Gadis Nakal Om Dokter

Gadis Nakal Om Dokter
Amarah Fatur 2


__ADS_3

Bukkk!


Sebuah hantaman kembali mendarat di tulang pipi pria itu.


Brukkk!


Pria itu terjatuh sampai ke bawah kursi.


Uhukk..uhukk..!


"Tur,"


"Abang,"


"Maaf pak, jangan emosi dan main hakim sendiri." Petugas yang ada disana dan mendengar, memberi warning pada Fatur.


"Gue ga ape-ape!" Tolaknya hendak bangun pada polisi yang membantu sambil memegang dadanya terbatuk-batuk.


"Lu tau rasanya ngeliat perempuan yang paling lu hormati bahkan lu rela nyium kakinya di khianati lakinya sendiri, liat dia nangis-nangis tiap malem di pojokan kamar! Lu tau rasanya ngeliat 'nyak sama adek lu kelaperan minta makan padahal lu sendiri sama-sama kelaperan! Liat bapak lu sendiri malah enak-enakan sama bini barunya, rasanya diamuk dan digebukin orang yang harusnya ngasih lu perlindungan dan hidup yang layak? Idup gue berasa di neraka!! Sampai seseorang dateng nolong gua dari sana, dari hidup sengsara, Dan lu tau rasanya...liat orang yang lu sayang sekarat mandi da rah bawa anak-anak lu, jerit-jerit nahan sakit karena ga bisa dibius?!! Lu ga akan pernah ngerasain apa yang gua rasain, karena yang ada di otak lu cuma minuman, dan minuman !!!"


"Abang, berenti abang...dia emang bejat dia emang jahat. Tapi abang ga perlu cape-cape hukum sampe neriakin dia bang, dia ga akan pernah ngerti karena dia yang ngasih penderitaan itu sama kita, Allah adalah hakim paling adil. Gale juga pasti ga mau abang kaya gini," pinta Fathya, mencoba menenangkan Fatur, wajah kakaknya ini sudah memerah, mata yang memancarkan kemarahan dan luka dalam sangat jelas terlihat.


Deni mengambil ponsel miliknya, lalu menaruh di meja.


"Hati-hati, jangan main-main dengan kami! Siapapun mengusik keluarga besar saya, maka begini nasibnya!" ucap Deni.


Jepretan foto, seperti saung tempat tongkrongan dengan grafiti tak jelas dimana-mana, lingkungan yang bersampah dan kumuh, banyak botol bekas minuman keras namun sudah diacak-acak, tampak beberapa orang lelaki bertelan jang dada juga babak belur disana.


Rupanya Kurawa, Irvan dan Faisal mengacak-acak tempat biasa preman disana berkumpul termasuk bapak Fatur, tak sedikit warga merasa resah dengan kegiatan mereka, karena selalu berujung kriminal. Baru saja Fatur ingin kembali melampiaskan amarahnya ponsel Fatur bergetar, nama bumil gembul-nya tertera jelas disana. Seakan sinyal naluri istrinya berbunyi,


"Abanggg! Dimana ih," ketusnya merengek.


"Iya Le, abang masih di kantor polisi sama om Deni. Fathya lagi ngasih keterangan sama polisi,"


"Meni lama!"


(Lama banget!)


"Iya, sebentar lagi abang ke rumah sakit ya sayang."


"Ya udah jangan lama, kalo bisa pinjem jubahnya superman biar cepet!"


"Iya,"


Hirupan nafas di dada masih terasa sesak, tapi mengingat Gale, membuatnya harus menyegerakan urusannya.


"Om, Gale pesen..biar mereka dihukum sesuai hukum yang berlaku saja. Dan saya sudah berjanji untuk itu, meskipun hati saya inginnya dia..." tunjuk Fatur.


"Busuk di liang lahat, ataupun tembok dingin penjara!" tukasnya penuh penekanan.


"Yahh..si gemoy emang nakal-nakal tapi hati spons cake, lembut. Kasus segera masuk BAP, jadi sesegera mungkin mereka bakalan segera dijatuhi hukuman, yok balik!"

__ADS_1


Tatapannya tetap dingin, apa mungkin memang hatinya sudah mati rasa terhadap lelaki itu, wajar memang! Dengan semua perlakuannya selama ini terhadap Fatur. Ia harus bisa terima jika memang Fatur dan Fathya membencinya bahkan tak akan sudi melihatnya.


Tangannya sedikit kebas, karena tonjokan untuk bapak. Ia mengibas-ngibaskan tangannya.


"Om, makasih atas bantuannya!" ujar Fatur berjalan bersama keluar dari polsek.


"Sama-sama. Jangan sungkan, kita keluarga sekarang, salam buat gemoy. Om duluan kalo gitu, Naomi minta dijemput, bundanya masih di outlet Pawon Kurawa sama momy mertua kamu," Deni memakai kembali kacamata hitamnya. Tampak menarik dan keren bertengger di hidung mancungnya.


"Iya om, hati-hati." Fatur masuk ke dalam mobilnya bersama Fathya.


"Bang, Fathya pengen ikut ke rumah sakit!" pintanya.


"Pulangnya?" tanya Fatur.


"Biar minta jemput mang Kosim pake motor abang," dengan tatapan memohon Fathya memiringkan kepalanya ke arah Fatur.


"Ya udah, nanti abang telfon mang Kosim. Kasian mang Kosim jadi ikutan sibuk, bolak-balik rumah sakit, mesti dikasih reward" kekeh Fatur.


*******


Teri baru saja selesai melakukan check up rutinnya ke kamar Gale.


"Om Teri, kapan Gale boleh pulang?" tanya nya, baru 2 hari ia berada di rumah sakit tapi rasanya seperti sudah seabad. Bukan Gale jika hanya bisa duduk dan tiduran seharian.


"Kenapa, ga betah ya? Kan enak disini kerjanya makan sama tiduran?" tanya Teri menempelkan stetoskop di dada Gale.


"Bosen, pemandangannya itu-itu aja," gidiknya acuh.


"Ha-ha-ha! Bukan lah, kalo itu mah udah jadi makanan tiap hari, udah kaya nasi, mesti ada setiap waktu, kalo ga ada Gale mati kelaperan, bisa diganti pake yang lain tapi ga bikin kenyang," tawa Gale mengibaratkan Fatur adalah nasi.


Teri tertawa seraya menggelengkan kepalanya, begitupun suster di sampingnya. Mana ada istri yang menyamakan suaminya dengan nasi, hanya Gale saja yang memiliki pemikiran seperti itu. Memang ajaib istri temannya ini, jika boleh ia akan memesan satu yang seperti ini pada Tuhan untuk dirinya.


"Kalo disini, Gale ga dapet jatah jajan dong om dari abang!" tawa Teri kembali meledak, sepertinya Gale lebih cocok jadi dokter penyakit jiwa saja, atau psikiater. Rasa stress bisa hilang, cukup berada di dekat Gale satu jam setiap harinya, semua kerutan di wajah dijamin nambah karena lama menyipitkan mata akibat tertawa.


"Wah, ini kalo ga ada keluhan mungkin besok boleh pulang nih! Eh tapi, jangan dulu deh! Nanti ga ada yang bikin seru lagi di rumah sakit, saya ga bisa ketawa-tawa lagi," jawab Teri.


"Ah, yang bener?! Idih, emangnya Gale pelawak!" bibirnya mengerucut.


"Iya, tapi harus kontrol rutin ya. Di rumah jangan lupa Fatur harus sering cek juga,"


"Asikk! Makasih banyak om Teri, lope-lope sekebon singkong!" ucapnya refleks.


Perawat pendamping sampai tersenyum-senyum. Ternyata benar, rumor yang beredar jika istri dokter Fatur memang doyan bercanda.


Ceklek!


"Kebon singkong udah digadein! Sana loe balik Ri!" usir Fatur mendesis, hatinya lumayan panas mendengar Gale begitu meskipun ia tau itu hanya candaan semata.


"Ini juga satu," jiwiran tangan Fatur di hidung Gale membuat bumil satu ini mengaduh dan seketika cemberut.


"Abang ih!"

__ADS_1


"Ah, ngagetin aja loe! Lagi digombalin juga, lakinya malah keburu dateng!" ucap Teri.


"Miris banget, cakep-cakep nungguin digodain sama bini orang! Temen Gale masih pada jomblo tuh om," Gale meringis menahan tawanya.


"Cabe?!" matanya menangkap sosok di samping Fatur.


"Le, udah baikan?"


"Alhamdulillah,"


"Bang, barusan anak-anak Pandawa pada kesini, sekalian Irvan pamit!" tunjuk Gale ke arah meja, dimana ada se-keranjang buah-buahan dan makanan lain favorit Gale.


"Oh, Irvan jadi ke Bandung?" tanya Fathya duduk di kursi yang ada di samping Gale.


"Jadi," angguknya.


Fatur dan Teri sedang membicarakan kondisi Gale, hingga Teri pamit dari ruangan.


Fathya dan Gale masih mengobrol ngaler ngidul tentang kuliah, aktivitas camaba nantinya, tentang kemungkinan Gale akan meminta keringanan jika ada aktivitas yang melibatkan fisik, sementara Fatur menyimak saja obrolan keduanya di sofa seraya membereskan semua barang yang berantakan.


"Loe kalo di kampus jangan nutup diri kaya di sekolah. Coba buka diri loe, biar loe banyak temen!" petuah Gale pada Fathya.


"Iya Ale,"


"Biar cepet dapet pacar juga! Eh iya, gue denger kating disana cakep-cakep! Boleh tuh!" ujar Gale.


"Boleh apa?!" Gale dan Fathya menoleh pada si pemilik suara.


"Boleh tebar pesona? Boleh affair? Apa boleh ghosting-ghosting?" tatapan matanya tajam menusuk penuh selidik dan tuduhan.


"Maksud Gale bukan buat Gale bang, tapi buat cabe..."


"Terus kamu ikut-ikutan gitu?" ia mendekati Gale di ranjang.


"Jangan berani macem-macem di belakang abang, abang bakal tau," ancam Fatur meniup wajah Gale hingga ia mengerjap.


"Idih! Suudzon itu namanya pak dokter! Mana ada yang mau sama cewek hamil," Fathya mangap mangap kaya ikan, melihat perdebatan keduanya.


Tak tau kenapa, justru menurut Fatur, Gale semakin cantik saat hamil begini. Atau memang aura ibu hamil itu selalu bisa membius mata yang memandang.


.


.


.


Noted :


Reward : penghargaan


Affair : selingkuh

__ADS_1


__ADS_2