GADIS NAKAL PAMAN KECIL

GADIS NAKAL PAMAN KECIL
Cukup Tiga Penyihir


__ADS_3

"Oh, rupanya seorang gadis yang membuat kita harus berkumpul malam ini?"


Hestie bersama suaminya Faris, berjalan ke arah meja makan. Dari nada bicaranya saja sudah terdengar jika dia keberatan dengan makan malam ini.


Tentu saja, itu karena dia dan suaminya sudah membeli dua tiket nonton malam ini. Tetapi karena Raihan meminta semua orang berkumpul untuk makan malam, maka dia terpaksa menghanguskan tiket yang sudah susah payah suaminya beli.


"Dua wanita penyihir ini!" Gumam Sesil.


Sesil sangat senang pamannya membawa Pitaloka, tetapi dia juga hawatir dengan sahabatnya itu.


Sesil sangat tau sifat nenek tua dan bibinya, mereka tidak akan mempermudah jalan Pitaloka memasuki keluarga Saloka.


Sama dengan yang mereka lakukan bertahun lalu pada ibunya, saat mendiang ayahnya pertama kali memperkenalkan ibunya.


"Ekhmm. Ayo silahkan makan."


Raihan berdehem sambil melirik saudara perempuannya yang masih berdiri disana.


Hestie dan Faris langsung duduk di kursi mereka masing-masing. Keduanya sangat takut pada Raihan, karena Raihanlah ahli waris Saloka Grup. Jika mereka membuatnya marah, bisa-bisa mereka dibuat jadi gelandangan.


Saat ini nenek tua duduk di kursi bagian kanan, di sampingnya kosong kemudian Sesil, Pitaloka dan Raihan di sampingnya. Hesti duduk di kursi bagian kiri bersebelahan dengan suaminya, dan masih banyak kursi yang kosong disana, itu merupakan kursi mendiang kakek tua, mendiang orang tua Raihan dan kursi ibu Sesil yang sedang sakit.


"Tunggu, nenek masih menunggu seseorang."

__ADS_1


Saat Raihan menyajikan makanan di piring Pitaloka, nenek tua menghentikannya.


"Siapa?"


Tanya Raihan bingung, dia rasa semuanya sudah berkumpul lalu siapa yang nenek tua tunggu?


"Selamat malam nenek, selamat malam semua."


Raihan terkejut dengan kehadiran seseorang yang menurutnya tidak seharusnya berada disana. Malam ini Raihan yang mengumpulkan orang-orang karena ingin memperkenalkan Pitaloka, lalu kenapa wanita itu juga datang?


"Vina, kemari duduk di sebelah nenek."


Nenek tua menyambut Vina dengan sangat baik, berbeda sekali saat menyambut Pitaloka.


Vina dengan santai duduk di kursi antara nenek tua dan Sesil.


"Cukup tiga penyihir." Gumam Sesil yang sedikit terdengar samar di telinga Vina.


"Kamu mengatakan sesuatu?" Tanya Vina dengan senyum manis yang dia ciptakan.


"Pit, ayo cicipin ini. Pelayan kami yang masak, memang tidak seenak masakan mama, tapi ini juga enak kok."


Sesil menyajikan makanan untuk Pitaloka, malas banget baginya ngobrol sama Vina yang sudah dia tau selama ini selalu berusaha nempel pada pamannya.

__ADS_1


"Ini juga sangat lezat, cobain deh."


Raihan tanpa perduli pada yang lainnya menyodorkan sesendok sup pada Pitaloka.


Pitaloka dengan canggung memakan sup yang Raihan suapi. Itu tidak lepas dari jangkauan mata tajam Vina. Vina merasa cemburu dan kesal, tapi tidak masalah karena keromantisan keduanya sebentar lagi akan berakhir.


"Wanita yang berasal dari tempat rendah dan kotor memang tidak punya malu."


Inilah momen yang paling Vina tunggu. Nenek tua menyindir Pitaloka yang di suapin Raihan saat ini.


Semua orang serentak meletakkan sendok mereka, terutama Raihan dan Sesil.


"Apa maksud nenek? Kita sedang makan malam, tolong jangan buat masalah."


Raihan tentu sangat mengenal nenek tua, dia sendiri melihat langsung bagaimana dulu nenek tua membuat ibu Sesil sangat malu ketika kakaknya membawa ibu Sesil untuk pertama kalinya.


Raihan juga takut jika hal itu nenek tua ulangi ke wanitanya, tapi Raihan sudah siap, meski siapa pun menantang, dia tetap akan menggenggam tangan Pitaloka.


"Buat masalah? kamu yang membawa masalah itu ke rumah ini."


Nenek tua menghempaskan sendoknya dan berkata sambil berdiri.


Sesil sangat terkejut, tapi dia bisa melihat jika sahabatnya jauh lebih terkejut lagi.

__ADS_1


Sesil memeluk pundak Pitaloka dan mengusapnya pelan.


__ADS_2