Gadis Nakal Om Dokter

Gadis Nakal Om Dokter
Dukungan untuk Gale


__ADS_3

Ponsel Gale bergetar, nama ayahnya disana, meskipun ayahnya tak seekspresif orang lain, tapi percayalah saat ini Gale seperti mendapatkan moodbooster dengan dukungan yang diberikan.


Arka mengulas senyuman. Setelah mendapatkan kabar dari Fatur bahwa Gale tak lolos SNMPTN ia sedikit khawatir anaknya itu akan murung, tapi ia lupa jika putrinya itu memiliki gen orang ngeyel, bandel dan tak pantang menyerah.


"Gimana sekarang?" tanya nya lagi.


"Tinggal nunggu jadwal UTBK," jawab Fatur.


Dan hari ini, meskipun tak dapat menemuinya secara langsung, setidaknya dukungan Arka akan sangat berarti, apalagi kondisi Gale saat ini tengah mengandung. Dukungan Fatur dan Fathya tak pernah putus membantu Gale belajar, mempersiapkan diri menghadapi ujian dengan tingkat kesulitan berkali-kali lipat dibanding susahnya ujian sekolah itu.


Baru akan memasuki ruangan ujian Gale dikejutkan dengan suara orang berlarian tepatnya anak-anak.


"Kaka Galeee!"


"Semangat!!"


Gale membalikkan badannya, dari arah belakang anak-anak onta-ontynya berlarian diantara peserta ujian sambil membawa beberapa barang. Bumil muda ini tersenyum lebar. Bukan hanya Gale saja yang menoleh, hampir semua yang ada di koridor sana pun sampai calon peserta di ruangan ujung ikut melihat kehebohan itu.


"Ka Gale semangat!" Naomi yang selalu terlihat modis karena anak artis ini membawa sebatang dark coklat berpita sebagai bentuk dukungannya untuk orang yang sudah dianggapnya seperti kakak sendiri.


"Makasih Nom-nom sayang," jawab Gale menerima coklatnya. Rupanya mereka datang dengan geng kurawa bersama momy Sha.


"Kaka Gale harus bisa kerjain soal-soalnya. Kalo engga, nanti ga naik kelas!" ucap Keysa menyerahkan sekotak buah-buahan segar, para orangtua hanya bisa terkekeh mendengar celotehan anak-anak titisan geng Kurawa.


"Makasih caca!" Gale sangat terharu dengan sikap peduli mereka, bentuk dukungan dan kasih sayang untuknya begitu besar.


"Iya nanti malu diketawain!" tawa Revan dengan gigi ompongnya. Gale berjongkok agar satu tinggi dengan mereka.


"Kaka Gale bukan mau naik kelas, tapi mau kuliah sayang!" jawab Diba.


"Iya mau jadi mahasiwa," tambah Guntur memeluk istrinya dari samping.


"Dewa kali ah! Siwa," desis Ari.


"Kaka Gale, kalo soalnya susah nyontek aja ke buku, kaya aku!" jawab Annisa ditertawai Farhan.


"Anak loe tuh, persis kaya bapaknya!" ujar Guntur pada Ari.


"Kaya yang om gledek engga aja!" ujar Leli mengejek.


"Aku bilangin bu guru kamu suka nyontek!" jawab Farhan.


"Kak Gale udah berdo'a belum sama Allah biar dilancarin urusannya?" tanya Revan.


"Belum deh kayanya. Coba bantuin ka Gale do'a dong?! Farhan sama Revan deh yang pimpin!" jawab Gale. Kelima anak ini menengadahkan kedua tangannya ke atas, memantik senyum dan tawa dari semua yang melihat. Gale menaruh dahulu coklat, sekotak buah potong dan roti gandum di dekatnya.


"Ya Allah, semoga ka Gale bisa dapet nilai seratus!!" ucap Revan.


"Aamiin!!" jawab mereka lantang membuat para orangtuanya sendiri tertawa, bikin rusuh pagi-pagi di gedung orang, itulah ciri khas geng kurawa family.

__ADS_1


"Semoga kak Gale ga nyontek kaya aku!" do'a Annisa.


"Aamiin!!" jawab mereka lagi, Gale sampai menahan tawanya, hilang sudah rasa ragu dan gugupnya, menguap ke angkasa.


"Semoga kak Gale bisa jadi mahasawa..eh..mahasaha..eh.." ucap Keysa.


"Mahasiswa!!" ralat semuanya.


"Aamiin!"


"Semoga kak Gale bisa jadi dokter, yang engga galak!" ucap Farhan.


"Aamiin!!"


"Semoga nanti kalo anak-anak berobat bisa gratis!" do'a Ari.


"Aa...apaan?!" tanya Roy dan Melan.


"Benclung!" jawab Shania.


Shania memeluk Gale, "kaka harus optimis. Momy sama yang lain cuma bisa support dan do'ain kaka. Momy yakin kalo bibit unggulnya ayah Arkala Mahesa ga kenal kata menyerah!"


"Makasih momy, kakak sayang momy!"


"Utun, cucu momy juga pasti fighter sama kaya ayahnya!"


"Momy mau pada kemana nih?" tanya Gale.


"Wahhh, pantesan bajunya samaan!" jawab Gale.


"Ayah, Andro?" tanya Gale.


"Nanti mereka nyusul, masih ada urusan di sekolah."


"Ya udah kalo gitu kaka masuk, momy sama yang lain pergi ya! Pulang dijemput siapa?"


"Mau ke rumah sakit pake taksi online," jawab Gale.


"Hati-hati sayangnya onty!" satu persatu dari mereka memeluk Gale, mengusap bahkan tak sungkan mengecup pucuk kepala kesayangan mak Malin ini.


...----------------...


Mobil berwarna hitam sampai di depan rumah sakit cukup ternama di kota ini, membawa seorang bumil dengan otak yang sudah ngebul.


"Makasih bang! Udah saya kasih bintang lima, tip-nya udah dikirim ya!"


"Makasih mbak," senyum puas si driver, hatinya senang meskipun uang tip tak seberapa, setidaknya ia merasa dihargai oleh konsumen.


Angin terkadang meniup menerbangkan dress selututnya, hingga Gale harus memegang ujungnya, melindungi aset berharga miliknya atas nama Fatur.

__ADS_1


Ia melihat mobil ambulan yang terparkir dengan pintu belakangnya terbuka, seperti akan mengangkut jenazah atau seseorang.


Gale masih terpaku disana, merasa ikut berduka atas kematian seseorang itu, bahkan seorang dokter pun tak akan bisa melawan takdir. Bagaimana perasaan seorang dokter jika pasiennya tak terselamatkan? Apakah sedih, kecewa, menyesal, merasa bersalah? Memang disinilah letak tak berhati seorang dokter, tak boleh mencampur adukkan perasaan dengan ke profesionalitas'an.


Beberapa orang menangis tersedu-sedu, mungkin itu keluarga si pasien. Sebuah peti di dorong dan dimasukkan kesana, pertanda satu orang meninggal hari ini di rumah sakit ini.


"Sus, ada yang meninggal ya?" tanya Gale pada salah satu perawat yang ia kenal.


"Eh ibu, kaka Alexa.. tadi subuh sudah berpulang," jawab suster Dian, suster perawat Alexa.


"Ha?! Innalillahi," Gale masih disana, menatap kepergian teman baru yang tak sempat mengenalnya lebih dekat, namun mampu mengubah cara pandang Gale.


"Makasih, Lexa. Berkat kamu, aku tau yang harus ku kejar dan kulakukan sekarang," gumam Gale.


Drrt..drrt..


Ponsel Gale bergetar.


"Assalamualaikum, iya..iya..Gale udah di depan, abang sayang! Dari depan rumah sakit kan harus jalan, cape nih! Sakit pinggang Gale," jawabnya seraya melangkah masuk.


...----------------...


Benar saja dugaan orang-orang sekitarnya, bentukan perut Gale yang hampir menyerupai balon Lala si teletubbies, ternyata isinya pun ada dua nyawa disana, saling berdesakan seperti sempitnya kontrakan Fatur dulu. Ga anak, ga bapak hobinya desak-desakan.


Bibir Gale mengerucut beda halnya dengan Fatur yang tersenyum lebar.


"Abang, Gale ngeluarinnya gimana kalo kembar gini?!"


"Ya dilahirin lewat jalan lahirlah, masa di muntahin," jawab Fatur asik melihat kedua kecebongnya di dalam potret 3D.


"Ish, dokter nyebelin!" sungut Gale.


"Pantesan gembul banget, rupanya anak abang langsung dua di dalem!" serunya bahagia.


"Gale lapar ih! Otak Gale ngebul, soalnya susah-susah!" keluhnya.


"Oke! Mama kakak sama dedek lapar, yuk kita makan, abang udah pesenin makanan."


Gale sampai lupa dengan makanan yang diberi anak-anak ontynya, ia membuka kotak makan dimana ada potongan buah segar untuknya.


"Dari siapa?"


"Anak-anaknya onty sama onta, tadi mereka datang buat nyemangatin Gale, bang!"


"Oh,"


Noted:


Fighter : pejuang

__ADS_1


Benclung : sikapnya seperti anak-anak, bila berbicara tanpa aling-aling.


Reseller: penjual kembali/ orang yang menjual kembali.


__ADS_2