
"Apanya yang kenceng?" Gale mengkode Fatur dengan sebuah tatapan, saat mak Mpon tak kunjung menjawab pertanyaannya.
Fatur menggidikkan bahu, "abang ga tau. Larinya kali, biar kenceng!" Sontak jawaban itu dihadiahi bibir bebek Gale.
...----------------...
"Neng, ini sampingnya!" mama mengetuk pintu kamar Fatur dan memberikan kain samping pada Gale.
"Oh iya ma, makasih!" senyumnya getir sedikit dipaksakan, lalu menutup kembali pintu kamar.
Disana, si pelaku malah tertawa terbahak, melihat betapa melongonya Gale menghadapi mak Mpon.
"Abang apaan sih! Rese!" Gale berlari ke arah Fatur dan memukulnya dengan lipatan samping.
"Aduh, aw! Galaknya," Fatur menangkap tangan Gale.
"Kan malu bang, pas sampingan leher sama dada Gale merah-merah!" bukan lagi masam, wajahnya sudah benar-benar basi karena kesal sekaligus malu.
"Abang cuma ga mau kamu kaya orang kesiksa gitu, pengen bikin kamu nyaman, biar ga cuman abang aja yang enak tapi kamu juga. Ditambah, abang juga bisa minta jatah abang lagi tiap malem," jujurnya. Voalah! Selamat, anak didikan Arka memang mengikuti jejak gurunya, orang terjujur sepanjang sejarah perlaki-lakian.
"Ih! Engga ah, bikin capek! Mintanya kalo weekend aja, takut sekolah kesiangan kaya tadi, masa ijin tiap hari!" Gale menghempaskan pan_tatnya kasar di ranjang hingga sedikit terampul-ampul.
"Engga akan, pasang alarm aja. Itu kan permulaan, kesananya mah bakalan lancar jaya, kaya di jalan tol. Percaya sama abang!" pintanya meraih kedua pundak Gale.
"Terus sekarang ini Gale mau diapain? Ga macem-macem kan? Malu atuh," sewotnya masih dengan alis menukik dan dahi mengkerut.
"Cuma di pijitin doang. Biar badan kamu ga pegel-pegel lagi, ga apa-apa, mak Mpon udah biasa liat begituan, udah ga aneh dia!" jawabnya santai membuka tiap kancing seragam Gale.
Si empunya melirik pada tangan Fatur sepaket tatapan tajamnya, "abang ngapain?"
"Bantuin kamu buka baju," ucapan itu lolos dengan sangat lancar dari mulut pria ini.
"Gale ga perlu bantuan bang, Gale udah gede, bisa buka baju sendiri!" tahannya, takut-takut kalau Fatur kebablasan, auto pintu kamar di dobrak mak Mpon karena kelamaan. Seakan tuli, Fatur terus saja melanjutkan kegiatannya. Ini dia hobby barunya sekarang, bongkarin baju Gale.
Fatur sampai meneguk salivanya berat, melihat dada Gale, seperti air salivanya itu tak sampai ke perut, hanya tersangkut di tenggorokan. Melihat bagian depan Gale yang putih bersih, serta banyaknya kissmark hasil kerja kerasnya semalam, bikin jantungnya deg-deg serr.
Sebelum melanjutkannya, Fatur beranjak ia teringat akan sesuatu di laci meja rias, "tunggu sebentar!"
Ia kembali duduk di depan Gale. Pria itu membuka sebuah kotak beludru berwarna merah tepat di depan Gale.
"Abang sebenernya beli ini udah lama, malah pas masih jalan sama Seli." Ia mendengus tersenyum miring, merasa jadi pria paling tega dan buaya saat itu. Jalan bersama Seli, tapi otaknya selalu mengharapkan Galexia.
Alis Gale terangkat sebelah, "maksud abang?"
"Jahat emang. Abang pacaran sama Seli, ga sengaja masuk toko perhiasan bareng dia karena inget mama, tapi ga beliin dia apapun, dulu.. punya dia jauh lebih mahal dari apa yang bisa abang kasih, abang beli kalung 2 yang satu buat mama dan yang satu malah kepikiran kamu! Padahal muka kamu aja abang ga tau, Seli sempet nanya, kalung ini buat siapa, abang bilang buat Fathya, padahal Fathya udah abang beliin seminggu sebelumnya, abang cuma simpen kalung ini di laci berharap suatu saat abang bisa kasih ini ke kamu!"
Sebuah kalung emas, berbandul planet saturnus kecil simbol dari galaksi, arti dari nama Galexia. Tatapan Gale melunak dan sedikit buram, tak tau harus membalas rasa Fatur yang begitu besar untuknya dengan apa?
"Abang pakein ya?" ijinnya, Gale mengangguk. Ia meraup seluruh surai hitamnya membelit dan mengikatnya jadi satu sedikit diatas, kini nampaklah leher putih seputih susu milik Gale, akan mulus tanpa cacat jika saja tak ada tanda merah keunguan yang Fatur buat semalam.
Fatur memasangkan kalungnya di leher Gale.
__ADS_1
"Cantik," gumamnya.
"Makasih,"
"Ya udah, mak udah nungguin dari tadi. Takut kelamaan," Gale segera menyelesaikan pekerjaan Fatur tadi, membuka seragamnya dan menggantinya dengan samping.
"Kaya mau siraman aja gue!" dumel Gale di kamar mandi, ia menatap pantulan dirinya dari cermin.
Tangannya mengusap leher dan dada, ia menghitung jumlah bercak merah.
"Duh, malu banget gue! Ini banyak banget! Bisa digosok pake sabun ngga sih?" risaunya.
"Le, mak udah nunggu!" teriak Fatur.
"Iya bentar,"
Ceklek!
Penampilannya tak ubah dengan gadis desa yang lagi mandi di kali sambil nyuci.
Kaki tela_njang Gale keluar dari kamar mandi.
"Abangg! Maluu!"
Fatur tertawa gemas, kenapa istrinya ini begitu menggemaskan. Rasanya jadi pengen cepat-cepat hari beranjak malam.
Bibirnya kembali mengerucut, "pijitnya disini aja lah, nanti Fathya sama mama liat kan berabe!" pintanya memelas.
Atas permintaan Gale, mak Mpon masuk ke dalam kamar membawa tas miliknya.
"Oh, okelah! Mak mah dimana aja jadi dah!"
Mak Mpon tersenyum jahil melihat leher dan dada Gale, ia mengerti kenapa Fatur sampai memanggilnya.
"Tengkurep neng, biar emak kasih peregangan otot belakangnya dulu!" pinta mak Mpon, ia mengeluarkan alat tempur berupa minyak sereh, dan olive oil.
"Tapi jangan keras-keras ya mak. Gale ga biasa dipijit soalnya," ia tersenyum meringis.
"Iye dah. Tenang aja, pokonya nanti malem bisa ngadon lagi!"
"What the..." Gale melotot pada Fatur yang belum sempat keluar, masih berada di ambang pintu kamar sambil terkekeh. Gerakan alisnya menukik seakan mengatakan dewi Quan'in darimana nih, tau kalo dia abis belah duren?
Belum selesai dengan telepatinya, Gale langsung memekik tatkala mak Mpon memijit bagian pa ha atasnya.
"Aww! Aduh mak, itu abis dibobol abang masih pegel!" ia keceplosan, sontak Fatur tersedak oleh salivanya sendiri.
Gale langsung menenggelamkan wajahnya dalam-dalam di bantal. Wanita paruh baya itu tertawa.
"Mak tau neng," kekehnya melirik Fatur yang berlalu keluar.
Tapi selanjutnya, Gale bisa tenang. Malahan ia bisa relax dengan pijatan-pijatan dari mak Mpon sampai hampir saja tertidur jika mak Mpon tak mengajaknya mengobrol.
__ADS_1
"Main-main lah neng ke rumah mak, bekas kampung Fatur dulu!" pijatan terakhir ini membuat Gale tak bisa move on sampai merem melek dibuatnya.
"Pengen mak, nanti kapan-kapan kalo abang bawa Gale kesana!" jawab Gale.
"Dah, selese! Biasanya mak mijit kaya gini sambil luluran yang mau kawinan neng," ucapnya.
Gale bangun dari baringannya. Tubuhnya lumayan segar dibanding tadi pagi.
"Makasih mak,"
"Sama-sama neng, semoga samawah...bikin deh bocah banyak-banyak!" ucapnya sambil membereskan peralatannya, seketika wajah Gale memanas.
"Belum kepikiran mak, masih mikirin sekolah!" kekeh Gale.
"Sabar-sabar ya ngadepin babeh mertua lu neng, emang dia ga waras! Tapi die kagak tinggal dimari kan, pan ama Ella udah cere pan?!" petuah mak Mpon barusan menaikkan alis Gale. Gimana mau sabar, bertemu saja belum. Memangnya ada apa dengan bapaknya Fatur?
"Oh, engga mak. Iya mak insyaallah, makasih ya mak!" Gale meraih punggung tangan mak Mpon.
"Ya udeh, mak ke depan dulu. Neng mandi aja, kalo bisa pake wangi-wangian biar Fatur kesemsem!" tawanya lepas, Gale tersenyum getir. Mak Mpon lumayan lama memijit Gale, ditambah mengobrol bersama mama hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan lewat ashar.
"Mang! Anterin mak Mpon pake mobil!" pekik Fatur pada mang Kosim.
"Siap pak!" jawab mang Kosim bangkit dari duduknya dan sedikit berlari, menerima kunci mobil.
****
"Le, mak mau pulang nih!"
"Abang, Gale masih mandi! Salamin aja buat mak," teriaknya.
"Oh oke deh!"
Tak berapa lama Gale keluar dengan masih memakai bathrobe-nya. Ia sejenak memandang keluar jendela kamar, dimana mobil Fatur baru saja keluar dari carport mengantarkan mak Mpon pulang.
Ceklek!
Gale menengok ke belakang.
"Loh, Gale kirain abang nganter emak barusan?" tanya nya.
"Bukan abang, tapi mang Kosim yang anter!" Fatur mendekati Gale.
"Gimana udah enakan?" tangannya terulur membawa anak rambut Gale ke belakang telinganya, "udah."
"Ga shampoo'an?" melihat rambut Gale kering.
"Kan udah tadi pagi. Barusan Gale berendem air anget!" jawabnya.
"Kamu sengaja mau goda abang?" colek Fatur di dagu Gale.
Wajahnya dipenuhi tanda tanya, "dih, abang aja yang gampang kegoda. Orang masih ketutup gini aja dibilang ngegoda!" desis Gale sinis berniat segera pergi dari dekat Fatur, lelaki kalo lagi on fire gini patut dijauhi. Karena tatapan Fatur kini sudah berubah seperti semalam, saat ia menjerit kesakitan.
__ADS_1
.
.