
"Hompimpa alaihum gambreng!"
Diba sampai tertawa, melihat kelakuan suami dan teman-temannya.
"Mereka ngapain Ba?" tanya Mia istri Ari, mantan anak didik Arka di Pondok.
"Lagi nentuin siapa yang nemenin di rumah sakit, siapa yang balik dan jagain anak-anak dan siapa yang stay di rumah Fatur." Jawab Diba, Mia meledakkan tawanya.
"Astagfirullah ha-ha-ha!"
"Sat! Gue jagain anak-anak loe lah!" Roy berujar mendengus, pasalnya anak-anak titisan kurawa begitu super sekali seperti kata Mario Teguh.
"Gue nginep di rumah sakit nemenin mamak gue bareng Niken, Ri bawain gue bantal, kasur, makanan, baju ganti sama ludo!" tawa Guntur.
"Loe mau nunggu yang sakit apa mau pindahan sat?!" tanya Ari, yang bertugas kesana kemari sebagai kurir.
"Dasar opa-opa sableng!" gumam Melan yang kini hadir setelah sebelumnya menitipkan anak-anak yang tertidur di rumah Fatur bersama Andro.
"Mas, pulang yuk! Mas harus jaga kesehatan. Ini udah malem banget, biar Sha sama Guntur aja disini. Kalo mas ga mau pulang mas bisa di rumah Fatur?" ajak Shania.
Ia menghela nafas, "biar mas pulang sama Roy saja ke rumah, kasian ibu di rumah sendirian cuman sama bibi, jemput dulu Andro. Biar Andro yang bawa mobil," Shania mengangguk.
"Mas hati-hati," Arka mengecup pucuk kepala Shania.
"Sha juga jaga kesehatan, Sha sering masuk angin," jawab Arka berniat pamit ke ruangan Gale.
"Abang ngeronda dulu, nanti Ari bakal anterin kamu sama dedek pulang," ucap Guntur meminta Diba pulang duluan. Baik Diba, Mia, Nico ataupun Hendra sudah terbiasa dengan ritual saling menunggui begini jika diantara mereka ada yang melahirkan.
"Iya, nanti Diba kirimin semur jengkol sama pecak gurame lewat bang Ari," Guntur mengangguk.
"Njirrr! Makanan kebangsaan wajib dibawa, oyy! Rumah sakit bakalan bau jengki!" tawa Roy ikut ditertawai yang lain.
"Gue ngikut om gledek lah, mau main ludo bareng sambil nunggu gemoy," jawab Ari.
"Kuy lah!" ajak Guntur tertawa-tawa.
"Dipikir bale warga kali!! Heran sama loe semua, dari dulu sampe sekarang, presiden udah ganti 3 periode kelakuan ga robah malah makin gila!" decak Leli.
"Eh bontot! Bo*do amat, mau presiden diganti sama syekh puji juga ga akan bikin gue jadi doyan main golf sendirian cuma ditemenin caddy kaya om Den!"
"Si@*lan loe buka-buka kartu!" jawab Deni menepuk jidat Guntur.
"Loe semua kalo masih mau ribut, gue siram satu-satu !" lerai Shania.
"Nah loe..nah loe! Berantem yookk beranteemm! Kira-kira si Nom mau pilih papih apa mamihnya kalo kaya gini?!" Roy menepuki.
"Gue dah tau!" cebik Leli.
"Awas Tot, om Den kecantol caddy golf yang aduhai!" si mulut kompor Ari tak bisa jika hanya diam saja.
"Parah ini sii, kawan yang baik banget kelian!" ujar Niken tertawa.
"Cape ah gue, mendingan liat laki, anak sama mantu gue yang adem ayem," Shania melengos menuju ruangan Gale.
"Mak ikut lah, mereka udah berantem. Tugas gue jadi tabung gas melon udah selesai!" tanpa rasa bersalah Guntur mengikuti Shania bersama Diba. Deni hanya bisa menggelengkan kepalanya, sudah tak aneh lagi ia dan Leli akan menjadi bulan-bulanan.
...----------------...
Mereka berpamitan pada Gale, berhubung hari sudah malam.
"Onta, onty !! Makasih," Gale sudah berkaca-kaca melihat pesan yang masuk ke emailnya.
"Buat apa?"
"Semuanya," ia akhirnya meneteskan air matanya terharu, betapa mereka menyayangi Gale sampai detik ini seperti anak kandungnya sendiri.
"Aaahhhh, jangan mewek! Biasanya juga Gale ga sungkan buat minta. mau Gale, Kia, ataupun anak yang lain, semuanya sama!" jawab Leli yang tengah dipeluk Gale.
"Kita pamit dulu ya,"
...---------------...
Tok..tok..tok!
__ADS_1
"Siapa itu bang?" tanya Gale, bunda muda ini sudah cantik dan rapi.
"Ga tau, abang buka dulu!" Fatur membuka pintu kamar rawat inap, menampilkan dua orang atasan dari rumah sakit, seorang yang dikenal dengan nama pak Dirga, direktur rumah sakit dan seorang lagi adalah staf rumah sakit.
"Dok,"
"Eh, pak! Silahkan masuk!" pinta Fatur, momy mertuanya sedang mencari sarapan bersama Ari, sementara Guntur sedang mandi di dalam, dan Niken tengah berjalan-jalan di area rumah sakit.
"Bu Galexia, bagaimana sudah sehat?" tanya lelaki paruh baya dengan dasi dan jas rapi itu menghampiri.
"Baik pak, terimakasih." Pria itu menyerahkan satu keranjang hampers yang dibungkus cantik beserta sebucket bunga mawar.
"Selamat atas kelahiran bayi kembarnya dengan selamat, sehat tak kurang suatu apapun," terlihat berwibawa namun tetap menampilkan kesan ramah.
"Terimakasih banyak pak," dokter muda berjuluk ayah itu membungkuk.
"Saya tundukan kepala untuk dokter Fatur, menolak fasilitas rumah sakit dan memberikannya untuk ibu lain yang akan melahirkan dan lebih memilih membayar secara mandiri, tak banyak orang yang punya jiwa rendah hati juga penolong meskipun dirinya sendiri sedang membutuhkan, definisi dokter sebenarnya," selorohnya terkekeh.
"Mungkin ini tidak seberapa tapi ini murni dari kantong pribadi saya sendiri." Ia menyelipkan sebuah amplop diatas pangkuan Galexia, membuat Gale dan Fatur melirik amplop itu dengan keterpakuan.
"Yang ini mohon diterima, rejeki si kembar!" kelakarnya agar suasana mencair.
"Terimakasih banyak pak,"
Tak selang berapa menit, dua box dibawa ke dalam kamar ini berisi malaikat-malaikat kecil Gale dan Fatur.
"Pagi !" sapa Seli cerah, secerah mentari pagi ini.
"Dokter Seli?"
"Pak," angguk Seli.
"Wah, ini rupanya si kembar yang cantik-cantik!" beruntung ia datang dapat melihat primadona yang sejak semalam jadi beruta hangat di rumah sakit ini.
Ceklek!
Dengan rambut basah dan acak-acakan Guntur membuka pintu kamar mandi, semua sontak menoleh dan Guntur terkejut, ia kembali masuk dan menutup pintu.
"Ha-ha-ha!" Gale menutup mulutnya karena tertawa, kemungkinan Guntur akan tertahan di dalam kamar mandi beberapa belas menit setelah ini. Bae-bae ya om gledek!
"Ohh," mereka tersenyum berohria.
"Kalau begitu, kami pamit dulu dok! Sekali lagi selamat," mereka beranjak.
"Waktunya si kembar minum nih! Biar bisa lebih dekat sama bundanya, selain membantu stimulasi ASI juga bantu si kembar biar kuat dan cepet-cepet bisa keluar dari inkubator," jelas Seli. Seli membantu memposisikan kedua makhluk kecil yang menggeliat manja untuk meny usu.
"Nanti kalo ngASI bisa pake bantal khusus ya buat menyusui, posisinya yang lebih gampang dan nyaman biasanya begini, karena anak kembar, jadi asupan nutrisinya harus terpenuhi dan sering, biar pada sehat, gembul! Kaya ibunya," senyum Seli.
Gale masih tertawa-tawa gemas melihat dua bayi mungil yang mencari-cari ujung miliknya, si kakak yang sigap langsung dapat dan meny usu kuat, sementara si adik yang kesal dan hampir menangis, manja hingga harus diarahkan.
"Lucu banget ya Allah!" Fatur tersenyum melihat ketiganya, dan baginya pemandangan itu adalah pemandangan terbaik setelah tampilan rapuh Gale di ranjang saat keduanya memadu kasih.
Ia teringat sesuatu, "Seli, bisa saya bicara sebentar?" tanya Fatur dengan wajah serius.
"Ah iya boleh,"
"Bisa diluar?!" Gale langsung menoleh, mengerutkan dahi dan menukikkan alisnya.
"Sayang, abang ijin sebentar boleh?" tanya Fatur, awalnya Gale menatap tajam waspada, tapi lama-lama ia mengangguk, percaya jika Fatur tak akan macam-macam.
"Iya,"
Seli ikut mengekori Fatur keluar dari kamar.
"Om gledek!! Keluar deh, udah ga ada siapa-siapa, tapi jangan liatin Gale, Gale lagi ngasih ASI!" pekik Gale, menutupi bagian tubuh atasnya dengan selimut.
"Oke!" Guntur membuka pintu dan melongokkan kepalanya, setelah dirasa aman, ia keluar dari kamar mandi.
"Pada kemana sih, kok gue ditinggal?" tanya Guntur mencari keberadaan Shania, Ari dan Niken.
"Pada nyari makan!"
"Ya udah kalo gitu, om cuma mau sisiran doang, abis itu ngikut nyari makan!" jawabnya, Gale tertawa.
__ADS_1
"Gale udah makan?" tanya Guntur.
"Udah, yang belum dessertnya om!" jawab Gale telah kembali ke stelan awal, tukang malak.
"Oke! Om kasih kue ape, mau?! Di depan rumah sakit ada yang jual kue ape!" Gale mengangguk.
"Sip!" ia keluar dari kamar, mendapati Fatur dan Seli tengah berbicara.
"Om,"
"Gale di kamar sendirian, saya mau cari sarapan dulu!" ujar Guntur.
"Iya om,"
"Kamu dan Teri bayar biaya persalinan Gale?" tanya Fatur.
Seli terkekeh seraya memasukkan tangannya ke dalam saku, "sudah kuduga, kamu bakalan nanyain itu!"
"Sorry sebelumnya, 2 hari kemarin ga sengaja kuliat kamu lagi bicara sama mbak Anggi dan pasien bersalin lainnya,"
Flashback on
Seorang ibu sudah dalam kondisi gawat janin, sama-sama melahirkan kembar seperti Galexia, namun kurang beruntung karena berasal dari keluarga kurang. Masuk ke rumah sakit ini dengan ruangan yang tak tercover bpjs miliknya. Fatur menghampiri, menanyakan keadaan dan ternyata si ibu harus mengikuti proses caesar karena panggulnya yang kecil.
"Mbak Anggi, fasilitas atas nama istri saya tolong alihkan pada ibu ini! Berikan fasilitas dan pelayanan sebaik mungkin, sebagaimana nanti yang akan istri saya dapatkan!"
"Tapi dok?!"
"Ibu, bapak..sebentar lagi akan ditangani," Fatur tak mendengarkan selaan Anggi, ia justru bicara pada kedua orang di sampingnya, dimana si ibu sudah meringis kesakitan. Ia jadi mengingat kondisi mamanya dulu, saat melahirkan Fathya, terlahir sebagai orang tak mampu, hidup dalam keterbatasan dan diacuhkan disana-sini, jika bukan dibantu orang-orang gang Irit, mungkin ia kini tengah menangis meratapi nasib.
"Biar untuk istri saya, saya bayar secara mandiri. Jika pihak rumah sakit bertanya-tanya biar itu jadi urusan saya!" jawabnya tegas tak ingin terbantahkan.
******
"Tur, anggap saja itu kado dariku dan Teri, atau jika kamu tetap menolak, anggap saja itu adalah biaya yang kami keluarkan untuk si ibu kemarin," jawab Seli.
"Terimakasih, saya masuk duluan untuk menemani Gale. Istri saya sedang sendiri." Fatur melangkahkan kakinya mengakhiri pembicaraan ini.
"Tur, jadi kalung itu untuk Gale?!" tanya Seli menghentikkan langkah Fatur.
"Iya Sel, maaf." Jawab Fatur menyesal dan melanjutkan langkahnya.
Terlihat Gale sedang mengoceh mengajak kedua bayinya bercengkrama, meskipun mereka tak akan mengerti dengan ocehan ibunya.
"Duh, seru amat!" Fatur mengecup kedua gunung kembar Gale.
"Abang ih!" pukul Gale di punggung lelaki ini.
"Bang, liat deh kakak sama dedek uangnya banyak!" Gale meraih ponsel di meja, menunjukkan jumlah saldo di rekeningnya.
"Banyak! Dari siapa?" tanya Fatur.
"Dari onta onty, ditambah barusan amplop dari pak Dirga, lumayan buat aqiqah!" seru Gale.
"Abang masih mampu Le," jawab Fatur, meskipun mungkin tabungannya akan ludes.
"Abang, berenti so kuat deh! Jangan kira Gale oon dan ga tau, uang yang udah abang keluarin mulai dari kuliah Gale sama Fathya, acara syukuran nikahan kita, acara 7 bulanan kemaren, bukan jumlah yang sedikit! Gale juga sempet denger tadi dari momy, katanya abang ngasih fasilitas Gale buat orang lain,"
"Gale istri abang, abang bisa berbagi sama Gale, apalagi masalah finansial! Ini juga kan buat anak-anak bukan buat kepentingan pribadi Gale atau abang," Gale menggenggam tangan Fatur yang duduk di sampingnya ikut mengusap-usap lembut salah satu dari kedua bayinya.
Ia menghela nafas, "iya, abang bukan mau sibuk sendiri. Tapi abang ga mau kamu jadi kepikiran, cukup beban kuliah sama anak-anak kita aja. Biar masalah uang jadi urusan abang."
"Kita pake uang anak-anak," jawab Gale no debat.
"Iya, anggap aja abang pinjem. Nanti ayah ganti ya nak!" ucap Fatur pada kedua buah hatinya dengan mengusap pipi-pipi lembut nan gembul itu.
"Iya ayah! Berikut bunganya ya?!" tawa Gale.
Benar kata ustadz Rifa'i, menolong dan bersedekah tak akan menjadikanmu miskin. Justru Allah akan membalasnya dengan melipat gandakannya.
.
.
__ADS_1
.