Gadis Nakal Om Dokter

Gadis Nakal Om Dokter
Sayangi jantung anda !


__ADS_3

Selepas Fatur pergi, tak banyak yang Gale lakukan. Ruangan Fatur tak terlalu besar apalagi untuk ukuran gadis pecicilan seperti Gale, seharusnya Fatur meninggalkan Gale di sebuah taman bermain atau lapangan bola yang luas, agar gadis ini anteng.


"Kenapa coba, warna cat ruangan dokter tuh identik warna putih. Ga aneh, membosankan !" dengusnya melihat setiap inci dari ruangan suaminya.


"Warna pink kek, warna polkadot, atau rainbow gitu ! Atau gradasi langit malam bertabur bintang gitu, biar pasien tuh ga bosen, ini nih yang gue paling ga suka kalo berobat, selain takut suntikan sama dokter yang nyebelin, ruangannya ngebosenin !" untuk urusan ini, Gale tidak se-frekuensi dengan Fatur.


Bukan hanya di rumah, beberapa sertifikat penghargaan pun ada yang terpampang disini.


Sayangi jantung anda !


Judul poster yang terpajang, masih ada sederet poster lain tentang jantung.


"Sayangi jantung anda, tapi gue sayangnya duit gue gimana dong !" kekeh Gale bergumam. Memang absurd istri dokter yang satu ini, minta ditimpuk rame-rame pake duit segepok.


Gale memakai jas cadangan milik Fatur yang tentu saja kebesaran di badannya, lalu duduk sambil memegang stetoskop.


"Wishhh ! Keren kali ya kalo gue jadi dokter ! Ntar resep obatnya gue ganti bukan ibu profen atau antibiotik, tapi healing...liburan, dance, ajep-ajep, balapan motor gunung !"


"Mau jadi dokter gimana, liat da_rah aja pala gue langsung pusing !" kikiknya menertawakan mirisnya diri sendiri.


"Coba gue dengerin detak jantung gue sendiri, masih normal ngga ya setelah ketemu sama emaknya kuyang !" ia mencoba mendengarkan detakan jantungnya sendiri dengan menempelkan stetoskop di dadanya.


"Ini yang normal detakan jantung semenit berapa sih ?" tanya nya bermonolog sibuk mendengarkan sambil melirik arloji di pergelangan tangannya.


"60-100 denyut permenit,"


"Astagfirullah !" Gale terkejut dengan kedatangan Fatur yang tiba-tiba menjawab.


"Abang hobby banget bikin Gale kaget ih ! Untung ga punya penyakit jantung !!" sewot Gale.


"Bagi orang dewasa normal 60-100. Hanya saja, detak jantung normal tergantung pada individu, usia, ukuran tubuh, kondisi jantung, aktivitas seseorang, penggunaan obat tertentu, bahkan suhu udara."


"Kalo orang yang lagi deg-degan, jatuh cinta, atau lagi galau, marah, kesel ?" tanya Gale menaruh stetoskop di tempatnya semula.


"Itu juga termasuk faktor yang mempengaruhi jumlah detak jantung permenitnya,"


Fatur mendekat ke arah Gale, menempelkan stetoskop di dada Gale dan mendengarkan detakan jantung Gale. Mendadak Gale malah jadi deg-degan diperlakukan seperti ini, karena saat ini Fatur malah menatap manik mata Gale seraya menghitung detakan jantung Gale.


"Abang jangan liatin aku kaya gitu ! Curang, nanti detakan jantung aku abnormal !" Gale memukul lengan Fatur yang kemudian pria itu terkekeh.


Baru kali ini Gale merasakan perasaan yang begitu membuncah, bahagia, merona, malu-malu, dan salah tingkah saat di dekat laki-laki. Cowok setampan Angga Yunanda saja ia tolak mentah-mentah.


"Gale normal," jawab Fatur.

__ADS_1


"Cuma kayanya emosi kamu lagi terganggu, marah, kesel, atau..."


"Jatuh cinta....?" tanya Fatur menatap Gale dalam, membuat Gale terhanyut beberapa saat, seakan mata keduanya tengah saling bicara.


"Nahan bo*ker tepatnya," jawab Gale tertawa, Fatur ikut tertawa.


"Abang masih harus ketemu dokter Rey, dokter ahli bedah. Kalo kamu bosen bisa ke taman atau cafe rumah sakit dulu," ucap Fatur.


"Iya bang," Fatur mengambil satu map berisi rekam medis seorang pasien lalu keluar ruangan.


"Jantung gue !!!" Gale langsung memegang dadanya. Kini jika satu ruangan dengan Fatur ia selalu merasa sesak, seolah pasokan oksigen tiba-tiba menipis untuknya.


"Bahaya nih !" decaknya.


Gale menghempaskan badannya di kursi Fatur menatap langit-langit ruangan Fatur.


Ia hanya memainkan ponselnya, mengecek sosial media yang begitu-begitu saja, hingga lama-lama matanya berat. Memang jam tidur siangnya sudah terlewat, makanya gadis ini mengantuk, ditambah ia yang sudah kenyang semakin membuat tubuhnya tak bisa lagi berontak dari rasa kantuk.


Fatur membuka pintu ruangannya, jam prakteknya sudah habis. Saatnya membawa istri nakalnya ini pulang, sepanjang hari ini ia belum bertemu lagi Seli. Fatur mengepalkan tangannya dan mengeraskan rahang mengingat bagaimana Seli menyerang Gale, orang sedewasa dan berpendidikan seperti Seli tak seharusnya begitu terlebih pada Gale yang bisa dikatakan jauh lebih muda dan masih sekolah. Untung saja dulu ia belum sempat mengutarakan niatnya untuk melamar Seli, dan kini Allah seakan tengah menunjukkan bagaimana Seli yang sebenarnya.


"Seli sudah kelewatan !"


"Fathya...." ia tak menyangka adik kesayangannya bisa dengan teganya bekerja sama dengan Seli.


"Capek ya Le, seharusnya kamu istirahat di rumah." Fatur membiarkan Gale tidur untuk beberapa lama, memandangi wajah bidadari berkemasan tuyul.


Posisi begini membuat Gale tak nyaman, hingga tak lama ia mengerjap dan meluruskan badannya.


"Hoammm !" ia menggeliat dan menjentikkan setiap buku jari dan lehernya.


Krrtek !


Fatur berdecak, "jangan digituin Le, bahaya !"


"Abang ?!" ucapnya melihat pria itu sedang memperhatikannya tidur.


"Ko ga bangunin Gale ?"


"Kamu tidurnya pules banget, kasian. Biar kamu bangun sendiri," jawab Fatur.


"Udah selesai kerjanya ?" Fatur mengangguk.


"Ya udah yuk pulang !" ajak Gale meregangkan otot-ototnya yang kaku dan mengkerut karena tidur dalam posisi duduk.

__ADS_1


"Ke cafe rumah sakit dulu yu, kamu kayanya masih ngumpulin nyawa. Bahaya kalo langsung pulang, soalnya abang sama kamu bawa motor," ajak Fatur, Gale mengangguk.


Mereka menyempatkan untuk sekedar makan cemilan dan minum jus.


"Bang, pulang yuk ! Badan Gale udah lengket, lagian perut Gale udah kenyang."


Gale celingukan, dan Fatur melihat itu.


"Cari Seli ?" tanya Fatur, Gale menoleh.


"Engga bang, yuk pulang yuk !" ajaknya beranjak.


"Le," Fatur menahan tangan Gale.


"Maafin Fathya ya, mungkin dia salah paham tentang niatan abang menikahi kamu, dia juga yang sampein kesalahpahaman ini sama Seli.."


Berhubung Fatur membahas Seli, hati Gale tiba-tiba berdenyut saat ingat ucapan menohok Seli tentang ayahnya.


"Gale ga suka Fathya sama tante Seli bawa-bawa ayah bang, mereka boleh jelek-jelekin Gale. Tapi engga ayah..." jawab Gale, entah kenapa obrolan yang membahas kedua orangtuanya selalu membuat Gale sensitif, inilah sisi rapuh dan kelemahan Galexia, keluarganya. Karena baginya ayah dan momy adalah segalanya.


"Bilang sama Gale, ayah ga maksa abang buat nikahin Gale kan ? Abang juga nikahin Gale bukan karena jasa kan ?" meski tak ingin, nyatanya air mata Gale sudah tak bisa ditahan lagi.


Fatur yang melihat itu, segera bangkit dan memeluk gadis ini erat.


"Engga, engga seperti itu. Kamu kan tau sendiri, abang yang meminta kamu waktu di Pondok," Jawabnya, ia sangat menyesal Fathya ikut terlibat.


"Abang..."


"Tur !" sapa dokter Teri.


"Eh, sorry...sorry...gue ganggu ya ?" dokter Teri langsung mengurungkan niatannya menghampiri.


Gale dan Fatur mengurai pelukan keduanya. Gale langsung mengusap air mata di matanya.


"Bang, Gale tunggu di parkiran." Gadis itu melangkah melewati Fatur dan Teri yang tak jauh dari mereka begitu saja tanpa melirik.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2