Gadis Nakal Om Dokter

Gadis Nakal Om Dokter
Hadiah


__ADS_3

Langkah kaki banyak orang memenuhi selasar rumah sakit.


Ceklek,


"Ga usah dorong-dorong keles!" ketiga orang memaksa masuk bersamaan melewati satu pintu masuk.


"Loe yang minggir dulu, badan loe ga muat!" dorongan Faisal di kening Lila.


"Bontot!!!"


"Mana ponakan-ponakan gue?!"


"Heh..heh..hehh! Ribut mulu, ini rumah sakit, bukan warung remang-remang! Ga usah pada berebut!" Guntur menjewer satu persatu anak Pandawa.


"Tau nih! Masuk tuh yang tertib, satu-satu, kalo perlu pake nomor antrian. Pintu ga akan pindah kok, lagian kalo mau rebutan beras sama telor noh di kelurahan Bojong Gede!" timpal Ari.


.


.


"Sama ini ya, dibanyakin sayur hijau sama nutrisi lainnya biar nanti ASI-nya lancar," pinta Fatur menyuapi Gale.


"Iya," Gale masih terduduk lemas, menerima setiap perlakuan Fatur tanpa protes seperti biasanya.


"Le, ya Allah! Pucet banget kaya vampir ga minum darah! Capek ya, sakit? Hebat deh bontot! Lahiran kembar, normal lagi!" ucap Andini, Gale mengulas senyuman, ia terlalu lemas untuk sekedar menjawab ataupun mendebat teman-temannya yang kelewat berisik kaya toa kantor RW yang ngasih tau bakalan ada posyandu. Tenaganya sudah habis terkuras, matanya saja masih sembab.


"Loe bertiga ngga ngaji apa, jam segini keluyuran?" tanya Roy duduk manis menaruh satu lengannya di kepala sofa.


"Engga ah, ini minggu kali om! Madrasah tutup," jawab Faisal ikut duduk.


"Kalo dia ngaji, takut kepanasan om!" tunjuk Andini pada Faisal.


"Si@lan! Emangnya gue setan!" mereka tertawa.


Andini dan Lila menghampiri Gale yang sedang disuapi dan memeluknya erat.


"Loe menyedihkan tau ngga. Liat loe ga berkutik gini, gue sedih sekaligus takjub, selamat sayangkuhhh!" ucap Lila.


"Thanks guys," balas Gale dengan tangan yang masih terinfus.


"Loh, yang lain mana?" tanya Lila.


"Di ruang bayi, lagi pada liat si kembar." Jawab Fatur.


"Ahhh! Pengen liat! Pasti unyu deh kaya gue," gemas Andini.


"Ngaku-ngaku! Si kembar unyu, loe mah uyul!" sarkas Faisal.


"Loe bapaknya uyul!" decak Andini membalas kesal.


"Ya udah liat aja, dari sini lurus terus belok kanan..." jelas Gale diantara kunyahannya.


"Terus belok kiri, ada tangga loe turun, belok kanan lagi, mentok deket gudang ada kamar mayat, nah pada masuk deh!" lanjut Guntur. Gale ingin tertawa sebenarnya namun perutnya masih terasa ngilu, dayanya tak kuasa untuk tergelak.


"Tos!" Ari dan Guntur bertos ria. Sementara Inez dan Diba tertawa.


"Ihhhh! Om Guntur mah!" Andini menghentak-hentak lantai keramik.

__ADS_1


"Dari sini lurus, belok kanan nanti coba tanya perawat dimana ruangan bayi, ada yang lain termasuk Fathya disana," jawab Fatur.


"Makasih papahnya kembar!" jawab Lila.


"Iuhhh uwekkk, jijay banget Lo!" ucap Faisal memeletkan lidah.


"Le, kita mau nengok dulu keponakan ya?!" ijin kedua gadis ini, Gale mengangguk.


"Kuy Cal, buruan! Loe ih, ga tau malu bangat. Yang ditengok siapa yang makan siapa, pengunjung ga ngakhlak! " Lila dan Andini menarik Faisal yang malah anteng ikut nyemil keripik di meja.


"Abang, Gale pengen pipis."


"Mau pipis, mau onty bantu engga?" tanya Inez.


"Ga apa-apa tante, biar Fatur aja." Fatur menyingkabkan selimut Gale. Inez menarik senyumannya, ia yakin jika Fatur akan sebaik Arka. Arka benar-benar tepat memilih suami untuk Galexia, dimatanya sebagai sahabat Shania, ia seperti dejavu melihat Fatur-Gale.


Fatur menggendong Gale, "kamu dorong tiang infusannya ya," Gale mengangguk.


"Sini biar onty yang dorong!" Inez dengan sigap membantu.


"Makasih onty,"


Mereka berjalan menuju kamar mandi.


"Makasih tante," jawab Fatur.


Pintu ditutup oleh Fatur, "abang Gale takut perih," ringisnya.


"Ga apa-apa perih sedikit tapi nanti engga, bukannya Gale udah ngerasain yang lebih sakit tadi?" tanya Fatur membantu mem_elorotkan celana Gale. Tangan Gale bertumpu di kedua pundak Fatur.


...----------------...


"Busettt! Ini udah kaya nontonin beruang lagi sirkus?! Rame bener!" decak Faisal, melihat orang yang ada di depan ruangan bayi mirip warga ngantri minyak goreng, tentu saja diramaikan oleh keluarga Gale, demi melihat si kembar.


"Kayanya nih rs, penuh sama keluarga pasien Galexia deh!" bisik Andini ditertawakan Lila.


"Iya, orang-orang tuh yang nungguin paling seorang dua orang, lah ini se-rt diboyong, berasa rumah sakit punya emak!"


"Lila, Ical, Dini?" sapa Shania.


"Tante Sha, om!" ketiganya salim pada semua orangtua disana.


"Yang mana ponakan-ponakan aku tan?" tanya Andini antusias.


"Itu!" tunjuk Shania pada kedua box yang berada di pojok.


Andini, Lila dan Faisal mendekatkan wajahnya ke depan kaca ruangan berisi beberapa bayi-bayi mungil nan lucu.


Mata mereka berbinar, kedua gadis ini malah sudah berjingkrak-jingkrak, "ya Allah gemes banget gue! Pengen culik!" Jangankan mereka, Arka saja yang notabenenya pria berwatak dingin dan datar, nyatanya merasa terharu dan selalu ingin berada disini untuk melihat kedua cucunya. Dengan dalih menemani Shania, ia masih anteng duduk memandang wajah mungil si kembar yang sesekali menggeliat dan menangis mencari sumber kehidupannya.


"Culik--culik, nih hadepin dulu oma-omanya, ahhhh!!! Gue tua banget dipanggil oma!" ujar Leli, Deni terkikik dan mengacak rambut istrinya, "oma cantik!"


"Fathya aja pengen bawa pulang, gemes banget ih!" Fathya setuju dengan kedua gadis itu.


"Fath--Fath sih bisa uyel-uyel tiap hari soalnya serumah," manyun Andini.


"Sha, no.rek gemoy berapa?" tanya Deni pada Shania.

__ADS_1


"Buat apa om Den?" tanya Shania.


"Mau kirim hadiah kelahiran si kembar," Deni merasa, Fatur dan Gale juga si kembar akan lebih membutuhkan uang sekarang ketimbang barang lain, apalagi peralatan bayi, ia yakin jika Fatur dan Gale sudah memilikinya. Mengingat akhir-akhir ini Fatur menguras brangkasnya, dengan acara tadi siang, biaya kuliah Gale dan Fathya juga biaya persalinan Gale sudah pasti bikin kantong jebol.


"Oh, bentar!" Shania mengotak-atik ponselnya.


Setelah berdiskusi dengan Leli, Deni kembali melihat ponsel Shania untuk mengirimkan sesuatu pada Gale.


"Thanks om Den," jawab Shania.


"Gemoy anak kita juga mak," ujar Leli mengusap bahu Shania. Rupanya bukan hanya Deni saja yang melakukan itu, onta-ontynya yang lain pun melakukan hal yang sama. Mereka selalu peka serta kompak dalam hal kekeluargaan.


...----------------...


"Abang urus admin dulu," Fatur melirik jam di tangannya, setelah selesai membantu Gale berbaring kembali di ranjang.


"Iya,"


"Om, tante. Saya mau urus biaya administrasi dulu, minta tolong titip Gale sebentar," ijinnya.


"Oh iya Tur, tenang aja!" jawab Guntur baru saja selesai mengirimkan hadiahnya dan menyimpan ponsel di meja bersama kumpulan makanan yang dibawa. Bersamaan Fatur yang keluar, mama Ela dan Fathya masuk.


"Mbak Anggi," salah satu staf administrasi yang sedang sibuk nyemil kerupuk itu mendongak mendengar namanya dipanggil, Fatur masuk ke dalam ruangan administrasi yang pintunya terbuka sedikit.


"Eh dokter Fatur!! Dok, selamat ya atas kelahiran anak kembarnya!!!" serunya menaruh kerupuk dan mengelap tangannya dengan tissue, menyalami Fatur. Siapa yang tak kenal dokter ganteng idola rumah sakit ini.


"Makasih mbak," jawab Fatur.


"Dok, cantik ih istrinya! Anak-anaknya gemesin! Katanya normal ya, wahhh keren lah!" decak Caca sesama staf disana.


"Alhamdulillah, terimakasih!"


"Masih pada tugas?" tanya Fatur.


"Udah selesai dok, ini lagi nyantai dulu sebelum pulang!" menunjukkan jika waktu memang sudah pukul 20.30 WIB.


"Kalo gitu saya telat dong, mau urus biaya administrasi persalinan sekaligus rawat inap istri dan anak-anak saya?" tanya Fatur.


"Oh, itu dok..udah dibayar!" mbak Anggi nyengir lebar menampilkan deretan giginya.


Fatur sontak saja menautkan alisnya bingung, pasalnya ia belum melakukan pembayaran apapun. Apa momy mertuanya? Ayah, Deni, ataukah onta onty Gale yang lain?


"Dibayar sama siapa?" tanya Fatur.


"Itu dok, maaf..dokter Teri sama dokter Seli," ucapnya hati-hati, semoga saja dokter dingin ini tak menyihir mereka jadi batu es untuk jus.


"Teri? Seli?" Fatur kembali mengulang kedua nama itu, Anggi juga Caca mengangguk, " maaf kalo lancang dok, kata dokter Teri kalo dokter ga terima bisa langsung bertanya pada yang bersangkutan," Fatur kembali memasukkan atm-nya ke dalam celah-celah dompet hitamnya.


"Kalo gitu makasih mbak, nanti biar saya tanyakan langsung sama keduanya," mereka mengangguk kemudian Fatur keluar dari sana.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2