Gadis Nakal Om Dokter

Gadis Nakal Om Dokter
Kocok dahulu, sebelum diminum


__ADS_3

Warning!! Tidak cocok dibayangkan sendirian😋


Fatur membiarkan Gale untuk mengambil nafasnya sejenak, ia menarik senyuman miring, bibir mungil istrinya nampak se-xy karena ulahnya barusan.


"Maaf abang barusan gigit kamu," Gale menggeleng, "ga apa-apa. Gale ngerti," jawabnya, tak ingin membuat Fatur kecewa. Kembali Fatur mengecup Gale hingga kecupan itu bergerak ke telinganya membisikkan sesuatu yang membuat Gale melemah.


"I love you, and i want you.."


Turun menuju leher tempat kemarin ia memberikan kecup-kecup panas bertanda merah.


"Aww," aduh Gale, saat pria ini mengulangi perbuatannya, rupanya hewan nocturnal kembali beraksi, dan kali ini lebih bu as.


Malam begitu syahdu untuk dilewatkan begitu saja, tak ingin menunggu waktu lagi, Fatur yang tak melepaskan pinggang Gale, kini satu tangannya merayap masuk melewati gaun tidur pendek Gale, mengusap pa_ha selembut marshmalow milik putri kesayangan Arka, terus naik ke atas, dengan sengaja jarinya ia sangkutkan di karet segitiga hitam Gale, menurunkannya secara perlahan, membebaskan tempat dimana nanti benih-benih unggulnya akan tertanam.


Gale cukup terkesiap kaget, "abang..."


Ia tau jika istri nakalnya ini masih merasa asing, takut dan malu. Ia cukup tau Gale mulai kelabakan menerima semua sentuhannya, hingga Fatur mendorong Gale ke arah tembok, menghimpitnya dengan tubuhnya. Tangannya mengangkat sebelah kaki Gale agar bertopang pada kakinya yang sengaja ia tekuk menghadap tembok.


Fatur membungkam mulut Gale dengan bibirnya, hingga benar-benar menyatu dengan bibir Gale yang merekah, sementara tangannya mulai nakal menyentuh, mengusap dan masuk, mengobrak-abrik dan mengaduk dewi-nya si cantik nakal ini.


Ingin rasanya Gale berteriak, tapi mulutnya terkunci rapat bibir Fatur, yang bisa ia lakukan adalah memejamkan matanya, dan berpegangan erat pada bahu suami dokternya ini agar badannya tak roboh. Jujur saja serangan awal ini membuat Gale benar-benar kacau dan berantakan. Awalnya memang tak nyaman tapi kemudian ia merasa dibawa mengarungi lautan bunga dan mengayun turun melewati pelangi senja, ternyata seindah yang banyak orang bilang.


Gale menahan serangan bertubi-tubi yang dilancarkan oleh Fatur pada dirinya dengan menggigit bibir bawahnya.


"Jangan ditahan sayang," tatapan Fatur melunak, tak bisa ia tak terpesona dan luluh.


"Aahhh, abang.." the sah'an Gale keluar dengan merdunya, seiring badannya menegang lalu lemas. Ia bahkan mencengkram bahu Fatur hingga buku-buku kukunya memutih. Suara itu begitu merdu terdengar di pendengaran Fatur, semangatnya semakin terpacu.


Sepersekian detik, tubuhnya terasa melayang, ternyata Fatur menggendong Gale dan membawanya ke atas ranjang., meski tak ada kelopak bunga bertaburan diatas ranjang, tapi tetap tak mengurangi keindahan yang ditampilkan.


"Cantik," gumamnya melihat tampilan Gale yang berantakan, lebih cantik dari sekuntum bunga vijaya kusuma saat mekar. Gadis itu membuang mukanya ke samping karena malu.


Fatur melepaskan semua yang melekat di badannya, memperlihatkan kesemua miliknya pada Gale, sontak Gale terkesiap, apalagi saat pandangannya jatuh pada sesuatu yang tegak dibawah sana. Jika dulu ia melihatnya tertidur, kali ini Gale benar-benar melihatnya terbangun.


Mendadak rasa takut kembali menyerangnya, apakah muat masuk ke dalam area-nya?


"Tunggu sebentar bang," pinta Gale, menahan Fatur yang sudah merangkak ke atasnya dan membuka sisa gaun tidur Gale.


"Kenapa?" aktivitasnya terhenti.


"Abang emangnya ga perlu pemanasan dulu?" alasannya. Fatur terkekeh, alasan apa lagi yang akan dikeluarkan Gale kali ini untuk menunda, tapi ia tak kalah pintar dari Gale.


"Beneran mau abang pemanasan dulu?" tanya Fatur, Gale mengangguk.

__ADS_1


"Gampang ko, kamu tau kan di segel leher minuman suka ada bacaan apa?"


Gale terlihat berfikir, "kocok dahulu sebelum diminum," seingatnya menerka-nerka.


"Pinter!"


"Punya abang pun gitu, kocok dahulu sebelum digunakan," Gale tampak mengernyitkan dahinya.


Fatur menuntun tangan Gale pada pusaka miliknya dan memintanya sesuai instruksi yang terucap tadi.


"Ya ampun!" seru Gale, memberanikan diri melihat dia sudah mengeras dan gagah. Dengan tangan bergetar Gale menurut.


Fatur terlihat memejamkan matanya merasakan ke nik matan. Tetiba Fatur menghentikan gerakan tangan Gale, bisa sejenak lega tapi kemudian Gale kembali memburu nafasnya saat Fatur menyarangkan kecupan bertubi-tubi di sekujur badan gadis itu.


"Abang ahhhh...." ia meremas sprei, pertahanan Gale sudah kembali runtuh.


"Janghannn...di..ghii git...." Fatur asik dengan mainan barunya di dada Gale.


Shittt! Umpat Gale dalam hati, kenapa suaranya jadi begini.


Dilihatnya Gale sudah tak berdaya dengan keadaan toples, kiss-mark dimana-mana dan tentu saja sesuatu yang sudah basah sejak tadi. Memudahkan si junior masuk agar tak terlalu sakit.


"Gale boleh gigit pundak abang, atau cakar abang, apapun yang bisa nularin rasa sakit Gale.."


"Aaa! abang udah abang...udah..cabut! Cabutt!!" jeritnya, si benda keras itu mulai mendobrak memaksa masuk. Kedua tangan Gale mencengkram kuat di punggung Fatur.


"Ini udah masuk setengahnya Le, tanggung,"


"Abang cabut !! Dicicil aja lah besok setengah lagi," jawabnya.


"Mana bisa Le," aneh-aneh saja istri nakalnya ini, memangnya hutang pake dicicil.


"Sakit abang..." rengeknya mengeluarkan setetes lelehan bening dari sudut matanya.


"Maafin abang," Fatur mengalungkan kedua tangan Gale di lehernya dan membungkam mulut Gale, tau jika Gale pasti akan menjerit lagi. Bisa-bisa semua orang di rumah geger mendengarnya.


Fatur melesakkan memaksa menenggelamkan semua kedalam milik Gale.


"Mmphhh, abang!!" suaranya teredam bibir Fatur. Dapat ia pastikan jika Gale tengah mengatur nafas, air mata, dan rasa nyut-nyutan.


Resmi sudah ia menjadi nyonya Faturrahman Al-Lail.


"Abang mulai ya?" ijinnya melepaskan tautan bibirnya.

__ADS_1


"Sakit abang..pelan-pelan.."


"Iya," Fatur mulai maju dan mundur, memompa sesuatu yang beranjak nik mat.


"Abanghhh...pelannn..inn please," mohonnya dengan mata sayu di bawah kungkungan Fatur.


"Tahan sayang, ga apa-apa.." Fatur mencium leher, telinga dan tengkuk Gale dan memainkan salah satu bukit untuk mengalihkan kesakitan Gale.


"Abang ahhh...geli ih,"


Fatur tersenyum seraya menggerakkan miliknya dengan ritme yang tak beraturan. Rasa nik mat tak terbantahkan, tangan Gale berpegangan erat pada leher Fatur, dan menggigit bibirnya, merasakan bahwa dibawah sana si junior semakin memenuhi surga manis milik Gale, pompaan dan hentakan dokter muda ini yang semula pelan, berubah kian cepat.


"Abanghh ahh..." Gale sampai mendongak semakin tak berdaya menerima semua serangan dari Fatur, ia sudah berkeringat, begitupun Fatur.


"Gale..." ia tak mampu lagi untuk meneruskan ucapannya dimana tubuhnya bergetar merasakan pencapaian untuk kedua kalinya.


"Sebentar, tahan..abang..." ucap Fatur ditengah-tengah menuju puncak.


Fatur mendorong miliknya saat melakukan pele pasan, "aww, abang!"


Mereka berenang berebutan mencari dimana sang telur, maka malam itu keduanya menyatu dan melebur jadi satu, menguatkan pondasi rumah tangga yang sesungguhnya.


"Semoga cepat tumbuh di perut bundamu.." kecup Fatur di perut Gale, gadis ini merajuk enggan menggunakan kembali pakaiannya hingga ia terlelap.


"Ga suka abang ah!"


"Gale marah sama abang!"


"Besok-besok ga mau lagi!"


"Ga akan ada lagi yang bisa rebut kamu dari abang, gemoy!" bisiknya.


Malam ini, Fatur menjadi pria paling bahagia di dunia, terlintas di pikirannya ucapan Arka, ia menghitung kelulusan Gale.


"Aman," kekehnya, menyelimuti badan si cantik nakal yang sudah terlelap kelelahan.


"Sampe berantakan gini," tawanya kecil, menertawakan ulahnya.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2