Gadis Nakal Om Dokter

Gadis Nakal Om Dokter
Kehadiran seseorang


__ADS_3

Langkah Fatur membawanya keluar dari ruangan.


"Tur, kemana?" tanya Teri berjalan menghampiri. Dilihat dari tampilannya tanpa snelli dan stetoskop, sepertinya Fatur akan pergi.


"Pulang, hari ini jam praktek habis."


Tak percaya dengan jawaban Fatur, ia mengernyitkan keningnya beberapa kerutan.


"Loe ambil praktek di rumah sakit lain?" tanya Teri, Fatur menggeleng.


"Udah dibilang mau pulang," wajahnya sedikit gusar.


"Tumben, apa di rumah ada yang urgent? Ga biasanya loe balik secepet ini, kalaupun jam praktek abis lebih milih nge-gym?" tanya Teri. (darurat)


"Urgent banget! Masalah masa depan, ga bisa di nanti-nanti," jawabnya.


"Oh oke bro! Hati-hati, gue do'ain masalahnya cepet terselesaikan!"


"Duluan Ri," Fatur bergegas meninggalkan Teri dengan beberapa kali gelengan kepala sambil mengulum senyuman, jika dipikir-pikir tingkahnya memalukan, sampai berbohong pada Teri hanya karena ingin segera bertemu Galexia.


...----------------...


"Eh, udah pada milih-milih kampus belum nih?" tanya Lila, semilir angin siang melambai bersahabat mengiringi langkah kelima anak badung ini menuju parkiran, waktu berjalan begitu cepat untuk mereka, tidak terasa keberadaan mereka disini hanya tinggal menghitung bulan saja.


"Mau coba almamater kuning lah, siapa tau jodoh!" seru Faisal berjalan paling so keren dengan memasukkan tangan ke saku celana, dimana di dalamnya hanya ada ponsel dan uang logam seribuan 3 buah.


"Tos!" pinta Gale, berada di antara Faisal dan Irvan.


"Gencringgg!" ketiganya berhamburan jatuh dari saku Faisal seraya Ical mengeluarkan tangan untuk bertos ria dengan Gale.


"Nyawer nih!!" Andini dan Lila langsung saja memungut uang Faisal.


"Woy, duit gue tuh!" sewot Ical.


"Orang udah loe buang juga!" balas Lila tak kalah sewot.


"Sesuatu yang sudah dikeluarkan tak bisa diambil lagi, pamali!" sahut Andini, dimana ia memegang salah satunya. (hal tabu biasanya suatu larangan)


"Ha-ha-ha, loe bertiga ributin duit 3 ribu perak! Ga malu apa, ribut sampe segitunya? Merosot tajam pamor Pandawa borr!" Irvan menengahi.


"Au, keliatan kan modalnya, Ical nih cowok kere. Motor aja bagus, modal 3 ribu perak, cuma cukup jajanin cewek keripik kantin!" timpal Gale, Andini dan Lila tertawa.


"Le, elah! Makjleb banget omongan loe! Ini tanggal tua Le," jawab Ical memberikan pembelaan.


"Ga mau lah gue punya cowok kaya Ical," ejek Lila.


"Kimvrittt, awas loe kalo nanti jadi bucin gue!" tunjuk Ical.


"Otak loe emang nyampe kalo daftar ke sana Cal?" tanya Gale.


"Emak loe sama emak gue satu geng, jadi sering gosip bareng. Kalo ada apa-apa pasti info-infoan. Tuh, anaknya ceu Sha-Sha aja kalo ulangan bagus. Nah kamu, apa kabar?" tiru Ical.


"Masalah diterima apa engga biar jadi urusan Allah, yang penting gue ada usaha daftar, biar ga dibanding-bandingin mama sama loe!"


"Iya, termasuk info angkot itu nyampe di kuping momy, gara-gara loe ember sama tante Mirna!" sembur Gale, membuat Faisal senyum pep sodent.


"Otak secuil, hasil dapet digade aja pengen masuk almamater kuning, Cal!"

__ADS_1


"Bwahahahaha!"


"Si@*lan, kimvrit emang punya temen!" wajahnya sinis penuh kekesalan, kalo bisa dia lempar surikennya naruto, bakal ia lempar mulut-mulut bergelimang dosa teman-temannya ini.


"Kalo Lele masih bisa dipertimbangkan soalnya pinter, tapi kalo Ical gue ko pesimis duluan," memang mulut mereka sadis, sesadis lagu Afgan.


"Gue mah langsung capcus almamater hejo ajalah bekas momynya Lele," jawab Andini membawa semua helai rambutnya dan mengikat satu diatas, meskipun ber-angin tapi siang ini cuaca panas, kaya lagi ditaruh diatas kompor. Melihat wajah-wajah kamvrett teman-teman yang sudah menemani selama hampir 3 tahun dalam suka dan duka mendadak membuat wajah Irvan jadi murung.


"Gue kayanya pengen nyoba daftar ke Bandung deh," air muka Irvan berubah sendu, sontak mereka menghentikkan tawanya kemudian memandang Irvan penuh keterkejutan dan tanda tanya.


"Loh kok?"


"Kalo loe keterima, loe pindah dong Van?" raut wajah Andini cemberut.


"Yahh...personel kurang satu?!" sahut Lila memelas, Gale mengangguk setuju dengan Lila.


"Udah cita-cita Irvan kesana, iya kan Van?" tepuk Ical di pundak Irvan seraya menebar senyum positif, seolah memberikan semangat untuk Irvan.


"Gue bakalan sering-sering balik buat ngumpul, lagian kita kan ada grup chat bareng-bareng!" Irvan memeluk ketiga gadis ini.


"Ko gue mendadak melow ya, baru kali ini gue ga aminin do'a temen gue sendiri!" ujar Gale.


"Sue njayyy! Aminin Le, cita-cita gue tuh!" Irvan menekan kepala Gale di ketiaknya karena posisi Gale yang paling dekat dengannya, hingga si bontot ini nyungsep di ketiak Irvan.


"Le, itu mobil om dokter bukan sii?" Lila menunjuk dengan alis berkerut agar penglihatannya lebih fokus, keempat pasang mata lainnya memandang ke arah telunjuk Lila.


"Iya, tumben amat udah nyampe disini. Biasanya juga aga telat, gue bisa nongki-nongki dulu?!" Gale menaikkan kedua alisnya setinggi yang dia bisa.


"Abang udah jemput tuh, ngapain masih bengong disini?!" suara itu berasal dari belakang Gale.


Fathya berjalan duluan melewati Gale dan teman-temannya.


"Huuh lah," setuju Lila.


"Insap kalii, takut kena azab!" mulut toa Faisal.


"Kan katanya mau jadi adik ipar yang baik mulai sekarang, bagus dong?!" jawab Irvan.


"Udah lah positif thinking aja. Selama bontot ga napa-napa. Gue rasa kekhawatiran loe berdua berlebihan!" Irvan berjalan duluan menuju parkiran.


"Iya sih, Van tunggu!! Nebeng!!" pekik Andini berlari menyusul Irvan.


"Woy elah pada ninggalin!!" Lila berlari disusul Faisal, sementara Gale, ia tak mau jika harus lari-larian begitu. Luka di kakinya saja masih belum kering benar, ditambah semua badannya yang seperti dihempas dari lantai 3 gedung membuat Gale berjalan saja santai bak di catwalk.


"Hay om dokter, makin sip aja!"


"Jemput Gale ya om, om kalo punya temen dokter muda, ganteng maaih single juga kenalin dong! Siapa tau jodoh Lila!"


"Jodoh loe dari Hongkong, ngaco! Yuk balik!"


"Maaf bang Fatur, dia emang aga ga waras, ga usah di dengerin!"


Dari pandangannya meski masih dalam jarak jauh kedua teman perempuannya itu terlihat menggoda Fatur, Gale terkekeh kecil saat Fatur hanya bisa menebar senyum, digoda gadis-gadis blasteran spongebob dan patrick itu.


"Lele, bontot ! Duluan ya?! Hati-hati loe!" pekik Lila dan Andini melambaikan tangan dari boncengan Irvan dan Faisal.


"Bye!" balas Gale.

__ADS_1


"Abang tumben jam segini udah sampe sekolah?" tanya Gale dengan mata yang tertumbuk di jam tangan miliknya.


"Kebetulan jam praktek cuma sampe jam istirahat, jadi abang pulang," jawabnya membuka pintu mobil untuk Gale, Gale menyipitkan matanya pada Fatur, mencium adanya bau-bau kebohongan.


......................


Gale melihat ada sandal yang berbeda di depan teras, "loh ada tamu ya?" Fatur merangkulkan tangannya di bahu Gale setelah memarkirkan mobil.


"Assalamualaikum!" Fathya mengawali salam.


"Eh, ada mak Mpon!" salimnya takzim pada seorang perempuan paruh baya berjilbab instan berwarna coklat dengan gamis motif bunga-bunganya, terlihat kerutan di sekitar kulitnya menandakan jika ia memang sudah tak muda lagi, disertai bau minyak sereh darinya.


"Siapa bang? Tamu mamah?" tanya Gale.


"Tamu abang, lebih tepatnya tamu kamu," jawab Fatur.


"Mak," sapa Fatur ikut salam, Gale masih menatap kebingungan, tak mengenali sosok ini. Tapi tak urung ia ikut salim.


"Ini.." tunjuknya tak melepaskan tangan putih Gale.


"Nah mak, ini istri Fatur.." mama memperkenalkan.


Buk..


Buk..


Gale cukup terkejut, ibu ini menepuk-nepuk punggung kecilnya dengan lumayan keras.


Mama dan Fatur tertawa, sementara Fathya sudah masuk kamarnya duluan. Mama lantas berjalan menuju ruang makan.


"Elah, ini bini Fatur?! Cantik bener, bening n'tong! Bisa banget lu pilih gadis, tapi..." ucapnya keras dan cempreng, ia meneliti Gale dari atas sampai bawah. (panggilan anak laki-laki)


"Masih sekolah, neng?" tanya nya.


"Iya mak, kelas XII.." Gale menjawab.


"Ga apa-apa ya neng, udah jodohnya deket. Mak juga nikah sama laki waktu masih umur 16 taun, belum ada ktp malah! Diterima aja ikhlas. Toh Fatur anaknya bae, ganteng, tajir sekarang mah, pan dokter!" ucapnya dengan logat bicara yang khas.


"Nah, neng makan dulu deh! Mak tungguin, udah gitu ganti sampingan!" pintanya.


"What?!!! Sampingan?!" jika perlu matanya harus ditahan selotip agar tak keluar dari tempatnya.


"Ha?! Gimana-gimana?" tanya Gale, otaknya terlalu ngebul karena pelajaran, jadi tak bisa mencerna maksud dan tujuan si emak.


"Mau ngapain?" tanya Gale melirik Fatur, ini pasti perbuatan abang abal-abalannya ini.


"Lah, pan kita mau pijit neng?!" mak Mpon mengernyit. (kita\= saya)


"Tenang, mak kalo mijit bikin nagih. Abis pijit pasti segeran neng! Kenceng!"


"Apanya yang kenceng mak?" jidat Gale semakin berkerut.


Fatur kembali mengulum bibirnya ingin tertawa.


"Mak, ngikut makan nyok!" ajak mama, menyembulkan kepala dari ruang makan.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2