
Gale langsung turun tanpa sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. Tujuannya hanya satu, mencari tempat duduk dan makan.
Ia memakan bekalnya dengan santai, meski ia sedang dilucuti oleh tatapan penghuni disini.
"Ale, keren ih!" Gale mendongak.
"Thanks," anggukan Gale, ia membawa rambut yang tak ia ikat ke belakang telinganya.
"Kok gue ga tau loe bisa nyanyi sambil main keyboard, sii. Perasaan di sekolah loe ga pernah tampil?" Fathya ikut memakan bekalnya bersama Gale, seperti anak tk? Yap! Fatur memang meminta kedua gadis ini bekal meski tetap memberi keduanya uang jajan.
"Loe ga pernah nonton Denial's channel emangnya? Gue sering colab disana sama onta,"
"Hay, Galexia ya? Yang tadi keren. Kakak-kakak kating lagi ngomongin kamu tuh! Eh ralat deh, semuanya, camaba sama panitia juga!"
"Thanks, Gale mengangguk melanjutkan makannya, tak mau nutrisi untuk si kembar terhenti.
"Eh aku Nadia, sorry ya langsung duduk disini, ga apa-apa kan ikutan gabung?" tanya gadis berpotongan rambut sepunggung.
"Ga apa-apa,"
"Aku Fathya anak FMIPA," Fathya berjabat tangan.
"Nadia, kedokteran.."
"Galexia, yang aku denger kamu anak kedokteran juga?" sepertinya si gadis ini lebih tertarik pada Gale.
"Iya,"
"Kamu lagi hamil?" kembali Gale mengangguk. Sepertinya gampang sekali untuk Gale menancapkan eksistensinya.
"Galexia?! Dipanggil kating!" seseorang lagi hadir di depan mereka. Gale mendongak, dan mengangguk.
"Iya," tak ada bantahan ataupun alasan yang ia lontarkan, selama tak mengganggu waktu makan.
"Cabe, gue ketemu kating dulu ya!" ijin Gale.
"Mau ditemenin ngga?" teriak Fathya, Gale melambaikan tangan diatas, pertanda tak perlu. Outfit Gale menjadi sorotan dari ujung kepala sampai kaki, siapakah dia, darimana asalnya?
"Maaf, manggil saya kak?" tanya Gale, ia cukup menghela nafas. Nasi yang ditelannya belum sempat dicerna oleh lambung dan usus. Tak bisakah ia tenang sebentar?
"Kenapa langsung nyelonong aja? Ga minta ijin dulu?" tanya Vena.
"Maaf kak, soalnya udah masuk waktu makan. Dan saya harus isi nutrisi.." tunjuknya pada perut.
"Ah, iya loe hamil," senyumnya mengejek.
"Mestinya laporan dulu dong, ijin atau gimana. Kaya ga punya sopan santun aja!"
"Maaf kak, kalo memang salah."
"Besok-besok jangan telat!" sengaknya. Gale membungkuk tapi matanya mengarah ke belakang Vena dimana banyak kaka tingkat yang melihatnya meneliti.
"Besok-besok kasih tau saya, mesti laporan kalo udah dihukum Biar saya tau harus ngapain," balasnya, mulutnya gatal juga tak membalas, sedari tadi ia diam tapi sepertinya gadis di depannya menatap ia merendahkan dan selalu ingin menyela dan mencari masalah dengannya.
"Wahh, baru dikasih kelonggaran aja udah berani lawan. Baru bisa nyanyi aja berani bales!" kening Gale berkerut, memang saat-saat begini junior selalu salah, ia mengerti.
"Ada apa ini Ven?" tanya Aisyah.
__ADS_1
"Engga, nih nyolot!" tunjuknya. Gale menggeleng pelan.
"Ya udah, udah lah Ven. Dari tadi kamu ngajakin dia berantem terus," ucap Aisyah.
"Gale?!" panggil seseorang dari arah belakang tubuh Vena dan Aisyah. Seiring dengan bubarnya para kating di ruangan itu.
"Onta Hendra?!!" ia salim takzim.
"Onta!!" Gale berseru senang. Mereka menganga melihat Gale kenal dengan Hendra alumnus di kampus ini, ia juga masih sering mendatangi kampus untuk sekedar mengenang masa-masa kuliah, ditambah beberapa dosen disini adalah teman kampusnya dulu. Hendra yang masuk ke dalam organisasi BEM almamater kuning pada angkatannya masih sering mengunjungi sekedar say hay pada para juniornya, padahal sudah belasan tahun ia lulus.
"Ko ayah ga bilang kalo Gale diterima disini?" Gale terkekeh.
"Ran...Randi!" panggil Hendra. Si sosok jangkung, tampan dan jutek itu menghampiri.
"Titip ponakan abang, Ran!"
"Gale, ini Randi ketua BEM disini. Kerabat onta,"
"Ah iya," angguk Gale.
"Ran, dia Galexia...tau kan Arkala Mahesa? Sekertaris BEM angkatan sebelum abang?! Nah ini anaknya!" tunjuk Hendra senang.
"Oh, saya Randi!" jawabnya mengulurkan tangan dengan ekspresi datar, Gale hanya mengatupkan kedua tangannya di dada, hingga Randi menarik kembali tangannya. Seorang Randi dianggurin? Bercanda! Randi yang memang penasaran dengan bumil cantik di depannya ini akhirnya mengangguk mendapatkan jawaban dari Hendra, bahwa ia adalah anak seorang Arkala Mahesa.
"Hah?!" Kedua gadis di depannya melongo dan syok tanpa suara. Siapa yang tak tau alumnus yang melegenda namanya. Bahkan data diri mereka yang menorehkan namanya di organisasi ini tersimpan rapi di arsip.
"Mau ketemu om Vian ngga?" tanya Hendra.
"Mau onta, kata ayah om Vian jadi dosen disini?" tanya Gale.
"Iya, yuk!
"Bapak siapa onta?" tanya Gale tertawa.
"Bapaknya nih anak!" tunjuk Hendra pada perut Gale, ia ikut tertawa atas candaan Hendra, tapi rupanya candaan itu dianggap serius oleh mereka. Hendra membawa Gale ke dalam rangkulannya dan pergi dari sana.
"Idih, amit-amit! Abang masih idup,"
"Iya emang ga ada disini kan, adanya di rumah sakit lagi cari berlian!"
"Gimana rasanya diospek?"
"Emhhh, ada manis-manisnya gitu onta!"
"Ga nyangka gue, dia...anak Arkala Mahesa?!" tanya Robi mendekati kedua gadis yang masih melihat kepergian Gale bersama Hendra.
"Loe denger juga Bi?" tanya Aisyah.
"Denger lah, punya kuping gue-nya!"
"Hayo loh Ven, mau apa loe udah tau doi bukan camaba sembarangan!" dorongan pelan di bahu oleh Robi menyadarkan Vena.
"Ah bo*do amat lah! Emangnya mau apa, bukan pejabat penting ini?!" gidiknya acuh, padahal jauh di lubuk hatinya terdalam, ia takut jika Gale mengadu pada Hendra.
"Galexia," gumamnya, setelah tau dia siapa, Randi malah penasaran dengan kehidupan Gale. Padahal tidak biasanya ia seperti ini pada orang lain.
Jangan kepo, orang kepo matinya cepet! Seperti yang selalu Gale bilang.
__ADS_1
...----------------...
Sebuah motor terhenti di depan seorang bumil, Gale menyipitkan matanya demi bisa melihat siapa yang ada di depannya, sorot matahari begitu menyilaukan.
"Nunggu orang?" tanya nya membuka kaca helm tanpa membuka helmnya.
"Iya, nunggu jemputan. Kakak minggir dong, takut jemputan aku ga bisa liat aku!" pinta Gale mengibas-ngibaskan tangannya, Randi sampai melongo dibuatnya, baru kali ini ia diusir oleh seorang perempuan, biasanya ia yang menolak undangan dari para gadis. Randi sedikit memundurkan motornya.
"Mang Kosim !!!" pekiknya tertuju pada mobil Fatur yang dibawa mang Kosim, dengan si pengendara yang celingukan mencari tuannya.
"Neng, bapak masih di rumah sakit. Titip pesen disuruh jemput neng Gale sama neng Fathya," ucap mang Kosim.
"Iya mang,"
"Ale!"
"Sorry gue lama, yu balik!" Fathya terlihat kepayahan berlari.
"Loe ga usah lari-lari. Ga akan gue tinggal juga cabe!"
"Kampusnya luas, takut ga kedenger terus ditinggal!" bibir Fathya merengut.
"Kalo mau yang sempit, ngampusnya di kandang ayam! Buruan panas lah, pengen ngadem," omel Gale.
"Eh bentar!" tahan Fathya di lengan Gale, matanya jatuh di ban belakang mobil.
"Mang, bocor tuh bannya!" tunjuk Fathya. Mang Kosim melirik, "ya Allah neng, mamang ga liat. Mamang cari tambal ban dulu gimana?" tanya nya tak enak hati pada dua majikannya.
"Maaf di depan sana ada tukang tambal ban pak, kayanya bisa disana!" ucap Randi.
"Oh gitu aden, oke kalo gitu. Makasih!" Mata mang Kosim beralih menatap Gale dan Fathya.
"Neng, sebentar ya. Mamang nambal dulu!" pintanya.
"Ya udah mang buruan ya, eh..mamang ada uangnya engga? Ini pake dulu uang Gale, jangan pake uang mamang!" Gale merogoh dompet di tasnya.
"Ga usah neng, mamang suka dikasih uang sama bapak takut di jalan ada apa-apa." Tolak mang Kosim.
"Ga apa-apa. Yang itu pake buat beli minum aja, sambil mamang nunggu ban ditambal!" jawab Gale tersenyum manis menyejukkan di tengah siang yang panas.
"Kalo mau nunggu di sebelah student center aja, kasian disini panas," ucap Randi.
"Iya makasih," jawab Gale singkat, beda dengan Fathya yang menatap Randi penuh mata kagum dan tersenyum simpul, Gale terlihat biasa saja malah terkesan jutek dan acuh melihat Randi.
Randi benar-benar dibuat penasaran, padahal ia sudah berusaha menahan rasa penasaran itu, mengingat Gale tengah hamil, berarti Gale telah memiliki seseorang.
"Iya makasih ka Randi," jawab Fathya.
"Kalo gitu saya duluan!" Randi melajukan motornya, sesekali melirik ke arah spion kecil untuk melihat ke Gale di belakang.
Sadar loe Ran, dia lagi hamil! Kalo cuma pacar masih bisa loe tikung, ini..dia udah mau punya anak, kaya ga ada cewek lain aja.
Bapaknya ga ada disini!
Sayup-sayup masih bisa terdengar suara Hendra, Bapaknya nih anak! mendadak ucapan Hendra membayanginya. Apa Galexia terjerat kenakalan remaja, seperti umumnya anak-anak remaja sekarang? Terus ditinggal bersama kandungannya tanpa status?
.
__ADS_1
.
.