Gadis Nakal Om Dokter

Gadis Nakal Om Dokter
Amarah Fatur 1


__ADS_3

Gale menyesuaikan matanya dengan pendar cahaya kamar, ia menarik bibirnya hingga tercipta sebuah senyuman.


"Abang udah mandi? Seger banget keliatannya," tanya Gale.


"Mau dibantuin ambil wudhu apa tayamum? Kita solat berjamaah,"


"Wudhu aja bang," jawab Gale.


Pria ini begitu telaten membantu istri nakalnya mengambil wudhu, begitupun ia membasahi rambut hitamnya sehingga tampak berkilau dibawah cahaya lampu, memasangkan Gale mukena dan mengimaminya salat.


Cup!


"Cepet sehat kembali sayang, abang kangen pecicilannya kamu," pria bersongkok itu memandang Gale penuh cinta. Andai saja ia tau semalam apa yang terjadi, mungkin Fatur akan menarik kalimatnya barusan, dimanapun, kapanpun, dan bagaimana pun istrinya ini selalu pecicilan juga nakal.


"Nanti selepas jam praktek, abang mau ijin buat ke kantor polisi bareng Fathya sama om Deni," Gale menatap dengan sorot mata getir.


"Abang, ga apa-apa kan? Gale cuma mau titip pesen..."


"Apa?" tanya Fatur saat Gale menggantung kalimatnya seperti jemuran basah.


"Pesen baso 1 es jeruk 2 !" Gale mengulum bibirnya menahan tawa, melihat wajah serius Fatur ia selalu ingin menggodanya.


"Abang harus jaga emosi, jangan marah-marah di kantor polisi, jangan ngamuk-ngamuk kaya kucing garong sama bapak," lanjut Gale.


Fatur membuang nafasnya panjang, "insyaallah."


"Sejahat apapun, dia tetep bapak abang. Kalo ga ada dia, ga akan ada abang sama Fathya, terus Gale jomblo seumur hidup gitu?"


"Ya engga gitu juga, mungkin kamu ketemu orang lain."


"Engga mau," Gale menelusupkan kedua tangannya diantara lengan dan perut Fatur. Kondisi perutnya lumayan bisa diajak kerja sama meskipun masih terasa sakit dan kaku.


"Abang peluk Gale dong bang,"


"Sejak kemarin kamu pingin dipeluk terus, kenapa?" tanya Fatur, Gale menggeleng mungkin emosinya sedang melow saja, ditambah masalah masa lalu Fatur membuat hatinya mendadak kaya es krim, sering meleleh.


"Ga akan ada yang namanya mantan ayah atau mantan anak, kalo abang sudah mulai merasakan marah, inget si kembar ya, langsung balik aja.."


"Gale emang belum pernah liat abang marah, tapi cukup tau dari sikap Fathya yang takut banget kalo abang marah. Jangan sampai emosi merugikan abang,"


"Iya,"


...----------------...


Gale menatap lama-lama jatah sarapannya dari rumah sakit, ia mengerutkan dahi.


"Abang, ini cuma kaya gini doang?!" tanya Gale dilihatnya dengan bibir tersungging, Fatur menahan kedutan di bibirnya.

__ADS_1


"Gale mau pesen makanan aja lah bang," pintanya menatap jengah pada satu nampan makanan sehat rumah sakit.


"Ya udah ini dulu abisin, nanti sebentar lagi mang Kosim anter makanan dari rumah," Fatur meraih sendok dan menyuapi bumil yang sedari tadi tak pernah berhenti bicara, entah apa yang ia bicarakan, ada saja bahan untuknya mengeluarkan kalimat absurd, entah itu mengkritik makanan rumah sakit dengan rasa hambarnya, ataupun porsi yang menurutnya tidak sesuai untuknya. Jika pada umumnya pasien akan menolak bahkan tak sedikit yang menyisakan makanan, lain halnya dengan bumil satu ini.


"Ini mah kaya ngasih bocah! Gale ga bisa nih cuma segini, cuma nyangkut di tenggorokan. Kasian anak-anak abang cuma keisi setengahnya belum bisa sendawa!" Fatur bersyukur Gale tak kesulitan makan, membuat kondisi kesehatannya cepat pulih, kecepatan bicaranya saja sekarang sudah mengalahkan operator pulsa.


Benar saja, tak selang lama. Satu sosok yang mereka kenal hadir mengetuk pintu bak malaikat penyelamat untuk Gale.


Matanya tertumbuk pada tas kain yang dibawa, dengan isi cemilan sehat, buah-buahan, nasi beserta keluarganya tak lupa kue bikinan Shania.


"Aduh mang Kosim! Ga pernah Gale se-seneng ini liat mamang!" serunya bertepuk tangan sekali.


"Sini...sini mang! Mama masak apa sama bibi?" tanya Gale melambaikan tangannya meminta mang Kosim mendekat, pria itu tersenyum ramah, terlihat garis kerutan di sudut matanya.


"Pak, ini kata ibu sama bu Shania buat bapak sama neng Gale," mang Kosim menaruh tas kain di meja.


"Oh iya mang, makasih.." jawab Fatur mengangguk.


"Makasih mang, momy nginep di rumah?" tanya Gale.


"Engga neng, tadi pagi-pagi banget ke rumah."


"Oh iya,"


"Kalo gitu saya pamit pak," ijinnya kembali.


"Hemmm, asikk! Ada ayam kecap,"


Fatur tertawa, mata berbinar dan tingkah Gale seperti anak kecil yang mendapatkan makanan kesukaannya.


"Abang juga makan,"


************


Suara langkah kaki beberapa orang memasuki sebuah kantor Polsek.


Dengan perasaan campur aduk, kedua adik kakak ini mengunjungi orang yang sudah lama tak mereka temui, bahkan tak mereka ingat.


Ia mencengkram erat lengan kemeja sang kakak seraya mendongak.


"Ga apa-apa, ada abang." Ucapnya meminta Fathya, agar gadis ini tak perlu lagi khawatir, padahal ia sendiri sudah mengeraskan rahangnya dan gusar.


Deni terlihat bicara dengan salah satu petugas polisi yang mengurusi kasus ini. Sesekali ia terlihat tertawa bersama lalu memasukkan tangannya ke saku celana saking seriusnya.


"Tur," ia kemudian mengangguk pada Fatur.


Awalnya Fatur duduk di sebrang meja dan memberikan beberapa keterangan.

__ADS_1


"Berkas sudah siap masuk BAP, setelah mendengar keterangan dari korban terkait."


"Bisa kami bertemu dengan pelaku?" tanya Deni.


"Boleh, sebentar kami panggilkan!" seiring kepergian petugas berseragam coklat itu, mendadak udara terasa sesak disini, ataukah hanya perasaannya saja, hati yang terbalut rasa marah dan benci mulai naik ke permukaan. Bayangan Galexia sepaket pesannya menjadi alasan satu-satunya untuk dirinya saat ini untuk tak mengobrak-abrik sel tahanan berisi bapaknya. Jarinya gemeletuk menggertak meja demi mengusir keresahan. Masih ada harapan di hatinya jika orang itu bukanlah bapak.


Seorang pria berumur melangkah mendekat, masih lengkap dengan pakaian premannya dua hari lalu, hanya saja ditambah maha karya entah dari siapa di sekitaran wajahnya, hingga kini wajahnya tampak lebam dan bengkak-bengkak. Tatto, rambut klimis beruban tak terurus dan wajah kusam sekaligus sangar tak menutupi usia senjanya.


Brakkk !


Bangku kayu terpental sekaligus karena dorongan keras.


"Bannk sat!!!" tanpa di duga Fatur bangkit dari duduknya dan hendak melayangkan bogemannya di tubuh tegap yang sudah tak muda lagi.


Jika bukan Deni dan Fathya ikut beranjak menahan Fatur, juga polisi yang menjadi penengah, mungkin bapak tua itu sudah ambruk dihadiahi serangan Fatur.


"Abang," Fathya menahan kemeja Fatur dengan takut dan menunduk.


"Tur, sabar Tur...calm down. Sudah diurus Roy sama Guntur!" Deni mengulas senyuman miring, terkesan jahat.


Sikap Fatur sudah menunjukkan betapa ia murka dan benci.


"Maaf," kata itu terucap dari mulut yang sering menenggak minuman keras.


Fatur tertawa sumbang, seolah tengah menganggap jika ia sedang bergurau.


"Maaf? Maaf untuk yang mana? Menjambret, mencelakai korbanmu, membuatnya hampir meregang nyawa bersama kedua calon anak saya, atau maaf karena menyakiti ibu dan adik saya, menghancurkan hidup saya, Fathya dan mama?" tanya Fatur.


"Atas semuanya, bapak ga nyangka itu bini lu Tur," ujarnya.


"Canda ni orang." Tawanya sumbang penuh ejekan.


"Jangan pernah sebut diri lu bapak di depan saya!!!" intonasi dokter muda ini meninggi, matanya melotot menyiratkan luka dan kebencian, urat di kepalanya sampai terlihat saking ia murka.


"Gue emang bukan bapak yang bener, gue juga ga pantes buat dapet maaf dari Ella, lu sama Fathya, tapi untuk kejadian ini sampein maaf gue buat bini lu..buat keluarga bini lu,"


Pandangan mata senja itu beralih,"Fat, bapak minta maaf atas semua kelakuan be jat bapak, selama ini cuma luka yang lu terima dari gue, cuma abang lu yang bisa kasih hidup buat lu. Bapak nyesel,"


"Nyesel? Kemana aja selama ini?! Lagu lama...giliran ditangkap bilang nyesel, membusuk lu di penjara!" setan memang cerdik, seolah tak ingin kehilangan kesempatan menggoda iman manusia yang tengah goyah oleh amarah. Semua kilasan ketika bapaknya ini selalu memberikan perlakuan kasar berputar di otak Fatur.


Pria tua ini selalu datang dikala mabuk, entah apa alasannya, mengobrak-abrik kehidupan tenang Fatur, mama dan Fathya sambil ngoceh tak jelas. Membuat tetangga terganggu, Fathya yang menggigil karena takut, dan mama yang menangis karena malu. Fatur selalu menjadi tameng, tubuhnya menjadi garda terdepan melindungi mama dan Fathya, alhasil tenaga dan perawakan tak sebanding itu harus baku hantam di gang sempit, tak jarang para tetangga ikut membantu mengusir bapak Fatur.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2