
Gale belum sempat menatap jelas para pemateri ataupun siapa saja yang kini berjajar di depan sana. Karena memang sejujurnya ia tak peduli.
Setelah tampil pun ia langsung kembali ke ruang belakang.
"Psst, tes! Dono, Lele pada dimana? Ga mau pada kesini getohh, ini dokter, sama om tentara, om polisinya ganteng-ganteng loh!"
Whatsapp Lila dari depan sontak menjadi oase bagi para ciwi-ciwi di tengah rasa dahaga.
"Oy guys, katanya tamu yang datang enak dipandang?! Emang beneran?!" tanya Andini seraya menyedot minumnya.
"Kata siapa Ndin? Coba gue cek deh, soalnya anak-anak kelas gue juga pada bilang gitu!" jawab Asha. Gadis berikat pendek itu melangkah keluar dari ruangan ekskul tapi tak sampai 10 menit ia kembali lagi seraya berlari.
"Beneran weh, liat pada ngambil foto om polisi sama dokternya!" seru Asha. Dengan kecepatan angin Gale dan Andini meluncur menuju lapangan, begitupun yang lain, rupanya mereka penasaran.
"Idih, semangat amat. Kalo om dokter tau istrinya keganjenan, loe dilempar ke ranjang Le," ujar Andini berjalan bersama Gale.
"Kan itu kalo dia tau, yang penting dia jangan sampe tau, anak bawang mah gampang lah, kasih aja coklat beres!" kekeh gadis ini tak ada takut-takutnya.
Benar saja, saat sampai di lapangan, pemandangan di depan begitu memanjakan mata.
"Widih! Seger Le, kaya embun pagi yang nyangkut di rumput!" seru Andini.
"Lele! Dono!" Lila melambaikan tangannya.
Tunggu! Mata Gale langsung memicing dan mengobarkan api saat tatapannya jatuh pada seorang perempuan di depan sana. Perempuan paling tidak ia suka di dunia, Seli...
"Kalo tau dia pematerinya, ga perlu lah gue sambut kaya gitu! Gue timpuk aja pake tomat," gerutunya.
"Siapa Le?" tanya tanya Irvan.
Gale menggeleng, masa lalu biarkan berlalu. Pantasnya ia buang ke tempat sampah saja.
Duduk manis seperti Fathya? Matahari udah terbit dari barat kayanya. Berulang kali ia melirik ponsel dan lebih memilih mengobrol dengan teman lainnya.
Beberapa kali Gale sempat melirik ke arah Seli, terkadang pandangan keduanya bertemu. Tapi gadis itu langsung membuka muka ke lain arah, sampai Seli menutup materinya tentang se x bebas, resiko dan sebagainya seraya menatap Gale.
"Apaan tuh, liatnya sama gue?!" gumam Gale, mata Gale tak ubahnya cctv yang mengikuti gerakan Seli dengan tatapan sengit penuh dengki, dimana kini dokter obgyn itu terlihat tengah bicara dengan kepala sekolah, lalu pamit pada yang lain, sepertinya ia memiliki urusan lain hingga tak bisa mengikuti acara sampai selesai.
Senyum Gale tersungging, ia tak harus berlama-lama satu udara dengan Seli, lamunannya buyar dikejutkan oleh tepukan Lila.
"Woy! Ngelamun aja!"
"Liatin dokter ganteng itu ya?!" tunjuk Lila ke arah depan podium. Ia juga menyadari kini suasana berubah jadi riak macam kolam ikan om gledek waktu lagi tebar empan.
Pantas saja ramai, pemateri di depan sana dokter bermata aga sipit, putih, kece, dan pembawaannya cukup kocak mirip-mirip jackie chan, audiens ketawa-tiwi mendengar celotehan perkenalannya.
"Nama saya Abyantara Teriawan, dokter spesialis penyakit dalam!" suaranya nge-bass namun sexy.
"Ini nih calon imam masa depan gue ! Suaranya itu loh," ujar Lila bersemangat.
"Wajahnya oriental, bagus lah buat perbaikan keturunan! Chinese-chinese gitu," timpal Andini.
"Loe kalo mau cari yang chinese bareng barongsai sono!" sahut Faisal.
"Halah, taruhan sama gue, cowok ganteng tajir gitu pasti udah ada yang iket?! Lagian dia ga akan mau sama modelan cewek Pandawa, bikin pusing!" sahut Irvan disetujui Faisal.
"Loe berdua aja yang sirik, ga punya fans modelan kita yang kece badai, suka bikin dunia gempar!" jawab Andini bertos ria dengan Lila.
"Oke, mau taruhan?!" tanya Irvan.
"Apa?!" sengak Lila.
"Siapa yang bisa gombalin dia sampe senyum-senyum sendiri. Terus dapetin nomernya tuh dokter. Gue traktir deh?!" tantang Irvan.
"Gue akuin deh tuh cewek, suhu!" lanjut Faisal.
"Oke! Siapa takut?! Iya kan Le?" Lila memiringkan kepalanya, bertanya pada Gale, sontak saja Gale mengernyit.
"Ko jadi bawa-bawa gue?!"
"Kan loe suhunya zeyeng, lumayan Le di traktir Irvan! Plus bantuin gue sama Dono dapetin nomernya dokter ganteng itu!"
"Ngomong-ngomong itu dokter yang satu dari sini ga keliatan mukanya, jadi penasaran apa cakep juga?!" tanya Andini penasaran, beberapa kali ia celingukan mencari posisi yang tepat untuk bisa melihat wajah dokter di samping dokter Teri.
"Iya, soalnya kata anak-anak, tuh dokter yang satu cakepnya alami. Cakepnya produk dalam negri!" tunjuk teman-teman lain yang sedang asyik curi-curi foto dokter misterius di depan.
__ADS_1
"Mesti dari situ, No liatnya! Kalo dari sini ga keliatan!" jawab Lila.
"Gimana Le?" tanya Faisal.
"Lah, yang mau nomornya, terus yang okein kan Lilo sama Dono. Kenapa jadi gue?!" decak Gale melipat kedua tangannya di dada.
"Ayo dong Le, bantuin yuk! Siapa sih yang ga kenal Gale si buaya darat betina!" kekeh Lila membuat Gale menaikan alisnya.
"Kalo gue dapet, kalian mau kasih apa?!" tanya Gale.
"Gue traktir,"
"Gue pijitin seminggu!"
"Gue beliin keripik deh sebulan!"
"Ayo dong Le, kan lumayan kalo dapet. Bisa pepet-pepet dokter! Jadi samaan kaya loe, jodohnya dokter!" Lila melancarkan serangan fajarnya, biar kaya adegan di tv-tv nunjukkin mata berkaca-kaca kaya lagi didzolimi.
"Dih! Sebel banget tuh mata!" gidik Gale.
Gale melihat teman-temannya ini, menimbang-nimbang untung dan ruginya tawaran Pandawa.
"Kalo jadi masalah?!" ujar Gale.
"Kita yang tanggung jawab!" tukas Andini dan Lila.
"Jangan Le," kelimanya menoleh ke belakang ke arah Fathya.
"Loe jangan ember ke om dokter, lagian Gale bukan niat selingkuh juga kali. Cuma asik-asikan aja sambil bantu temen," ucap Andini diangguki Lila.
"Gue jajanin es krim deh!" tawar Lila.
"Kenapa ga kalian aja yang minta si?" tanya Fathya.
"Gue ga bisa seluwes Gale kalo gombalin orang, suka tremor!" jawab Andini.
"Sama, gue bisanya cuma nyinyirin orang!" tawa Lila.
"Jadi, deal ga nih?" tanya Faisal.
"Deal dong, iya kan Le?!" Lila bersemangat 45 mewakili Galexia. Jika Teri mengenal wajah dan siapa Gale, lain halnya dengan gadis ini. Ia sempat bertemu tapi belum sempat melihat wajah Teri.
"Le!"
"Oke, siapa yang mau bertanya?" suara Teri terdengar jelas dari mik yang ia pegang.
Begitu banyak yang menunjukkan tangannya di udara, termasuk Gale. Teri melihat salah satu tangan mengangkat dan itu milik istri temannya, Fatur pun tak ketinggalan melihatnya.
"Iya boleh, kamu siswi yang barusan tampil kan?!" tunjuknya pada Gale. Sontak semua mata memalingkan pandangan pada Gale. Gadis ini tersenyum penuh kemenangan. Panitia memberikan mik lainnya untuk Gale agar suaranya bisa terdengar.
"Wahhh, ini nih. Kalo buaya darat betina beraksi kaya gini nih! Perhatiin wahai kawan-kawan gue ciwi-ciwi cupu!" ucap Faisal pada Andini dan Lila.
"Kimvritt," sarkas Andini diiringi tawa.
"Nih adek bontot gue mau beraksi!" kekeh Irvan.
"Oke, makasih Ojan!" ucap Gale pada Rizan, ketua kelas sekaligus panitia.
"Rizan, Le!"
"Nama saya Galexia Adhara Mahesa, bisa panggil saya Gale atau mau panggil CINTA juga boleh!"
"Wohooooo!"
"Iya cintaaaaa!"
"Njayy, bontot!"
Dokter Teri tertawa menyipit, lalu melirik pada Fatur, sementara Fatur hanya menggelengkan kepalanya.
"Oke cinta, mau tanya apa?"
"Woahhhhh!" seruan teman-temannya melihat Teri merespon gadis yang menurut mereka adalah the mostnya KENCANA BAKTI. Jangankan teman-temannya, guru dan para tamu di depan sana saja tersenyum-senyum geli melihat aksi Gale, sedikit hiburan diacara seperti ini memang diperlukan untuk menghidupkan suasana, biar tidak mengantuk.
Awalnya Gale bertanya sungguh-sungguh sesuai tema materi yang dijelaskan Teri, ia sungguh kritis, sebenarnya ia sedikit banyak tertarik dengan ilmu kedokteran hanya saja hal yang ia takuti pun ada di dalamnya.
__ADS_1
Teri menjawab pertanyaan Gale, dan kini saatnya Gale melancarkan aksinya.
"Gimana cinta, sudah mengerti?" tanya Teri.
"Ada yang masih saya belum ngerti dok," Gale mengernyit.
"Apa?" Bukan hanya Teri yang mengerutkan dahi tapi pun Fatur dan semua audiens.
"Akhir-akhir ini, mungkin lebih tepatnya sejak tadi pagi saya terkena serangan satu penyakit langka yang saya juga ga tau apa itu!"
"Coba jelaskan gejala-gejalanya?" Fatur mulai tak tenang, apa Gale sakit?
"Kepala sering dibikin nge-fly padahal saya ga ngobat ataupun mabuk, badan sering tremor padahal udah makan, sering timbul rasa bahagia yang membuncah, jantung berdegup kencang, dan mata ga bisa liat sekeliling cuma bisa fokus ke depan...apa benar kata orang-orang nama penyakitnya ter-Teri-Teri?!" Wajah-wajah serius berubah gelak tawa dan memerah karena geli, apalagi Teri, ia sampai salah tingkah sendiri dan tertawa.
"Om dokter! Penyakit aku seketika semakin menjadi-jadi kalo liat kamu senyum, berarti kamu candunya," lanjut Gale melancarkan serangan-serangannya.
"Kalo gitu harus berobat rutin!" jawab Teri.
"Boleh-boleh om, kalo gitu saya minta nomor ponselnya. Biar sekalian bisa ngajak makan, soalnya setiap liat om dokter mandangin saya, saya suka jadi pengen nyanyi, aku tak butuh kata i love you, aku tak butuh kata i need you, yang kumau datangi ayahku katakanku...." ia bernyanyi, lalu Gale memandang Pandawa.
"Kan lamar putrimu!!!" lanjut semua.
"Bini loe Tur, magic banget!" benaknya.
"Eaaa!"
"Nih, buayanya KENCANA BAKTI!" ucap pak Gunadi.
"Siapa tadi nama kamu?" tanya Teri.
"Calon mahrom idaman!" jawab Gale.
"Galexia Adhara Mahesa, siswi kelas MIPA. Udah punya ktp, udah punya SIM, udah siap di gendong ke pelaminan!"
Teri sampai specchless, ia yang aktif dan getol gombalin perempuan tetap kalah oleh gadis kecil seperti Gale yang ternyata suhu, ia menggelengkan kepalanya sambil menahan tawa.
"Nomor telfon Le?" tanya Rizan dari sudut dekat podium memekik.
"Ntar gue kasih nomor telfon mamang cakwe buat loe!"
"Makasih banyak om sudah jelasin," Gale membungkukkan badan sambil mengatupkan kedua tangannya dan bergumama kata maaf, tanda jika ia meminta maaf atas candaannya, ia menyerahkan miknya pada Rizan.
"Untuk pertanyaan dek Galexia barusan, mungkin akan berhubungan dengan materi yang akan dijelaskan teman sejawat saya di dunia kedokteran, beliau sudah memenangkan beberapa penghargaan di bidang kedokteran," Teri undur diri dari depan kini pembawa acara memanggil seorang lagi untuk memberikan materi, seseorang yang mereka tunggu-tunggu.
Tap...
Tap...
Tap...
"Silahkan kepada dokter Faturrahman Al-Lail, dokter spesialis jantung, waktu dan tempat kami persilahkan!"
Duarrrrr!
Mata Gale sampai tak berkedip melotot, udara disekitarnya terasa sesak, begitupun para Pandawa.
"Mamposss gue nyonk!" Gale membeku di tempat.
"Le, itu...!" tunjuk Lila dan Andini. Langkah Fatur ke depan tak lepas dari mata tajamnya menatap Gale seakan berkata, "i watch you, and i kill you!"
"Bwahahahahaha!" Fathya tertawa puas.
"Gue mau beres-beres baju lah ke koper!" Gale masih menganga.
"Le, gue udah wanti-wanti loe tadi ya!" bisik Fathya.
.
.
.
Oh ya, untuk visual mungkin aku akan kasih saran gambaran, hanya tidak kukasih berupa gambarnya, bukannya apa-apa ya gengs sebenarnya ada aturan dari NT sendiri dilarang menggunakan foto artis apalagi yang memiliki hak cipta, tapi kadang untuk memuaskan para readers sebagian penulis malah hampir banyak penulis tetep masang kaya beberapa karyaku. Maaf jika bikin kecewa tapi untuk karyaku ini aku akan jarang pake visual. Selera orang berbeda-beda takutnya mematikan imajinasi sebagian pembaca yang tidak satu selera denganku, ujungnya jadi malas lagi membaca.
Untuk sosok Fatur sendiri, aku lebih membayangkan mirip Teuku Ryan, suami Ria Ricis 🤔 bisa kalian cek di mbah guugle.
__ADS_1
Untuk sosok Galexia, aku lebih membayangkan mirip Yoriko Angeline, pemeran Wati di film Dilan 🤔 bisa kalian cek juga.
Visual itu terserah bagaimana si pembacanya membayangkan masing-masing ya. Jadi silahkan menghalu-halu ria 😋😋😋