
Fatur
Bumil itu miliknya, kehamilan Gale bukannya menjauhkan atensi orang-orang darinya ia justru semakin menjadi bintang bersinar, Gale bagaikan magnet untuk orang-orang. Seakan ia adalah madu untuk membuat orang lain agar tetap ada di dekatnya, bahkan dengan terang-terangan beberapa lelaki mengantre untuknya meskipun keadaannya bukanlah perawan.
Makin hari, ia harus semakin mengawasi. Bukan tak mungkin jika setelah si kembar lahir, maka akan banyak yang berusaha merebut Gale. Fatur harus selalu mawas diri, dan berusaha menjadi suami terbaik.
Kini usia kandungan Gale 7 bulan lebih.
"Tur, mau kapan acaranya ?" tanya mama, sepertinya mama baru saja bangun dan akan menunaikan salat subuhnya.
"Minggu depan aja mah, kalo masalah makanan koordinasi sama momy Sha, kalo untuk adat kita pake adat betawi aja."
Mama mengangguk, "nanti siang mama hubungin mak Mpon sama nyak haji buat bawain acara," kedua sesepuh gang Irit itu memang terbiasa dipanggil jika ada acara seperti ini. Ia melanjutkan minumnya tak lupa membawa segelas air putih masuk ke dalam kamar.
Pintu dibuka tak terlalu lebar, karena Gale sedang tak berpakaian, mungkin kali ini adalah aktivitas ranjang terakhirnya dengan Gale, mengingat Gale mengeluhkan rasa sakit jika ia mencapai klimaksnya, ia paham jika aktivitas ini berpengaruh dan dapat memicu kontraksi palsu, belum lagi kehamilan kembar memang biasanya lahir prematur atau melahirkan lebih awal daripada kehamilan tunggal pada umumnya.
"Masih sakit engga?" Fatur duduk di tepi ranjang, menyerahkan segelas air putih pada Gale. Istrinya itu sangat kacau karena ulah Fatur.
"Sedikit," jawabnya setelah menghabiskan segelas air, lelah? Mungkin iya. Fatur menyeka keringat di sekitaran wajah cantik Gale dan merapikan rambutnya.
"Mungkin kita skip dulu ngelakuin hal indahnya, abang harus puasa mulai sekarang kayanya. Ga tega sama kamu, lagian usia kandungan kamu udah terlalu beresiko," Fatur mengusap lembut kepala Gale.
"Abang yakin?" tanya Gale.
"Yakin, udah masuk trimester ketiga kan, kehamilan kembar pula. Kalo ga tahan abang solo karir aja, tapi tolong dibantu ya!" Gale tertawa demi mendengar kalimat terakhir Fatur.
"Prokk prokk prokk--jadi apa!" lanjut Gale, Fatur ikut tertawa.
"Gale ga bisa,"
"Biar abang ajarin!"
"Ihhh dokter mesum!" Gale mendorong pelan bahu Fatur.
"Abang panasin air buat mandi yah, biar sekalian ke kompres perutnya."
"Boleh," jawab Gale kembali baringan dengan menyamping, memejamkan matanya sejenak.
Ia kembali keluar dari kamar menuju dapur, meraih teko dan menyalakan keran wastafel hingga airnya mengalir memenuhi teko.
Fatur menyalakan kompor dan bergegas menyambar handuknya untuk mandi.
"Minggu depan, abang adain acara 7 bulanan buat kamu sama anak-anak. Biar diurus momy sama mama," Fatur berjongkok di depan Gale.
"Iya," jawabnya manggut-manggut. Akhir-akhir ini Gale sering mengeluhkan kalau badannya sudah tak enak, duduk tak nyaman dan kakinya sering pegal, Fatur meraih kaki Gale lalu memberikan pijatan-pijatan lembut.
__ADS_1
"Siraman yang Gale dimandiin di depan orang-orang itu?" tanya Gale kemudian.
Fatur mengangguk, kening Gale mengernyit, "malu atuh bang?!"
"Kan dikainin badannya, masa telan jang! Ya abang juga ga rido kalo kamu harus toples mah," Fatur terkekeh.
"Airnya udah bunyi, abang tuangin dulu!"
Yap! Fatur selalu men-treat Gale dengan manis bukan hanya setelah mereka memadu kasih di ranjang saja, tapi setiap saat hingga membuat Gale merasa jadi perempuan paling beruntung di dunia.
Ia membawa teko berbunyi itu ke dalam kamar mandi dan mencampurkannya dengan air dingin.
"Mau digendong?" tanya nya keluar dari kamar mandi.
"Engga usah, Gale belum lahiran. Masih bisa ke kamar mandi sendiri," ia beranjak dengan gaya manjanya dari ranjang, tanpa mendekap lagi selimut seperti awal mereka melakukan itu. Sudah tak malu lagi baginya toples di depan Fatur sepaket perut buncitnya.
Fatur menyerahkan handuk kimono pada Gale, "hati-hati licin, pake sendalnya!"
...----------------...
Glowing..
Satu kata, yang menggambarkan Gale saat ini.
"Jalan-jalan keliling komplek mau? Sambil latihan nafas," Fatur mengulurkan tangannya pada istrinya yang akhir-akhir ini hobbynya bermalas-malasan saja di rumah.
"Kan udah deket lahiran, harus latihan dong. Ini dedeknya dua loh! Harus punya power sekuat wonder women?! Katanya mau lahiran normal kaya momy?" ajak Fatur membujuk Galexia.
"Iya Le, Fathya dukung. Go Ale go!!" gadis ini hanya bisa jadi pemandu sorak sambil nyiram tanaman di halaman depan.
"Yu! Sekalian Gale mau jajan cakwe di depan komplek," angguknya.
Fathya mencebik, "idih, giliran mau ada udang di balik bakwan!"
Stelan Gale sudah berubah, dengan training dan swetter abu-abunya, menonjolkan perutnya yang buncit.
"Abang kalo Gale pingsan gendong ya!" pekiknya menyusul Fatur yang sudah berlari kecil keluar dari pagar rumah.
"Abang gelindingin aja sampe rumah!" jawabnya tersenyum memutar pad topi ke belakang.
"Abang ih, jangan kaya gitu!!!" susulnya segera berlari kecil,
"Abang kalo gitu gantengnya tumpah-tumpah! Gale ga mau abang dikerubungin ibu-ibu yang lagi beli sayur!!!" pekiknya, Fathya tertawa melihat tingkah keduanya gemas.
"Ayo calon bunda!! Katanya the best bunda, strong women yang mau lahiran normal?!" Fatur beberapa kali berhenti demi menunggu Gale.
__ADS_1
Peluh sebesar-besar biji jagung, keluar dari pori-pori kulit Gale. "Abang engap ih! Gale pingsan nih, ga kuat! Beli dulu baso semangkok lah pake tetelan, pedesnya banyakin!" keluhnya, mengeluarkan jurus andalannya memelas, minta ditabok seperti di adegan telenovela.
"Masih pagi, masa udah baso! Makanannya ga boleh yang kaya gitu ah!" Fatur menyeka keringatnya merangkul Gale, dimana tangan istrinya ini memegang pinggang sambil menghela nafas berulang kali.
Udara pagi masih sejuk, tak terlalu menyiksa Gale.
"Pagi pak dokter, bu.."
"Wah, nemenin istri olahraga dok? Suami idaman,"
Gale merotasi bola mata indahnya, tanda ia jengah dengan sikap ibu-ibu ini.
"Iya bu," jawab Fatur sopan.
"Tunggu--tunggu ah! Capek," tepis Gale di tangan Fatur, ia segera mencari bahu jalan dan duduk disana.
Fatur berjongkok menemani, "kan apa Gale bilang, ga usah dikaya giniin topinya! Ga mau ah, karungin dulu mukanya!" Gale membalikkan pad topi Fatur ke depan.
"Ga usah ngaco, mau lanjut lagi engga? Di depan ada yang jual kelapa, abang beliin?!" tawarnya menaik turunkan alisnya, wajah Gale masih cemberut. Ia langsung beranjak dari duduknya, "kenapa ga bilang dari tadi?! Hayu atuh cepet! Gale 2 ya bang, satu buat Gale satu lagi buat si kembar!"
Fatur sampai melongo, begitu gesitnya Gale yang sedang berlari kecil sudah mendahuluinya.
"Buru ih! Masa kalah sama bumil!" teriak Gale menoleh ke belakang.
"Aduhh!" Gale seketika menghentikkan larinya, dan memegang perut sambil meringis.
"Kenapa?" tanya Fatur ikut terkejut dan mengusap perut istrinya.
"Gale pengen pipis bang, ini anak-anak abang nendang terus!"
"Ha? Mau pipis dimana? Ini di jalan sayang, nanti aja di deket tukang kelapa, atau mau pulang dulu?" tanya Fatur.
"Ikut dulu deh bang sama yang punya rumah di deket sini, kalo pulang kejauhan!" tunjuk Gale celingukan mencari rumah yang pintunya terbuka.
Pagi-pagi ngetuk rumah orang tak dikenal cuma mau ikut buang hajat, hal paling incredible yang baru kali ini Fatur lakukan selama tinggal disini.
"Buruan abang! Gale udah diujung ini!!" hebohnya menarik-narik kaos Fatur.
"Iya..iya," Fatur celingukan mencari rumah terdekat untuk diketuk.
"Apa mau di deket pohon itu?!" kekehnya.
"Dikira Gale dogy apa?!" sengaknya.
"Abang ga usah ngelawak, Gale udah mulai rembes ini!" sewotnya berteriak sambil menahan bagian bawah, disaat seperti ini suami dokternya malah berkelakar.
__ADS_1
"Iya sayang iya," Fatur berlari mendatangi salah satu rumah dan mengucapkan permisi. Disaat orang-orang heboh nyari sarapan, keduanya malah panik mencari tempat untuk buang hajat.
Kalau engga heboh bukan pasangan Gale--Fatur namanya. Tak merasakan ngidam atau memenuhi ngidam bumil, tapi kebagian hebohnya juga.