Gadis Nakal Om Dokter

Gadis Nakal Om Dokter
3 bulan ga datang tamu, biasa aja!


__ADS_3

"Ahh, loe mah gitu terus senjatanya. Kaya emak-emak bunting, hamil juga engga!"


Fatur sudah tak aneh lagi dengan drama rebutan makanan di rumah sekarang, terkadang ia dan mama yang sering mengalah.


"Jadi berapa banyak ma?" tanya Fatur.


"30 aja lah," jawab mama.


...****************...


"Momyyy kuh tercinta! Momy kuh yang paling bawel!" pekik Gale masuk ke dalam rumah.


Puluhan hampers berjejer di ruang tengah dengan momynya di tengah-tengah dan nenek di atas sofa. Sampai-sampai Arka dan Andro yang sedang menonton bola pun ikut tersingkir dan masuk ruang keluarga di atas.


"Offset tuh!" teriak Andro dari atas.


"Lagi pada ngapain sih?" tanya Gale mengernyit.


"Pada nonton bola," jawab Shania.


"Itu tolong dirapiin kak," tunjuk Shania.


"Abang ke atas dulu," ijin Fatur menyusul kaum adam di rumah ini menonton program favorit sebagian laki-laki.


"Iya," anggukan kecil Gale menyetujui.


"Banyak banget, katanya cuma tetangga deket aja?" tanya Gale meraih dan membaca kartu ucapan salah satu hampers disana.


...Thank you...


...For Sharing Our Special Day...


...Fatur ❤ Galexia...


Sejenak Gale memandang cincin yang tersemat di jari manisnya. Waktu begitu cepat berlalu, ia bahkan sampai lupa kapan ia menikah, 3, 4, 5 bulan yang lalu?


"Ini mau langsung dipindahin ke bagasi apa gimana Tur?" tanya Shania pada menantunya itu dengan berteriak dari lantai bawah.


"Momy ihh! Itu nenek kasian kupingnya nanti budeg! " Gale menutup kedua kupingnya, Shania nyengir memeluk lengan ibu Arka.


"Momy mu udah kebiasaan Le, nenek udah biasa!" jawabnya.


Fatur segera turun menghampiri, jangan sampai tembok rumah mertuanya ini retak-retak karena teriakan ibu mertuanya.


"Boleh mom, biar di cicil masukkinnya." Fatur melihat satu persatu bentukan cantik bingkisan pernikahannya dengan gadis yang....dimana ia? Fatur berdecak, gadis itu tengah mengobrak-abrik isi kulkas ibu mertuanya.


"Androo! Dek!" pekik Shania, turunnya Fatur tak lantas membuat teriakan Shania berakhir pula.


"Apa mom?" Andro ikut turun. Acara menonton bola di ricuhi Shania.


"Angkutin hampers ke bagasi mobil bang Fatur! Enggal kasepnya momy, da bageur!"


(cepet gantengnya momy, baik deh!)


"Pfftt, ha-ha-ha! Gantengnya momy!" tawa Gale meledek adiknya.


"Berisik loe, gue sumpel juga mulut ka Gale nih!"


"Nih! Udah disumpel pake pillow cake!" jawab Gale melahap kue di tangannya.


"Hati-hati dek, itu ada barang pecah belahnya!" ucap Shania mewanti-wanti. Kini ia merasakan, rasanya jadi bunda dulu.


"Makan mulu, pantesan sekarang gendutan! Abang kasih ka Gale pupuk apa bang?" tanya Andro membawa dua hampers dalam sekali jalan.


"Pupuk cinta," jawabnya dengan ekspresi datar. Shania dan Gale tertawa, "abang jiplak banget ayah! ga cocok gombal," tawa Gale.


Shania mengangguk setuju, "iya bener banget!"


Andro memutar bola matanya melihat kelakuan momy dan kakanya, "ka Gale jiplak banget momy,"


"Sama-sama cantik?" tanya Gale.


"Sama-sama absurd!" Arka dan Fatur menahan bibirnya agar tak berkedut, sedangkan ibu sudah tertawa kecil.


"Enaknya diapain nih anak?!" desis Gale memicingkan matanya.


"Dijodohin sama si Kendell, mumpung bapaknya kabur!"


"Ya jangan atuh, masa mantu momy yang satu dokter yang satu lagi kambing?!"


"Ndro, dapet salam tuh dari Lila sama Andini. Heran deh, orang dingin kaya Andro banyak yang suka!" Gale kembali memotong cake di meja makan lalu menggeser kursinya dan duduk.


"Jawab aja waalaikumsalam," sahut Shania.


"Waalaikumsalam," jawab Andro biasa-biasa saja.


"Dih!" decih Gale.


"Anak momy kan ketularan kharisma ayahnya!" ujar Shania, kali ini Gale yang memutar bola matanya malas mendengarkan momynya yang mulai memuji dan memuja sang ayah.


"Bucinnya ayah nih!"

__ADS_1


"Momy bocor tuh!" tunjuk Andro, pada celana belakang Shania, saat momynya ini beranjak dari duduk.


Semua mata langsung mengikuti arah telunjuk Andro.


"Yaa! ko geser dari tanggal sih, ini kecepetan! Padahal udah nyiapin jaring ikan warna merah menyala buat ayah seorang!" jawabnya membuat Fatur tertawa, bukannya merasa kikuk dan malu, ibu mertuanya ini malah bisa membalikkan keadaan.


"Idih! Rahasia perusahaan jangan diumbar-umbar dong!" malah jadi Gale yang merasa malu.


"Sha, ada anak-anak suka kebiasaan," omel Arka.


"Lagian momy heboh banget, kecepetan datang tamu. Gale aja udah hampir 3 bulan ga dateng bulan biasa aja tuh!"


"Haaahh?!!" ucapan itu memancing reaksi terkejut dari semua penghuni di ruangan itu.


Fatur dan Shania setengah berlari menghampiri Gale, Fatur membalikkan kursi Gale, jadi menghadapnya.


"Kamu telat datang tamu?"


"Apa yang dirasain sekarang?"


"Mual, muntah, atau pengen apa?"


Fatur memberondongnya dengan pertanyaan.


"Galeee!!" jerit Shania menoyor anak sulungnya ini.


"Aduh!"


Sedangkan si pelaku malah dengan santainya melahap cake di ruang makan.


"Kenapa?" ia mengerjapkan matanya aneh.


"Itu kayanya hamil dudul!" Shania kembali menjitak jidat Gale.


"Momy ih!"


"Kita ke rumah sakit sekarang ya?"


"Beli dulu tespeck deh Tur, ko momy jadi panas dingin gini ?!" ucap Shania meremas kedua tangannya sendiri.


Andro meledakkan tawanya, "dudul...dudul...."


"Ya udah si, lagian kalo hamil juga kan Gale bukan hamil di luar nikah, udah gitu Gale ga rasain kaya orang-orang, morning sickness gitu. Cuma badan Gale aja yang melar," santainya. Arka ikut tertawa kecil, keluarga kecilnya heboh seketika gara-gara kecerobohan Gale.


Malam itu Fatur langsung bergegas pergi ke apotik membeli sebundel tespeck dengan berbagai merk, mendadak otak dokternya rebahan. Padahal satu saja sudah cukup, untuk apa beli banyak-banyak.


"Hamil itu bukan pasal morning sickness atau udah nikah apa belumnya, astagfirullah!!! gue waktu hamil Galexia ngidam apa ya Allah!" kesal Shania.


Arka mengerutkan dahinya, tak tau menau tapi ikut terseret, sudah tak aneh baginya. Biarkan saja nanti juga istrinya juga diam sendiri, pikirnya.


Gale masuk ke dalam kamar mandi dan mencoba segepok tespeck.


"Banyak banget sih!" gumamnya.


Fatur harap-harap cemas menunggu Gale keluar, ia menatap Arka yang juga menatapnya, tau akan pandangan itu ia menghampiri mertuanya dan duduk di samping Arka.


"Maaf ngga dengerin saran ayah," sesalnya.


"Ga apa-apa, toh sekolah Gale juga sudah selesai. Gimana dengan kuliah?" tanya nya.


"Sudah daftar yah," jawab Fatur.


"Semoga lancar, saya hanya takut apa yang menimpa momynya dulu, menimpa Gale juga. Tapi ternyata saya bisa belajar, semua orang meskipun satu darah tidak dapat disamakan, mereka punya jalan nasib dan pribadinya masing-masing."


Arka mengingat tiap detiknya hidup bersama Shania, disaat Shania mengalami mual muntah dan masih harus sekolah, belum lagi tuduhan dan hinaan orang hamil diluar nikah membuatnya harus memohon agar Shania bisa bersekolah di rumah sebelum ujian, ujian dengan keadaan perut yang sudah besar, bahkan Shania sempat mengalami depresi antenatal.


Ceklek


Gale keluar dari kamar mandi, dengan membawa beberapanya saja.


"Gimana?" tanya Shania.


"Nih!" ia menyerahkan 3 pada momynya, lalu menghampiri Fatur dan duduk di sampingnya.


"Nih!" 3 buah tespeck berwarna-warni ia serahkan juga. Fatur meraihnya, matanya menghangat, "alhamdulillah!" ia memeluk Gale erat.


"Makasih," kecupnya di pucuk kepala Gale.


"Momy mau jadi nenek!"


Tua banget Sha kalo dipanggil nenek, mas!" adunya pada Arka, seraya menunjukkan tespeck yang bergaris dua dan plus.


"Terus mau dipanggil apa?" tanya Arka.


"Jangan oma lah, ketuaan juga. Granny...."


"So inggris.." sahut Andro.


"Apa atuh?!" seru Shania.


"Ambu, enin..." Andro memberikan option satu persatu.

__ADS_1


"Ih, meni riweuh sama panggilan. Momy itu bocornya nanti kemana-mana!" tunjuk Gale. (heboh)


"Astagfirullah! Lupa!" Shania kembali beranjak menuju kamar atas untuk memasang pengaman dan mengganti celananya.


Gale menatap perutnya, masih belum sebesar perut ibu-ibu hamil di sinetron. Meskipun ada perubahan, badannya terlihat semakin mantap.


"Ko aneh ya mas, Sha dulu morning sickness?!" raut wajahnya menunjukkan kebingungan.


"Kalo orang awam nyebutnya hamil k3bo mom," jawab Fatur.


"Justru hamil kaya gini banyak diidamkan semua perempuan, soalnya ngga mengalami morning sickness, jadi kaya orang sehat. Tidur tercukupi, makan juga nutrisinya terpenuhi karena hampir ga ada keluhan," jelasnya.


"Ko bisa gitu? Kirain momy, yang hamil semua ngalamin morning sickness?"


"Kalo masalah itu Fatur kurang paham, harus nanya sama dokter obgyn atau yang berhubungan sama kehamilan."


"Tapi itu abang tau?" tanya Andro.


"Ya pasti tau, seharian gaulnya sama dokter !" jawab Arka.


Baru saja makan cake ex gadis ini kembali mengambil es krim dari frezzer momynya.


"Dokter Selly ya bang?" Gale tersenyum menaik turunkan alisnya, membuat Fatur membalas tatapannya malas.


Ponsel Shania bergetar,


"Assalamualaikum?!"


(..)


"Ya Allah! Innalillahi, ko bisa?!" tanpa menutup panggilannya, Shania menyalakan televisi, memindahkan chanel sampai menunjukkan berita laka lantas.


"Kenapa mom?"


"Ada apa Sha?"


"Ya Allah, Sha liat teh!" ia menutup mulutnya.


"Tur, rumah sakit di Jakarta yang bagus, lengkap sama dokternya berkompeten dimana? Bisa momy minta rekomen?" tanya Shania.


"Ada banyak mom, buat siapa?" tanya Fatur.


"Ganis kecelakaan!"


"Ganis?!" tanya Gale terkejut.


"Itu! Ganis disana," tunjuk Shania ke arah layar tv.


"Ya Allah, ngeri gitu!" gidik Gale.


"Kalo mau Fatur telfon teman dokter disana?" tanya Fatur.


"Boleh, secepatnya. Nanti momy langsung kabarin tante Reni sama om Yudi!"


Fatur merogoh ponselnya dan melakukan sambungan panggilan.


"Teh, Sha matiin dulu telfonnya. Menantu Sha lagi nelfon dulu temen dokternya, nanti Sha telfon lagi siapin aja berkas kepindahannya," Shania menutup panggilannya.


"Ganis ga sadarkan diri, rumah sakit di Pangalengan penuh, rumah sakit tempat Ganis dilarikan sekarang alatnya ga memadai, mau dibawa pulang ke Jakarta aja katanya," jawab Shania.


"Mom, Jakarta Internasional Hospital,"


"Oke, makasih Tur!"


"Nanti langsung aja hubungi dokter Maryam, soalnya udah siapin kamar VIP," lanjutnya.


"Oke," Shania kembali menelfon Reni.


"Udah malam, ibu hamil ga boleh keluyuran malem-malem. Pulang yuk?" ajak Fatur pada istri nakal yang sedang mengandung buah hatinya.


"Yuk, Gale juga udah cape bang! Cape ngunyah!" tawanya.


Gale pamit pada keluarganya.


"Besok ikut dulu ke rumah sakit buat periksa, abang udah bikin janji sama dokter Tara,"


"Kirain dokter Selly,"


"Ck, ga usah bawa-bawa Selly lagi. Abang udah bilang kan, kalo sekarang cuma ada abang, kamu dan kita!" usapnya di perut Gale.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2