Gadis Nakal Om Dokter

Gadis Nakal Om Dokter
Pemain Figuran di kisahmu


__ADS_3

"Le, ga mau gue tebengin gitu, pahala loh bantuin temen yang kesusahan, gue kan musafir Le?!" tanya Andini.


"Ga usah, noh! Ical sama Irvan nganggur, Lilo juga!"


"Dono, bawa motor gue, biar gue nebeng mobil Gale!" jawab Lila.


"Om, ga niat cari selir gitu?!" tanya Lila.


"Eh!" Gale menunjukkan kepalan tangannya pada Lila, membuat Lila tertawa.


Fatur tertawa kecil, sedangkan Faisal sudah memiting leher Lila dan memasukkannya ke ketiaknya.


"Tenang Le, nih si Lilo udah gue iket. Ga akan berani ngejar bang Fatur!" jawab Faisal.


"Aduhh! ketek loe ada burketnya, pake deodorant engga sih, bau kambing!" keluh Lila.


"Kimvritt, ya pake lah!" jawab Faisal.


"Semuanya, kita pamit duluan!" pamit Fatur.


"Bye guys!" Gale melambaikan tangannya ke arah teman-temannya.


"Bye Lele! Ntar gue main ke rumah loe deh!" pekik Andini.


"Boleh! Nanti gue siapin cucian kotor sama piring kotor!" jawab Gale.


...****************...


"Oh, jadi gini kelakuan istri abang kalo di sekolah?" tanya Fatur lrbih tepatnya pernyataan, Gale hanya menampilkan senyum lebarnya, selebar daun kelor.


"Nakal," desisnya.


"Gale ga suka pramuka bang, pembinanya ga ganteng, galak pula!" jawab Gale. Bagaimana ia bisa setenang itu mengucapkan jika ia mau belajar jika pengajarnya tampan di depan suaminya sendiri, emejing!


"Jadi kamu mau pramuka kalo pembinanya ganteng?" tanya Fatur.


"May be,"


Ctak!


"Aduh!"


Fatur menjitak kening Gale pelan.


"Otak kamu nih mesti dicuci!" jawab Fatur.


"Ih abang nih, emang dikira otak Gale baju kotor!"


"Abang mau pergi dulu sebentar habis ini, kamu siap-siap aja dulu di rumah," ucap Fatur.


"Oke!" jawab Gale.


"Le, besok-besok abang ga mau kamu kabur kaya gitu lagi. Kamu bisa celaka, Le." Pinta Fatur.


"Iya, berarti nanti-nanti cari jalan kabur lain," jawab Gale.

__ADS_1


Fatur hanya heran saja, kelakuan Gale yang nakal tapi tak mempengaruhi otak pintarnya. Otak cerdas, kekurangannya adalah sifat nakalnya. Memang manusia tak ada yang sempurna.


Gale sudah sampai di rumah, dan Fatur kembali ke mobil.


"Abang jangan lama-lama. Liat nih, bang Ori udah upload sw di kebon singkong! Lagi ngambilin singkong punya Gale!" manyun Gale memperlihatkan ponselnya dimana Ori terlihat tengah membantu anak Pondok memanen singkong di kebun.


"Iya, sebentar. Abang pergi dulu!" jawab Fatur, Gale mengangguk lesu.


****


Mata Fatur tak lepas menatap ke arah gerbang sekolah, matanya menyipit saat melihat adiknya menerima helm hijau dari ojol yang baru saja datang.


Fatur mengikuti kemana motor yang ditumpangi adiknya itu pergi. Cukup jauh jaraknya dari sekolah, karena beberapa kali melewati lampu merah.


Motor itu akhirnya berhenti di sebuah cafe, dan terlihat Fathya masuk ke dalam cafe itu.


Fatur tersenyum miring melihat cafe yang didatangi, ini adalah cafe yang biasa ia datangi bersama Seli sewaktu mereka masih pacaran, bisa dihitung mereka makan disini, karena mereka yang jarang keluar bersama, hanya saja jika keduanya memutuskan untuk makan, maka Seli pasti akan meminta makan disini. Yap! Cafe ini bernama Route 78.


Fatur memarkirkan mobilnya sedikit jauh dan tertutup. Pria itu ikut masuk ke dalam cafe, setelah dirasa Fathya cukup lama masuk.


Ia memilih kursi kosong di dekat pintu masuk awalnya, dan mengedarkan pandangannya mencari sosok anak perempuan dengan seragam pramuka. Fokusnya buyar saat seorang pelayan datang dengan menawarkan pesanannya.


"Siang mas, mau pesan apa?!" bukan Arga, Sifa, teh Mira, Lukman, apalagi Dimas. Tapi pegawai baru yang ada di bawah management mereka.


"Jus alpukat saja mas, tapi minta pake madu jangan pakai gula, sama roti manisnya," jawab Fatur.


"Ada lagi?"


"Itu aja dulu!" jawab Fatur.


Siang itu pengunjung cafe cukup ramai hingga Fatur cukup bersyukur keberadaannya tak disadari Fathya.


Pintu cafe terdengar dibuka, sesosok perempuan memakai blazer dan celana bahan datang menghampiri Fathya.


"Seli,"


Fatur mencari meja yang letaknya tak terlalu jauh dengan meja keduanya. Agar dapat memantau dan mendengar pembicaraan keduanya.


Si@lnya Fatur tak dapat mendengar apa yang mereka bicarakan dengan jelas. Hanya terlihat Fathya menyerahkan paper bag pada Seli dan mengatakan ingin mengembalikannya.


"Ka Seli, maaf. Fathya kembalikan barangnya, setelah kejadian 2 hari yang lalu, ternyata Fathya sadar, jika barang ini bukan hak Fathya. Fathya sadar jika sebuah kepercayaan tidak ternilai harganya, apalagi hanya untuk sebuah tas. Fathya juga akhirnya tau kalo selama ini Fathya keliru, Gale adalah sumber kebahagiaan abang, Ka! Maaf sekali lagi,"


"Loh, ko dikembaliin? Ini ka Seli kasih tulus loh buat Fathya, lagian Fathya ga salah ko, Fathya ga langgar apapun. Fathya cuman berusaha jadi gadis jujur, kan yang nanya-nanya ka Seli,"


"Tapi informasi dari Fathya sudah kaka salah gunakan, kaka temuin Gale, Fathya ga tau apa yang terjadi antara kaka sama Gale, tapi yang jelas setelah pertemuan kalian, abang sama Gale marah sama Fathya."


"Kaka ga apa-apain Gale, Fath. Mungkin Gale saja mengadu yang tidak-tidak sama abangmu!" jawabnya sinis.


"Jadi ini yang kamu kasih buat adik saya, dengan imbalan informasi tentang saya dan Gale?! Kamu peralat adik saya sebagai mata-mata kamu?"


"Fatur?!"


"Abang?!"


Fatur duduk di samping Fathya.

__ADS_1


"Ini engga seperti yang kamu fikir," jawab Seli.


"Memangnya apa yang saya pikirkan?" tanya Fatur melipat kedua tangannya di dada dan bicara dengan nada santai.


Fathya menunduk dan memainkan ujung seragam pramukanya.


"Tidak ada yang saya pikirkan lagi tentang kamu sejak saya bilang hubungan kita sudah berakhir dan kamu menyetujuinya," Fatur menyedot jus miliknya.


"Kamu ingat apa yang kamu bilang saat saya memberikan kesempatan terakhir untuk hubungan kita?"


"Kamu selalu sibuk mengejar gelar profesormu, dan saya hanya akan jadi nomor dua. Saya lelah Seli, berkali-kali saya berusaha membuat kamu bertahta di hati, tapi sepertinya Tuhan memang tidak mengijinkan. Berkali-kali saya mencoba menerima jika saya hanya sebagai pemain figuran di kisah kamu, tapi nyatanya saya tidak sekuat itu. Saya manusia biasa, yang masih memiliki ego, saya ingin diperhatikan, saya ingin di nomorsatukan, dan saya ingin merasa dicintai," jelas Fatur.


"Apa aku benar-benar terlambat Fatur?" tanya Seli memohon.


"Bukan terlambat, tapi sejak awal kamu sudah tertinggal dan tak mau berjuang."


Fatur melirik jam tangannya, "jangan pernah temui adik ataupun istri saya lagi! Fathya ayo pulang, Gale nunggu abang. Pasti udah manyun, kalo abang pulang telat terus ga makan siang," ucap Fatur.


"Iya bang," Fathya segera berdiri dari duduknya.


"Permisi kak," pamit Fathya mengekor Fatur yang sudah berjalan menjauh.


"Bang, sekali lagi maafin Fathya."


"Bukan pada abang kamu minta maaf, tapi Gale."


"Iya," jawabnya, Fathya menggaruk belakang telinganya sedikit kebingungan bagaimana caranya minta maaf pada Gale, terang saja selama ini mereka selalu bermusuhan. Jangankan bermaafan yang ada ujung-ujungnya kedua gadis itu malah saling jambak.


Fathya duduk di samping Fatur.


"Abang boleh minta tolong?" tanya Fatur.


"Apa bang?" Fathya berseru. Ia senang, setidaknya kini kakanya sudah mulai percaya lagi padanya. Ia berjanji pada dirinya sendiri, mulai saat ini ia tak akan menyalahgunakan kepercayaan kakanya lagi.


"Abang mau kamu awasi Gale di sekolah, dengan siapa dia bergaul. Apa saja yang ia kerjakan!" Fathya sampai melongo dibuatnya.


Sejak kapan kakanya ini begitu posesif pada seseorang? Sampai sebegitunya? Sepertinya dulu saja saat bersama Seli tidak sampai begini?


Fathya tertawa, "kalo gitu mulai sekarang Fathya bakalan pulang telat terus, dan belajar gimana jadi anak nakal!" Fatur ikut tertawa. Baru saja dibicarakan ponsel Fatur bergetar, dan nama Gale tertera di layar.


"Hallo?"


"Abang!!! Dimana, buru!!" pekiknya.


"Iya sayang, sabar ya. Abang lagi di jalan pulang!" jawab Fatur.


"Idihhh, jijik ih!"


Fatur tergelak, dapat ia bayangkan wajah Gale yang bergidik geli di ujung telfon sana.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2