GADIS NAKAL PAMAN KECIL

GADIS NAKAL PAMAN KECIL
Makan Malam


__ADS_3

Mendengar ponselnya berdering, Pitaloka yang baru selesai mandi mengangkatnya. Itu panggilan dari Raihan.


"Keluar, aku menunggumu." Kata Raihan.


Pitaloka terkejut mendengar pria itu sudah sampai saja, mereka memang janjian untuk makan malam berdua malam ini, tapi ini baru jam 6:50 sedang mereka janjian jam 8 malam.


Pitaloka melihat dari jendela dan benar saja pria tampan itu kini berdiri di depan mobil dengan gagahnya.


"Kamu kecepetan, aku baru selesai mandi dan..." Pitaloka melihat tubuhnya yang masih terbalut handuk.


"Dan?" Tanya Raihan.


"Aku belum berpakaian." Jawab Pitaloka pelan.


"Haha, ok cepatlah bersiap, aku menunggu kok." Raihan tertawa membuat Pitaloka kesal dan mematikan telponnya.


Beberapa menit kemudian Raihan hampir saja membuka mulutnya saat melihat Pitaloka dengan mini dres merah keluar dari kosnya.


Raihan mencoba mengendalikan dirinya dan berusaha untuk tenang.

__ADS_1


"Ayo!" Raihan membukakan pintu mobil untuk Pitaloka.


Di dalam mobil jantung Raihan hampir copot karena terus berdegup kencang.


"Kita mau kemana?" Tanya Pitaloka.


"Makan malam kan?" Kata Raihan.


"Iya, tapi dimana? kenapa melewati banyak sekali restoran jika hanya mau makan malam?" Pitaloka di buat bingung dengan Raihan yang katanya akan membawanya makan malam, tetapi dari tadi Raihan tidak juga menghentikan mobilnya saat melewati sekian banyak restoran.


"Ikut saja, oke!"


"Kenapa harus makan disini? tadi kita melewati begitu banyak restoran." Pitaloka menelan ludahnya saat Raihan menggandengnya masuk ke sebuah restoran yang paling mewah di sana.


"Ini restoran langganan aku, jadi aku terbiasa makan disini." Jawab Raihan lalu membantu Pitaloka duduk.


Tanpa di panggil, pelayan dengan cepat menghampiri Raihan.


"Selamat malam Tuan." Sapa pelayan itu dengan sedikit membungkukkan badannya, lalu memberikan daftar menu pada Raihan.

__ADS_1


"Kamu mau makan apa?" Tanya Raihan sambil terus menatap wanita cantik di depannya itu.


"Apa saja, aku sudah pernah bilang aku tidak pilih-pilih makanan." Jawab Pitaloka sedikit canggung, karena sejak dia memasuki restoran itu, dia menyadari jika semua mata orang disana hanya fokus padanya dan Raihan.


Siapa yang bisa mengalihkan pandangannya dari pria yang sangat terkenal itu, terlebih baru kali ini pria itu menggandeng seorang wanita kesana. Pria yang terkenal dengan kewibawahannya, namun juga sangat arogan, sehingga banyak orang yang tidak berani bahkan hanya untuk menatap matanya saja. Namun kini pria itu membawa seorang gadis bersamanya, gadis yang sangat cantik, yang menurut orang disana memang pantas bersama pria itu.


"Baiklah, seperti biasa saja." Kata Raihan pada pelayan disana dengan suara datar.


"Kamu kenapa?" Tanya Raihan saat melihat Pitaloka seperti sedang menahan sakit.


Pitaloka tentu menyadari jika saat ini dia kembali terpanggil oleh obat terkutuk itu, namun Pitaloka sebisa mungkin menutupinya dari Raihan.


"Tidak, aku tidak kenapa-kenapa." Jawab Pitaloka sambil berusaha tersenyum, namun dia tidak bisa membohongi Raihan, karena saat ini keringat telah membasahi tubuh Pitaloka.


"Sial." Gumam Raihan, lalu segera membawa Pitaloka keluar dari sana.


Saat di dalam mobil Raihan mengacak-acak tas Pitaloka untuk mencari obat itu, tapi dia tidak menemukannya.


"Apa kamu lupa membawa obat itu?" Tanya Raihan cemas, dia seakan merasa sakit melihat gadis disampingnya itu kini bermandikan keringat menahan sakitnya.

__ADS_1


"Tidak, aku tidak melupakannya. Tapi, aku sengaja tidak membawanya." Kata Pitaloka.


__ADS_2