Gadis Nakal Om Dokter

Gadis Nakal Om Dokter
Request lagu


__ADS_3

Fatur sampai di rumah sakit, memposisikan mobilnya untuk parkir.


Titt!


Ia segera menginjak rem dengan spontan, hingga mobil terhenti mendadak.


"Astagfirullah!"


Dari tadi otak warasnya terbakar oleh api, sebelumnya ia tak pernah uring-uringan macam ini. Lebih seperti perempuan yang akan memasuki fase mens truasi.


Ia menghembuskan nafasnya, mencoba mengembalikan logikanya, memang benar jika jealous adalah salah satu faktor penyebab orang-orang pintar mendadak oleng dan menjelma jadi angry bird. Baru begini saja ia sudah seperti remaja tanggung yang baru merasakan jatuh cinta dan patah hati sekaligus dalam satu waktu, apalagi jika Galexia membalas setiap pesan yang kemarin. Bagaimana akan membalas, pesannya saja langsung dihapus Fatur sebelum Gale membacanya, tak sopan? Katakanlah begitu, ia tak peduli. Mungkin seharusnya orang-orang yang ingin berkenalan dengan Gale harus memakai password khusus, dengan menyebutkan nama perempuannya.


Fatur masuk ke dalam ruangannya, dengan menenteng paper bag berisi bekal yang dibuat Gale untuknya. Roti gandum sudah dirubah jadi nasi bento, lalu ada salad buah dibubuhi yogurt sedikit naik level.


"Gale sudah sehat?" tanya Teri, entah sejak kapan ia masuk dan berada disana. Teman tak ada akhlak ini malah menggagalkan pembersihan toxic dalam pikirannya saat ini.


"Kenapa? Loe juga mau ngajak Gale kenalan?!" tembaknya sengak pada Teri.


"Dih," jelas saja dokter spesialis penyakit dalam itu terkejut dengan pertanyaan Fatur, pertanyaan macam apa itu? Tapi tak berapa lama Teri tertawa.


"Orang kalem nyebelin banget cemburunya!" tawanya semakin mengejek membuat Fatur melemparnya dengan pulpen.


"Gale diajakin kenalan? Siapa orangnya?! Berani banget godain istri dokter Faturrahman Al-Lail, ga tau dia berhadapan sama siapa, macam-macam, saya buat kamu gagal jantung!" ejek Teri, sementara Fatur menumpukkan dagunya diatas kedua tangan diatas meja menatap Teri tajam, kuliti saja dokter spesialis penyakit dalam ini!!! Ganti saja jantungnya dengan jantung ayam!!! Begitu kiranya isi pikiran Fatur.


Fatur bangkit dan memakai snelli yang tergantung rapi dan bersih di dekat lemari.


"Hey, anak muda! Mau kemana?!" Teri sangat puas tertawa, tapi Fatur tak menjawab pertanyaan dokter gila itu dan lebih memilih pergi dari ruangannya bersiap bekerja.


...----------------...


"Hay ladies! Ikut gabung dong!" seorang yang Gale kenal ikut nimbrung dengannya dan Nadia. Si pria putih bermata sedikit sipit, mirip-mirip Teri.


"By the way kemaren kamu keren Galexia," ia duduk melantai di depan Gale dan Nadia di selasar koridor depan ruangan kelas.


"Kepanjangan nih manggilnya, biasa dipanggil apa?" tanya Arlan.


"Hamba Allah," jawabnya menyuapkan potongan buah pir berlumur yogurt ke dalam mulutnya.


Pfffttt, Nadia dan Arlan tertawa.


"Kamu lucu!"


Selain cantik, entertaining, Gale juga humoris. Cocok untuk laki-laki dengan golongan sifat dingin-dingin macam es kepal. Survei membuktikan bukan cuma cewek saja yang suka dengan cowok humoris, tapi kaum adam dengan kepribadian entahlah pun menyukai wanita humoris.


*****


"Anak-anak gugus kita mau kasih apa nih buat kenang-kenangan kaka cofas?" tanya Arlan pada teman-teman lain.

__ADS_1


"Udahlah voucher makan aja sekalian kita makan-makan, gimana?" tanya Tania.


"Boleh tuh! Biar mempererat silaturahmi,"


"Bilang aja pengen deket-deket ka Aisyah,"


"Wooo!"


"Menurut aku sih, oke-oke aja. Kan kalo makanan masuk perut juga, kalo barang kita ga tau apa yang disuka," usul Gale.


"Gimana? Fix nih ngajakin kaka cofas makan-makan, kapan nih?"


"Yang jelas nanti kalo udah selesai acara,"


Jika biasanya di hampir semua kampus, kalangan anak-anak Teknik selalu mendominasi definisi keren dan asik, karena kebanyakan cowok-cowok keren berada disana. Lalu anak kedokteran didominasi oleh seorang pintar nan tajir melintir. Tapi tahun ini dengan hadirnya Galexia akan ada sedikit perubahan, Gale selalu menciptakan dunia pelanginya sendiri.


Anak-anak kedokteran terkenal sedikit kalem karena level kecerdasannya lebih unggul, tapi cenderung aga sepi.


"Fakultas teknik rame banget!" tunjuk Tania, di gedung sebrang mereka, tak terlalu jauh hanya berjarak beberapa meter.


"Ya ramein lah!" ujar Gale memasukkan kembali ponsel, setelah melihat isi chat absurd geng Pandawa. Kebetulan sekali maba diberi waktu untuk sekedar mengakrabkan diri satu sama lain. Tapi bukannya akrab, mereka malah sibuk dengan dunianya masing-masing.


"Ka Abi!" salah satu cofasnya melintas dengan membawa gitar milik salah satu anak teknik angkatannya.


"Iya Galexia, kenapa?" Nadia juga Arlan saling pandang, tak tau apa yang akan dilakukan bumil satu ini.


"Bukan, punya anak Teknik. Kenapa, mau pinjem?" ia menawarkan.


"Iya, daripada sepi kan?" jawab Gale.


"Boleh, boleh! Aisyah masih di toilet, Saka barusan lagi ke ruang panitia buat nanyain jadwal pemateri. Saya panggil dulu, biar keliatan kompak gitu anak gugus sama cofasnya!" Abi menaik turunkan alisnya.


"Boleh!"


Mereka yang asalnya sibuk sendiri, akhirnya memalingkan perhatiannya saat Gale membawa gitar dari tangan Abi.


"Oy, guys! Jangan mau kalah sama anak Teknik dong! Tunjukkin kalo kita juga bisa rame, orangnya asik-asik plus kompak!" Gale menarik kursi di depan. Abi datang bersama Aisyah dan Saka.


"Kak, mumpung masih belum ada pemateri. Kita nyanyi-nyanyi bareng biar kerasa kebersamaannya!" ajak Gale.


"Boleh, boleh. Wahhh! Jarang-jarang nih anak kedokteran multitalenta begini!" seru Aisyah.


"Enaknya di depan aja gimana, duduk melingkar?" tanya Saka.


"Boleh kak," akhirnya setelah Gale memulai mereka mau ikut.


"Aku juga di bawah deh!"

__ADS_1


"Eh, jangan ga apa-apa. Takutnya perut kamu ga bisa?!" tanya Aisyah mengangkat kedua alisnya ikut meringis.


"Bisa ko, bisa!" jawab Gale, dia duduk bersila di bawah.


"Nyanyi apa nih?! Ada yang mau request ngga?" tanya Gale, mulai menyesuaikan nada dan melatih kembali sendi-sendi jarinya agar tak kaku dalam menekan kunci, sudah aga lama ia tak bermain gitar. Terakhir ia bernyanyi bersama momy di rumah meskipun suara momynya lebih cocok dipakai untuk demo saja. Sebenarnya suara momynya bagus, tapi lebih bagus diam. Mungkin bakat Gale ini turunan dari sang ayah dan onta-ontanya.


Suasana mulai mencair, mereka tertawa dan saling bercanda sambil bernyanyi-nyanyi. Suara merdu nan permainan gitar Gale yang asik membuat maba dan para panitia ikut melirik kemana arah sumber suara. Lagu yang ia mainkan beragam, terkadang dangdut yang bikin mereka tertawa, pop yang bikin mereka bernyanyi dan menangis bersama. Ditambah Saka dan Aisyah yang sesekali menjadi penari lattar di tengah bersama Nadia dan Arlan.


"Itu beneran dari ruang anak-anak kedokteran kan? Ga salah nih gue?" tanya Putri pada temannya. Beberapa dari senior sampai melongokkan kepalanya keluar ke arah ruangan fakultas kedokteran. Pintu masuk ruangan itu telah sesak oleh mahasiswa yang ingin melihat keramaian yang jarang terjadi di fakultas terkenal dengan ke-kalemannya.


Bumil satu ini benar-benar selalu bikin heboh dimanapun ia berada. Aura yang dipancarkannya, menarik atensi orang-orang.


"Keren! Rugi banget cowok yang ninggalin doi," gumam Robi yang sedang bersama Randi mengangkat logistik membantu panitia bagian logistik.


"Hm," jawab Randi setuju.


"Request dangdut Melinda...Melinda!" seru Arlan.


Gale terlihat berpikir, lalu ia menjengkat, "ah iya, gue inget!" jemari lentik itu memetik gitar yang dipegangnya seraya tersenyum geli.


"Njayyy!" seru mereka.


"Cinta satu malam oh indahnya...cinta satu malam buatku melayang, walau satu malam akan slalu ku kenang..." mereka bernyanyi bersama, dangdut memang selalu bisa menyatukan rakyat. Entah pikiran dari mana, Robi melirik Randi yang ikut terdiam, padahal lagu yang dibawakan Gale hanya kebetulan saja bukan isi hatinya.


"Cinta satu malam borr!" ucapnya menyenggol Randi.


"Ck," decaknya tak banyak berkomentar.


"Ka! Pemateri udah hadir! Buruan, malah pada asik joget," ucapan Jovan menghentikkan aktivitas mereka.


"Oh oke! Guys, kita sambung lagi nanti ya. Sekarang pematerinya udah dateng,"


"Galexia, thanks ya!" ucap Aisyah, Saka, dan Abi dijempoli Gale.


"Ini gitarnya kak Abi," Gale menyerahkan gitar.


"Kak, boleh ijin sebentar ke toilet kan?" interupsinya.


"Boleh deh, tapi cepetan ya!"


"Aku juga lah, ikut!" pinta Nadia berlari menangkap lengan Gale.


"Ajarin aku dong Galexia, kayanya liat kamu main gitar enak banget!" dengan mata berbinar menatap Gale.


"Panggil aja Gale atau Dara, kepanjangan kalo Galexia.." pinta Gale.


"Iya," senyum Nadia.

__ADS_1


__ADS_2