GADIS NAKAL PAMAN KECIL

GADIS NAKAL PAMAN KECIL
Akan Berjuang Sebisa Mungkin Untuk Membawanya Hadir...


__ADS_3

"Argh! Berhenti atau..."


Ucap Raihan ingin memperingati Pitaloka namun berhenti karena memikirkan janin di rahim wanita nakal dan usil itu.


"Atau?"


Pitaloka dengan mata nakalnya berkedip beberapa kali sengaja ingin merobohkan pertahanan Raihan.


"Awas!"


Dan benar saja, Raihan kini tidak mampu mengendalikan dirinya yang sejak tadi bereaksi.


"Mau kemana?" Tanya Pitaloka menahan tawanya.


"Mandi." Ucap Raihan sambil berjalan ke arah kamar mandi.


"Ikut!" Rengek Pitaloka yang membuat Raihan lagi dan lagi semakin tidak tahan dengan tampang dan suara menggoda wanitanya itu.


Raihan tidak menghiraukan Pitaloka karena serasa kebelet. Dia menutup pintu kamar mandi, dan seketika tawa Pitaloka pecah.


"Ya ampun, semenderita itukah?" Pikir Pitaloka sambil memegang perutnya karena menahan tawa agar Raihan tidak mendengarnya.


...


"Sudah?"


Pitaloka melihat Raihan yang keluar dari kamar mandi dengan berbalut handuk.

__ADS_1


"Apanya?" Tanya Raihan sedikit ketus. Dia tau jika wanitanya itu sengaja ingin mengerjainya. Seandainya tidak memikirkan janin mereka dan kondisi Pitaloka yang lemah, Raihan pasti sudah menjajahnya saat ini.


"Ih memang apa lagi kalau bukan mandi?"


Cetus Pitaloka sambil berlari kecil ke kamar mandi.


"Hati- ha.. Dasar!"


Raihan ingin memperingati Pitaloka, tetapi Pitaloka sudah menutup pintunya.


...


"Ayo makan!"


Raihan menepuk-nepuk kasur untuk Pitaloka duduk disana.


"Kenapa kita makan di kamar? aku kan orang sehat, kok seperti orang sakit aja sih makanannya di anterin di kamar."


"Tidak boleh cemberut, nanti bayi kita jadi jelek. Ayo aaaaa'."


Raihan menyuapi Pitaloka bak menyuapi anak kecil.


Keduanya saling menyuapi sampai Pitaloka bertanya.


"Apa tadi membuatmu sangat menderita?"


Raihan hampir tersedak makanannya gegara pertanyaan ambigu Pitaloka itu.

__ADS_1


"Memangnya kenapa?" Cetus Raihan, merasa kesal mengingat kembali penderitaannya di kamar mandi.


"Yaa, mau tau saja. Aku dengar-dengar seorang pria akan sangat menderita jika menahan hasratnya." Imbuh Pitaloka santai sambil menyuapi dirinya sendiri.


"Lalu kalau iya kenapa?" Tanya Raihan yang sudah kehilangan selera makannya.


"Yah kalau memang begitu, kenapa tadi di tahan?"


Ini yang membuat Pitaloka tidak mengerti. Kenapa Raihan berusaha keras menahan hasratnya? pada hal mereka bukan sekali dua kali telah melakukannya.


"Aku tidak setega itu hingga mengutamakan hasratku dari pada kesehatan kamu dan calon bayi kita." Ucap Raihan sambil melihat perut Pitaloka dan sontak membuat Pitaloka memegang perutnya.


"Jadi kamu rela menahannya dan menderita demi kami?" Tanya Pitaloka penuh haru. Dia baru mengingat jika dirinya kemungkinan besar sedang mengandung.


"Tentu saja, bukan hanya karena janin ini. Tapi aku tidak mau kamu kenapa-kenapa karena kelelahan melayaniku." Bisik Raihan sambil mengelus perut Pitaloka.


Entah kemana hilangnya Pitaloka yang usil dan nakal tadi, karena Pitaloka yang saat ini tengah tertunduk malu karena mengingat betapa lelahnya dia saat menghadapi kebuasan Raihan di atas kasur. Terutama saat terakhir mereka bersama hingga benih cinta mereka pun kemungkinan besar kini berkembang di perutnya.


Pitaloka bergerak refleks mengusap lembut perutnya yang disana masih ada tangan Raihan juga.


"Aku berjanji, akan berjuang sebisa mungkin untuk membawanya hadir di tengah-tengah kita." Ucap Pitaloka tulus.


"Dan aku pun berjanji, akan selalu berada di sisi kalian hingga maut tiba."


Raihan menunduk dan mengecup lembut perut Pitaloka.


"Ekhmm."

__ADS_1


Richard berdehem untuk menyadarkan kedua insan di kamar itu.


Sesil yang langsung mendorong pintu hingga menampakkan pemandangan yang membuatnya malu sendiri, kini menyembunyikan wajahnya di dada Richard.


__ADS_2