
"Kamu mau kemana lagi?"
Mendengar suara mobil putrinya datang, Camelia yang berumur 45 tahun namun terlihat masih sangat muda keluar rumah, tapi dia melihat sepertinya putrinya itu akan pergi lagi.
"Tidak, Sesil akan masuk."
Sesil yang tadinya mau ke perusahaan Raihan mengurungkan niatnya.
Bukan karena takut ibunya akan marah jika dia keluar terus, tapi dia melihat Nenek tua yang berdiri di belakang ibunya sedang menatapnya seperti tak bersahabat.
Ibunya adalah cucu menantu tertua di rumah itu, karena dari tiga bersaudara, ayahnya adalah cucu pertama. Cucu kedua adalah bibinya dan yang ketiga tentunya Raihan.
Nenek tua sendiri hanya memiliki satu putra, yang juga telah tiada bersama istrinya dengan meninggalkan tiga orang anak yaitu ayah Sesil, bibi dan paman kecilnya Raihan.
Berbeda dengan Raihan yang sangat memanjakannya dan menghormati ibunya, Nenek tua dan bibinya sangat tidak menyukai dirinya juga ibunya.
Bibinya membuat-buat cerita jika ayah Sesil meninggal karena ibu Sesil sendiri, dan Nenek tua yang tidak ada di rumah saat itu percaya begitu saja. Dan sampai sekarang, Nenek tua menyalahkan Camelia tentang kematian cucu tertuanya.
Tentunya sebagai seorang putri Sesil tidak terima jika ibunya di sakiti dan di pojokkan, jadi Sesil yang selalu terang-terangan membela ibunya menjadi ikut di benci oleh Nenek tua dan bibinya.
"Ayo masuk."
Sesil merangkul pinggang ibunya dan melewati Nenek tua disana.
"Nek, lihat. Semakin hari, ibu dan anak itu semakin tidak menghargai nenek."
Hestie, bibi Sesil yang tadinya berada di pojok ruangan menghampiri nenek tua dan mengomporinya.
Sebenarnya, Hestie tau jelas tentang kematian kakaknya. Tapi dia mengambil kesempatan untuk mengarang cerita dan membuat Nenek tua membenci Camelia, kakak ipar yang tidak pernah dia akui.
Hestie merasa cemburu dengan bagian harta yang di dapatkan Camelia karena jauh lebih besar dari pada yang dia dan suaminya dapatkan.
__ADS_1
Karena itulah, dia mengarang cerita kematian kakaknya yang sampai saat ini belum di tau pasti penyebabnya meski oleh Raihan sekali pun.
...
"Ini kunci kamar anda."
Seorang kepala kru memberikan sebuah kunci kamar pada Pitaloka.
Sekarang Pitaloka dan timnya berada di ibu kota Cagliari, tepatnya di sebuah hotel berkelas tempat wisata yang bernama Sardinia.
Pitaloka melihat nomor kamarnya lalu bertanya pada kepala krunya. "Bisakah anda mengantar saya? saya mungkin akan nyasar jika pergi sendiri."
"Tentu saja, mari."
Kepala kru mengantar Pitaloka sampai di depan pintu kamarnya.
"Silahkan, anda istirahat dulu. Besok pagi saya akan menghubungi anda sebelum berangkat ke lokasi syuting."
Pitaloka memasuki kamarnya.
"Waw besar sekali." Seru Pitaloka, tentu saja, siapa yang tidak terperangah saat pertama kalinya memasuki hotel berkelas dengan kamar yang begitu besar dan mewah.
Tentunya semua itu di atur husus oleh Raihan untuk Pitaloka. Raihan sudah meminta kepala kru untuk lebih memperhatikan Pitaloka disana.
"Hallo Sil, aku sudah sampai. Ka..."
"Ya ampun Pitaloka, akhirnya kamu menelpon juga." Belum saja Pitaloka mengatakan yang dia mau katakan, Sesil sudah berteriak memotongnya.
"Kamu membawa obatmu kan? please jangan bilang tidak." Lanjut Sesil.
"Tidak."
__ADS_1
"What?"
Satu kata jawaban Pitaloka membuat jantung Sesil hampir melompat keluar.
"Aku sengaja tidak membawanya, tapi kamu tidak perlu hawatir aku pasti bisa menahannya."
Meski dia sendiri tidak yakin sedikit pun tapi Pitaloka mencoba meyakinkan Sesil.
"Tidak tidak, aku akan meminta paman mengirim orang yang bisa di percaya untuk mengirim obatmu."
Ucap Sesil namun langsung di bantah oleh Pitaloka.
"Jangan, aku mohon jangan lakukan itu. Jika kamu menganggapku sahabat maka tolong jangan pernah meminta siapa pun mengirim obat itu."
"Tapi kenapa? kamu tidak akan kuat Pit."
Sesil sangat mencemaskan Pitaloka, apalagi disana Pitaloka terhitung sendiri. Bersamanya saja, Pitaloka pasti akan mati jika tanpa obat itu, apalagi mereka saat ini berseberangan.
"Tidak, percaya padaku aku akan baik-baik saja. Ya sudah, aku baru sampai, aku harus menyusun barangku, daah..."
"Ta..."
Pitaloka sudah memutuskan sambungan telponnya sebelum Sesil bicara.
"Sial, apa yang harus aku lakukan?"
Sesil begitu cemas sekarang, tapi dia sungguh tidak berani menyelah permintaan Pitaloka, karena dia sangat tau jika dia tetap meminta Raihan mengirim obat itu, maka Pitaloka akan sangat marah.
"Semoga kamu bisa melewatinya."
Hanya itu yang bisa Sesil lakukan, berdoa agar sahabatnya baik-baik saja.
__ADS_1
Pernah sekali Pitaloka bersi keras melawan ketergantungannya dan tidak mau memakan obat itu meski Sesil memaksanya. Pitaloka berhasil melewatinya, tapi pada akhirnya Pitaloka harus dirawat di rumah sakit selama seminggu. Dan itu di saksikan langsung oleh Sesil, meski bisa bertahan tapi hampir saja sahabatnya itu kehilangan nyawa jika saja dia terlambat di bawa ke rumah sakit.