
Gale sengaja mengurai ikatan rambutnya, berhubung muka dan leher belang, bukan karena ketebalan bedak beda warna tapi karena bekas kerokan macan.
Fatur pun memilih memakai kemeja ketimbang kaos, Gale mendadak jadi singa betina doyan gigit leher rusa jantan.
Fatur ingat betul, semalam sampai kepala Gale kejedot meja gara-gara ingin bikin tanda merah juga di leher Fatur.
"Abang curang, masa Gale terus yang merah-merah. Gale juga mau coba bang!" ia menarik tengkuk Fatur memaksa.
"Jangan Le, nanti abang diketawain rekan kerja atau perawat." Apalagi jika mengingat Teri yang usil, mungkin ia akan jadi bulan-bulanan si teman cassanova.
"Bilang aja abis dikerok!" belum berhasil juga menarik leher Fatur Gale sampai naik ke atas badan suaminya.
"Itu lebih diketawain lagi, masa dokter kerokan? Apa kata dunia?" tanya Fatur mengelak, tapi rupanya elakan Fatur membuat kepala Gale terantuk meja kecil samping ranjang.
Dukk!
"Aww!"
"Abang ihhh! Jahat!"
"Aduh, maaf maaf...sakit ngga? Mana sini abang liat?!" ia langsung menarik Gale yang setengah telan jang.
"Ga usah ah! Sana, jangan minta lagi jatah nengok nanti!" kesalnya.
"Ya udah boleh deh, tapi jangan terlalu atas aga bawahan biar ketutup kemeja," jawabnya pasrah, tak mau jika sampai bumilnya ngambek.
Gale terlihat senang bisa membalas perlakuan Fatur selama ini, ia hanya ingin merasakan apa sensasinya kasih cap-cap begitu, kok setiap berhubungan Fatur pasti membubuhinya stempel, bukan hanya Fatur saja sepertinya.
Fatur menarik Gale duduk di pangkuannya, menatapnya lekat. Awalnya menyerang bibir Gale agar Gale terbuai dan masuk ke dalam selimut cintanya lalu Fatur menuntun kepala Gale agar mengarah ke lehernya, bumil itu mengerti tapi kemudian,
"Aww!"
"Bukan digigit gitu sayang," Fatur meringis karena Gale malah menggigitnya keras, mungkin kedua janin di dalam perutnya saja sedang tertawa saat ini, menertawakan ke oon'an ibunya.
"Coba Gale rasain abang ngapain," Fatur mengajarkan perlahan pada Gale hingga akhirnya si bumil nakal kesayangan mengerti.
Oke, skip moment romantis rusuh ala mereka semalam, toh meski rusuh tetap jadi si kembar. Saat ini Fatur nampak keren dengan kemeja biru dongkernya.
"Abang udah kirim uangnya kan?" tanya Gale. Fatur menyimpan sendoknya lalu menunjukkan layar ponsel pada Gale.
Ia tersenyum, perempuan mana yang tak suka uang. Udah kaya jab lay aja, kasih pelayanan terus ditransfer via rekening! Gale tertawa dalam hati, jab lay halal!
"Kenapa senyum-senyum?" tanya Fatur mengira kalau Gale mengingat kejadian semalam walau kenyataannya memang benar, ia mengingat kelakuan liarnya. Untung saja mama dan Fathya tidak sampai bangun.
"Engga, ga apa-apa. Cuma bayangin seneng aja bisa masuk almamater bekas ayah!" jawabnya cepat.
****
Fatur berjalan mengantar Fathya dan Gale, tangan Gale berada dalam genggamannya.
"Abang cuma bisa anter sampai sini, nanti pulangnya naik taksi online aja."
"Iya," angguk kedua perempuan ini.
"Fath, abang titip Gale sama si kembar! Hati-hati,"
"Siap dok!" jawab Fathya.
"Selamat bertugas pak dokter! Dadah!" senyumnya mengembang, lambaian tangannya mengantar Fatur kembali ke mobil.
Matahari seakan ikut berseri-seri satu frekuensi dengan hati Gale juga Fathya saat ini. Meskipun tak bisa satu kampus dengan geng Pandawa karena Faisal ternyata gagal masuk kampus bergengsi ini.
__ADS_1
"Cabe, nanti anter dulu ketemu geng Pandawa ya, soalnya sekalian mau ngumpul perpisahan Irvan di cafe Bittersweet," pinta Gale seraya mendekap dan mengecek ulang berkas-berkas yang dibawanya di ruang tunggu bersama calon mahasiswa baru lainnya.
"Ya udah, nanti whatsapp aja siapa yang duluan selesai!"
Selesai berdadah ria dengan Fathya, Gale duduk menunggu bagiannya.
"Ekhem, boleh ikut duduk disini?" tanya nya mengejutkan Gale.
"Boleh, kan tempat umum." Ia kembali fokus pada kertas-kertas di tangannya.
"Loe sendiri aja? Kenalin gue Arlan," lelaki berkulit putih dan bermata sedikit sipit itu mengulurkan tangannya.
"Galexia," menyambut uluran tangan Arlan. Tangannya sehalus sutra.
Arlan tersenyum penuh arti. Melihat gadis cantik berpipi pinky, sayang kalo ga ditemenin. Pikirnya, bisa jadi kandidat calon pacar idaman di kampus ini, satu jurusan pula.
"Ambil kedokteran juga?"basa-basinya.
"Bukan, hukum! Ngapain disini kalo gitu," rasanya ia tak perlu bertanya lagi karena sudah membaca keterangan di berkas Gale.
Arlan malah tertawa, "lucu,"
Gale memutar bola mata jengah, lucu??! Memangnya dia boneka mampang atau badut boboi boy.
Tapi saat nama Gale dipanggil, dan ia berdiri. Arlan begitu terkejut dengan keadaan perut membuncit Gale, tak mungkin jika ia sedang menderita bu sung lapar. Siapa yang akan menyangka jika gadis cantik dan manis ini ternyata sedang mengandung. Arlan saja yang matanya kelilipan, silau dengan wajah unyu Gale.
"Loe.." tunjuknya. Gale menoleh tapi tak menghiraukan, ia justru melewati Arlan begitu saja.
Cabe Fath-fath
Cabe?!
Iya Le, gue otewe ke tempat loe, balas Fathya.
"Kasian mama, kedatangan tamu yang isinya dari hutan semua!" kekeh Gale menggumam memasukkan kembali ponselnya.
"Jadi ketemuan di Bittersweet?" tanya Fathya, setelah lelah mengantri dan melakukan daftar ulang, keduanya memilih pulang.
"Ralat! Ngumpulnya di rumah kita aja, biar rame..ada momy sama gengnya. Gue juga cape mesti bolak-balik dikejar waktu!" ujar Gale melambaikan tangan manakala taksi online pesanan mereka sudah datang.
"Mbak Galexia?!" si bapak tersenyum ramah.
"Iya pak!" Gale memayungi matanya dengan tangan agar bisa melihat jelas wajah ramah si bapak driver karena teriknya matahari.
"Emang mereka mau gitu? Diubah-ubah gitu tempat ketemuannya?" tanya Fathya mengipasi wajah dan leher, saat ini keringat mengucur deras melewati garis wajahnya.
Mobil berhenti bergerak saat sampai di titik lampu merah. Suara pengamen jalanan dari luar sayup-sayup terdengar ditelinga karena terhalang oleh kaca mobil yang tebal tanpa celah. Gale membukanya agar dapat melihat anak-anak itu, sekedar memberi sebagian rupiah miliknya.
"Pak, bisa nepi sebentar disitu!" tunjuk Gale pada penjual es jeruk beroda.
"Oh iya neng," anggukan setuju si bapak.
"Wah, udah jarang nih jajan es jeruk sejak jarang ke sekolah!" seru Fathya ikut menelan saliva berat, jujur saja tenggorokannya pun kering siang ini.
"Iya kangen!" timpal Gale.
Lampu berubah jadi hijau dalam satu menit, tuas gigi ditariknya hingga mobil kembali bergerak kearah tujuan yang punya hajat.
Gerobak sederhana tak mengurangi rasa keinginan Gale, dilihatnya banyak juga orang-orang mengantri disana, dengan harga 5000 saja ia sudah bisa membasahi kerongkongan yang kering dan rasa kangennya.
"Pak sebentar ya, nanti saya kasih tip deh!"
__ADS_1
"Siap mbak," tangannya membentuk oke.
"Yu Cabe!" keduanya turun sejenak untuk membasuh dahaga.
"Penuh Le!" wajah Fathya merengut demi melihat gerobak itu dikerubungi pembeli macam sambal dikerubungi lalat.
"Ga apa-apa layaninnya cepet tuh, yuk !" Gale menarik tangan Fathya.
Benar saja, bagi Gale tak membutuhkan waktu lama dan cape-cape mengantri, bersyukurlah mereka hidup di Indonesia, negri sejuta pesona dan kearifan lokalnya, dimana bagi mereka mendahulukan kepentingan ibu hamil merupakan suatu hal penting, ibu hamil yang selalu dikaitkan dengan kata ngidam dan harus didahulukan biar anak di dalamnya nanti ga ngences.
"Makasih bang!" Gale menarik senyuman manis sebagai balasan kebaikan si abangnya.
"Sama-sama neng!" jawab si abang bertopi merah.
Bumil ini tampak asik menyeruput seraya langkah kaki tak berhenti menuju mobil.
"Aduhh, seger banget!"
"Iya, tenggorokan gue berasa kering banget tadi," sahut Fathya.
Tap...Tap...Tap...
Brakkk!
"Aw!!" tubuhnya tersenggol dan hampir terjatuh.
"Gale?!"
"Eh, jambrettt!!!" pekik Gale saat menyadari tasnya ditarik seseorang, Gale langsung bangkit dan berniat mengejar beberapa orang berpakaian preman.
"Jambrettt!!!" Fathya ikut meneriaki, Gale terlebih dahulu mengejar dan mencengkram jaket dekil si penjambret tasnya.
"Woyyy! Balikkin tas gue!" serangnya.
Tanpa diduga si penjambret itu membawa senjata tajam dari dalam saku jaketnya, tak sampai 10 detik dengan gerakan cepat kilatan pisau lipat menyentuh Gale.
Srettt!
Gale sampai terhenyak dibuatnya, ia langsung membatu. Teriakan Fathya dan orang-orang kini terasa menjauh serta sunyi seiring ia yang menunduk demi memastikan bahwa kejadian itu salah.
Kemeja oversize putihnya mulai merembeskan noda merah, kian lama kian basah hingga mengucur.
Yang ia dengar hanya suara deru nafasnya sendiri semakin berat. Rasa sakit tertutup oleh besarnya rasa khawatir.
Apa kedua janinnya baik-baik saja?
Apa mereka tak terguncang dan menangis di dalam sana?
Atau mereka justru jadi korban?
"Galeee!!!"
"Abang, tolongin saya!!!" suara jeritan Fathya seakan memelan di indera pendengaran Gale. Tangannya merambah ke arah perut kemudian ia angkat.
"Da_rah, cabe," gumamnya.
Selanjutnya Gale melihat badannya dirangkul Fathya, sejumlah orang membekuk para penjambret, dan si supir taksi online berlari ke arahnya. Satu kata semakin membuat Gale mati rasa.
"Bapak?!" gumam Fathya.
.
__ADS_1
.
.