
"Gale," mereka mendekat.
"Apa yang dirasain sekarang?" tanya Fatur.
"Gale aus bang," Fatur mengambilkan air minum untuknya, Beberapa tegukan bisa membasahi kerongkongan Gale.
"Momy, momy kenapa nangis?" Shania langsung memeluk anaknya ini.
"Bisa ngga sih kamu jangan bikin orang-orang jantungan?" sembur Shania, tangan Gale belum sepenuhnya dibersihkan Fatur, kini mengusap air mata di pipi Shania.
"Gale ga apa-apa mom, kan punya dokter pribadi."
"Oon!" Shania mendorong pelan jidat Gale yang berada dalam dekapannya, membuat Deni dan Guntur terkekeh.
"Ya Allah," Shania menangkap tangan putrinya, diliriknya tangan dengan noda da rah kering.
"Kalo ayah nanya momy bingung mau jawab apa, momy masih inget dulu kalo kamu jatoh terus berda rah. Ayah yang paling sigap obatin kamu," Fatur semakin dalam menunduk merasa bersalah. Bagaimana jika mereka tau si pelaku adalah bapaknya.
"Kalo gitu jangan dikasih tau," jawab Gale.
Shania menggeleng, "ayah pasti tau," Gale menghela nafas dalam, lalu pandangannya ia alihkan pada kedua ontanya yang sedari tadi jadi penonton dengan memasang tampang khawatir.
"Psstt! Kalian rame-rame datang kesini, tapi ga ada satupun yang bawa makanan buat Gale? Jahatnya!" omel Gale celingukan menyisir setiap sudut ruangan mencari kresek, atau paper bag. Bumil ini tak suka jika ada adegan melow-melow karena dirinya, sejak dulu.
"Udah lewat waktu makan siang tuh! Pantesan perut Gale keroncongan!" tunjuk dagunya pada jam dinding.
"Sini! Ponakan gue!!! Loe, emang !" Deni bersama Guntur bergantian merangkul Gale sayang, melepaskan rasa khawatir yang menyeruk di dalam dada.
"Kalian makan-makan di rumah, tapi ga ada bawa sekotak pun nasi gitu kesini, tega ih! Mau pulang lah!" bibirnya merengut.
Gale bergerak tapi ia merasakan kulitnya bersentuhan langsung dengan selimut rumah sakit.
"Eh! Ko Gale tel anjang gini?! Abang?!" matanya sengit ke arah Fatur.
"Abang mau seka kamu, terus gantiin baju kamu. Tapi belum sempet," jawab Fatur.
"Hush! Onta pada keluar gih, Gale mau ganti baju. Pantesan ko masih lengket," usirnya.
Deni menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, ia lupa jika Gale memiliki gen Kurawa.
"Astaga, ini anak malah ngusir? Ga sopan banget, di tengokin juga!" semprot Guntur, Gale merengut.
"Om gledek, es jeruk Gale tumpah gara-gara jambret tadi, tas Gale diambil, ada uang buat beli buku baru di transfer abang...eh!!! Kwitansi kampus?!" kejutnya panik meraba-raba bagian pa ha dengan posisi susah bergerak. Mereka bengong bukan main, nyawanya hampir melayang tapi yang dikhawatirkannya es jeruk dan secarik kertas kwitansi?!!
"Ga tau gue harus ngomong apa sama anak mamak yang satu ini, pengen gue lempar aja ke kolam bola bareng bocah," decak Guntur.
Fatur tersenyum, sepertinya Gale cepat melupakan rasa sakit tadi.
__ADS_1
"Abang, tolong ambilin dong kwitansi dari kampus, pasti kena darah deh!!" pinta Gale ke arah saku celananya.
"Iya nanti abang ambilin." Fatur duduk di samping lain Gale.
"Terus syukuran di rumah gimana?" tanya Gale.
"Ga apa-apa diterusin aja, toh ga ada larangan buat syukuran atas diterimanya kamu sama Fathya, dan sehatnya si kembar,"
"Sayang, momy ga bisa lama-lama disini. Ayah pasti curiga soalnya momy ngasih alasan beli bahan dapur,"
"Momy pasti bakalan bilang setelah ini sama ayah, cuma lagi nyari kalimat yang tepat. Nanti momy kesini lagi ya," Shania mengecup Gale, mulai dari pipi, hidung, mata, hingga kening.
"Beli es jeruk yu ahh!!" ucap Guntur.
"Om Gledekkk! Mauuu ih!" Gale ingin bergerak, Guntur dan Deni tertawa.
Ctak!
"Diem, jangan banyak gerak!" Shania menjitak kening Gale.
"Momy ih, Gale mau pulang mii!"
"Suegerrr, mana di rumah Onty Niken bikin rujak serut lagi !" tambah Deni, meskipun masing-masing sudah memiliki anak, tapi menggoda dan mengusili Galexia seakan sudah mendarah daging untuk geng Kurawa, Gale tetap jadi kesayangan mereka.
"Sehat-sehat calon mamak, onta sama es jeruk nunggu di rumah!" Guntur memeluk Gale.
"Emhh! Kamu bau amis Le," Guntur mendengus mencium kepala Gale.
"Sa ae upil buaya," tukas Guntur.
Gale sangat ingin tertawa, tapi kondisi perutnya membuat ia harus benar-benar menahan tawa.
"Udah ah, om gledek pulang sana. Gale lagi ga bisa ketawa!"
"Cepet sembuh ponakan onta, kita bikin konten baru lagi, fans kamu nungguin di channel onta," ucap Deni mengecup pucuk kepala Gale, siapapun akan merasa iri pada Gale, demi melihat kasih sayang yang berlimpah dari orang-orang sekitarnya.
"Onta, Gale mau minta sesuatu..." mimik wajah Gale penuh harap.
"Apa?" tanya Deni dan Guntur, berikut Shania dan Fatur ikut penasaran.
"Es jeruk, rujak serut, atau asinan nanti onta kirim satu drum?" tanya Guntur.
"Bukan, Gale tau kalian pasti bakalan temuin pelaku jambretnya. Please jangan di apa-apain, biar dihukum sesuai hukuman yang berlaku aja," senyumnya.
Deg!
Fatur sampai terkejut mendengar permintaan Gale itu.
__ADS_1
Deni dan Guntur sampai Shania mengerutkan dahinya.
"Kenapa tuh?!" tanya Guntur.
"Ga apa-apa. Gale cuma sayang kalian semua aja! Kalian udah tua, jangan so so'an lah! Takut encok," jawabnya ngaco sambil terkekeh.
"Aduh! Ko ketawa sakit banget sih," keluhnya sambil memegang bagian luka.
"Jangan mikirin apa-apa, sekarang yang penting Gale sehat. Biar urusan itu jadi urusan keluarga sama suami kamu," jawab Deni.
"Sayang, momy pulang dulu ya." Gale meraih punggung tangan Shania dan mengecupnya.
"Momy hati-hati!"
Tatapan Gale tak lepas sampai ketiganya meninggalkan ruangan, hanya menyisakan dirinya dan Fatur.
"Abang lanjut bersiin badan kamu ya?" ijin Fatur, Gale mengangguk.
"Makasih abang," ucapnya.
"Kenapa bisa gini?" Fatur duduk di atas ranjang samping Gale seraya tangannya melepas kemeja kotor dari tubuh istrinya.
Pluk!
Fatur menjatuhkannya ke bawah dan beralih mengambil lap handuk basah, mulai menyapukan ke seluruh inci kulit Gale.
Gale menatap nyalang ke arah tangan terampil Fatur seraya bercerita kejadian menyeramkan yang menimpanya. Ia teringat sesuatu dari ucapan Fathya dan kini mulutnya gatal untuk bertanya, terlebih ia sempat melihat pahatan wajah si penjambret itu mirip dengan Fatur.
"Abang,"
"Hm," jawabnya memasangkan baju pasien di tubuh Gale.
"Boleh Gale nanya?"
"Apa?" tatapnya.
"Tadi Gale liat abang waktu kejadian," Fatur mengernyitkan dahi, bagaimana bisa ia ada disana sementara ia sendiri berada di rumah sakit dan tak tau kejadian itu. Apa jangan-jangan....
"Siapa yang kamu liat?" tanya Fatur mulai tak enak hati.
Gale menelan salivanya, "bapak?"
Seketika waktu terhenti, cepat atau lambat Gale pasti akan tau. Tapi ia tak menyangka jika akan secepat ini.
Apa Gale akan memintanya untuk berpisah setelah ini? Kalaupun Gale akan memaafkan, apa kalau ayah dan yang lain tau, mereka akan semudah itu memaafkan dan menerima Fatur seperti sebelumnya? Mereka pasti tak akan rela anak kesayangannya hidup dengan anak seorang penjahat apalagi kini Gale hampir meregang nyawa karenanya.
.
__ADS_1
.
.