galexia.
"Takut jadi salah paham kalo cuma ngobrol berdua. Nanti orang yang liat mandang Gale apa bang? Gale takut Kia salah paham dan sakit hati,"
"Biar abang bilang sama Kia," jawab Fatur, matanya seakan bertanya pada Gale.
"Iya,"
Jalan yang dipilih Fatur memang sedikit jauh, karena harus kembali memutari kebun sayur yang terdapat di sebrang kebun jagung, tapi Fatur tidak terlihat kelelahan menggendong Gale.
"Ini kenapa sampe di gendong-gendong gini?" tanya teh Rita.
"Gale nginjek batu teh, luka." Fatur segera mengambil kotak P3K.
"Itu apa bang!" tunjuk Gale pada benda logam yang mengkilat, sontak saja gadis ini langsung panik dan mencoba kabur, tapi Fatur langsung menangkapnya.
"Abang engga mau ih! Abang mau ngapain Gale! Aaaa, tolong momy, ayah!!! Bang Fatur mau mutilasi Gale!" pekiknya membuat teh Rita tertawa.
"Astagfirullah neng!"
"Abang cuma mau keluarin serpihannya di dalem, bukan mau bu_nuh kamu," pria ini sedikit kesulitan memegang Gale yang berontak.
"Ndro! Andro tolongin abang," Andro sudah tak aneh lagi dengan kelakuan kaka satu-satunya ini, ia malah tertawa-tawa melihat kesakitan Gale.
"Ha-ha-ha, ini mah harus manggil momy bang! Pasti bakalan ada drama mau meninggoy kalo ka Gale mah!" jawab Andro, tawa teh Rita kembali meledak.
"Emang mau diapain?"
"Itu cuma mau sedikit lebarin lukanya, buat bersiin serpihan batu sama tanah dari dalem. Takut infeksi, soalnya kotor!"
"Apa?!!! Lukanya dilebarin?!" Gale melotot.
.
.
.
__ADS_1
.