
Pagi sekali ia sudah sibuk meramaikan dapur dengan suara spatula yang beradu bersama wajan.
Nasi goreng cumi memang selalu jadi favorit si kembar, sementara yang lain? Manut wae, karena di rumah ini princessnya adalah mereka.
"Assalamualaikum bunda," pelukan hangat dan wangi menguar dari arah belakang Gale.
"Waalaikumsalam ayahnya kakak dedek,"
"Kakak dedek dibangunin deh bang, udah subuh!" Pinta Gale memutar badan dan mengecup hidung suami dokternya.
"Iya,"
Ia kembali ke lantai atas, sedangkan Gale memasukkan nasi gorengnya ke dalam mangkuk kaca besar, tak lupa ia memasak tumisan sawi dan telur ceplok kesukaannya.
Fatur membuka kamar kedua anak kembarnya, mereka masih satu kamar saat ini. Senyumnya mengembang melihat kedua bidadari ini masih terlelap dengan gaya berbeda.
Afifah memang selalu rusuh, selimut birunya sebagian menjuntai ke bawah lantai. Sementara Aliyah, like little angel..meringkuk anteng di dalam selimut bersama kedua tangan dibawah pipi gembul.
Fatur menyingkabkan tirai kamar agar udara pagi masuk ke dalam celah-celah jendela. Cara membangunkannya memang berbeda, ia memutar asmaul husna dalam sebuah boneka penghafal qur'an di meja yang ada diantara ranjang.
Menyalakan water heater di kamar mandi. Suara bising dan udara dingin itu mengundang geliatan dari kedua anak kembar.
Perlahan kelopak mata Aliyah bergerak terbuka, sementara Afifah masih anteng terlelap, tak terganggu dengan apa yang dilakukan sang ayah. Memang si kakak ini agak susah untuk dibangunkan dibanding adik.
"Eh, adek udah bangun?" Fatur segera menghampiri bocah perempuan bersurai panjang sepunggung, rambutnya masih berantakan meski tidurnya tak seheboh sang kakak.
Ia mengucek matanya, dan mengangguk, pertanyaan pertama yang diucapkan adalah "ayah, bunda mana?"
"Masih di dapur, lagi bikin sarapan. Mau turun?" ia kembali mengangguk.
"Tapi bangunin dulu kakak ya!"
Fatur terpaksa mengguncangkan badan si kakak yang tak nampak pergerakan akan segera bangun.
"Kakak,"
Hanya butuh panggilan 3 kali suaranya, maka otomatis si kakak akan bangun. (kok kaya hantu sih min panggil namaku 3 kali, ya ga tau, pingin aja...pokoknya gitulah)
Bocah itu menyesuaikan netranya dengan cahaya kamar, menguap lebar sontak ditutup oleh tangan Fatur.
"Ayah?!" seakan sedang menjernihkan pandangannya.
"Hari ini ayah anter jemput kakak kan? Ayah kan udah janji mau jalan-jalan sama kakak?!" itulah rentetan pertanyaan si kakak tak berjeda yang lebih dekat dengan ayahnya.
"Cuci muka dulu yuk!" ajak Fatur mengajaknya, ia mengangguk.
"Tapi gendong di belakang!" pintanya.
"Siap bos!" Fatur menggendong Afifah di belakang sementara Aliyah di depan menuju kamar mandi.
...----------------...
"Bunda !!"
"Bunda!!"
Keduanya berlarian masih dengan piyama. Rambut hitam legam, panjang, dan tebal mereka ikut bergerak kesana kemari.
Mama dan Fathya sudah berada di meja makan, mengobrol santai dengan Gale.
"Hay!!" Gale berjongkok menyamakan tingginya dengan si kembar.
"Pasti belum pada mandi?!" mereka menggeleng cepat membuat poni yang menyentuh alisnya ikut bergerak.
"Pantes aja bau bantal! Kemon lah kita mandi dulu," Gale menggandeng kedua putrinya menuju kamar.
...----------------...
"Hari ini pake jepitan kupu-kupu bun," pinta Aliyah.
__ADS_1
"Oke princess! Apa sih yang engga, mau pake jepitan bangbung hideung apa tongggeret pun hayuk bunda mah!" Aliyah mendengus mendengar kelakar bundanya sementara Afifah tertawa.
"Adek centil banget mesti dijepit-jepit bikin gerah!" sewotnya.
"Biarin aja, daripada kakak kaya anak cowok!" balasnya, kaki Aliyah digoyang-goyangkan ke depan dan belakang saat duduk di meja rias, sementara Gale memasangkan jepitan kupu-kupu di samping. Beda kakak beda adik, jika Afifah cukup ia ikat saja satu di belakang, tak banyak aksesoris minta dipasangkan karena Afifah memang tak terlalu suka katanya kaya ondel-ondel.
"Siap sekolah?!"
"Siap!"
Jika Fathya sudah mulai bekerja, lain halnya dengan Gale, ia masih harus ngampus lagi karena dibutuhkan kurang lebih 11 tahun untuk menjadi dokter spesialis anak termasuk magang dan residensi.
Hari ini Fatur libur, ia selalu memanfaatkan waktu liburnya bersama keluarga kecilnya. Perhatian-perhatian kecil selalu ia berikan untuk si kembar seperti mengantar jemput Afifah dan Aliyah sekolah, dan sekedar mengajak jalan mereka ke wahana edukasi. Ia memang dokter handal terlebih spesialis jantung, kemampuannya tak perlu diragukan lagi. Tapi untuk urusan menjadi ayah hebat, ia selalu berusaha sebaik mungkin. Untuk menjadi seorang ayah tak ada sekolahnya selain langsung praktek di lapangan. Setidaknya ia tak akan membiarkan kedua gadisnya mengalami apa yang ia dan Fathya alami dulu.
Nyaris tak ada pertengkaran yang berarti diantara Gale dan Fatur, mungkin beberapa perdebatan kecil yang terkadang memicu Gale atau Fatur memutuskan untuk saling diam. Tak pernah berlangsung lama, tak lebih dari 3 hari keduanya sudah kembali baikan, anak-anak dan kebutuhan ranjang selalu bisa jadi penengah yang baik.
...----------------...
Gale memang tak pernah terlihat lebih tua, walaupun umurnya bertambah setiap harinya.
Masa magang dan resensinya sudah berakhir, ia resmi menyandang gelar dokter spesialis anak sekarang, tak berbeda jauh dengan Fatur, nama Gale kini selalu diperbincangkan diantara rekan sejawat dan khalayak ramai sebagai dokter cantik yang selalu mencuri perhatian baik pasien dan rekan kerja juga cara pendekatannya pada pasien yang kini banyak ditiru dokter anak lain.
"Ada dokter baru ya, yang direkrut Jakarta Internasional Hospital?"
"Iya poli anak," desas desus berkembang diantara pegawai sana.
"Wahhh! Udah lama gue ga ketemu Galexia, Tur! Hebat--hebat! Pasangan serasi, lakinya dokter spesialis jantung ganteng dengan segudang prestasi, nah bininya dokter spesialis anak cantik yang lagi naik daun!" oceh Teri, saat keduanya kebetulan beristirahat bersama di cafe rumah sakit.
Fatur hanya mengulas senyumannya, rasa kecemburuannya jelas selalu ada apalagi mengingat Gale sekarang sudah sama-sama sukses. Bukan tidak mungkin ia akan mencari yang lebih tampan, kaya dari dirinya. Bahkan dengan terang-terangan beberapa pengusaha sukses tanah air menyukainya, mengirimkan barang untuk Gale mulai dari bunga, tas branded, perhiasan, tas, dan mengajaknya affair.
Mendadak rumah sakit ini heboh, bukan karena pasien dengan penyakit istimewa namun karena kedatangan dokter baru yang memiliki jam prakteknya disini.
Tap..
Tap...
Suara ketukan wedges putih memasuki ruangan auditorium di lantai 4 salah satu rumah sakit megah di Jakarta.
Se-sosok dokter dengan gaya girly macam member girl band korea kini berdiri di depan bersama jajaran direktur rumah sakit seiring tepukan tangan dari rekan kerja dan teman sejawat.
"Selamat datang dok, semoga nyaman bekerja disini," Gale mengangguk sopan.
Pandangannya jatuh pada dokter seniornya yang selalu memberi Gale inspirasi, dokter Faturrahman Al-Lail.
Banyak dari para perawat yang belum mengenal Gale, berjabat tangan ingin berkenalan dengan dokter yang masuk dalam jajaran dokter paling paripurna alias dokter-dokter kece yang kebanyakan berderet nama dokter kecantikan.
"Selamat datang dok,"
"Selamat bergabung dok,"
"Semoga betah dok,"
"Dokter Galexia?!" wanita itu berbalik.
"Selamat datang dan bergabung disini dokter cantik. Semoga betah..." Fatur menyerahkan sebucket bunga mawar merah membuat wajah Gale memerah layaknya bunga itu.
Tangan yang masih menempel di mulut kemudian ia lepas untuk menerima bucket bunga, bukannya berterima kasih Gale malah memukulkan pelan benda itu ke dada Fatur.
"Abang apaan sih?!" tawanya.
"Ekhem, kayanya gue bakalan jadi obat nyamuk nih?! Galexia selamat bergabung, semoga betah ya, kalo engga dibetah-betahin aja! Gue pamit duluan," ujar Teri tersenyum kikuk meninggalkan kedua sejoli ini.
"Iya bang Teri, makasih!"
"Rejeki buat abang bisa seharian bareng dokter cantik, kayanya abang harus minta maaf sama istri di rumah karena bakalan terus sering lembur dan mandangin dokter cantik di tempat kerja," jelasnya.
"Ih, kasian istrinya bang! Tapi maaf bang dokter, saya sudah punya suami di rumah," jawab Gale.
"Ga mau affair ni?! Saya dokter spesialis jantung loh, gaji saya lumayan lah walaupun ga sekelas pengusaha batu bara!" tanya Fatur.
__ADS_1
Gale menggeleng, "engga makasih, saya cinta sama suami saya."
"Ya, sayang sekali." Ia membuat gerakan menendang udara, membuat Gale tertawa.
"Pulangnya jemput dulu anak-anak disekolah bang, Ka Fifah basket, dek Liyah tari."
"Siap sayang!"
Mereka tertawa bersama dengan Gale yang melingkarkan tangannya di lengan Fatur.
...----------------...
"Pasien Naysila," panggil suster Sarah. Anak itu meronta-ronta tak mau masuk, menangis sejadi-jadinya meski ibunya memaksa.
"Ga mau ketemu dokter!!!" teriaknya histeris, membuat siapa saja menolehkan kepalanya ke arah gadis kecil berswetter merah ini.
Bahkan ibunya saja hampir kewalahan dibuatnya. Dalam bayangan si anak, ia akan menemui dokter dengan perawakan tua dan tak menyenangkan. Belum lagi ruangan putih yang seperti sebuah ruangan eksekusi baginya berikut jarum suntik dan obat pahit.
Mendengar itu Gale beranjak dari duduknya dan keluar ruangan.
"Hay sayang !!!" serunya, jauh dari bayangannya, si anak terperangah dan mulai teralihkan dari tangisnya. Bandana kuping kelinci putih yang menempel di kepala, rambut yang di ikat satu menyisakan anak rambut gelombang menjuntai di depan telinga dan penampilan seperti member girl band meskipun masih dalam ranah sopan, jangan lupakan paras cantik dokter satu ini membuat si anak diam meneliti.
"Ko nangis?!, tante boleh ikutan duduk di sebelah kamu engga?" Gale duduk di dekat posisi si anak yang masih sesenggukan.
Ia tak menjawab pada awalnya, tapi melihat wajah ramah Gale seraya membawa pulpen lucu ia penasaran juga, "Tante siapa?" tanya nya.
"Cuma orang yang pengen liat kamu sembuh!" jawab Gale.
"Tante punya makanan, tapi ga bisa ngabisin sendiri. Kamu mau bantu engga?" tanya Gale menunjukkan cemilan oat ber-rasa, sedikit demi sedikit ia merangkul si anak.
"Tante juga punya pensil bagus, tapi mau tante kasiin buat orang yang mau jadi teman tante! Mau temenan ngga?!" tanya nya menunjukkan sebuah pensil lengkap dengan aksesoris bling-bling.
Si anak mulai tertarik dengan cara perlakuan Gale, si ibu sudah berpeluh karena menahan amukan si anak yang enggan bertemu dokter duduk tersenyum di sampingnya.
Anak itu mulai berfikir dengan tawaran Gale, dan mengangguk lemah karena kondisinya yang sakit.
"Kata mamah jangan main dulu, akunya sakit," adunya, Gale mulai mengambil stetoskop miliknya, dan thermo gun juga riwayat kesehatan si anak dari tangan suster Sarah.
"Oh gitu, apanya yang sakit? Boleh tante tau?!" si anak menunjukkan setiap bagian yang sakit. Jika umumnya si ibu yang bercerita pada dokter keluhan yang dirasakan, tapi tidak dengan dokter satu ini, maka si anak sendiri yang harus bercerita, selain dari catatan riwayat yang dikeluhkan si ibu. Saat si anak sibuk bercerita sakitnya Gale menempelkan thermo gun untuk mengecek suhu badannya.
"39,5." Ucap Gale, suster Sarah mencatatnya.
"Mau masuk ke ruangan tante ngga? Soalnya semua yang jadi temen tante, pasti masuk?!" ajak Gale, Naysila menghentikan pandangannya tepat di depan pintu ruangan Gale, anak itu mengernyitkan dahinya.
"Kok pintu tante beda sama pintu lain?" tanya nya sejak tadi anak itu cekah-cekoh terbatuk.
"Nay, nanti lain kali kalo Nay mau batuk lagi ditutup ya, kalo ga suka pake masker, setidaknya Nay pake tangan atau lengan baju, kaya gini!" Gale mengintruksikan.
"Iya tante,"
"Yu masuk tempat main tante!" ajak Gale menggenggam tangan hangat Naysila.
Anak itu sempat terdiam, "ga apa-apa, justru disana seru loh! Nay bisa liat banyak bintang?!"
Benar saja, ruangan Gale tak seperti dokter pada umumnya. Ia meminta pihak rumah sakit untuk menempelkan wallpaper dinding bernuansa setengah galaksi dan setengah lagi fairytale. Ruangan Gale pun tak bau etanol, justru wangi pengharum buah-buahan.
Teri melihat jika dokter spesialis jantung ini benar-benar sudah kesemsem dokter anak yang batu datang beberapa hari. Buktinya kini Fatur sering melihat Gale dari kejauhan, melihat cara kerja Gale yang tentunya membuat para pasiennya jatuh hati.
"Bener lah cinta tuh memabukkan!" kekeh Teri.
"Kalo sakit bisa digandeng Gale gue juga maulah sakit! Tapi sayang gue bukan lagi anak kecil," tawa Teri sontak Fatur meninju lengan Teri, tapi si empunya malah tertawa cekikikan.
.
.
Noted :
Bangbung hideung : kumbang hitam
__ADS_1
Tonggeret : tonggeret/kinjeng tangis.