
"Umurku 18 tahun sekarang," matanya menerawang.
"Kalo biasanya di sekolah, sekarang tuh pasti aku lagi latihan dance, lagi siap-siap kompetisi, soalnya udah deket-deket acara festival Jakarta. Dean juga mungkin lagi latihan basket, biasanya aku sama Dean latihan barengan," ia tersenyum saat menerawang lalu sedetik kemudian air matanya mengalir deras.
Gue juga 18 taun loh! Gue juga suka dance, harusnya gue ngejar Betawi dancer karena lagi musim kompetisi and by the way gue hamil nih! Tapi laki gue dokter bukan pebasket. Kalo gue dance pake celana pendek, gue dihukum ranjang sama abang. Diomelin abang sampe subuh juga! Alhasil gue juga kena kanker, kantong kering, curhat Gale dalam hati.
"Oh, kalo gitu kita sama. Aku 18 tahun,"
"Sorry jadi curhat," ucapnya mengusap ujung matanya dan meraih coklat dari Gale.
"Thanks,"
"Kamu sakit apa? Keliatannya sehat-sehat aja!" tanya Alexa.
"Oh, lagi nungguin suami praktek. Sekalian periksa kandungan," jawab Gale kikuk.
"Oh, udah nikah? Selamet ya! Hamil juga?" Gale mengangguk.
"Tapi aku bukan mba loh! Jangan salah paham!" tukas Gale, Alexa tertawa. mba (married by accident)
"Engga lah, tenang aja. Lagian kalo mba pun udah jamannya!" bisiknya, membuat Gale mengernyit.
"Beruntung banget kamu bisa ngalamin itu semua, dijaga ya kesehatannya! Sehat itu mahal, kalo bisa kubeli kehidupan bakalan kubeli!" tatapnya nanar.
"Masih banyak banget impian yang belum ku capai, buat bahagiain mamah, papah, menuhin janji aku sama Dean, mencoba apapun yang belum pernah kucoba sebelumnya karena terlalu takut untuk mencoba!" Gale menyimak obrolan Alexa sambil nyemil, gadis itu mengusap air mata berulang kali, Gale langsung merogoh tasnya mengeluarkan beberapa helai tissue.
"Aku benci semua yang berbau dengan pengobatan termasuk da rah. Tapi malah kena kanker da rah, yang tiap saat keluarin da rah, cuci da rah semuanya tentang da rah!" dengusnya tertawa sumbang.
"Ngerasa ngga sih kalo Tuhan lagi ngobatin ketakutan kita sendiri justru sama hal-hal yang kita takuti. Biar kita terbiasa?"
Gale hanya bisa terdiam tanpa berani menyela. Ia jadi berfikir hal yang sama dengan Alexa, batin kecilnya selalu terpikir dengan impiannya saat masih kecil.
"Kaka Gale kalo udah besar mau jadi apa?"
"Pengen jadi dokter! Dokter anak, biar bisa sembuhin diri sendiri, ga perlu disuntik orang!"
"Manfaatin kesempatan hidup kamu yang cuma sekali, sebaik mungkin. Lakukan hal-hal positif yang tidak mungkin, tapi ingin sekali kamu lakukan. Kejar apa yang ingin kamu kejar, sebelum Tuhan ambil waktu kamu di dunia, bahagiakan orang-orang sekitarmu sebelum akhirnya kamu menyesal karena belum bisa membalas mereka,"
Ponsel Gale bergetar, "abang?"
"Hallo abang?"
(..)
"Gale di taman!" ia melambaikan tangannya ke arah ruangan Fatur, karena terlihat dari sini.
"Kamu udah di telfon suami ya?" tanya Alexa mendongak ke arah dimana Gale berdiri.
"Iya,"
"Suamimu dokter apa? Tiap hari aku disini, liat banyak dokter bolak-balik mungkin tau,"
"Dokter spesialis jantung, dr. Faturrahman Al-Lail," jawab Gale mendorong kembali kursi roda Alexa.
"Hm, pernah denger. Aku seringnya liat dokter cewek, awalnya si cuek sama dokter cowok ganteng, kayanya sih pacaran. Tapi ga tau ada kejadian apa, sekarang malah jadi berbalik, dokter cowoknya yang super cuek, dingin. Si dokter ceweknya keganjenan, gatel! Ngejar-ngejar ga jelas, minta dipeluk-peluk!" Alexa menggidikkan bahunya acuh.
"Ceweknya setauku dokter kandungan," lanjut Alexa.
__ADS_1
Gale tertawa kecil, "dokter Seli?"
"Kayanya, aku ga terlalu ngeuh. Tapi sempet kudenger suster pernah manggil-manggil dia dengan nama itu, dokter Seli."
"Iya kayanya, dokter cowoknya.. yang kata kamu ganteng, itu bukan ?!" tunjuk Gale pada Fatur yang berdiri di depan mereka cukup jauh.
Alexa menoleh, "lah iya! Kamu kenal?!" tanyanya.
Gale tertawa, "kenal lah, setiap hari serumah bareng, sekamar bareng. Ini ada anaknya disini!"
"Itu suami kamu?" tanya Alexa cukup terkejut.
"Tapi aku bukan pepacor, mereka putus duluan sebelum kita nikah!" jelas Gale, membuat Alexa tertawa, "mau jadi perebut pun muka kamu mumpuni!" goda Alexa. (perebut pacar orang)
"Abang?!"
"Eh, kaka Alexa? Ko ada disini? Saya cariin tadi?!" ujar salah satu perawat disini.
"Iya suster Dian, tadi jalan-jalan ke taman sebentar sama temen baru,"
"Istrinya dokter Fatur?"
"Iya, Dara.." angguk Alexa.
"Aku duluan ya,"
"Lexa, keep spirit buat sembuh!" Gale tersenyum menularkan kehangatan.
Ia mengangguk, "semoga lancar persalinannya. Aku yakin anaknya pasti gemoy kaya ibunya!" kekeh Alexa.
Mata Gale tak lepas dari kepergian Alexa.
"Barusan? Kasian dia bang!" Gale sedikit melow, ekor matanya berair.
"Kena leukimia, umurnya baru 18 tahun. Sama kaya Gale ga suka pengobatan dan da rah." Keduanya berjalan menuju ruangan Fatur.
"Oh ya? Stadium berapa?"
"Ga tau, Gale lupa nanya!" jawabnya tertawa.
Ceklek
"Bang,"
"Hm."
"Bantuin Gale biar ga takut da rah sama suntikan lagi," pintanya dengan wajah serius.
"Beneran?"
"Bener!"
"Kalo gitu mau ya cek da rah, kadar Hb, sama lain-lain?" saat tadi di ruangan dokter Tara, Gale sempat menolak untuk cek da rah kali ini, ia mengulur waktunya dengan meminta cek da rah dilakukan saat periksa kandungan selanjutnya saja.
Raut wajahnya menunjukkan keraguan, "bentar dulu!" Gale duduk dan membuka minuman jus buah kemasannya dan meminumnya.
Menghirup nafas rakus-rakus, "oke!" jawabnya mantap.
__ADS_1
"Oke, abang telfon dulu dokter Tara,"
Setelah kembali membuat janji dengan dokter Tara, Gale masuk ke ruangan berbau tajam etanol, keringatnya sudah mengucur deras, tangannya bahkan mendingin.
"Udah berani?" tanya dokter Tara.
"Insyaallah jika Allah mengijinkan," jawabnya.
Fatur terpaksa tidak menemaninya kali ini, karena sedang menangani pasien.
"Abang tinggal ga apa-apa?" tanya Fatur khawatir.
"Ga apa-apa bang," jawabnya tegar padahal dalam hati sudah menjerit-jerit.
"Abang keluar ya, kalau sudah langsung ke ruangan abang! Jangan banyak mampir dulu,"
"Dok, saya titip istri saya."
Perempuan seumuran mertuanya ini tersenyum, tak pernah ia melihat dokter Fatur yang terkenal datar dan dingin sekhawatir dan sehangat ini sebelumnya, "tenang aja dok, istrinya bakalan baik-baik aja. Ga akan saya gigit!" kelakarnya.
Terakhir Fatur melihat Gale yang masih tersenyum kaku padanya pertanda bahwa ia tengah bergelut dengan rasa takutnya. Tak ada Shania atau Arka yang biasa melindungi wajahnya di bawah ketiak, ataupun Fatur memeluknya.
Mata Gale sempat terpejam, saat ujung jarum menyentuh kulit mulusnya, menusuk tepat di urat dan menyedot darahnya. Rasa pegal terasa sampai ke hati.
"Relaks bu," pinta dokter Tara.
"Ga apa-apa, ga lebih sakit dari suntikan dokter Fatur!"
"Ya?" beo Gale membuka matanya.
Gale mengulum bibirnya, menunduk malu, si dokter pake buka kartu lagi! Malah jadi gue yang malu ini mah,
Kepalanya memang berputar melihat satu tube kecil darahnya diambil, belum lagi air urinenya. Tapi ia berhasil melewati itu sendirian. Tanpa berteriak-teriak, menangis dan mengaduh. Hanya saja badannya terasa lemas setelah itu, seakan semua makanan yang tadi masuk ke dalam lambung sirna begitu saja.
Dilihatnya ruangan Fatur, masih ada pasien di dalam. Gale memilih menunggu di kursi depan ruangan Fatur sambil membaca surat keterangan hasil cek lab. miliknya. Suster keluar dari ruangan Fatur, membawa satu bundel map.
"Sus, maaf! Masih ada pasien untuk dokter Fatur?" tanya Gale.
"Engga bu, mau masuk biar saya bilang?" Gale menggelengkan kepala dan melambaikan tangan cepat.
"Oh jangan, bilang aja ada pasien lain namanya Mumun! Nanti kasih aja laporan hasil lab. ini buat jadi riwayat kesehatannya!" pinta Gale, suster yang tak lebih muda dari Gale itu tersenyum.
"Oke bu," suster Nita namanya. Ia mengambil laporan laboratorium milik Gale.
Pasien tadi keluar bersama pendampingnya.
"Masih ada pasien buat saya?" tanya Fatur.
"Ada dok, pasien Mumun.." Fatur mengernyitkan dahi.
"Mumun?"
Wajah suster Nita memerah ingin tertawa.
.
.
__ADS_1
.