Gadis Nakal Om Dokter

Gadis Nakal Om Dokter
Mengenang masa lalu


__ADS_3

"Mii, yang bener aja ini Gale ga bisa masak loh. Pake dibawain ubi mana sekarung lagi!" lidahnya berdecak, dan kepalanya menggeleng.


"Yang ga bisa masak itu kamu, bukan Fatur atau mama mertua kamu. Makanya belajar!" jawab Shania sinis, putrinya ini kapan mau belajar masak buat suaminya sendiri?


Momy Sha menepuk-nepuk kedua tangannya memanggil Roni,


...Prokk...prokk..prokk!...


"Ron, minta tolong diangkut ke bagasi mobilnya bang Fatur!" pinta Shania.


"Ha-ha-ha! Sadis emak gue, manggil orang kaya manggilin merpati gacoan!" tawa Gale bangga. Fatur tertawa kecil melihat kelakuan ibu mertuanya ini.


"Sha, manggil orang tuh, samperin orangnya," ujar Arka.


"Capek mas ah, kalo bisa dari jauh, kenapa mesti disamperin dulu!" jawab Shania.


"Best! Itu momy-nya Gale! Mama kaulah panutanku!" Gale malah memberikan jempolnya pada sang ibu.


"Momy sama anak sama saja," gumam Arka.


"Ayah baru sadar?" tanya Andro datar, pak Hadi tersenyum melihat bentukan keluarga susunan Arka dan Shania ini. Dialah saksi hidup dari jungkir balik dunia keduanya, Arka dan Shania bagai langit dan bumi, tapi keduanya mampu membuat perbedaan jauh itu, menjadi satu kesatuan yang justru bikin orang ngiri.


"Bang, banyak-banyak berguru sama ayah, gimana caranya jadi pawang cewek modelan ka Gale," ujar Andro yang duduk bersampingan dengan Arka dan pak Hadi di teras rumah.


"Sip!" jawab Fatur.


"Dih, kosakata kamu ga enak, cewek modelan...emang gue cewek modelan apa?!" sengak Gale.


"Modelan tutup panci, berisik kalo dibanting!" jawab Andro.


Gale melotot, "sembarangan! Mii, Andro, ngatain kita modelan tutup panci!" Gale hendak meraih Andro, tapi dihalangi oleh Fatur dan ayahnya, sementara Andro sudah tertawa.


"Ga apa-apalah kalo pancinya presto mah! Pake lempar maling bikin bonyok! Kalo momy tutup panci, kamu berarti pegangan panci yang secuil itu biar pas pegang panci ga panas," jawab Shania santuy.


"Ha-ha-ha, udah kaya modelan kutil!" tawa Gale.


"Ih, momy."


"Canda, anak momy gantengnya ngalahin ayah, engga deh..cakepan ayahnya, kan ayah yang bikin adonannya sama momy!" Shania mengacak rambut anak bungsunya.


"Momy ihhh, bisa disensor dikit engga itu mulut! Panas ihh!" Gale mengipasi wajahnya, pasalnya disitu ada Fatur dan yang lain.


Teh Rita tak lepas dari tawa, sifat, kosakata Gale maupun Shania selalu mampu membuat suasana Pondok berasa lagi didatengin ibu-ibu se Rt, rame!


"Siap bu! Mobil abang Fat yang mana nih?" tanya pemuda 15 tahun ini. Ia tampak seperti si kabayan, sarung melintang dari pundak sampai pinggang dan peci hitam yang ia balikkan.


"Yahhh, neng Dara pulang mah Pondok sepi lagi!" ucap teh Rita memeluk Gale saat keduanya berpamitan.


"Iya teh, Gale ga bisa absen lama-lama. Takut ketinggalan pelajaran soalnya mau ujian, males kalo mesti sistem kebut! Soalnya bukan pembalap," jawabnya.


"Teteh do'ain cepet lulus, biar nanti kesini bawa kabar baik!" ia menaik turunkan alisnya, Fatur menyunggingkan senyumnya begitupun para orang dewasa, tapi tidak dengan Gale yang galfok.

__ADS_1


"Aamiin!!!!" Aminnya keras.


Gale dan Fatur pamit pada semuanya. Lampu sen menyala, mobil bergerak meninggalkan area Pondok.


"Wah, udah ga sabar kayanya? Aminnya kenceng banget?!" tanya Fatur.


"Iya dong! Deg-degan!" antusias Gale.


"Kalo gitu nanti pulang dari sini ya!" pinta Fatur.


"Apanya?" tanya Gale mengernyit, Fatur menyeringai.


"Ih, aneh!" gumam Gale.


Setelah main bolang-bolangan, drama takut dibu_nuh sambil teriak-teriak Gale akhirnya tertidur. Pergi pake sepatu, pulang nyeker alias bertel_anjang kaki.


Hawa mulai terasa panas di dalam mobil, karena sejak tadi mobil hanya bergerak merayap di antara kemacetan jalanan ibukota.


"Eh, udah nyampe mana ini bang?" tanya Gale, menyipitkan matanya karena silaunya lampu belakang mobil di depan mereka.


"Udah di Jakarta," jawab Fatur, membuka segel air minum lalu memberikannya pada Gale, ia juga minum dari botol yang sama dengan Gale.


Mata Gale tertumbuk pada beberapa anak jalanan di sisi kanan lampu merah.


Koran, kemoceng, tissue dan kanebo menjadi alat tempur mereka, untuk mengais rejeki. Mendadak hatinya terasa dipukul dengan berat puluhan kilo, diremukkan dalam waktu sepersekian detik, teringat gambaran Fatur kecil pasti mirip seperti itu dulu, dengan baju lusuh, wajah kuyu, lelah, kulit terbakar matahari, badan kotor dan pastinya perut lapar. Gale memperhatikan ke arah spion samping dimana ada pantulan dirinya sendiri, membandingkan anak-anak itu dengan dirinya dulu, betapa beruntungnya ia hidup berkecukupan dan dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya. Apapun yang Gale mau, akan selalu terpenuhi, tanpa perlu bersusah payah mencari uang.


"Bang, bisa nepi dulu di resto itu ngga?" tanya Gale, telunjuknya mengarah ke salah satu rumah makan dengan lampu sorot yang menyilaukan mengarah pada huruf M besar.


"Kamu lapar?"


Setelah dirasa lalu lintas mulai bergerak lancar, Fatur memutar kemudi sesuai permintaan Galexia.


Gadis itu turun dengan memakai sandal jepit, tak ada kata malu untuk Galexia, karena baginya rasa malu itu sudah ia buang jauh-jauh.


"Abang mau titip apa?" tanya Gale sebelum benar-benar pergi.


Fatur bergidik acuh, "terserah Gale aja," bagi Fatur semua sama saja, saat ia masih kecil ataupun sudah besar, saat ia masih susah ataupun sudah menjadi seperti sekarang. Tempat ini hanya akan jadi pemandangan pemanis sudut ibukota saja, hanya sekali mungkin ia datang kesini, itupun mengikuti keinginan Fathya.


"Le!" panggilnya.


"Iya bang?" gadis itu membalas.


"Jangan terlalu sering jajan junkfood," Gale menunjukkan senyuman manisnya, "siap!"


Gale masuk ke dalam ruangan ber-ac, ia menunjuk es krim dan beberapa makanan lainnya.


"Emh, tadi tuh ada berapa anak ya?" gumamnya mengingat-ingat.


"Totalnya...."


*****

__ADS_1


Gale memasukkan kembali kartu atm, dimana sumber uang jajannya setiap bulan.


Fatur menatap layar pipihnya, seraya menunggu Gale di mobil. Gadis itu tak mau diantar masuk ke dalam.


Alisnya terangkat, melihat begitu banyak makanan yang dibeli Gale.


"Kamu yakin mau makan segitu banyaknya?" tanya Fatur membuka seatbelt dan membantu istri nakalnya. Aroma makanan menguar dari celah-celah dus, dan bungkusan. Rasa hangat bercampur dingin terasa di tangannya.


"Yakin! Abang awas itu nanti es krimnya tumpah," tunjuk Gale pada kresek yang dipegang Fatur untuk disimpan di jok belakang.


"Bang, nanti di depan situ berenti lagi ya! Gale mau makan disitu!" tunjuknya di pertigaan lampu merah.


"Engga mau makan di rumah aja?" tanya nya mengerutkan dahi.


"Engga, kalo di rumah Fathya udah masuk kandang, mama pasti lagi ngaji, cuma ditemenin abang aja ga seru!" jawab Gale mencebikkan bibirnya.


"Dimana?" Fatur kembali menginjak gas mobil dan memutar stirnya.


"Itu! Disitu!" tunjuk Gale berseru gembira. Matanya mengedar ke arah telunjuk Gale, dimana anak-anak pejuang rupiah bergelut dengan wajah kuyu nan lelahnya, berteman debu jalanan.


Hati Fatur mencelos, merasa kembali mengingat masa kecilnya, masa-masa dimana ia merasa dunia tak adil untuknya. Kini ia tau, Gale bukan membeli makanan untuknya sendiri, tapi untuk ia makan bersama mereka.


"Adek, korannya berapa?!" Gale turun dan berlari kecil dari mobil Fatur yang menepi, ia lantas menghampiri salah satu anak dengan tumpukan koran di tangannya, tas selempang berwarna coklat sudah teramat lusuh juga kotor.


"6 ribu kaka, kaka mau beli berapa? Pikiran Rakyat, Jawa post, Galamedia?"


Gale merogoh tas selempangnya, mencari dua lembar pecahan berwarna ungu kembalian dari gerai tadi.


"Satu aja, yang mana aja!" ia menyerahkan kedua lembar itu sepaket senyum manisnya.


"Tapi ini uangnya kebanyakan kak, selembar aja masih kembalian," ucapnya mencari lembaran atau mungkin koin logam kembalian dari saku celana dan tasnya, Gale menyamakan tingginya dengan membungkuk.


"Ini yang 4 ribunya, bisa tolong masukkin kotak amal di masjid kan? Terus yang selembar lagi buat kamu beli permen!" Gale menerima koran dari tangan kecilnya, koran pagi yang belum terjual hingga larut begini.


"Makasih kak,"


"Galexia, nama aku Galexia..." jawab Gale.


"Kak Galexia," ulangnya belepotan, Gale tertawa.


"Kalo susah panggil aja Dara!"


"Bisa tolongin aku ngga?" tanya Gale.


Mimik wajah si anak terlihat kebingungan, "tolong apa kak?"


.


.


.

__ADS_1


Noted:


Merpati Gacoan : Merpati berpasangan.


__ADS_2