Gadis Nakal Om Dokter

Gadis Nakal Om Dokter
Mengenang masa lalu


__ADS_3

"Abang mana?" tanya Gale.


"Eh, cari Fatur ye?" tanya bang Padli, lelaki seusia Fatur, rambutnya pendek aga kriwil bisa dibilang keriting menyebalkan, kumis tipis di bawah hidung dan ia tengah mencapit sebatang rokok di antara sela jari-jarinya.


"Fatur lagi ke depan beli rokok," jawabnya lagi.


"Oh, ya udah ga apa-apa. Makasih banyak. Bang Padli ya?!" Gale tersenyum.


"Set dah! Senyum doang itu, bikin ati adem neng," Gale tertawa renyah, serenyah kembang goyang di dalam, meskipun gombalannya ga bikin hati auto terbang bebas kaya kupu-kupu.


"Mau pada kemane?" tanya seorang lagi pada Fathya.


"Mau cari angin bang Fitrah," jawab Fathya memakai sepatunya.


"Gimana Ale? Mau nunggu abang apa gimana?" tanya Fathya.


"Terlalu sore kalo nunggu abang, sambil jalan aja, kali ketemu abang nanti papasan," jawab Gale.


"Abang kalo nanti bang Fatur balik, mau titip pesen, Gale sama Fathya keluar sebentar," pinta Gale.


"Iya dah! Ati-ati neng, banyak bocah sepedaan jam segini!"


"Sip!" Gale dan Fathya berjalan bersama, keluar dari rumah babeh Mu'in. Kedua gadis ini berjalan ke arah kanan rumah babeh, memasuki satu gang kecil dengan lebar tak terlalu besar, mungkin hanya cukup untuk dua motor berdempetan. Mereka menyusuri jalanan bersemen, dimana rumah permanen dan semi permanen menempel satu sama lain, hanya satu dua rumah yang jaraknya lumayan luas. Samping kiri terdapat selo kan kecil untuk sistem drainase, airnya cukup hitam. Gale perkirakan jika hujan besar, mungkin airnya akan tumpah ke jalan.


Sesekali mereka berhenti, membiarkan anak-anak berlarian atau melajukan sepeda. Di jalan se-sempit ini anak-anak lebih memelankan laju sepedanya.


"Le, dulu kalo Fathya main tuh disini! Abang juga, biasa lewat sambil lari-larian bareng bang Padli sama bang Fitrah apalagi kalo mau ke masjid, di deket situ!" Fathya menunjukkan tempat-tempat yang sering mereka lewati.


Sejenak Gale membayangkan Fatur kecil berlarian disini.


"Ini kalo ujan gede pasti banjir!" tunjuk Gale pada selo kan hitam di samping mereka.


"Iya," tawa Fathya.


"Abang kalo musim ujan tuh suka lewat muter kesana!" tunjuknya jalan masuk dari arah lain.


"Soalnya kalo lewat sini, selo kan ketutup air, jadinya ga keliatan takut nginjek selo kan terus ikut hanyut,"


Netranya menyapu bangunan semi permanen, kontrakan bertingkat aga kumuh dan sangat padat. Banyak pakaian masih menggantung jadi payung jalanan, kaya lagi cuci gudang.


"Ini kalo lewat sini pagi-pagi pasti kebasahan, soalnya banyak yang jemur baju!" tawa Fathya, saat ini Gale hanya berperan sebagai pendengar setia, jiwa netizen nyinyirnya hangus jadi abu melihat kenyataan jika ternyata hidupnya sangat beruntung dan untuk itu ia patut bersyukur.


"Hujan lokal maksudnya?!" tanya Gale, kedua gadis ini tertawa.


"Patia!" panggil seseorang dari arah samping depan.


"Cing Ima," Fathya berlari kecil menghampiri seorang perempuan berdaster tengah merokok. Gale mengekori Fathya.


"Kapan lu kesini?"


"Cing, kenapa ga ke rumah babeh Mu'in, ada abang sama mama! Lagi pada makan-makan cing?!"

__ADS_1


Ia tampak tersentak, "Lah gua kagak tau, etdah! Nape ga kasih kabar? Pada diem-diem bae," ia segera berdiri meraih sandal jepitnya.


"Ini cing, kenalin!" Fathya meraih lengan Gale.


"Sapeh Pat?"


"Dia istri abang, Galexia.."


Gale salim takzim.


"Buset! Si Patur, pinter bener nyari bini!"


"Rip! Sarip! 'nyak ke rumah babeh Mu'in! Sini napa, ada si Patia nih sama si Patur, si Patur bawa bini!" teriaknya ke dalam ruangan kontrakan tak terlalu besar, malah terkesan sesak dan pengap dengan barang-barang yang penuh, bertumpuk dan acak-acakan.


"Bang Sarip, apa kabar lu?!" seru Fathya.


"Bae, lu gimana? Ini sapeh?" seorang pemuda keluar dengan kaos oblong hijau tampak kusut, tunjuknya pada Gale.


"Ini bini Patur, Rip. Nyok ke rumah babeh Mu'in. Si Patur ma Ella disono!"


"Cing, kontrakan kosong, apa ada yang ngisi?" tanya Fathya menunjuk bangunan semi permanen di sampingnya.


"Masih kosong, abis ditinggal minggu kemaren. Nunggak 2 bulan terus pegi dah!"


"Konci masih di ncing?"


"Masih, mau liat lu? Sono liat dah, kangen kan lu?!"


"Iya,"


"Ntar kalo ude selese liatnye bawa aja konci nya ke rumah babeh, ncing kesono!" pintanya.


"Iya cing, makasih!"


"Neng, ncing tinggal dulu..mau liat laki sama mertua lu dulu. Bae-bae dimari," ia menepuk lengan Gale.


"Iya ncing, makasih!" jawab Gale.


"Duhh, adem bener suaranye. Ncing tinggal ya neng!"


"Yo Pat, neng.." pamit Sarip.


Gale menatap kepergian dua orang itu yang pergi tergesa.


"Yuk! Mumpung kosong," ajak Fathya.


"Ko kuncinya di ibu tadi? Emang dia yang punya nya?" Gale mengerutkan dahinya.


"Bukan, dia kuncen disini Le. Jadi dipercaya sama yang punya kontrakan buat megang kunci," Fathya menapaki sebuah kontrakan tak berhalaman, batas rumah langsung ke jalanan.


Fathya menatap ke arah pintu lalu dinding rumah yang setengah tembok setengah kayu. Ia menitikkan air matanya, teringat masa lalu.

__ADS_1


"Dulu Fathya dilahirin disini Le, masa kecil Fathya banyak diabisin disini, di rumah yang kecil..punya orang pula, makan harus nunggu abang pulang jualan koran atau engga nunggu mama dapet uang dari orang yang cuci baju."


Gagang kunci jadul dan terdapat beberapa karat menandakan jika rumah ini memang sudah cukup tua usianya.


Dinding banyak ditempeli oleh stiker murah hadiah permen karet dan tulisan abstrak tangan-tangan mungil sebagai pengisi kegabutan dan juga sarana belajar menulis abjad.


Fathya mendorong pintu dengan sisi badannya karena memang aga susah terbuka, harus dengan tenaga, latihan membuka pintu saja disini, dijamin! Dalam waktu setahun bisa jadi atlit American footbal.


Gale tak banyak berkomentar melihat isi rumah kosong itu, ruangan yang bahkan dengan kamarnya sekarang saja lebih besar kamarnya, cukup menyiratkan kehidupan sulit Fatur dulu, Gale menapaki kakinya ke dalam, hanya ada satu kamar saja dan kamar mandi, itupun tak ada pintunya, tak ada dapur kotor. Dapat Gale bayangkan, kalo mama melakukan semuanya di ruangan utama. Ia melongokkan kepalanya ke dalam kamar, ukurannya tak lebih besar dari kamar mandi rumahnya, mungkin hanya cukup untuk kasur ukuran nomor 3 dan satu lemari susun plastik.


"Abang kalo tidur disini Le, dulu ga ada tv, ga punya kasur bagus juga. Gue sama mama pake kasur yang udah keluar-keluar isinya, abang cuma gelar tiker aja disitu paling pake bantal sama sarungan," jelas Fathya, hati Gale terenyuh mendengarnya, disaat ia tidur nyenyak di ranjang empuk berteman selimut tebal, Fatur hanya meringkuk dengan selembar tikar dan sarung sehabis bertarung dengan hari mencari sesuap nasi.


"Cabe,"


"Hm?" Fathya mengusap ekor matanya.


"Sorry kalo gue lancang, bapak?" tanya Gale.


"Sejak lahir bapak udah ga pernah pulang. Udah punya keluarga baru, beberapa kali gue penasaran dan pengen nyari tau, tapi abang selalu larang. Gue kira abang egois, tapi ternyata gue tau abang cuma mau lindungin dan jaga hati gue Le, gue nekat ketemu bapak dengan modal nyolong foto tetangga yang ada bapak guenya. Tapi pas gue samperin berdasarkan alamat yang dikasih cing Ima, dengan harapan bapak bakalan nyambut, eh dia malah usir gue, ga jarang juga sih bapak datang kesini sambil mabok!" akhirnya air mata tak terbendung lagi. Bisa dibayangkan bagaimana Fatur mengalaminya, pasti lebih menyakitkan dibanding yang dialami Fathya.


Gale memeluk Fathya, "loe ga akan alamin itu lagi, loe punya abang, punya mama, punya gue, sama calon ponakan loe,"


Fathya membalas pelukan Gale, "thanks Gale, sejak kecil cuma abang sosok laki-laki di hidup gue..sebagai ayah, sebagai kaka. Gue cuma minta sama loe, please bahagiain abang..jangan pernah tinggalin abang, dari dulu dia selalu kerja keras, selalu jadi tulang punggung, garda terdepan kalo bapak..." ia tak meneruskan.


"Kalo bapak apa cabe?" Gale sudah setengah mati penasaran, Bisa-bisa ia mati berdiri.


"Ekhem!"


"Pada disini?!"


Gale dan Fathya dikejutkan dengan suara laki-laki di belakang mereka.


"Ish! Abang," akhirnya penjelasan Fathya harus bersambung karena datangnya Fatur.


"Bisa ngga sih bang, ga usah ngagetin. Kaya hantu di film, datang tak diundang pulang tak diantar," omel Gale. Fatur terkekeh, ia ikut masuk.


"Kirain kemana? Mau pada ngapain disini?"


"Mau nonton bo kep yang lagi viral! Biar ga ada yang tau, ya mau liat lah, mengenang masa lalu." Jawab Gale.


"Abang tau darimana kita disini?" tanya Fathya.


"Tadi Padli yang bilang kalian lagi cari angin, terus cing Ima sama Sarip bilang kalian kesini," jawab Fatur melongokkan kepalanya ke ruangan kamar, ia tersenyum masih sama seperti dulu.


"Pulang yuk ah! Masa nostalgia udah bubar jalan, baru kesini aja gue udah dicariin cabe, apalagi kalo ke Bagdad?!" ujar Gale membuat Fathya yang tadinya menangis jadi tertawa.


"Abang kirim pesawat tempur buat bawa kamu pulang!" jawab Fatur.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2