Gadis Nakal Om Dokter

Gadis Nakal Om Dokter
Pengasuh si kembar


__ADS_3

Suara deru mesin motor trail menggaung di depan pagar. Mang Kosim sudah hatam dengan suara nya, itu adalah milik majikannya.


"Eleuh..eleuh! Meni angkaribung gini atuh neng, sini mang bantu!" tawa si asisten rumah tangga demi melihat Gale, tangan tua itu menggeser pagar besi, lalu meraih dua kresek dari tangan Gale yang ia cantolkan di stang motor.


"Makasih mang, hatur thank you!" kikik Gale, masuk melajukan motornya ke dalam halaman rumah. Dilihatnya mobil Fatur sudah terparkir di carport.


"Abang udah pulang mang?" tanya Gale membuka helm dan menyugar poni yang menghalangi sekitaran wajah.


"Baru aja neng," jawab mang Kosim mengangguk.


"Mang tutup pager aja, sini kreseknya." Mang Kosim menyerahkan kresek itu dan pergi mendorong kembali pagar besi.


"Assalamualaikum! Eh abang sayang udah pulang duluan, Gale baru belanja bang," sikapnya pecicilan, tapi sudah biasa bagi Fatur.


"Baru aja," Fatur baru saja mengganti pakaiannya dari kamar dan sekarang pria itu ingin mengambil minum.


"Tunggu, Gale masakin dulu ya!" ucapnya menaruh kresek dan melepas coller bag juga tas gendong, sejak tadi pundak dan punggung ibu muda ini serasa dibelenggu oleh beban berat seberat dosa-dosanya di dunia. Ia menjatuhkan sejenak badannya di sofa, meregangkan otot-otot dan melepas penat. Tak lama, hanya beberapa menit ia langsung bangun kembali dan mengambil air minum lalu membongkar kresek, siap mengeksekusi bahan-bahan masakan yang sudah ia beli barusan dari pasar.


Rasanya ada yang beda, ada yang hilang tapi apa?! Tangannya sibuk mengeluarkan satu persatu belanjaan.


"Ya ampun anak-anak gue mana?!" serunya tersentak.


"Abang!!" pekiknya panik, muncul dari dapur.


"Apa?" tanya Fatur masih santai di sofa tengah, mengistirahatkan sejenak badannya yang sama-sama lelah.


"Kakak sama dedek kemana?!"


"Kata mama tadi diambil momy Sha," jawab Fatur mengupas buah dulu untuk mengganjal perut sebelum dilanjut makan siang.


"Idih! Momy nyulik anak-anak terus nih, kenapa abang ga jemput dedek sama kakak malah diem aja!" gerutunya.


"Ya udah biarin aja, sama momy ini. Kamu kan jadi tenang masaknya, nanti kita makan dulu, baru jemput anak-anak. Lagian bagus kan, jadi punya waktu buat berduaan!" tawanya renyah melahapkan buah pir ke dalam mulut manyun Gale.


"Gale kaya bunda yang terbuang tau ngga? anak-anak anteng banget sama grannynya," dumel Gale kembali ke dapur melanjutkan acara masak-masaknya.


..._Di lain tempat_...


"Aduhhhh, ieu incu urang ulah di garulung kieu, awas gerah dia!" sewotnya berseru melihat si kembar di kerubungi anak-anak Kurawa.


(Ini cucu aku jangan di kerubungin gini,)


"Dedeknya kak Gale lucu onty Sha!" gigi-gigi susu Revan gemertak saking gemasnya.


"Gemes!" ujar Annisa dan Keysa ingin mencubiti si kembar.


"Onty pengen gendong ya!" pinta Naomi.


"Nom-nom sayang, nom belum bisa gendong, nanti jatoh. Biar mami Nom aja yang gendong," jawab Shania.

__ADS_1


"Mamih, bawa dong mih dedek Afifah sama Aliyah ke rumah!" pinta Naomi merengek menarik-narik blouse Leli.


"Kode Li, kode..." sahut Shania.


"Cih, engga ah! Lahiran tuh sakit mak!"


"Sayang, kalo dibawa ke rumah harus bilang dulu kakak Gale sama bang Fatur, nanti momynya nangis-nangis nyariin, nanti aja ya kapan-kapan." Naomi manyun saat keinginannya tak terpenuhi kali ini.


Arka baru saja datang dari sekolah, suaranya seperti sangat dihafal oleh bayi kembar itu, tau sang opa ganteng baru pulang mata Afifah dan Aliyah mengikuti gerakan opa tampannya itu.


Seolah ingin digendong, keduanya bergerak aktif ketika opanya melintas, bahkan candaan Naomi yang sudah heboh melakukan gerakan cilukba tak dihiraukan mereka.


"Ciluk....ba!!! Dedek Afifah, liat kakak Naomi dong!"


"Dedek Aliyah!!"


"Sha, si kembar tau opanya dateng. Kayanya pengen digendong! Nom-nom sampe dicuekin," tawa Leli.


"Mas, ini liat cucu-cucu mas dari tadi ngikutin opanya kesana kemari," ujar Shania mengambil tas milik Arka.


Arka memasang wajah datar ciri khas lelaki ini, tapi kedua cucunya ini justru tersenyum. Shania ikut tertawa, mungkin bagi mereka wajah opanya yang datar mirip mr.bean. Entah mengingatkan mereka akan Fatur yang juga sama-sama kaku.


"Mas, kayanya menurut mereka wajah datar mas kaya pelawak!" celetuk Shania, sontak dihadiahi jeweran dari Arka.


"Aduh,"


"Mas ganti dulu baju, habis dari luar, kotor." Belum Arka masuk ke dalam kamar, baru juga berbalik kedua cucunya ini menampilkan wajah cemberut, bisa ditebak sedetik kemudian mereka menangis.


"Sebentar ya," pinta Arka minta ijin pada Afifah dan Aliyah. Hari-hari Arka tak lepas dari mengasuh kedua cucu kembar.


Setelah mengganti baju, solat dan makan. Arka lantas menghampiri kakak dan adik.


"Sini," ia duduk di sofa sudah siap menjadi sandaran untuk Afifah, Shania menggendong Afifah lalu menaruh di pangkuan Arka, sementara Aliyah ia gendong.


"Assalamualaikum!"


"Nah, om Andro pulang!" seru Shania, Andro pun langsung mendongak cerah melihat kedua keponakannya ada di rumah, meskipun wajahnya tetap saja datar.


Mata bulat nan bening Aliyah menyipit tersenyum melihat omnya, rupanya gen perempuan di keluarga ini senang dengan wajah-wajah cowok dingin juga datar.


"Dih apaan dia senyum gitu?!" tunjuk Andro menjiwir hidung Aliyah yang masih pesek.


"Minta digendong om, gitu aja ngga tau!" jawab Shania.


"Bentar ah capek!" tolak Andro.


"Ehhekkk...ehekkk..." tangis Aliyah melihat penolakan Andro.


"Nah loh! Kan nangis kan, tanggung jawab om!" seru Shania terkekeh.

__ADS_1


"Iya neng, bentar! Om ganti baju dulu," omel Andro pada Aliyah setengah membungkuk, menyamakan tinggi dengan pangkuan Aliyah.


Shania tertawa gemas, melihat suami dan anak lelakinya beralih profesi jadi seorang nanny.


"Lucu bangeettt, ha-ha-ha!" Shania mengabadikan potret keluarga bahagia ini.


"Sha, ini Afifah ngeden kayanya poop?!" Arka mengerutkan dahi hingga berlipat-lipat. Andro tertawa-tawa melihatnya.


"Yah, kepala sekolah kece di be_rakin," tukas Andro.


"Biarin aja mas, di pampers ini. Biarin sampe dia kenyang dulu," jawab Shania bergerak mengambil pampers pengganti dan air hangat juga tissue.


"Mak, Melan udah whatsapp. Gue bawa dulu anak-anak ke rumah emak-emaknya ya!" Leli membujuk anak-anak Kurawa untuk pulang.


"Iya deh, ati-ati. Itu ayam rica-rica bawa balik tot. Buat makan di rumah, hari ini masak engga?" suruh Shania.


"Engga, tawa Leli.


"Bi! Maaf dong, minta tolong bungkusin ayam di meja makan masukkin kotak lunch!" pinta Shania pada asisten rumah tangga, seraya menggendong Afifah dari pangkuan Arka dan merebahkannya di matras kecil.


"Sini granny ganti dulu, udah kenyang kan?!" Afifah hanya bergerak lincah tanda jika ia sudah selesai.


Lain hal kehebohan di rumah Shania atas kehadiran si kecil Afifah dan Aliyah, lain hal di rumah Fatur. Kondisi sepi memancing Fatur untuk menggunakan kesempatan ini sebaik mungkin.


"Jemput anak-anak bang, Gale kangen. Emang abang ga kangen apa?!"


"Kangen, tapi abang lebih kangen buat sentuh Gale." Kasihan sekali dokter satu ini, sekarang memadu kasih dengan Gale adalah sesuatu yang susah tak segampang sebelum kedua anaknya lahir.


"Mumpung adek sama kakak lagi sama grannynya, Gale urus abang dulu!" Fatur menarik Gale untuk masuk ke dalam kamar, Gale tak menolak meskipun sedikit menggerutu karena rindu pada kedua anak kembarnya.


Tak tunggu lama, pintu dikunci Fatur ia menarik Gale ke dalam pelukan dan menggumulinya secara rakus. Mulai sekarang disaat ada kesempatan Fatur akan menggunakannya dengan baik, ia akan sangat berterimakasih pada kedua mertua, mama dan onta onty karena memberinya waktu untuk melakukan aktivitas ini.


"Pelanhh..pelannhh bang!" Fatur memacu dan menghentak Gale tanpa ampun, mencurahkan rasa menggebu meskipun ini bukan untuk yang pertama kalinya setelah Gale selesai nifas. Suara otot dan selaput saling beradu menggema dari ranjang.


Ia menahan pinggang Gale, dan mengunci miliknya di dalam hingga Gale dapat merasakan jika dewinya dipenuhi sesuatu yang disemburkan milik suaminya, hingga Fatur menarik miliknya kembali cairan itu terasa meleleh di pangkal pa _ha'Gale.


"Mandi dulu, abis itu jemput anak-anak." Pintanya masih mengatur nafas di sela-sela ucapannya dan menyarangkan kecupan di bibir Gale.


"Iya, ASI Gale sampe tumpah-tumpah ini, basah di dada abang!" tawa Gale diikuti balasan tawa Fatur.


.


.


.


.


Noted :

__ADS_1


Angkaribung : membawa banyak barang di tangan kanan dan kirinya atau seluruh badan.


__ADS_2