Gadis Nakal Om Dokter

Gadis Nakal Om Dokter
Selamat bertugas dr. Oriza


__ADS_3

Gale masuk ke dalam cafe duluan, setelah berhasil menghentikkan serangan buaya dengan cubitan kerasnya di pinggang Fatur. Enak saja, dipikir dia lon t3 kelas teri mau di garap dimana saja.


Sosok tubuh Ori baru saja berdiri dari duduknya, dengan memakai kemeja biru dan swetter rajutnya, sepertinya Ori langsung berangkat dari sini.


Gale menoleh pada Fatur memasang wajah sendu seperti minta dikasihani. Fatur bukan tidak tau maksudnya, ia mengangguk meskipun ada rasa keberatan.


"Bang Ori!!!" Gale menyerbu memeluk Ori yang baru berdiri mungkin sudah akan pamit dari sana, lelaki itu sampai terpundur. Sedih menyeruak di dada, terang saja lelaki yang hampir seumur hidupnya ia kenali seperti kakak kandungnya sendiri akan pergi, kenangan bersama Ori jelas lebih banyak dan tentunya diisi dengan kenangan kocak, bahagia dan absurd dibanding dengan Fatur.


"Loe tega ih ninggalin gue!!" Gale menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Ori lalu memukul-mukul dada Ori.


"Loe kenapa biarin Kia sama orang lain,"


"Sakit cah! Tenaga loe, tenaga kuda nil! Badan loe sekarang udah bengkak," kekeh Ori, meskipun kekehan itu terkesan palsu. Kedekatan mereka memang diakui family Route 78, tapi mau bagaimana lagi, si gemoy mereka ini hanya menganggap Ori sebatas kakaknya tak lebih dari itu.


"Coba apa nih?! Dipeluk-peluk bini orang?! Level gue segitu turunnya, udah ga laku lagi sama perawan?"


Fatur masuk belakangan, ia memang cemburu tapi ini bukan saat yang tepat untuk begitu, ia sangat mengerti, logikanya lebih berjalan ketimbang egonya. Semua yang ada disana terkejut dengan kehadiran Gale apalagi dengan tindakannya barusan jelas-jelas di depan Fatur.


"Le,"


"Jangan so so'an mulia loe! Pake mengabdi segala di tempat yang jauh akses kemana-mana, gue tau loe suka clubing!" sengak Gale mengurai pelukannya.


"Cih, omongan loe ga enak banget. Gue emang udah mulia dari sononya, ga usah buka kartu."


"Ini anak datang-datang main meluk aja?! Ga liat itu suami kamu melongo di belakang?" tanya Shania.


"Abang ga akan marah, banyak fansnya ini kok!" ia menoleh ke arah Fatur dengan sorot mata yang masih kesal atas kejadian tadi.


Ori terkekeh, "si bocah cemburu nih ceritanya? Udah gue bilang cah! Laki loe ini dingin-dingin banyak yang suka." Ori kembali duduk di meja, yang isinya ada Shania, Arka, Andro, Dimas, Raya, dan Aldo adik dari Ori, juga family Route 78.


Gale mengedar menyalami satu persatu orangtua disini.


"Sehat geulis?" tanya teh Mila. (cantik)


"Alhamdulillah tante,"


"Meni udah gede gini, berapa bulan?" tanya teh Mila, mengusap lembut perut Gale.


"Iya Le, perasaan udah gede aja. Udah berapa bulan?" tanya Arga ikut menyoroti perut Gale.


"5 bulan kalo ngga salah, ya bang?" tanya Gale memutar kepalanya pada Fatur, pria itu menarik kursi untuk ia dan Gale.


"Iya,"


"Sehat-sehat Gale, semoga lancar!" ujar Sifa.


"Iya aamiin,"


Raya tersenyum, "kata neng Sha kembar makanya gede?"


"Iya tante,"


Kemudian Gale mengarahkan tangannya pada Dimas lalu menunduk menyentuh punggung tangan pria yang hampir jadi mertuanya ini, "ini calon mantu ngga jadi," selorohnya mengusap-usap punggung Gale.


Gadis itu tertawa kecil. "Belum jodoh om, kayanya kalo bang Ori jodohnya mesti yang kalem kaya tante Raya, takut gelas piring pada terbang kalo sama Gale, kalo engga rebutan hairdryer tiap pagi,"


"Cih, asem ni bocah!" decih Ori.


"Turunan siapa kembar?" tanya Lukman. Fatur ikut berfikir, rasanya di keluarganya tak ada gen kembar.


"Turunan Sha, teh!" jawaban santai Shania jelas membuat mereka terkejut termasuk Arka.


"Ha?!" Arka menahan mulutnya setengah mati agar tak terperangah.


"Momy kembar?" tanya Gale duduk di samping Fatur dengan tatapan terkejut ke arah Shania.


"Iya, tapi kembaran momy meninggal waktu dilahirin, Shalia namanya,"


"Kok Sha ga pernah bilang sama mas?" tanya Arka, keningnya berkerut melihat Shania.


"Lupa."

__ADS_1


Pffftttt, Gale meledakkan tawanya. Memang begitulah momynya ini, terlampau santai menyikapi sesuatu, sepertinya jika ia disandera dan ditodong senjata pun ia masih akan santai ngopi-ngopi.


"Watados," tawa Gale.


"Sama banget kaya kamu," bisik Fatur pada Gale.


"Ini gimana ceritanya nikah hampir 20 tahun tapi ga tau kalo Shania punya kembaran? Wah, gelar suami idaman tuh patut dipertanyakan Ka?" goda Lukman.


Arka menghela nafas dan menggelengkan kepalanya, satu fakta penting yang harusnya ia tau, tapi bahkan ia sendiri tak pernah bertanya, setaunya selama ini Shania hanya anak tunggal.


"Ya namanya juga lupa, orang lupa berarti ga inget! Shalia udah tenang di alam sana juga, ga usah ngungkit luka lamanya bunda sama ayah. Makanya bunda ga mau punya anak lagi setelah Sha lahir mas, takut kejadiannya sama kaya Shalia," jelas Shania.


Tiba-tiba Gale dilanda rasa khawatir atas cerita momynya, bagaimana jika....ia melirik Fatur yang ada di sampingnya dengan alis mengernyit dan muka tegang.


Fatur menarik senyumannya seraya menggenggam tangan Gale yang bertumpuk di pangkuan wanita-nya, menyalurkan kekuatan dan rasa tenang untuk Gale.


"Ga apa-apa. Semuanya bakalan baik-baik aja,"


"Udah ah! Bahas yang lain aja, masih sore nih, udah ngomongin orang meninggal aja!" tukas Gale mencomot cake di piring Andro.


"Ih, celamitan!" desis Andro.


"Dikit ndro, pelit!" nyengir Gale.


"Na..!" panggil Arka.


"Ya pak?!" ia sedikit berlari menghampiri bosnya, dengan seragam kaos hitam bertuliskan Route 78 di punggung.


"Bikin latte buat Fatur, sama jus jeruk buat Gale sekalian cake choco lavanya," pesan Arka.


"Eh, jangan jus jeruk lah mbak Tina! Kembung perut Gale isinya bulir jeruk semua, tadi aja abis 3 gelas sampe pipis terus ini. Ganti sama cokefloat aja mbak," ucapnya. Wanita berambut panjang dikepang ini mengangguk, "favorit neng Dara?!" tanya nya.


"Betul!" angguk Gale.


"Jangan!!"


Gale sampai terkejut dibuatnya, Fatur, Ori dan Arka kompak melarang pesanan Gale.


"Jangan soda atuh neng," ujar teh Mila, kening Gale berkerut, "emang ga boleh ya?"


"Buat Gale air putih aja mbak," sela Fatur.


"Hah?!" ia menoleh cepat tak percaya dengan ganti yang diminta Fatur.


"Bwahahahaha!" Ori meledakkan tawanya melihat wajah kecut Gale saat cokefloatnya berubah jadi air putih.


"Kamu udah kebanyakan gula," Fatur berucap bijaksana di samping Gale yang sudah merengut sepaket dengan wajah yogurtnya, masam.


"Laki loe lebih parah dari gue, kesian banget ni bocah!" tawanya tak henti, membuat yang lain ikut mengulum bibirnya bahkan tertawa kecil, mungkin nanti ia akan merindukan tertawa seperti ini.Menertawakan dan menggoda Gale sampai puas yang bisa membuat rasa penat dan lelah hilang. Sungguh Ori menyesal dimana hari ia menyanggupi taruhan bersama Gale.


"Biar sehat Le," tawa Sifa.


"Biar fokus Le, ga oleng otaknya kaya istri mas Arga, nih!" tunjuk Arga pada Sifa.


"Ck! aku oleng, kamu udah lama ga warasnya!" balas Sifa.


"Nih orang berdua berantem terus dari dulu, udah pada merit juga!" lerai Lukman.


"Gue jadi penasaran loe berdua pas malam pertamaan gimana, apa berantem sampe kamar ancur?" kekeh Dimas bertos ria dengan Lukman. Arka memijit pangkal hidungnya, begini jika teman-temannya sudah berkumpul, tidak Kurawa, tidak family Route 78 pasti berisik dan ribut.


"Udah jam segini nih, Ori harus udah meluncur, yang jemput udah deket," Ori merapikan bajunya.


Raya dan Dimas memeluk Ori sekali lagi, begitupun yang lain.


"Hati-hati Ri," tepukan Dimas di punggung putranya.


"Jaga kesehatan Ri," peluk tante Raya, meskipun ia adalah ibu sambung tapi tante Raya sudah seperti ibu kandungnya sendiri.


"Jaga solatnya Ri," pesan Arka.


"Makasih om,"

__ADS_1


"Ori, jangan lupa berkabar. Jangan lupa buat pulang, bawa mantu buat ka Dimas sama teh Raya," Shania mengusap lengan Ori.


"Iya tante Sha,"


"Loh, ga pake mobil bang?" tanya Gale celingukan mencari mobil silver milik Ori.


"Engga, dari sana dikasih motor inventaris, dikasih transport juga buat nyampe ke tkp." Jawabnya memeluk Gale untuk yang terakhir, pelukan erat untuk menyalurkan rasa rindunya yang sudah pasti akan bersarang di palung hati. Mereka mengantarkan Ori keluar, dan satu persatu masuk kembali ke dalam, hanya tersisa Fatur juga Gale.


"Tur, kalo nanti gue ketemu perawan desa, gue kabarin. Buat dijadiin selir, bini muda...bini muda!" ucap Ori menaik turunkan alisnya tanpa rasa bersalah, sontak saja bumil ini menatap penuh dendam.


Grekkk!


"Awww njirrr! Galak!" aduh Ori.


Fatur tertawa melihat Ori meringis saat kakinya diinjak keras Gale.


"Ga usah ngajak-ngajak terjun ke lembah dosa deh bang, loe aja yang nikah! Gue ogah dimadu, mendingan di racun sekalian!" sengitnya menatap Ori dan Fatur bergantian tajam.


"Tikus dong?!" ia semakin puas, ini akan menjadi godaannya yang terakhir.


"Nanti lah gue coba bujuk bini tua biar luluh terus mau," bukannya menolak, Fatur malah bersekutu dengan Ori menggoda istrinya, Ori tertawa lepas akhirnya ia punya partner menggoda bocah cantik ini.


"Dih, abang tidur di luar ya?!" sungutnya.


"Abang punya kunci cadangan. Bisa buka pintu kamar tengah malem," jawab Fatur.


"Dasar dokter-dokter gila!" sarkas Gale, keduanya tertawa.


"Le, bisa masuk dulu gabung sama yang lain. Abang mau nemenin Ori nunggu jemputannya sambil rokok'an," pinta Fatur mengusap pipi Gale.


"Iya,"


"Sekalian minta nomor lain Tur, biar bisa kabar-kabaran. Bocah jangan tau!" sahut Ori.


Gale menunjukkan kepalannya pada Ori, "loe liat ya bang, gue acak-acak desanya kalo berani?!" ancamnya, Gale membalikkan badan dan masuk ke dalam cafe.


Hening... kedua pasang mata pria itu menatap setiap langkah Gale melewati beberapa meja cafe sampai duduk di samping Andro dengan penuh kehangatan sebuah cinta.


"Akhirnya gue yang harus kalah," ucapnya tertawa getir, merogoh sebuah kardus kecil berwarna putih berisi batangan-batangan tembakau, lalu menyalakannya dengan korek bensin dari saku yang sama. Tangannya terulur menawari Fatur, mereka tau ini tak sehat, tapi sebagai lelaki normal mulut yang sudah pernah mencoba pasti akan candu, meskipun tak sering. Paling disaat tertentu saja.


"Jaga tu bocah nakal, dia pasti banyak repotin loe," ia menghela nafas dan kembali memandang Gale dimana ia tengah bercanda heboh dengan pasangan absurd Arga-Sifa, juga teh Mila dan Lukman. Mengingat dari dulu Gale sering membuatnya risih, tingkah manja sampai kurang aj arnya Gale, selalu mewarnai hari-hari Ori. Kilasan-kilasan kenangannya bersama Gale menari-nari di dalam otaknya. Bahkan pernah Ori mencegat pemuda yang menyukai Gale dan menyuruhnya menjauhi gadis itu.


Miris bukan? selama ini yang ia lakukan adalah menjaga jodoh orang. Tapi Ori tak berpikiran seperti itu, baginya Gale adalah bagian dari dirinya yang harus dijaga.


"Thanks," Fatur menyesap benda berfilter, sudah lama sejak kedatangannya ke gang Irit sepertinya ia tidak merokok.


"Rasa sayang gue tetep kalah sama rasa cinta loe ke Gale, meskipun sama-sama sayang dia dari kecil. Entah gue yang salah taktik," ucapnya. Tanpa mau menyela, Fatur diam saja menjadi pendengar yang baik.


Kedua dokter muda ini tengah berada di luar sisi kanan cafe seraya menikmati sebatang rokok bersama sebagai moment perpisahan. Dari sini akan terlihat arah mobil yang menjemput Ori. Tertawa bersama menceritakan setiap kejadian konyol Galexia, hingga hisapan terakhir dan terpaksa mereka harus menghentikannya saat sebuah mobil berwarna hitam sejuta umat berhenti tepat di depan mereka.


"Dokter Oriza?" tanya seorang bapak paruh baya masih memakai kemeja safari.


"Iya. Pak Asep?" tanya Ori.


Ia tersenyum lebar menampakkan beberapa garis kerutan di sudut matanya.


"Betul pak dokter. Saya mau menjemput dokter Oriza,"


"Tur, gue pamit ya! Kabarin kalo bocah nakal itu lahiran, mungkin nanti gue coba buat minta cuti." Ori berdiri dan merapikan kerutan di celananya akibat duduk, lalu menyeret kopernya.


"Biar saya saja pak dokter," tangan tua itu mengambil alih koper Ori.


"Hati-hati, selamat bertugas dokter Oriza," ucap Fatur tulus. Untuk terakhir Ori menatap bangunan cafe, dari sinilah kisahnya berawal, mengenal gadis kecil bernama Galexia bersama semua kenangannya disini juga kisahnya harus ia akhiri. Berharap disana ia akan mengukirkan kisah baru.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2