Gadis Nakal Om Dokter

Gadis Nakal Om Dokter
Istri cantik abang


__ADS_3

Ia tau jika Fatur tidak akan se-b4nci itu mengatakan hal privasi pada orang lain sekalipun itu Seli, Gale yakin semua informasi yang Seli dapat dari Fathya. Terakhir ia menjumpai adik iparnya itu pergi bersama Seli, dua hari yang lalu. Seli terdiam saat itu juga.


"Lancang," gumamnya terdengar Gale.


"Maaf, kalau tante merasa tersinggung dengan kata-kata Gale. Untuk urusan kebahagiaan abang biar jadi urusan Gale aja, udah jadi kewajiban Gale buat bahagiain abang. Kalo memang tante anggap abang terpaksa nikahin Gale, maka Gale akan balas itu dengan membahagiakan abang,"


Seli mengepalkan tangannya kuat, tak sangka ia akan dibalas oleh seorang gadis yang bahkan SMA saja ia belum lulus.


"Mas !" Gale yang baru saja selesai makan, kemudian memanggil pelayan, ia mengeluarkan atm dari Fatur dan membayar makanan miliknya.


Seli melihat celah lagi untuk melawan," biar saya saja yang bayar. Kan saya yang ajak kamu bertemu, lagian kamu juga belum bekerja kan ? Kamu tau laki-laki sukses seperti Fatur patut dapat pasangan yang sama-sama mendukung dan sepadan dengan dirinya," senyumnya miring.


Gale mengerutkan dahinya, "maksudnya pasangan yang dingin juga, kaku, ga mikirin perasaannya, lebih mentingin karir, ga perhatian, terus tua ?" Gale hampir meledakkan tawanya oleh perkataannya sendiri.


"Wow ! Sepi banget hidupnya kalo kaya gitu, kaya kuburan !" tambah Gale.


SKAK MAT ! Seli benar-benar sudah diambang batas atas sindiran Gale yang menohok.


"Nih, tante! Gale kasih tau ya, setinggi apapun karir dan kesuksesan laki-laki, ia akan tetap pulang pada perempuan yang mampu memahami, perhatian, peduli, dan jelas bisa dijadikan teman dikala ia butuh sandaran dan hiburan. Bukan pasal seberapa banyak uang dan seberapa setaranya posisi si perempuan dengan si laki-laki, karena tetap saja, kodratnya mencari nafkah itu ada pada laki-laki bukan perempuan."


"Tante tau kan quotes lelucon, marriage is workshop, where husband works and wife shop? Abang akan sangat bahagia, jika uang yang ia cari dengan susah payah Gale pakai tiap hari untuk kebutuhan Gale, dengan balasan Gale layanin semua kebutuhan abang !" bisik Gale tertawa kecil saat mengucapkan kalimat terakhirnya.


"Ups ! Rahasia perusahaan !" tambahnya lagi. Seketika wajah Seli memerah.


"Jadi maaf bukan Gale ga menghargai pemberian tante Seli, tapi biar Gale bayar makanan Gale pake uang abang aja. Biar orang-orang ga salah paham, dikira abang ga mampu nafkahin istrinya,"


"Kamu !" tunjuk Seli.


Gale meraih telunjuk Seli, dan menjabatnya.


"Galexia Adhara Mahesa, jodoh termanisnya dokter Faturrahman Al-Lail, senang berkenalan dengan mantan terbaiknya abang," tak pernah sekalipun Gale menampilkan wajah marah, kesal ataupun ketus justru ia lebih banyak tersenyum dan tertawa.


"Kalo udah ngga ada yang mau diomongin lagi, Gale pamit..mau nyamperin pak suami dulu ?"


"Dasar anak kecil ga tau diri !" desisnya.


"Oh iya sampe lupa !" Gale merogoh tasnya, mengambil selembar pamflet.


"Tadi Gale ga sengaja dikasih brosur madrasah, Gale ambil..rencananya sih buat anak Gale sama abang nanti. Tapi Gale rasa tante lebih membutuhkannya sekarang, nih ambil aja ! Kali aja tante mau benerin dulu akhlak !" Gale menyerahkan sebuah brosur madrasah dan playgroup pada Seli dan pernyataan ini lebih tajam daripada silet.


Seli yang diliputi kemarahan melayangkan tangannya ke arah Gale, tapi gadis itu menangkapnya.


"Si*@lan !"


Hap !


Grekkk ! Gale memelintir sendi tangannya.

__ADS_1


"Awwsh !" Seli merintih.


"Jangan anggap Gale takut sama tante, abang pergi karena kesalahan tante sendiri. Sebaiknya mulai sekarang belajar bersyukur dan jaga apapun yang menjadi milikmu, jangan sampai diambil orang. Karena itu pula yang bakal saya lakukan, menjaga apa yang sudah menjadi milik saya ! Tante boleh bo*dohi Fathya tapi tidak dengan saya. Permisi," Gale memasukkan lagi kartu atm ke dalam dompetnya dan mencangklok tas punggung kecilnya.


"Oh iya satu lagi !" Gale kembali meliriknya.


Gale meraih ponsel miliknya, "nenek bilang berduaan itu berbahaya. Kalo sama lawan jenis bahayanya takut berbuat zi_na, kalo sama sesama perempuan takutnya salah paham. Jadi untuk cari aman, Gale minta abang jadi orang ketiga !" senyumnya manis menampilkan layar ponselnya pada Seli jika ternyata Gale tengah terhubung dengan Fatur.


"Apa ?!


Seli terkejut bukan main, jadi selama pertemuan dan pembicaraannya dengan bocah rese ini barusan, Fatur mendengarkan di ujung telfon sana.


"Kur_ang ajar !!!!"


"Ups, kaburrr !" Gale berlari keluar cafe sambil tertawa.


Di luar cafe, Gale menempelkan ponselnya di telinga.


"Hallo !"


"Kamu ke rumah sakit sekarang," ucap Fatur dari ujung telfon sana.


"Asiap abang ! Gale tutup telfonnya ya, assalamualaikum !"


Gale masih tertawa seraya memakai helmnya.


Flashback on


"Assalamualaikum,"


"Kamu dimana ?" tanya Fatur.


"Di rumah ayah," padahal nyatanya Gale sudah diatas motornya hendak bertemu Seli.


"Fathya bilang kamu nyuruh mang Kosim buat ga jemput ? Abang jemput kamu nanti !"


"Ga usah bang, Gale mau pergi sebentar, ada perlu."


"Ketemu siapa ?" tanya Fatur dingin.


"Matii gue !" benak Gale. Gale bimbang apa harus ia berbohong ?


Bohong, engga ? Bohong, engga ?


"Gale !" sentak Fatur.


Gale mengaku, "dokter Seli bang,"

__ADS_1


"Mau ngapain ?"


"Gale engga tau, tapi yang jelas Gale mau minta ijin sama abang. Boleh engga ?"


"Ponsel kamu hidupkan, abang telfon kamu biar abang denger apa saja yang akan dikatakan Seli nanti !"


"Iya bang," jawab Gale.


Sesampainya di cafe, Gale menghubungi Fatur, tanpa berniat bicara ia menyimpan ponselnya di meja agar Fatur mendengarkan pembicaraannya dengan Seli.


Seli sudah menjambak rambutnya sendiri, "gadis nakal !" geramnya.


Ia menyambar tasnya untuk keluar dari cafe, menendang ban mobilnya sendiri saking kesalnya.


Gale melajukan motornya menuju rumah sakit.


Dari kejauhan Fatur tengah berjalan bersama seorang dokter lainnya dengan beberapa berkas di tangannya.


"Nanti saya ke ruangan dokter Rey," ujar Fatur pada dokter itu.


"Oke, saya tunggu dok !" pria itu menepuk-nepuk punggung Fatur dan berlalu.


Ia melihat gadisnya mendekat.


"Abang !" panggilnya berlari.


"Kamu ga apa-apa kan ?" tanya Fatur, Gale menggeleng.


Fatur mengusap kepala Gale, "maaf, kamu jadi terbawa dalam masalah abang," terlihat Fatur yang gusar.


Gale tersenyum, "hebat kan Gale ngadepin tante Seli bang ?!" jumawanya.


Fatur sudah menahan emosi sejak tadi, sejak mendengar semua pembicaraan keduanya, hanya bisa diam, karena tak disana.


"Biar abang yang selesaikan, kamu ga usah berurusan lagi dengan Seli," ucapnya dingin.


Gale bisa melihat amarah di diri Fatur.


"Bang, Gale ga apa-apa." Gale memegang tangan Fatur.


"Tapi abang yang ga baik-baik aja. Kamu tunggu aja di ruang abang sebentar, abang masih ada pasien yang harus di periksa. Nanti kita ngobrol lagi," Fatur mencubit pipi Gale gemas.


"Istri abang cantik," bisiknya.


"Dih gombal !"


.

__ADS_1


.


Note : arti peribahasa diatas, pernikahan adalah tempat suatu proyek dimana suami bekerja dan istri belanja.


__ADS_2