Gadis Nakal Om Dokter

Gadis Nakal Om Dokter
Kepingan masa lalu


__ADS_3

Gale membuang muka ke arah samping, mengusap area lingkaran mata dan pipi. Tak ingin terlihat cengeng di depan Fatur, setelah tadi pagi ia mengompol di depan dokter muda ini dengan sangat memalukannya.


Cerita Fatur mengandung bawang, belum lagi, obrolannya dengan sang ayah tadi siang. Sukses membuat gadis nakal ini jadi gadis paling cengeng sedunia.


Selalu dan selalu, gadis ini selalu menghindar jika menyangkut urusan hati, ia bukan tipe gadis yang suka bermelow-melow ria, ia tak menjawab malah meraih mug berisi susu coklat lalu meminumnya hingga tandas. Mendengarkan kisah berbau melow membuatnya jadi haus. Pasokan air di dalam tubuh tak boleh berkurang, pikirnya.


"Le," sejak tadi Fatur melihat gerak-gerik Gale yang terlihat tak nyaman.


"Sekarang kamu tau alasan abang nikahi kamu? Dulu abang belum ada nyali buat samperin kamu. Abang juga ga tau karena kamu ga jujur nama asli kamu," Gale malah terkikik, teringat akan ulahnya yang menimpuk Fatur dengan tas mukena dan menuduhnya maling sepatu.


Awal pertemuan keduanya.


"Abang nunggu jawaban kamu, Le?"


"Kata abang, Gale ga boleh nyela atau ngomong, sebelum abang selesai ngomong!" jawab Gale.


Ctak!


"Abang udah selesai ceritanya, sayang..." lama-lama Fatur geram juga pada istri nakalnya ini.


"Oh!" Gale mengangguk dan berohria seraya mengusap keningnya. Lama-lama kening Gale jadi arena adu kelereng.


"Ih, kunyah juga nih!" gertakan gigi Fatur,membuat Gale terkikik.


"Gale kasian sama abang," gadis itu menelusupkan kedua tangannya diantara lengan dan perut Fatur sambil berurai air mata di dada Fatur.


"Anak sekecil itu udah kerja banting tulang! Gale ga tau abang sesusah itu dulu," ucapnya dengan ucapan yang bergetar, Fatur tersenyum dan mengusap surai lembut Gale.


"Ga apa-apa abang ikhlas. Jika itu jalan abang buat ketemu kamu. Dan cara memperjuangkan kamu! Kamu tau, cara mendapatkan kamu itu ga mudah. Perjuangan abang untuk sampai di titik ini,"


"Kamu selalu jadi motivasi abang,"


"Ayah abang kemana?" tanya Gale mendongak. Raut wajah Fatur mulai berubah, seperti menahan luapan emosi, kekecewaan yang menggelayut dan kekesalan.


"Ada," jawabnya singkat lalu menenggelamkan kepala Gale di dadanya lagi.


Pandangannya lurus ke arah langit malam yang gelap, segelap hubungannya dengan sang ayah.


Abang rasa, abang ga perlu cerita masalah bapak sama kamu, abang sendiri malu, bapak tak sehebat ayah. Abang takut kamu ga bisa terima, dan malu.


Fatur memilih menyimpan kisah kelamnya bersama sang ayah dan membiarkannya karam bersama masa lalu yang tak akan pernah kembali lagi.


"Abang sayang Gale," Fatur mengakhirinya dengan mengecup pucuk kepala Gale.


"Gale...juga sayang abang," ucapnya malu-malu.


Fatur tersenyum lebar, penantian selama hampir 14 tahun berbuah manis.


...****************...

__ADS_1


Gale sudah terlelap di sampingnya, meringkuk berbalut selimut. Dan ia sendiri, kini malah tak bisa memejamkan matanya.


Pertanyaan Gale berhasil membangkitkan kenangan masa lalunya, luka lama yang mulai memudar kini seakan terasa lagi sakitnya.


...----------------...


"Pak! Jangan pukul mama!" Fatur memukul-mukul sekuat tenaga, mencoba membantu dan membela sang ibu. Meskipun tau kekuatan tangan kecilnya tak banyak membantu, mungkin rasanya akan seperti sebuah pijatan untuk bapaknya.


Brakk!


Tubuh bocah berusia 8 tahun itu terhempas menabrak dinding kayu.


"Bocah tau apa?!"


"Fatur!" teriak mama, terdapat luka lebam di sudut bibirnya akibat hantaman kepalan besar berbandulkan cincin batu akik.


"Mewek aja bisanya! Dasar perempuan ga guna!" Bapaknya keluar dari rumah semi permanen mereka dengan sempoyongan, hasil dari menenggak minuman beralkohol.


"Bapak! Tunggu, pak!" teriak Fatur, meskipun rasanya badan kecil Fatur terasa remuk.


"Nak, Fatur! Ga usah dikejar, biarkan bapakmu pergi!"


"Mama, sebentar!" Fatur kecil segera masuk ke dalam dapur, dimana ruangan itu tak banyak terisi barang, jangankan peralatan dapur lengkap, wajan saja sudah banyak tambalannya. Tapi setidaknya disinilah mamanya mengais rejeki dengan berjualan gorengan, terkadang mama menjadi buruh cuci.


Fatur kecil mengambil baskom hijau yang warnanya sudah pudar karena seringnya dipakai. Menuangkan air dari dalam termos yang ditutup dengan penutup berplastik. Tutupnya? jangan tanyakan lagi, sudah pecah dibanting bapaknya.


Sebenarnya termos ini sudah tak sebagus dulu, air panas yang dimasukkan tak dapat bertahan lama.


Air mata tak henti-hentinya mengalir dari mata mama.


"Fatur! Fatur lihat kan yang sering dilakukan bapak sama mama?"Fatur mengangguk.


"Fatur lihat bagaimana sakitnya mama?" Fatur kembali mengangguk, air wajah bocah 8 tahun ini tak dapat menyembunyikan kesedihan sekaligus kemarahan.


"Kelak Fatur akan menjadi seorang suami dan ayah. Fatur jangan seperti bapak, suka bikin perempuan menangis, apalagi sampai menyakiti secara fisik. Fatur harus jadi pelindung,"


"Iya ma,"


"Fatur mau janji?"


"Janji," Fatur mengelus perut mama, di dalam sana ada calon adiknya, mungkin disana ia pun merasakan apa yang dirasakan sang mama.


*****


"Beh! Mau ambil koran buat dijual!"


Kios sepetak, dengan bermacam-macam koran dan majalah menjadi tempat pertama yang ia datangi setiap harinya, harus sepagi mungkin agar bisa menjajakan koran lebih banyak. Kebetulan jam sekolahnya masuk siang. Sehelai t-shirt lusuh adalah baju kebesarannya menaklukan hari, bocah 8 tahun ini mengesampingkan kata malu dan lelah, disaat teman-teman seusianya bermain, ia lebih memilih mencari rupiah demi membantu mama.


"Nih. Bae-bae loe n'tong!" jawab Babeh Mi'un, pria berumur dengan perut buncit berpeci menyerahkan setumpuk koran di tangan kecil Fatur.

__ADS_1


Tak jarang hinaan mencemooh dan menohok Fatur terima, tak ada yang lebih menyakitkan dari melihat mama meringis menahan lapar apalagi ada adiknya disana.


Bapak? Ayolah! Preman pasar si b4jingan itu tak pernah pulang, beberapa kali Fatur mendengar pria br3ng_s3k itu ditangkap karena menjambret kalung emas seorang nenek.


......................


Kali ini Fatur terpaksa mencari keberadaan sang ayah, setelah sekian bulan dibui.


Keringat mengalir deras membasahi wajah kecil yang mulai kecoklatan karena teriknya sinar mentari dan debu jalanan menerpa kulitnya. Tempaan kerasnya dunia jalanan, memupuk jiwa mandiri Fatur. Tak ada kata menangis bagi anak jantan.


"Pak! Mama, mau lahiran!" matanya berbinar meski gejo_lak dendam masih terkunci rapat.


"Perz3t4n! Urus saja mamamu sendiri!" Fatur mengepalkan kedua tangannya dan menyerang pria tak tau bersyukur di depannya.


Bocah itu pulang membawa sepaket luka lebam, buah dari hantaman bapaknya.


"Tur, mama loe udah di puskesmas, ditolong tetangga sama pak RT!"


Fathya Khaira Umimah.


Kata dendam itu semakin menumpuk di dalam dada, dan puncaknya adalah saat melihat bapaknya memangku wanita lain yang ternyata juga sudah menggendong bayi. itu artinya sebelum dibui ia memang sudah bermain api.


Dalam hubungan pernikahan, ada kesalahan yang tak bisa di toleransi, yaitu kekerasan dan perselingkuhan.


Kobaran kebencian Fatur tak bisa diredam lagi. Ia menyimpan sisa tumpukan koran hari ini. Mencari sebatang kayu cukup besar.


Langkah besar kaki kecil Fatur sampai di depan kontrakan bapaknya dan wanita itu.


"Laki-laki br3ng_s3k!!! Harusnya kamu busuk di penjara!" Fatur maju berlari, tatapannya tajam menusuk.


Keduanya terkejut, " abang!" teriak wanitanya.


"Masuk!" jawab pria ini membawa istri baru dan anaknya ke dalam rumah.


Fatur melayangkan, menghantam dan menghancurkan semua yang menghalangi langkahnya.


Prankkk!


Grombyang!!!


Kaca rumah, bangku, pot, apapun ia hancurkan sebagai bentuk pelampiasan.


Dan yang ia ingat setelah itu, ia masuk bui. Yap! ia di seret oleh bapaknya sendiri ke dalam bui.


Beruntung ia masih di bawah umur, dan mama mau menjamin. Meski mama harus menjatuhkan harga dirinya dengan memohon-mohon, demi mencabut laporan dan membebaskan Fatur pada laki-laki yang bahkan tak ingin Fatur lihat lagi batang hidungnya di dunia ini. Hanya demi dirinya.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2