
Keduanya berpelukan cukup lama sampai Pitaloka melepas pelukannya dan bertanya.
"Apa ini tempat pemakaman keluarga besar Saloka?"
"Iya, ayo ikut aku."
Raihan menarik Pitaloka pelan dan berjalan ke sebuah makam disisi lain tempat itu.
Raihan memberi salam pada makam itu kemudian berkata.
"Ini makam ayah dan ibu." Ucap Raihan pada Pitaloka.
Pitaloka kemudian ikut memberi salam dihadapan makam di depannya.
"Pah, Mah, aku membawakan calon menantu kalian. Lihatlah, dia sangat cantik seperti mama." Ucap Raihan pada makam kedua orang tuanya. Berharap kedua orang tuanya merasakan kebahagiaannya saat ini.
...
Ditempat lain Richard sedang menutupi mata Sesil dengan kedua tangannya.
"Sudah sampai belum?"
Sesil tak sabar menerima kejutan Richard.
Richard tadi sedikit lama membuat Sesil menunggu karena menghubungi temannya dulu untuk mempersiapkan sesuatu untuk Sesil.
Dan saat ini keduanya tengah berjalan menuju tempat itu.
__ADS_1
"Lima langkah lagi, ok! Satu, dua, tiga, empat, Lima."
Richard melepas tangannya dari mata Sesil, dan seketika Sesil merasa takjub dengan yang ada di hadapannya.
"Selamat ulang tahun." Ucap Richard bersamaan dengan melepas tangannya.
Richard sudah lama tau hari ulang tahun Sesil. Bahkan saat mereka masih sekolah, Richard sering memberikan kejutan kecil untuk Sesil.
Melihat sebuah taman ysng terhias indah, serta beberapa pemain biola yang membuat suasana menjadi romantis. Sesil merasa sangat bahagia.
Sesil sendiri bahkan ssmpsi melupakan jika hari ini adalah hari ulang tahunnya karena fokus pada masalah ibunya dan juga Raihan dan Pitaloka.
"Kamu masih mengingatnya?"
Setelah tiga tahun berlalu, Sesil merasa sangat terharu karena pria di hadapannya itu masih mengingat hari ulang tahunnya.
"Mana mungkin aku melupakan hari istimewah wanita yang aku cintai."
"Lihat, disana ada hadiah ulang tahun kamu yang aku sediakan selama tiga tahun ini setiap kali kamu berulang tahun."
Sesil melangkah ke arah meja itu, dan benar saja. Disetiap kotak tertulis ucapan yang sangat indah untuknya masing-masing di usianya yang tiga tahun tetakhir.
"Dan untuk tahun ini..."
Richard mengeluarkan sebuah cincin dari saku celananya.
"Kamu maukan bertunangan denganku?"
__ADS_1
Richard melakukan hal yang tidak jauh beda dengan yang Raihan lakukan ditempat lain beberapa waktu lalu.
Berlutut dihadapan Sesil dan mempersembahkan cincin dihadapannya.
Sesil tak kuasa menjawab, dia hanya mengangguk setuju.
Richard dengan rasa bahagia melingkarkan cincin itu di jari Sesil.
...
Malam hari, Sesil yang membawa Richard pulang ke rumahnya untuk memberitahu ibunya tentang rencana pertunangan yang akan mereka laksanakan dalam waktu dekat dengan cara sederhana, sekaligus meminta restu ibunya, merasa terkejut mendapati rumah besar itu gelap gulita.
Dan saat Sesil mendorong pintu utama, seketika dia dikejutkan dengan lampu yang tiba-tiba menyala dan semua orang termasuk Raihan dan Pitaloka sudah ada disana.
"Selamat ulang tahun..."
Semua orang serentak mengucapkan selamat pada Sesil. Termasuk nenek tua dan Hestie yang meski tidak mood tapi terpaksa bergabung karena Raihan yang meminta.
Sesil berlari memeluk ibunya lalu berganti memeluk sahabat terbaiknya.
"Kalian semua mengingatnya?" Tanya Sesil yang matanya mulai lembab karena haru.
"Sebenarnya tidak, tapi kekasihmu itu mengingatkan kami." Ucap Raihan.
Meski Richard memang turut ambil bagian dalam kejutan malam ini, tapi Raihan tidak mungkin melupakan ulang tahun ponakan satu-satunya itu.
Raihan dan Richard bekerjasama untuk membuat pesta ulang tahun Sesil.
__ADS_1
"Selamat sayang, untuk ulang tahunmu dan juga untuk hari bahagia lainnya." Ucap Camelia yang membuat Sesil bingung.
"Hari bahagia lainnya?" Tanya Sesil.