Gadis Nakal Om Dokter

Gadis Nakal Om Dokter
Luka


__ADS_3

Luka tak seberapa harus melibatkan Shania dengan memeluk Gale dari belakang. Andro si kalem saja sampai tertawa-tawa. Baginya ini adalah hiburan yang sayang untuk dilewatkan. Arka hanya memperhatikan dengan kalemnya sambil menyantap puding roti labu.


"Abang ih tega! Udah! Udah sakit ih!" baru juga Fatur memakai sarung tangan karetnya.


"Belum diapa-apain Le," decak Fatur terkekeh menoleh, padahal Fatur membelakangi Gale menghadap ke kakinya, tak membiarkan Gale melihat apa yang sedang ia lakukan.


"Abang awas ya, Gale ga mau lagi pulang ke rumah abang abis ini!" hebohnya, semua teriakan Gale memancing orang rumah untuk berdatangan, bahkan anak-anak didik Pondok yang melintas sempat mendengar ini ikut melongokkan kepalanya saking penasaran dengan apa yang terjadi.


"Iya, ga usah pulang aja sekalian, nanti abang stop uang jajan kamu," jawab Fatur seraya memulai aksinya.


"Kalo kamu ga pulang ke rumah Fatur mau pulang kemana, momy sama ayah ga akan nerima kamu juga?" tanya Shania menahan kedua tangan Gale.


"Bo*do amat, mau jadi anak jalanan!" jawab Gale, sudah berkeringat.


"Abang!!! Ih!! Sakit, itu kaki Gale diapain ih, abang mau bikin Gale lumpuh apa gimana?!"


"Potong aja sekalian bang, biar ga bisa kabur-kaburan!" jawab Andro.


"Andro kaka hajar ya, berisik!"


Mereka tertawa melihat tingkah Gale.


"Haduh, aya-aya wae neng!" teh Rita menggelengkan kepalanya.


"Kenapa teh, siapa yang mau dibikin lumpuh?" tanya Hendra ikut terpancing kehebohan.


"Kenapa itu?" tanya Hendra mendadak bingung melihat Gale yang terjerit-jerit sampai harus di pegangi Shania.


"Awww! Abang ih, Gale minta cere ah!" racaunya, Andro sudah memegang perutnya menahan tawanya.


"Ga akan abang kabulin!" jawab Fatur santai.


"Dikira cere enak apa, mau kamu jadi janda muda?!" balas momynya menoyor putrinya sendiri.


Fatur membersihkan luka Gale dari serpihan batu dan tanah, lalu menuangkan etanol pada kapas dan obat merah, menutup lukanya dengan kain kassa dan plester.


"Udah belum?!" jerit Gale.


"Udah," jawab Fatur.


"Lemes kan teriak-teriak?!" tanya Shania.


"Kalo ga mau diobatin, makanya hati-hati!" Shania melepaskan tangan Gale dan mengusap keringat Gale dengan tissue.


Fatur membuka sarung tangan karetnya, dan membereskan peralatan. Kini hanya terlihat telapak kaki yang di tutup kain kassa.


"Ini kalo tiap luka kaya gini dari dulu?" tanya teh Rita, secara tidak langsung mewakili pertanyaan Fatur.


"Iya, kalo dulu ayah sama momy yang jadi dokter dadakan," jawab Andro.


"Berisik loe!" desis Gale.


"Udahan deh, acara komedinya. Bubarlah!" ledek Andro.


"Bukk!"


Gale melemparkan bantal sofa pada Andro yang berlari.


"Dahlah, momy capek! Kaya abis nahan banteng matador lagi ngamuk," ujar Shania beranjak membawa piring bekas puding ke belakang.


"Masih sakit engga?" tanya Fatur mendekati Gale.


Gadis ini menggeleng, seraya mengusap wajahnya yang lengket karena keringat.


"Mandi gih, badan kamu lengket. Nanti sore kita pulang," Fatur terkekeh ingat kejadian barusan, dua kali ia melihat kelemahan Gale.


"Katanya cewek strong, cuma nginjek batu aja sampe harus di pegangin, pake bawa-bawa mut_ilasi." Tawa Fatur semakin kencang.

__ADS_1


Gale memukul-mukul lengan Fatur.


"Abang pake acara bedah-bedahan segala!" bibirnya mengerucut.


"Kalo nanti diperawanin gimana, apa abang harus kasih kamu obat tidur dulu, biar ga teriak-teriak?" goda Fatur berbisik menyatukan kedua kening mereka.


"Mesum ih!" bibirnya mencebik. Langkah dua orang masuk ke dalam rumah pak Hadi.


Terlihat Ori dan Kia sudah kembali ke dalam rumah. Ori melewat begitu saja dan masuk ke dalam kamar.


"Gimana Le, udah diobatin?" Kia duduk di sofa depan Gale.


"Udah," jawab Gale.


"Ki, gue sama abang balik sore nanti."


Kia berohria, "Kia kayanya ga tau entar malem ga tau besok pagi Le, bareng rombongan om Arka."


"Momy sama ayah besok," timpal Gale.


"Bang, Gale pengen mandi."


"Yuk, abang mandiin!" Gale dan Kia melongo melihat Fatur.


"Apa?" tanya Fatur santai.


"Gale mandi sendiri, bang."


"Kaki kamu?" tanya Fatur.


"Dinaikin ke bangku plastik," jawabnya, tak ingin jika Fatur memandikannya kaya lagi mandiin kambing.


Selepas Gale masuk ke kamar mandi dibantu Fatur, Kia terlihat serius mengobrol dengan Fatur.


Ceklek!


Ia mengambil alih sisir dan membantu Gale merapikan rambut kusutnya, setiap lembaran rambut Gale begitu lembut dan wangi, rambut hitam legam itu berhenti di pinggang.


"Istri abang cantik, makanya banyak yang suka."


"Makasih," pipi Gale menghangat seperti sepotong bakpau yang baru saja diangkat dari dandang.


"Kalo kamu mau ajak Ori ngobrol, Ori ada di saung di halaman belakang rumah kake," Gale memutar bola matanya menatap Fatur.


"Boleh?"


"Why not?"


"Abang ga cemburu?"


"Sangat, tapi abang ga bisa egois. Cemburu sekali demi kebaikan semua ke depannya,"


"Oke," Gale beranjak, dengan langkah yang terpincang-pincang keluar dari kamar.


Pepohonan jadi penolong dikala cuaca sedang panas begini, angin sejuk menerpa jiwa-jiwa yang tengah kebingungan di siang bolong.


"Disini enak buat ngadem ya bang," Ori menoleh ke arah belakang, dimana Gale menghampirinya.


"Cah, gimana luka loe?" tanya Ori membantu Gale duduk di sampingnya.


"Udah diobatin bang Fatur," senyum Gale, kenapa harus begini akhir persahabatan mereka hanya karena sebuah rasa.


"Dari taun ke taun, Pondok banyak banget perubahannya, tapi ga mengurangi rasa hangatnya," ujar Gale memulai pembicaraannya menatap jauh lurus ke depan. Ori terkekeh, ia tau betul Galexia.


"Loe tuh mau ngomong apa sih Cah? Ga usah muter-muter langsung ke intinya aja!"


Gale tertawa, ia memang tak pandai bersajak, "sue loe!" Gale meninju lengan Ori.

__ADS_1


"Gue ga sengaja denger obrolan loe sama Kia tadi di ladang jagung, bukan berarti gue sengaja mau nguping loh!" ucapnya sebelum Ori menuduhnya macam-macam.


Ori tertawa, entah apa yang ia tertawakan, mungkin keb_odo*hannya sendiri.


"Terus loe tau kan perasaan gue yang sebenernya sama loe, Cah?" kini Ori membalikkan badannya menghadap Gale.


"Apa ga ada rasa sedikit pun dari loe buat gue, selama bertahun-tahun kita barengan?" Ori meraih tangan Gale paksa dan menggenggamnya.


"Bang, loe ga boleh kaya gini! Gue sangat tau loe tuh paham sama perasaan gue!"


"Stop bang! Please, gue mohon!" pinta Gale mengiba.


"Loe mesti bahagia meskipun bukan gue orangnya," lanjut Gale.


"Gue nyesel sekarang, kesalahan gue tuh kenapa dulu gue ngikutin keinginan loe buat batalin perjodohan ke om Arka, dan sekarang gue sendiri yang malah ga bisa move on!" ia sekali lagi menertawakan kebo_dohannya.


"Itu karena kita ga jodoh bang, segimana kuatnya loe mempertahankan, segimana kita dekat pun kalau memang Allah ga berkehendak maka sekuat itu juga takdir bakalan jauhin loe sama gue, meskipun bukan bang Fatur orangnya," jawab Gale.


"Itu kenapa ayah bisa dengan mudahnya ganti loe sama bang Fatur, liat seseorang lain yang bener-bener tulus sayang sama loe bang."


Angin berhembus membawa rambut Gale yang tampak melambai-lambai menyapu wajah cantiknya.


"Jangan sampe loe nyesel untuk yang kedua kalinya, karena telat menyadari itu, loe akan nyesel setelah loe kehilangan seseorang itu..."


"Loe abang terbaik gue sampai kapanpun, gue juga sayang loe bang." Gale bangkit dari duduknya dan berjalan masuk ke dalam rumah.


"Gue pamit balik duluan ke Jakarta ya bang," ucapnya sebelum benar-benar masuk ke dalam.


Alangkah terkejutnya Galexia, Ori tiba-tiba berlari menghampirinya dan menarik pinggangnya, mengecup kening Gale. Kejadian itu benar-benar di luar kendali Gale.


Di sana, dua pasang mata melihat kejadian barusan. Yang satu langsung membuang pandangan ke arah lain dengan hati yang sudah hancur dan yang satu maaih saja kalem, meskipun kini hatinya bergemuruh.


Gale mendorong pelan dada Ori, "gue biarin loe kecup kening gue sekali ini. Sebagai tanda sayang adek buat abangnya. Meskipun gue tau udah bikin dosa sama bang Fatur, bikin Kia sakit hati."


"Dengan harapan, loe melepas rasa itu bersama kecupan loe," lanjutnya.


"Thanks," jawab Ori melepaskan Gale dan masuk ke dalam meninggalkan Gale di ambang pintu.


Fatur menghampiri Gale yang masih berada diantara rasa bersalah dan serba salahnya.


"Udah siang, barang-barang belum diberesin."


"Iya bang, Gale mau beresin barang-barang dulu, takut ada yang ketinggalan!" jawabnya menerima uluran tangan Fathur.


"Abang barusan darimana?" tanya Gale.


"Liatin istri abang dicium orang,"


Deg!


Gale menghentikan langkahnya dan mendongak pada Fatur, kabut matanya seakan menyampaikan rasa penyesalan dan permintaan maaf pada Fatur.


"Abang memang marah, abang cemburu. Tapi abang sedang berusaha untuk memaafkan. Abang lebih mampu dari sekedar memukul Ori, tapi abang tak mau memperkeruh suasana. Selama masih bisa abang tolerir, abang maafkan."


"Abang tidak mau kamu merasa jika menikah dengan abang, lantas merebut kamu dari orang-orang sekitarmu."


Fatur menarik tissue dari tempatnya, saat mereka melewati ruang makan.


"Abang hapus ya," ijinnya mengusap bekas kecupan Ori lalu menggantinya dengan kecupan darinya.


"Setelah ini hanya ada kamu, abang dan keluarga kita!"


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2