
"Galexia..."
"Galexia..."
Seli menepuk-nepuk pipi Gale, mengangkat bayi itu dan menyerahkannya pada salah satu suster.
"Nafasnya sesak?" di tengah pandangan kaburnya, Gale mengangguk.
"Sus, kasih oksigen!" pinta Seli.
"Kak, kakak pasti kuat. Berjuang sekali lagi ya, ada nyawa yang harus kamu perjuangkan di dalem sana," mata Gale mulai tertutup, Shania tak henti mengeluarkan air matanya.
"Gale, bisa dengar saya?" tak ada respon dari Gale, ia terlalu lelah. Seli mengecek kondisi bayi keduanya dan membiarkan Gale beristirahat sejenak.
"Sungsang," gumam Seli.
Dengan cekatan Seli menekan-nekan perut Gale, mencoba membetulkan posisi bayi kedua. Tak jua berubah, Seli menjangkau bagian dalam rahim untuk memutar posisi bayi kedua agar siap untuk dilahirkan. Cukup menghabiskan banyak tenaga sampai-sampai ia berpeluh. Jika sampai usaha ini gagal dan tak memungkinkan ia akan mengusahakan bayi kedua lahir dengan posisi breech maneuver (bo ko* ng duluan).
Sementara bayi pertamanya sudah ditangani suster, ia menangis cukup keras.
Fatur sudah selesai bersama dokter Bian, dokter bedah jantung.
"Terimakasih atas kerjasamanya dok, bukan main..keputusan yang tepat. Dokter Fatur memang cocok menyabet berbagai gelar," keduanya keluar dari ruang operasi.
"Bukan sesuatu yang hebat dok, justru dokter Bian dokter bedah jantung yang sangat berkompeten juga hebat." Jawab Fatur merapikan pakaiannya. Saat ini pikirannya bermanuver mencemaskan Gale.
"Maaf dok sudah mengganggu waktunya," suster Nita berujar tak enak, pasalnya ia tau jika dokter tampan ini sedang mengadakan acara 7 bulanan sang istri.
"Tidak apa, sudah jadi tugas saya. Mengingat pasien Mahardika adalah pasien yang sudah saya pegang selama 2 bulan terakhir,"
"Maaf sekali lagi dok," ucapnya tak enak hati.
"Kalau begitu saya pamit. Istri saya sedang ada dalam proses persalinan." Alangkah terkejutnya suster Nita dan dokter Bian, salut dengan ke-profesionalan Fatur. Pria itu segera melangkahkan kakinya ke ruangan bermaksud mengambil ponsel untuk menghubungi keluarga di rumah.
Tapi saat melewati ruangan operasi lain, netranya tak sengaja menangkap sosok ayah mertua bersama Leli dan Deni sedang duduk di bangku samping ruangan itu.
"Gale.." tanpa sadar ia setengah berlari kesana.
"Ayah,"
"Fatur,"
"Gale??" matanya memancarkan sorot khawatir.
"Di dalam,"
Terdengar suara tangis bayi dari dalam sangat kencang, Fatur merasa lega sekaligus terharu.
"Pak, bisa..." seorang suster membuka pintu, maksud hati meminta Arka untuk masuk atas permintaan Shania tapi rupanya, matanya jatuh pada sosok Fatur.
"Dok," wajahnya seperti menemukan kelegaan dari semula tegang.
__ADS_1
"Ada apa?!" pertanyaannya penuh penekanan.
"Bu Gale mengalami distosia," jawabannya terhenti.
"Silahkan masuk saja dok," Fatur mengangguk, kembali memakai baju steril.
"Fatur," Shania sesenggukan sambil menggenggam tangan Gale.
"Gale kenapa?" dadanya kembali disesaki oleh perasaan tak menentu. Harus bahagia karena bayi pertamanya lahir selamat dan sehat, ia bahkan sedang menangis. Tapi di sisi ranjang, Gale kini terdiam tak bergerak dengan mata tertutup, seperti sedang tertidur, oksigen menempel di hidungnya. Sungguh pemandangan yang menyayat hati.
"Kesadaran Gale menurun, mungkin suplai oksigen dan darah yang berkurang ke otak, persalinannya berlangsung sedikit lama. Coba disadarkan, saya sedang berusaha untuk mengubah posisi bayi kedua."
"Gale, abang disini!" ia menepuk-nepuk pipi Gale dan memberikan cubitan-cubitan kecil. Tangannya terulur meremas tangan Gale agar merasakan yang ia lakukan, matanya tertumbuk pada kaos miliknya yang digenggam Gale. Sudut matanya kini berair, "Gale abang mohon Gale bangun ya, please baby!" bisiknya.
Suara Fatur dan suara tangisan kencang bayi pertamanya membuat kesadaran Gale kembali, ada leng uhan nafas diantara tangis.
"Nghhhh,"
"Abang sesek jangan dipeluk," ucapnya lemah.
"Gale, ya allah!" Fatur mengecupi seluruh inci wajah Gale, membuat mereka terharu.
"Ekhem! Sudah siap?" tanya Seli memecah moment romantis.
"Mau minum dulu?" tanya Seli, dan Gale mengiyakan.
"Posisi bayi sudah mentok, mungkin akan sedikit banyak membutuhkan tenaga ekstra ya,"
Leher rahim Gale kembali membuka, "tante ssshhh!" rasa kontraksi kembali melanda, hanya selang 60 menit dari bayi pertama.
"Dorong!"
Gale mengejan sekuatnya bertumpukan tangan Fatur, tapi dorongan itu tak membawa si bayi kedua keluar dari dalam.
"Fatur bisa dibantu agar posisi Gale lebih mudah? Badannya setengah duduk saja, biar jaraknya lebih pendek?" Fatur mengangguk.
Ia mengangkat setengah badan Gale, menopangnya dan menahan lutut Gale yang sudah lemas.
"Tante.." lirihnya.
"Dorong," pinta Seli.
"Kamu kuat sayang," bisik Fatur.
Benar-benar menguras seluruh dayanya, seakan tak ada lagi daya yang tersisa di tubuh Gale, remuk redam mungkin itulah yang akan dirasakan setelahnya.
Akhirnya selisih waktu 1 jam 10 menit bayi kedua mereka lahir. "Alhamdulillah."
Bayi kedua yang beratnya lebih kecil itu menempel di dada Gale, menggeliat lucu di dadanya, menjilat-jilat kulit Gale mencari sumber makannya, hingga akhirnya menangis karena tak juga menemukan apa yang ia cari.
"Kecil banget ya Allah. Padahal Gale makannya banyak!" gemasnya.
__ADS_1
Gale menangis sambil tertawa kecil, tak percaya jika dirinya bisa melampaui batas. Ia yang takut darah, takut akan kesakitan mampu melahirkan dua malaikat kecil yang kini sedang diadzani oleh Fatur.
"Kayaknya makanan bunda abis sama kakak ya dek, di dalem sana?!" Fatur terkekeh bahagia hingga tak lepas mengecupi pipi Gale, tangannya mengusap punggung yang masih sensitif tanpa kain sehelai pun.
...Afifah Ghania Al-Lail...
...dan...
...Aliyah Ghania Al-Lail...
Welcome to the club, girls!!
"Momy anak Gale lucu-lucu!!" tak dapat dipungkiri ia gemas dengan kedua buah hatinya, meskipun setelah ini keduanya harus masuk inkubator terlebih dahulu karena berat badannya belum ideal.
"Momy ihhh malah nangis!" tangan Gale terulur pada pipi ibunya untuk menghapus air matanya. Padahal Gale masih diurusi Seli juga suster atas tindakan pembersihan.
"Momy terharu, ga nyangka udah tua! Udah punya cucu lagi, udah jadi nene-nene!!" meweknya.
Mata Seli sempat memicing pada sebuah benda yang sejak tadi bersinar di bawah sorot lampu mengusik pandangannya, benda yang menggantung dan menempel di dada Gale, kalung emas berbandul planet. Dokter kandungan itu mencoba mengingat dimana ia melihatnya.
Ahhh! ia ingat, kalung itu adalah benda yang dibeli Fatur dulu saat bersamanya. Hatinya cukup tersentak, menyadari jika sejak dulu Fatur memang menyimpan perasaannya hanya untuk Galexia.
Ia menatap lelaki dengan gelar barunya 'ayah', tengah mengadzani kedua makhluk kecil nan menggemaskan. Sesekali ia menyentuh pipi gembul keduanya bergantian dikala kedua bayi itu bersin bergantian.
"Ini harus dijahit sedikit ya, soalnya tadi ada robekan," ucap Seli, Gale menghela nafasnya. Rupanya rasa sakit itu belum usai.
Setelah mengadzani kedua putrinya Fatur beralih menemani Gale. Momy Sha tak henti-hentinya memandang kedua gadis kecil berjuluk cucu di sudut sana.
"Momy jangan mewek terus atuh ih! Malu sama kakak sama dedek," ujar Gale.
"Biarin atuh, mereka belum ngerti!"
"Abang udah selesai?" tanya Gale.
"Udah, makanya abang langsung kesini pas liat ayah di luar,"
"Gimana pasien abang?"
"Udah ada di ruang rawat, alhamdulillah semuanya lancar." Jawab Fatur.
"Makasih sayang, sudah berjuang menjadi istri dan ibu kuat nan hebat," kalimat itu lancar lolos dari mulut Fatur, ia tak malu bersikap lebay di hadapan orang lain.
"Sama-sama abang, bukan cuma Gale yang berjuang tapi kita.." jawab Gale. Tatapan keduanya menyiratkan penuh cinta.
.
.
.
Noted :
__ADS_1
Distosia : persalinan macet.