GADIS NAKAL PAMAN KECIL

GADIS NAKAL PAMAN KECIL
Oh Sial...


__ADS_3

"Halo!"


Pitaloka mengangkat telpon dari Raihan sambil memasukkan barang-barang yang perlu dia bawa ke Italia.


"Apa kamu sedang bersiap sekarang?"


Pertanyaan Raihan yang seakan tau dirinya akan berangkat ke Italia sempat membuat Pitaloka bingung. Tapi kemudian dia mengerti karena dia ingat jika pria yang menelponnya saat ini merupakan CEO perusahaan tempat produknya di keluarkan, Saloka Grup.


"Hm, iya a..." Perkataan Pitaloka terhenti saat dia refleks akan memasukkan obat pe****sa**nya ke dalam koper.


Kemungkinan dia akan berada di Italia selama dua atau tiga minggu. Tadi dia hanya berpikir tentang masalah izin di kampus, tapi sekarang dia baru ingat jika masalah yang sesungguhnya adalah obat itu.


Seandainya dia bisa mengundur waktu, maka dia akan kembali ke posisi dimana dia belum mengiyakan produsernya. Tetapi baru saja dia menelpon produsernya dan berkata akan bersiap. Tentu tidak bisa membatalkannya sekarang.


Pitaloka membuang obatnya ke tong sampah kecil dalam kamarnya, lalu lanjut mengemas pakaiannya.


"Ya sudah kamu bersiaplah, aku masih ada pertemuan penting."


Mungkin karena terlalu sibuk, Raihan sampai melupakan masalah obat itu, jadi dia bisa tenang saja melepas Pitaloka pergi.


...


"Kamu kenapa kesini?"

__ADS_1


Sore hari, Sesil datang ke kos Pitaloka.


"Tentu saja menjemputmu, aku akan mengantar kamu ke bandara."


Perkataan Sesil di dengar oleh beberapa orang disana.


"Bandara? Pitaloka mau pergi?"


Tanya salah satu gadis disana.


"Hm, sahabatku ini sekarang adalah seorang bintang. Tidak lama lagi dia akan terkenal dan kalian semua akan meminta tanda tangannya."


Begitulah Sesil, bukan gadis sombong,. Tapi jika berbicara dengan lawan yang tidak baik seperti penilaiaannya pada gadis itu, maka dia akan bicara tinggi. Terlebih dia melihat Clara di balik pintu kosnya sedang berdiri memperhatikan.


"Wah hebat sekali."


Semua orang yang mendengar itu berseru.


Pitaloka hanya diam melihat tingkah Sesil.


Sesil lalu membantu Pitaloka mengangkat barangnya.


"Dimana paman kecilku? Apa dia tidak mengantar kamu?" Tanya Sesil sambil menghidupkan mesin mobilnya.

__ADS_1


"Katanya dia ada pertemuan penting."


Jawab Pitaloka, sebenarnya dia sangat ingin Raihan mengantarnya pergi. Karena jika sampai tiga mingguan di sana maka dia pasti akan sangat merindukan kekasih hatinya itu.


...


"Daah, titip salam buat Roma."


Sesil melihat Pitaloka dan semua kru memasuki bandara. Sampai punggung semua orang hilang dari pandangannya, barulah dia pulang.


"Oh sial, mengapa aku melupakan ini."


Sesil memukul kepalanya saat baru saja akan memasuki rumah keluarga Saloka. Rumah dimana dia dan Ibunya tinggal bersama Nenek tua Saloka, Bibinya dengan suaminya, dan juga paman kecilnya Raihan.


Sesil buru-buru menghubungi Pitaloka untuk bertanya apa dia membawa obatnya? dan bagaimana jika dia kambuh saat tidak ada seorang pun yang mengetahui itu disana?


Tapi handphone Pitaloka sudah tidak aktif, itu menandakan Pitaloka saat ini sudah di dalam pesawat.


"Oh sial, ini benar-benar sial."


Sesil semakin mendumel saat ternyata handphone Raihan juga tidak aktif.


Pitaloka telah memberi tahunya sejauh apa hubungannya dengan Raihan. Jadi menurut Sesil, jika sekarang hanya Raihan pria satu-satunya dalam hidup Pitaloka, berarti hanya Raihan yang bisa memberikan penawar dari efek obat itu.

__ADS_1


Tapi jika disana Pitaloka kambuh, dan Raihan tidak ada, bagaimana? itu pasti akan menyulitkan Pitaloka. Ditambah Sesil sekarang ragu apa Pitaloka membawa obat itu atau tidak, karena jika tidak maka itu sangat berbahaya bagi nyawa Pitaloka, disana Pitaloka tidak mungkin bisa dengan mudah mendapatkan obat itu karena dia tidak mengenal tempat itu, dan tidak ada orang yang bisa dia percayakan untuk urusan obat itu disana.


__ADS_2