Gadis Nakal Om Dokter

Gadis Nakal Om Dokter
Ratu cilor


__ADS_3

Sudah dua jam yang lalu ruangan ini dipenuhi dengan suara-suara er otis. Harusnya Fatur melengkapi kamar dengan busa peredam suara macam di studio musik, mirip di cerita-cerita mafia, biar kedap suara.


Sejak Fatur menghentak memasuki Gale, gadis ini pasrah saja meskipun melawan dan mencoba menghindar, nyatanya ia tak bisa menolak. Tusukan dan pompaan Fatur membawa Gale mengarungi sungai tak bertepi.


Fatur menyeka keringat di wajah cantik Gale. Jika begini terus Gale hanya bisa menerima kalau ia akan segera mengandung buah kasih sayangnya bersama Fatur, harapannya adalah menjadi wanita kuat saat tiba waktunya.


Cengkraman kuat jemari lentiknya di punggung Fatur menandakan sisa-sisa tenaga terakhir Gale malam ini.


Nafasnya terengah, ia tergerak bangun dengan membawa selimut.


"Mau kemana?" tanya Fatur sama terengahnya.


"Gale pengen minum,"


"Biar abang aja yang ambilin," Fatur segera memungut celana miliknya yang tercecer, lalu membuka kunci pintu dan keluar. Telan jang dada? tak apa karena ini sudah pukul setengah satu dini hari, orang-orang rumah sudah tertidur.


Satu gelas tinggi air mineral tandas diteguknya, Gale memungut t-shirt terdekat, entah milik siapa yang ia pakai tanpa memakai penutup bukit kembarnya terlebih dahulu, jika dirasa dan diendusi ini mungkin milik Fatur. Sungguh ia tak ingin tau, badannya sudah lelah, matanya teramat mengantuk, ia menghempaskan badannya begitu saja dan terpejam.


Baru memejamkan mata sebentar, Fatur dibangunkan dengan dering suara ponselnya. Tangannya terulur meraba-raba nakas.


"Hallo?"


(..)


"Iya dok, tapi bisakah menunggu sebentar. Saya masih belum apa-apa?"


(..)


Fatur harus segera ke rumah sakit, dokter Rey akan melakukan tindakan darurat dan butuh bantuan serta diagnosanya. Meskipun ini hari liburnya, tapi keselamatan pasien harus ia nomor satukan, itulah sumpah yang harus ia sebagai seorang dokter junjung sampai akhir hayat.


Fatur masuk ke dalam kamar mandi, segera bersih-bersih. Ia meraih pakaian miliknya. Memandangi Gale seraya berpakaian, gadis itu masih meringkuk menggunakan t shirt miliknya tanpa apapun lagi kecuali selimut yang membalut dari perut ke kakinya. Wajah lelapnya membuat senyum Fatur tercetak jelas.


"Abang pergi dulu," pamitnya berbisik di telinga Gale, ia duduk di pinggir ranjang samping Gale dan mengecup keningnya.


Mata indah itu mengerjap, "abang mau kemana? Bukannya libur?" tanya nya dengan mata yang masih menyesuaikan dengan cahaya lampu kamar.


"Abang ada kerjaan sebentar,"


"Kenapa ga dokter lain si?" bibirnya merengut tanda kecewa. Pasalnya pagi ini Gale ingin jalan-jalan ke car free day.


"Dia pasien abang sama dokter Rey, statusnya urgent, harus diadakan tindakan dan butuh diagnosa serta penanganan secepatnya. Masa tanggung jawab abang mau dikasih ke dokter lain?" jawabnya memberikan pengertian.


"Abang janji kalo udah beres langsung pulang, kalo abang telat pergi sama Fathya dulu," pesannya segera pamit, Gale kembali merebahkan badannya.


...----------------...


Gale beringsut turun dan berjalan dengan malas.


"Udah kaya pemeran ratapan anak tiri," dengusnya menatap dirinya di depan cermin.

__ADS_1


Rambut semrawut, wajah bantal, kaos kusut kebesaran sampai memperlihatkan tulang se langkanya dimana leher sampai dadanya merah-merah macam orang masuk angin dikerokin.


Sejenak ia memandangi perut ratanya, "hey..little Fatur? Are you there?"


Gale tertawa sumbang, baru seminggu dari pertama unboxing masa iya sudah tumbuh dan bisa mendengar.


Dengan malas ia menguap masuk kamar mandi.


****


"Cabe! Buru!" teriak Gale di pintu kamar Fathya.


Dan anehnya mama malah tersenyum putrinya dipanggil cabe oleh menantunya sendiri.


"Ish! Sabar, ini lagi sisiran dulu!" gerutu Fathya, panggilan tak biasa memang sudah jadi ciri khas seorang Gale, selalu merubah-rubah nama sema lidahnya.


"Ga usah paripurna lah! Mau joging juga, bukan mau kondangan!" ujar Gale meminum susu coklat miliknya, sudah menjadi sarapan keluarga ini kalo pagi-pagi dihebohkan dengan suara Gale.


"Sarapan dulu neng," pinta mama. Bukannya merasa risih, mama justru senang dengan kehadiran Gale. Fatur terlihat lebih bahagia, Fathya pun terlihat lebih hangat dan banyak bicara, sudah jelas rumah berubah jadi lebih ramai dan hangat.


"Sekarang rame ya bu, sejak neng Gale datang, rumah berasa anget terus," bukan hanya perasaan mama saja ternyata, tapi bibi asisten rumah tangga pun ikut merasakan.


Gale sudah siap dengan stelan celana trening hitam, swetter dan topi.


Ceklek


"Sekali-kali keluar lah, jangan ngerem-ngerem bae (berdiam diri/mengunci diri) di rumah. Lihatlah dunia, takut besok tiba-tiba ada hole in the world (lubang di dunia), tau-tau loe ilang dari muka bumi. Orang-orang ga sadar!" ujar Gale, heran saja, betah amat diem di rumah tanpa tau dunia luar, kenapa ga sekalian aja menetap di penjara? Disaat remaja seusianya menggoreskan namanya di list anak-anak hits Jekardah, Fathya malah gali lubang. Di saat remaja seusianya nonton konser BTS dia malah sibuk ngitungin semut yang ikut nginep di kamarnya.


"Cih, loe kalo ngomong suka seenak jidat!" desis Fathya meminum susu di gelas miliknya.


"Udah buruan! Gue mau nguber tukang cilor, mumpung abang ga ada! Suka penuh, itu cilor mantep banget!" Gale membetulkan simpul tali sepatunya.


"Gue lapor abang ah, loe jajan sembarangan!" ucapnya cuek.


"Ish, jangan gitu lah!" desis Gale memicingkan matanya.


"Lagian gue ga sering! Ga apa-apa kan ya ma?" Gale meminta persetujuan mama.


"Sekali-kali aja, jangan keseringan. Abang cerewet loh!" ujar mama.


"Siap!"


"Tuh kan! Mama, mama mertua idaman Gale, sayang mama banyak-banyak!" dasar perayu ulung, mama sampai tertawa dibuatnya karena kini menantunya ini sedang memeluknya.


"Ish, mama juga loe rayu-rayu!" sungut Fathya.


******


"Le, bentar dulu! Cape gue-nya!" Fathya tertinggal di belakang beberapa meter, sambil memegangi lututnya yang lemas.

__ADS_1


"Ck, ya udah sambil jalan aja!" Gale menghampiri balik Fathya diantara puluhan bahkan ratusan orang disana. Ada yang sekedar mencari sarapan, janjian, atau memang olahraga seperti dirinya.


Gale mengusap keringat diantara anak rambut tertutup topi putih.


"Capek Le, beli sarapan dulu yuk!" ajaknya. Sejak bangun perutnya baru diisi beberapa teguk susu saja.


"Ya udah, beli ketoprak disitu! Kebetulan deket sama tukang cilor!" tunjuk Gale, mata Fathya mengejar arah telunjuk Gale.


"Boleh," jawab gadis itu.


Gale mengantri bersama para pengunjung dengan perut yang sama-sama lapar dan memilih ketoprak untuk mengisi perutnya.


"Abang 2 ya, yang satu pedes yang satu engga!"


"Siap neng!"


Gale dan Fathya menggeser kursi plastik hijau dan menuangkan teh tawar panas di gelas belimbing kaca. Cuaca pagi ini belum begitu panas, padahal matahari sudah mulai meninggi.


"Le, makasih!" ia memandang Gale dengan penuh ketulusan, Gale menaikkan alisnya sebelah, seraya membuka topinya.


"Buat?" bibir Gale otomatis memonyong meniupi teh tawar yang masih berasap.


"Udah baik sama gue, maafin gue sempet jahat sama loe sama abang, selalu ketus dan anggap loe sama kaya yang lain, dan yang paling penting, makasih udah mau jadi bagian dari kebahagiaan abang."


Ia menarik nafasnya, "Gue emang baik, loe nya aja yang nutup mata!"


Fathya mengerucutkan bibirnya, baru juga ia secara tulus meminta maaf, tapi gadis di sampingnya ini membuat niat tulusnya jadi berantakan karena sikap nya.


"Neng, satu pedes, satu engga!" dua piring ketoprak tersaji di depan keduanya. Mata berbinar dan raut wajah sumringah kedua gadis ini terpancar melihat lontong dengan tahu, kecambah, ketimun, dan bumbu kacang yang meleleh dengan pelengkap kerupuk saling bertumpukan diatas piring minta dilahap.


"Makasih bang!"


"Uhhh, bumbu kacangnya banyak banget cuu, gustii!" decak Gale, salivanya sudah mengalir di dalam mulut. Fathya tertawa kecil, Gale mirip host acara makan-makan di tv, tanpa aba-aba ia langsung melahapnya.


"Bismillah,"


"Cupu?! Galexia?!"


Gale mendongak dengan mulut yang mengembung karena ketoprak di dalam mulut. Juga Fathya, gadis itu terkejut dengan raut wajah terusik dan takut.


Gadis angkuh dengan gaya sengak berada disana juga rupanya.


"Ratu cilor?!" seringai Gale.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2