Gadis Nakal Om Dokter

Gadis Nakal Om Dokter
Si gemoy pujaan hati


__ADS_3

Arka terkekeh. Sejujurnya ia tak mau mengharu biru begini. Kesannya seperti ia mau mati saja, mesti ditangisi.


"Ini istri dokter ko manjanya kebangetan," ucap Arka.


"Ayah harus janji sama Gale!"


"Janji apa? Video call setiap hari selepas isya?" tanya Arka.


"Ih bukanlah!" tepis Gale.


"Ayah harus jaga kesehatan, sampe punya cucu, cicit, emhhh apalagi ya setelah cicit.?!" Pria tua itu menaikkan alisnya.


Oke, pikiran anak nya sampai sejauh ini, "tua banget dong ayah!"


"Raih dulu kesuksesanmu. Bukan kesuksesan dunia saja, tapi kelak bekalmu, nikmati masa-masa penjajakan dengan Fatur. Pacaran setelah menikah itu wajib loh! Dan rasanya lebih menyenangkan,"


"Jangan terbebani buat bahagiain pak tua ini," lanjut Arka.


"I love you ayah!"


"I love you more, tapi jangan kenceng-kenceng. Nanti momy cemburu!"


"Biarin! Pokonya Gale sayang ayah!"


Setelah melewati obrolan panjang penuh drama air mata. Gale dan Arka kembali, dengan wajah yang sudah ceria lagi. Meninggalkan masalah dan semua kesalahpahaman jauh di belakang sana.


"Pak, istirahat dulu !" pekik teh Rita pada Arka.


"Makan dulu pak, makan!" tambah bang Syam suami teh Rita memetakan tangan seperti gerakan orang yang sedang makan.


"Iya teh, bang!" jawab Arka.


"Ndra, tolong koordinasikan semua untuk istirahat," pinta Arka.


"Siap!" jawab Hendra.


"Mas makan dulu yuk!" ajak Shania, alisnya terangkat satu manakala melihat cabe-cabean dempet 3 menempel di lengan Arka.


"Hush! Minggir!" depak Shania.


"Ih, momy! Tega banget sama anak sendiri!" ucap Gale.


"Ini suami momy, cari suamimu sendiri!" jawabnya.


"Mii, tas Andro dimana?" tanya Andro, seharian si ganteng kalem duplikat Arka yang jadi idaman kaum hawa dan emak-emak ini membantu kegiatan Pondok.


"Di kamar kamu lah sayang," jawab Shania.

__ADS_1


"Nih si ganteng kalem gede nyuap kalo makan!" cebiknya pada sang adik.


"Nih, si cerewet pecicilan gede kentut!" jawabnya.


"Dih! Enak aja,"


"Baru juga ketemu udah berantem, ga mau kangen-kangenan?" tanya Fatur menghampiri kedua adik kaka ini.


"Ga kangen!" jawab keduanya kompak.


"Dahlah, gue duluan bang!" jawab Andro melengos.


"Mau makan dulu bang?"


"Mau,"


"Yuk!"


"Tapi makan kamu," bisiknya membuat Gale menghentikkan langkahnya.


"Jangan atuh, aku masih idup! Masa mau dimakan," jawab Gale serius. Memang candaan semacam ini tak masuk di otak Gale, karena ia tak tau kiasan arti makan kamu'nya pasangan yang sudah menikah.


"Emhh, gagal fokus ini mah!" dengus Fatur.


...****************...


Acara di tutup dengan acara makan-makan dan bingkisan untuk anak-anak Pondok.


Gale sedang memegang gelas mug-nya yang berisi susu coklat panas. Udara sedingin ini memang membutuhkan sesuatu yang panas-panas, tapi bukan hati yang membara.


"Liatin apa?" tanya Fatur ikut duduk di pijakan kayu dekat dengan saung belakang rumah pak Hadi, lengkap dengan selembar sarung bermotif kotak-kotak coklat dan hitam yang ia gunakan untuk melindungi kulitnya dari terpaan angin malam. Ia menyuruh Gale masuk juga ke dalamnya.


"Sini ikut masuk, biar anget!" Gale menurut, karena bajunya yang pendek membuat Gale memutuskan ikut masuk ke dalam lubang sarung yang Fatur gunakan.


"Galexia," jawab Gale tersenyum.


"Abang juga mau ikutan!" jawabnya menghadapkan wajahnya dan memandangi Gale bertopang dagu. Membuat si empunya muka menoleh.


"Gale liat ke atas bang, liat langit malam, galaksi! Abang ngapain liatin Gale?" tanya nya sewot seraya menyeruput susu hangatnya.


"Abang juga lagi liatin Galexia," jawab Fatur.


"Cih, gombal terus!" dengusnya.


"Le, ada yang harus abang ceritain ke Gale. Biar ke depannya hubungan kita ga selalu salah paham. Abang sudah cukup lelah bekerja seharian, dan paling malas jika harus dihadapkan dengan kesalahpahaman macam tadi." Fatur tipe pria yang tidak suka dirisihkan dengan konflik rumah tangga, selagi masih bisa dicegah kenapa harua mengobati, pikirnya.


"Apa?" Gale menaruh mug-nya agak sedikit di pojokan.

__ADS_1


"Gale boleh bilang abang gila,"


"Iya, abang gila!!" tukasnya tertawa.


"Ck, denger dulu!"


"Abang mau Gale dengerin abang tanpa menyela dan bicara sampai abang selesai!" Gale mengangguk.


"Dulu, ada seorang anak kecil kira-kira umurnya 9 tahunan. Tiap hari kerjanya kepanasan, keujanan, kedinginan, kelaperan muter-muter jalanan ibukota, hanya demi sesuap nasi. Bukan cuma untuk dirinya, tapi juga untuk ibunya dan adik perempuannya. Ga jarang sampai malam dia keluyuran mengesampingkan rasa malu, lapar apalagi kesehatan, yang penting perut adeknya ga kelaperan."


"Sampai...satu hari, hujan turun deras banget. Dia ketemu sama sosok penolong yang ga sengaja neduh bareng! Dibelilah korannya, plus dikasih uang kembaliannya. Belum lagi dikasih jas hujan yang lagi dia pake buat si anak, mungkin karena kasian kali ya!" Fatur tertawa getir.


"Si anak sampe heran, orang ini bukan siapa-siapanya. Bapaknya bukan, abangnya bukan, tetangganya bukan, keluarganya juga bukan, tapi mau bersenang hati berbagi! Orang lain aja yang sering ketemu sama si anak ini pada ga peduli!"


Gale hanya mengangguk-angguk mendengar kisah ini, yang jelas ini bukan kisah Cinderella atau Snow white and seven dwarf. Mana ada Cinderella dagang koran, yang ada jualan lotek.


"Tiap kali si anak jualan, dia sering datang kesitu. Dengan harapan, bisa ketemu lagi sama si penolong itu. Tapi lama, mereka ga pernah ketemu lagi. Si anak yang makin hari makin banyak kebutuhannya sampe hampir lupa sama si penolong, karena sibuk menjajal semua lubang pekerjaan, biar bisa dapet uang!"


"Lama mereka ga ketemu, sampai beberapa tahun kemudian, si penolong nyari si anak ke tiap lampu merah. Dan akhirnya ketemu, si anak dibawa buat disekolahin, di didik plus diajak menghasilkan uang dengan cara yang lebih baik. Jadinya sekolahnya dia jalan, nyari duit juga jalan. Katanya biar ga panas-panasan lagi cari uang di jalanan sambil sekolah juga, biar ga tertinggal."


"Si anak bertekad..kelak bakal bales semua jasanya si penolong dengan menjadi sukses! Tapi di luar kendali, si penolong ternyata punya anak, anaknya cantik, gemoy, selalu bisa bikin bahagia orang-orang. Percaya atau tidak, anak yang tadi, diam-diam suka sama si gemoy ! Karena seringnya bersama, awalnya cuma menganggap perasaan sayang sebagai kakak, namanya juga anak kecil iya kan?" Fatur menggidikan bahunya.


"Tapi ternyata si anak keliru, semenjak si gemoy ga pernah datang lagi ke tempatnya si anak. Si anak ngerasa ada yang hilang, ga tau apa! Si anak cuma sering denger kabarnya si gemoy doang dari temen-temen, senior dan para pengajarnya. Alih-alih seneng, justru kabar itu malah makin bikin si anak tambah rindu! Tapi apalah daya, si anak sadar diri...cuma berasal dari keluarga yang berantakan, ga punya apa-apa buat dibanggain. Apalagi mengharapkan anak si penolong, yang jelas-jelas keluarganya aja dari orang berada, keluarga harmonis dan jelas asal usul, bibit, bebet, bobotnya."


"Si anak bertekad, kelak dia akan jadi orang sukses, agar disaat nanti meminta si gemoy sama ayah dan ibunya, ada sesuatu yang bisa dibanggakan. Minimalnya si gemoy bisa dinafkahin dengan layak, tanpa harus nunggu dulu cari duit buat beli berasnya, tanpa harus kelaperan nunggu buat beli lauknya!" Tatapan matanya jauh menembus ruang dan waktu, membawa Gale ke beberapa tahun silam saat keduanya selalu dipertemukan di Pondok ini.


"Kamu percaya? Kalo cinta selalu tau kemana ia harus pulang, bukan sekedar singgah tapi untuk berlabuh,"


"Tanpa memandang usia." Lanjutnya.


"Kamu mau tau siapa nama anak itu?" tanya Fatur, Gale mengangguk.


"Faturrahman Al-Lail," Gale yang semula bertopang dagu mendengarkan kisah Fatur, kini menegakkan duduknya.


"Kamu mau tau siapa penolong itu?" tanya Fatur, tapi Gale diam tak menjawab atau sekedar menganggukkan kepalanya seakan ia sudah tau siapa jawabannya.


"Arkala Mahesa," kini Gale meloloskan setetes air matanya di pipi, membuatnya dengan cepat menghapusnya.


"Dan kamu pasti sudah bisa tebak, siapa si gemoy pujaan hati abang,"


"Galexia Adhara Mahesa," tambahnya.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2