
Di hotel kepala kru mondar-mandir memegang ponselnya.
Dia menimbang apa harus menghubungi Raihan atau tidak.
Sejak tadi pagi, Pitaloka tidak juga keluar dari kamarnya, dan saat di telpon dia tidak mengangkatnya.
Tapi akhirnya dia memberanikan diri menelpon Raihan.
"Halo, katakan ada apa?"
Raihan yang masih mengemudikan mobilnya menjawab telpon kepala kru yang merupakan wanita berumur 40_an itu.
"Halo, tuan Saloka apa nona Pitaloka pernah menghubungi anda pagi ini?"
Tanya kepala kru itu dengan gugup.
"Tidak, apa maksudmu, bukankah kalian bersama?"
Mendengar pertanyaan kepala kru, Raihan menebak jika telah terjadi sesuatu disana.
"Iya, tapi...Nona Pitaloka belum keluar dari kamar sejak pagi dan saat aku menghubunginya meski tersambung dia tidak mengangkatnya."
Kepala kru menjelaskan dengan badan mulai berkeringat.
"Bodoh, lalu kenapa kamu menghubungiku? Suruh seseorang membuka paksa pintunya dan lihat apa dia baik-baik saja atau..."
Raihan tidak menyelesaikan perkataannya. Jika yang dia hawatirkan terjadi maka entah apa yang akan dia lakukan.
"Cepat buka pintunya, kalau terjadi sesuatu padanya maka aku pasti akan menghancurkanmu."
__ADS_1
Raihan memutuskan telponnya lalu mengebut ke bandara.
"Siapkan pesawat pribadi secepatnya."
Raihan terus melajukan mobilnya sambil menghubungi Gibran. Dia harus segera sampai secepat mungkin ke Italia.
...
Kepala kru dan para anggotanya mengambil kunci cadangan pada pengurus hotel.
"Bodoh, aku benar-benar bodoh."
Kepala kru terus mengutuki dirinya sendiri, dia merasa memang sangat bodoh. Kenapa tidak dari tadi berpikir untuk mengambil kunci cadangan pada pengurus hotel. Jika benar terjadi sesuatu pada wanita CEO nya maka habislah dirinya.
"Nona!"
Pitaloka terbaring di lantai tak sadarkan diri dengan tubuh basah karena bermandikan keringat.
"Panggil ambulance..." Teriak Kepala kru pada anggotanya.
Semalam, saat tidur Pitaloka baik-baik saja dan tidur dengan nyenyak. Tapi saat fajar mau terbit dia merasakan tubuhnya bergetar. Dia tau jika rasa ketergantungannya kambuh.
Dengan menahan sakit, Pitaloka memeluk lututnya. Dan saat keringat sudah mulai membasahi tubuhnya, Pitaloka tidak sanggup lagi menahan.
Tapi itu sudah jadi keputusannya, dia rela tiada dari pada harus mengkonsumsi obat terkutuk itu lagi.
Badan Pitaloka mulai kejang-kejang dan sampai akhirnya Pitaloka kehilangan kesadaran karena sesak nafas dan tak mampu menahan rasa sakit di dadanya.
...
__ADS_1
Kepala kru dan para anggotanya, termasuk pemilik hotel sedang menunggu dengan cemas di depan ruangan Pitaloka sedang di rawat.
"Apa yang sebenarnya terjadi dengannya?"
Nyonya Hamel, pemilik hotel dimana Pitaloka dan timnya menginap menghampiri kepala kru dan bertanya.
"Aku tidak tau, tapi satu hal yang dapat aku pastikan... sebentar lagi... aku akan hancur."
Kepala kru memang sangat mencemaskan Pitaloka, tapi lebih dari itu, saat ini dia sendiri sedang mencemaskan nasibnya yang mungkin sesaat lagi akan hancur di tangan Raihan.
"Dimana Pitaloka?"
Raihan tiba disana hanya dalam beberapa saat saja dan kedatangannya langsung membuat nafas semua kru disana seakan mau berhenti.
"Dia sedang di tangani di dalam."
Karena tidak ada yang menjawab maka Nyonya Hamel yang menjawab Raihan.
Bukan tidak mau menjawab, tapi kepala kru dan semua anggotanya seperti tidak bisa menggerakkan lidahnya saat ini.
"Tuan apa yang anda lakukan?"
Nyonya Hamel terkejut saat Raihan tiba-tiba saja mendorong pintu ruangan Pitaloka dan segera masuk.
"Jangan menghalanginya, atau anda juga akan ikut hancur bersama kami."
Kepala kru menghalagi Nyonya Hamel dan memperingatinya saat Nyonya Hamel mau menghalagi Raihan masuk.
Meski bingung kenapa orang yang di depannya itu sangat ketakutan, tapi Nyobya Hamel memilih mendengarkannya. Lagi pula Raihan juga sudah berada di dalam.
__ADS_1