
Setelah memastikan kondisi Pitaloka baik-baik saja, Raihan membawa Pitaloka pulang.
"Kenapa membawaku kesini?" Tanya Pitaloka saat Raihan membawanya kembali ke rumah keluarga Saloka.
Raihan melepaskan sabuk pengaman Pitaloka sambil tersenyum dan berkata "Mulai saat ini, rumah ini adalah rumah kamu juga. Kita akan tinggal disini bersama calon bayi kita."
Mendengar perkataan Raihan, Pitaloka hanya terdiam.
Raihan menggandeng tangan Pitaloka turun dari mobil dan berjalan memasuki rumah dengan sangat hati-hati.
"Kamu duduklah disini."
Raihan membantu Pitaloka duduk di sofa ruang tamu dengan begitu hati-hati. Sampai pelayan yang melihat merasa Raihan sangat berlebihan memanjakan kekasihnya itu, sudah seperti memanjakan istri yang tengah hamil besar.
"Pelayan, panggil semua anggota keluarga untuk berkumpul sekarang juga." Ucap Raihan pada seorang pelayan disana.
Dan saat semua orang rumah telah berkumpul, kecuali Sesil yang masih berada di kampus, Raihan membuka suara yang membuat anggota keluarganya mengerti kenapa Raihan mengumpulkan mereka siang hari ini.
"Aku sudah memutuskan untuk mempercepat pernikahan kami." Ucap Raihan sambil menatap Pitaloka yang sedikit terkejut dengan keputusan Raihan itu. Namun Pitaloka tau penyebab keputusan Raihan tersebut.
__ADS_1
"Besok malam! Dan aku ingin siapa pun yang mau berpartisipasi dalam hari bahagia kami, maka ikut mempersiapkan segalanya. Bagi yang keberatan, maka silahkan kurung diri kalian di dalam kamar, karena aku tidak mau melihat wajah tidak enak saat hari bahagiaku berlangsung." Sambung Raihan lalu sekilas melirik nenek tua yang mukanya dari tadi begitu kusut.
"Aku, aku dan Richard akan mempersiapkan segalanya. Iyakan?"
Sesil yang baru pulang bersama Richard mendengar ucapan Raihan dari luar pintu masuk. Saking senangnya dia begitu bersemangat dan berlari ke arah semua orang sedang berkumpul.
"Oh sebentar lagi aku akan kehilangan sahabatku." Ucap Sesil sambil memeluk Pitaloka.
"Kenapa?" Tanya Pitaloka bingung, dengan ucapan tak nyambung Sesil.
"Yah karena besok malam sahabatku ini akan berganti gelar menjadi bibi kecilku." Ucap Sesil dan seketika membuat Camelia, Richard dan Raihan tersenyum.
Pitaloka geleng-geleng kepala mendengar ucapan Sesil.
"Hehe iya, hmmm aku bahagia sekali. Rasanya aku..."
"Sesil hentikan!" Teriak Raihan.
Perkataan Sesil terhenti karena Raihan langsung memisahkannya dari Pitaloka.
__ADS_1
Raihan refleks mendorong Sesil dan membuat Sesil yang dari tadi mengguncang tubuh Pitaloka dengan girang, menjadi heran. Kalau tidak salah lihat, pamannya itu saat ini sedang marah.
"Jangan mengguncangnya seperti itu." Ucap Raihan lagi, namun suaranya kembali melembut.
"Maaf, orang lagi senang, lagian cuma meluk doang. Belum juga jadi istri, sudah mau misahin aku dari sahabatku, huh." Cetus Sesil kesal.
Sesil berdiri dan pindah ke sisi ibunya dan memeluk ibunya itu.
"Maaf, tapi kamu mengguncang tubuhnya dan itu tidak akan baik buat janin di perutnya."
Degh
Semua orang termasuk Pitaloka terkejut saat Raihan dengan santainya mengungkapkan kehamilan Pitaloka yang belum tentu pasti.
"Apa?"
Hampir semua orang bertanya demikian, terlebih nenek tua yang sampai detik ini masih belum menerima Pitaloka. Untung orang tua berusia lanjut itu tidak memiliki penyakit jantung, jika iya maka saat ini dia pasti telah kumat.
"Yeeeh, ibu dengar? sebentar lagi akan ada yang memanggilku kakak."
__ADS_1
Sesil memeluk erat ibunya dengan girang.
Sejak lama dia sangat menginginkan seorang adik, tapi ibunya yang memutuskan tidak mau menikah lagi, membuat harapannya pupus. Namun saat ini, mendengar pamannya akan menjadi seorang ayah, otomatis Sesil sangat bahagia karena anak dari paman dan sahabatnya itu akan menjadi adiknya.